تسجيل الدخول“Tangan Stevia menekan gagang pintu hingga terbuka. Ia masuk lebih dulu lalu disusul oleh Bayu.
Sebuah kamar yang cukup luas bagi Bayu, kamar itu bahkan lebih luas dari rumah petak yang merupakan tempat tinggalnya selama ini. Ranjangnya cukup besar untuk ditiduri oleh satu orang, dilengkapi juga dengan satu kamar mandi. Ada shower dan bathtub serta kloset duduk.Tidak ada bau atau noda kotor di kamar mandi itu, semuanya bersih dan wangi.“Bahkan jika dia memintaku“Kalian bicaranya lama banget tau! Aku jadi kelamaan nunggu sendirian,” keluh Selvi.“Maaf, ayo kita ke tempat tidur.” Bayu mengajak Selvi duduk berdampingan di pinggir ranjang.Selvi pun akhirnya ikut duduk di samping Bayu, ia menyandarkan kepalanya pada lengan. “Jadi apa kamu sudah bisa memberitahuku apa yang kalian bicarakan?” tanya Selvi.Dengan wajah terangkat ia mendongak melihat wajah Bayu dari bawah sambil memegang erat lengannya.“Apa kamu yakin masih mau mendengarnya?” Bayu merasa agak cemas untuk memberitahukan pada Selvi. Namun, ia tidak bisa menyembunyikannya.Wajah Selvi mengangguk. “Iya aku masih mau denger. Jadi apa yang kalian bicarakan?”“Aku akan bergabung dengan anggota Tentara bayaran. Kemungkinan besar nanti aku akan mengundurkan diri bekerja di sini. Aku …” Bayu menunduk menatap langsung wajah Selvi yang melihat ke arahnya dengan mata berkaca-kaca.“Mengundurkan diri dari sini! Terus kamu
Dalam hati Bayu orang yang sembarang masuk itu tidak lain adalah Stevia sendiri apalagi dengan cara masuk menerobos langsung seperti itu.“Iya tadi aku hanya sempat lupa sebentar,” jawab Bayu dengan cepat.“Oh iya, nanti habis mandi datang aja langsung ke kamarku ya.” Mendengar itu Bayu langsung menganggukkan wajahnya. “Iya, aku bakal datang ke sana kok. Sekarang mau mandi dulu.” “Oke aku tunggu ya.” Stevia kembali menutup pintu kamar Bayu.Sedangkan Bayu hanya sempat mengangguk sebentar melihat ke arah Stevia. Tidak lama kemudian ia berusaha fokus ke keadaannya yang sekarang. Drak!Pintu geser kembali dibuka Bayu dengan begitu wajah Selvi yang sedang khawatir sambil menutup mulutnya pun langsung terlihat Bayu.“Bukankah sudah kubilang untuk hati-hati? Inilah alasannya aku sangat berhati-hati. Bagaimana jika Tantemu melihatmu yang berada di kamarku?” Bayu memegang dahinya sambil berusaha bersikap tenang.
“Datang saja ke kamarku setelah makan malam.” Stevia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil memejamkan kan mata.Sedangkan Bayu kembali tidak bersuara ia lebih fokus menyetir hati-hati. Mobil melaju cepat hingga akhirnya mereka baru saja memasuki area gerbang utama dari kediaman.Pohon-pohon rindang di sepanjang jalan menuju kediaman sudah banyak terlewati. Mobil berhenti ketika sampai di depan rumah, Bayu segera membukakan pintu.“Ingat, nanti datang ke kamarku.” Stevia kembali mengingatkan Bayu.“Siap, seperti yang Nona inginkan,” jawab Bayu. Di saat yang sama mobil Selvi yang disupiri pak Jo juga sampai setelah Bayu menyetirkan mobil ke area parkir di garasi tepat di samping rumah.Selvi sempat melihat Bayu dan Stevia yang berbicara pelan. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan dan tidak mendengar apapun yang mereka katakan.Dalam hati Selvi memang menyimpan ada rasa penasaran. Namun, ia tidak bisa mengetahui
“Tidak apa-apa, hanya bengong sesaat aja kok! Tadi kamu bilang apa?”Bayu kembali mengulang kata, “Itu … aku akan keluar cari angin sekalian beli minuman dingin. Terus aku akan menunggu di bawah sampai kamu pulang kerja.” Mendengar ucapan Bayu Stevia langsung mengangguk. “Baiklah, nanti aku langsung turun saat sudah jam pulang.” “Kalau gitu aku cabut dulu,” jawab Bayu.Stevia hanya mengangguk melihat Bayu sampai keluar dari pintu. Ia pun langsung lanjut menyelesaikan pekerjaannya.Di luar Bayu melewati beberapa meja pekerja yang masih sibuk di kantor, mereka tidak ada yang melihat ke arah Bayu karena mata hanya tertuju pada layar. Hingga sampai di lantai satu Bayu berdiri di depan mesin penjual minuman otomatis. Tangannya memasukkan beberapa uang koin lalu menekan tombol ke arah minuman yang diinginkannya.Klik!Kaleng minuman dingin itu menggelinding dan jatuh ke bawah. Tangan Bayu pun merogoh masuk ke dalam
“Iya Non, aku bangun siangan pagi ini. Mungkin kecapean,” jawab Bayu santai.Mendengar Bayu yang kecapean Stevia langsung merasa kalau itu karena dirinya semalam. Seketika itu membuat wajah Stevia jadi memerah ia menjadi tidak bisa menelan sarapannya.“Ekhem, aku rasa sudah kenyang. Aku akan naik mengambil tas dan segera persiapkan mobilnya ya. Bayu!”“Siap Nona!” Bayu meraih roti yang tadi dipintanya.Sri memberikannya roti isi sandwich dengan isian ada daging dan telur. Bayu dengan cepat menggigit sisi roti dengan cepat dan terus mengunyahnya. Ia meraih botol tumbler yang sudah diisikan air sebelumnya.Lalu bergegas membawa roti digigit di mulut dan tumbler di tangannya. Bayu bergegas ke garasi mobil.“Eh, tumben kamu lambat biasanya udah ada di sini duluan daripada aku,” ucap Pak Jo sambil memberikan kunci mobil pada Bayu. “Hah iya,” jawab Bayu dengan mulut terisi penuh. Ia segera menelan makanan yang sedan
Dari dalam perut Selvi bisa merasakan milik Bayu memenuhi lubangnya. Selain panjang dan tebal ternyata di dalam ukurannya bisa berubah jadi semakin membesar meskipun tidak berlebih-lebihan. Tapi Selvi merasakan sangat sesak hingga ingin rasanya ia muntah.Sedangkan yang dirasakan Bayu dinding dalam Selvi sedang menyempit dan menekan dirinya dari dalam. Belum lagi mereka juga sudah seminggu tidak berhubungan membuat milik Selvi jadi lebih sempit karena tidak dijamah Bayu.“Ahh … sial, ini terasa semakin nikmat! Jika punya Stevia terasa longgar meski dia sangat pandai mengencangkannya. Tapi harus aku akui punyamu terasa lebih menggigit, ahh ini benar-benar membuatku gila!” Bayu yang terus menggoyangkan pinggulnya masih menghentakkan miliknya dengan keras sambil mengusap rambutnya ke belakang.Dari bawah Selvi melihat wajah dan tubuh Bayu yang sedang berkeringat malah membuatnya semakin terpesona. Sosok pria tampan yang sedang berada di atasnya membuat Selvi







