Home / Mafia / Belenggu Membara Sang Penguasa / 4 > Berada Dalam Pelukan Musuh

Share

4 > Berada Dalam Pelukan Musuh

Author: Li Pena
last update Last Updated: 2026-01-10 18:33:28

“Brengsek!” seru Livia, kesal.

Bagaimana ia tak kesal, ketika mengetahui bahwa pintu kamarnya kembali terkunci. Dan sesuai dugaannya bahwa posisinya di rumah itu tak jauh beda dengan seorang tawanan.

Jemarinya meremas gagang pintu, menahan emosi yang menumpuk sejak semalam. Bukan cuma marah, tapi ia juga merasa terhina karena ia tak punya kendali atas hidupnya lagi.

“Aku bukan tawanan, tapi kenapa kamu menahanku seperti ini,” lirih Livia, sembari menempelkan dahinya ke pintu.

Ia menarik napas panjang. Sehingga tercium bau besi dingin dari gagang pintu yang terasa begitu nyata, seperti simbol dari semua yang merampas kebebasannya. Bahkan rumah ini pun terasa terlalu sunyi untuk disebut aman.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Ia melangkah mundur dan berbalik membelakangi pintu. “Masuk,” ucapnya datar, tanpa menoleh.

Setelah mendengar Livia mempersilakan masuk, Mara pun membuka pintu dengan wajah tenang.

“Kamu diminta turun. Sekarang.” katanya pada Livia yang tengah berdiri membelakangi pintu.

“Diminta?” Livia mendengus. “Kedengarannya halus banget.” sindir Livia sedikit menyunggingkan senyumnya.

“Itu perintah Tuan yang harus kamu turuti,” jawab Mara jujur.

Livia menatapnya tajam. “Kalau aku nolak?”

Mara terdiam sesaat. “Tuan Raka nggak suka ditolak.” jawabnya jujur.

“Itu masalah dia.”

“Bisa jadi masalahmu juga.”

Livia tersenyum miring. “Apa ini ancaman terselubung?”

“Ini peringatan,” balas Mara singkat.

Dan tanpa menunggu jawaban, Mara melangkah pergi meninggalkan kamar itu. Sedangkan Livia, ia masih berdiri terpaku beberapa detik sebelum akhirnya mengikutinya. Bukan karena patuh, tapi karena ia ingin tahu sejauh apa neraka ini akan menyeretnya.

Sesampainya di salah satu ruangan, yang lebih tepatnya ruang makan. Ruang makan itu terasa terlalu luas untuk dua orang. Ditambah langit-langit tinggi dan meja panjang menciptakan jarak yang disengaja.

Kini Raka sudah duduk di sana, seperti biasa, ia terlihat begitu tenang, rapi, dan dingin. Seolah dunia nggak pernah benar-benar menyentuhnya, bahkan tragedi pun tak meninggalkan bekas.

Livia melangkah masuk dengan sikap defensif, matanya tak lepas dari pria itu.

“Kamu telat,” ucap Raka tanpa menoleh.

“Aku nggak tahu kalau ada jam wajib buat sarapan bareng pembunuh.” jawabnya ketus

Raka tersenyum tipis. “Kalau aku pembunuh, kamu nggak akan bisa hidup dan berdiri sejauh itu.”

“Kamu suka banget ngomong pakai logika bengkok.”

“Karena aku hidup dari itu.”

Mendengar itu, Livia langsung menarik kursi dan duduk dengan kasar. “Langsung aja. Kamu mau apa?”

“Makan.”

“Aku nggak lapar.”

Raka mengangkat pandangan, tatapannya menekan. “Jangan buat aku mengulangi perkataannya.” tegasnya penuh penekanan.

Nada itu membuat perut Livia menegang. Ia membenci fakta bahwa tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada egonya. Dengan tangan gemetar, ia terpaksa mengambil sendok.

Ia pun makan tanpa rasa. Setiap suapan terasa seperti bentuk kekalahan kecil. Ia cukup kesal karena ia tak punya kendali untuk menolak perintah Raka.

“Kita akan keluar hari ini,” kata Raka kemudian. Setelah memastikan Livia makan.

Sendok Livia berhenti di udara. “Keluar ke mana?”

“Bersamaku.”

“Jawaban itu nggak bikin aku tenang.”

“Itu bukan tujuannya.”

Livia meletakkan sendok. “Aku nggak mau ikut.”

Raka berdiri. Kursinya bergeser pelan, tapi bunyinya cukup untuk membuat ruangan terasa makin sempit. “Kamu akan ikut.”

“Aku bukan barang yang bisa kamu bawa ke mana pun kamu mau!” bantah Livia.

“Kamu bukan barang tapi target.”

Kalimat itu menutup semua bantahan Livia, meski tidak memadamkan kebenciannya. Hingga pada akhirnya, gadis itu gak punya pilihan selain menyetujui perintah Raka. Meski ia tidak tau akan dibawa ke mana.

Di Mobil...

Livia duduk di kursi belakang sambil memeluk dirinya sendiri. Kota yang ia lihat dari kaca gelap tampak berbeda, terlalu asing dan cukup mengancam.

Selain itu, bangunan yang menjulang tinggi pun terasa seperti saksi bisu yang tak akan menolongnya. Dan setiap tikungan membuat dadanya makin sesak.

“Kita akan pergi ke mana?” tanya Livia akhirnya sembari menoleh ke arah Raka.

“Tempat yang harus aku datangi,” jawab Raka singkat.

“Jangan bilang kalau kamu mau membawaku ke tempat yang lebih berbahaya?” tebaknya.

“Bocil cerdas,” katanya antara memuji dan mengejek.

Livia tertawa pendek tanpa humor. “Kamu gila.”

“Aku gila karenamu.”

Kini kecepatan mobil mendadak melambat. Mereka merasa ada sesuatu yang berubah. Mulai dari udara terasa lebih berat, serta naluri Livia berteriak lebih dulu daripada pikirannya. “Raka…” Livia berteriak refleks.

“Diam.” tegas Raka dengan nada sedikit membentak.

“Menunduk!” teriak Kael, begitu ia menyadari akan ada serangan berupa tembakan.

Dan benar saja, dugaannya tak pernah meleset. Namun, ia gagal menghindari serangan itu sehingga, kaca depan retak, serpihannya berhamburan. Mobil berbelok tajam.

Livia menjerit refleks, tubuhnya terdorong ke samping. Jantungnya terasa mau pecah, napasnya tersendat.

Raka sudah bergerak. Tangannya dengan sigap menarik Livia turun ke lantai mobil, lalu ia melindungi tubuh gadis itu dengan tubuhnya."

“Pegang aku,” katanya tegas.

“A-aku—”

“Sekarang, Liv!”

Livia tak punya pilihan lain selain menuruti perkataan Raka. Kini, ia pun memeluknya. Dengan Tangan mencengkeram jas Raka, seolah itu satu-satunya benda nyata di dunia yang sedang runtuh.

Tembakan terus berbalas. Suara logam dan jeritan bercampur jadi satu, begitu memekakkan telinga. Dan tiba-tiba pintu mobil terbuka kasar.

Seseorang masuk dan menarik lengan Livia. “Ayo, ikut!”

Livia menjerit. “Lepasin!” Ia memberontak seraya menepis tangan pria itu.

Dorr!

Suara tembakan terdengar sangat dekat. Lalu tubuh pria itu jatuh tepat tepat di sampingnya.

Darah mengalir cepat. Livia membeku dengan matanya membelalak.

Sedangkan itu, Raka berdiri di sana dengan senjata masih terangkat, wajahnya gelap tanpa emosi. Ia menarik Livia ke dalam pelukannya, keras, protektif, seolah dunia di luar pelukan itu tak lagi ada.

“Jangan pernah lepas dari pengawasanku,” katanya dingin.

Untuk pertama kalinya, Livia tidak membantah.

Bukan karena setuju, tapi karena ia tahu, jika ia lepas, ia mungkin mati.

***

Di tempat yang berbeda, tepatnya di rumah mewah Raka. Kini Livia tengah duduk di lantai kamar dengan punggungnya bersandar pada ranjang. Tangannya masih gemetar, napasnya belum sepenuhnya normal.

Bayangan darah, suara tembakan, dan wajah kosong pria yang jatuh tadi terus berulang di kepalanya. Ia menekan telapak tangannya ke mata, mencoba menghapus semua itu.

Hingga pintu terbuka. Dan Raka pun masuk tanpa suara.

“Kamu terluka?” tanyanya dengan nada yang sedikit cemas.

Livia menggeleng. “Hampir.”

“Karena hidupmu ada di tanganku.”

Livia menatapnya lama. “Kenapa kamu lindungin aku?”

Raka diam sesaat. Wajahnya sulit dibaca, tapi matanya… sedikit lebih gelap. “Karena aku bertanggung jawab.”

“Bohong.”

Kemudian Raka mendekat. Langkahnya pelan, tapi menekan. “Karena aku nggak mau kehilangan kamu. Sampai semuanya selesai,” jawab Raka.

Kalimat itu menghantam lebih keras dari tembakan siang tadi. Dada Livia terasa nyeri tanpa luka. Seharusnya Raka tak mengatakan itu.

“Tapi, aku bukan siapa-siapa buat kamu,” bisiknya.

“Untuk sekarang mungkin belum,” jawab Raka sambil menyeka noda darah kering di pipi Livia. Meski sentuhannya singkat, hampir kasar, tapi justru membuat tubuh Livia menegang tak wajar.

“Aku membencimu,” ucapnya lirih.

“Aku tahu.”

“Dan aku takut sama kamu.”

Raka menatapnya dalam. “Itu bagus. Takut bikin kamu bertahan hidup.” ucapnya sebelum akhirnya ia berbalik pergi, meninggalkan gadis itu.

Livia terduduk lemas setelah Raka pergi. Ia membenci fakta bahwa satu-satunya tempat aman baginya… adalah lengan pria paling berbahaya yang pernah ia kenal. Dan yang paling menghancurkannya, ketika sebagian dari dirinya mulai sadar, bahwa rasa aman itu terasa terlalu nyata untuk sekadar kebetulan.

***.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    39 > Sisa Yang Tak Bisa Dikubur

    Pintu ICU tertutup perlahan. Bunyi itu cukup pelan. Terlalu pelan untuk sesuatu yang barusan merenggut separuh dunia Livia. Lampu merah di atas pintu menyala stabil, dingin, seolah tidak peduli pada darah yang masih mengering di tangan wanita itu.Livia berdiri terpaku dengan tubuhnya yang basah. Rambut hitamnya menggumpal di leher dan punggung, gaun gelapnya berat oleh air dan noda merah yang belum sempat ia sadari. Tangannya masih gemetar, jari-jarinya kaku, seolah lupa bagaimana cara melepaskan sesuatu.Sementara di balik pintu itu, Raka bertarung sendirian. Dan ia… tidak bisa ikut menemani pria yang ia cintai. "Duduk, Liv," ucap Maya pada wanita yang tak ingin terlihat rapuh itu.Suara Maya terdengar dekat. Lebih lembut dari biasanya. Namun Livia tetap tidak menoleh. Matanya masih setia menatap lantai putih rumah sakit yang memantulkan cahaya pucat. Pantulan bayangannya terlihat cukup asing. Ia tampak kurus, rapuh, seperti versi dirinya yang belum sempat ia kenali. "Aku baik-bai

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    38 > Titik Balik

    "DOR!"Suara tembakan itu memecah dunia. Bukan kerasnya yang paling menyakitkan, tapi sunyi yang menyusul setelahnya. Sunyi yang terlalu cepat. Terlalu kosong.Livia merasa tubuhnya kehilangan berat. Seolah hujan tak lagi jatuh ke tanah, tapi langsung ke dadanya, seolah menghantam jantungnya berkali-kali. Udara tersedak di tenggorokannya. Dunia berputar, lampu helipad melebur jadi garis-garis cahaya yang goyah."Raka!" teriaknya. Nama itu keluar dari mulutnya seperti jeritan yang terlambat. Suaranya pecah di tengah hujan, tenggelam di antara langkah-langkah panik dan teriakan yang tak lagi ia dengar dengan utuh. Ia berlari.Langkahnya terpeleset, sepatu basah menghantam lantai dingin, tapi ia tak peduli. Gaun gelapnya terseret air, rambut hitamnya menempel di wajah pucat yang kini tak lagi menyimpan amarah... hanya ketakutan. Tubuh Raka tergeletak di dekat pintu lorong ICU.Tubuhnya mengeluarkan darah. Terlalu jelas dan bahkan terlalu nyata.Livia berlutut, tangannya gemetar saat me

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    37 > Wajah Dari Masa Lalu

    Hujan masih jatuh, tapi tak lagi terdengar oleh Livia. Dunia seolah menyempit pada satu titik... pria yang berdiri di bawah lampu darurat helipad itu. Tubuhnya tinggi, tegap, bahu lebar dibungkus mantel gelap yang basah. Rambutnya hitam dengan gurat abu tipis di pelipis, wajahnya tegas dengan rahang keras yang dulu sering muncul dalam foto-foto lama… foto yang sudah ia bakar sendiri bertahun-tahun lalu.Matanya. Mata itu tak berubah sama sekali. Hitam, tenang, dan ia terlalu mengenalnya."Livia," panggil pria itu lagi, kali ini suaranya lebih rendah, stabil, seolah mereka hanya bertemu setelah makan malam biasa. "Kamu kelihatan… lebih dewasa."Nafas Livia tercekat. Dadanya naik turun. Air hujan mengalir di sepanjang wajahnya, bercampur dengan sesuatu yang asin... ia tak yakin apakah itu hujan atau ingatan yang bocor begitu saja."Itu nggak mungkin," gumamnya pada dirinya sendiri. Suaranya serak. "Kamu sudah lama mati."Mendengarnya, pria

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    36 > Saat Segalanya Dipertaruhkan

    Hujan turun makin kejam, menghantam atap rumah sakit dan helipad dengan suara keras, seolah langit ikut murka. Angin memutar baling-baling helikopter yang masih melayang rendah, membuat udara bergetar dan rambut Livia berkibar liar di wajahnya. Gaun hitamnya menempel di tubuh ramping itu, memperjelas bahu tegas dan tulang selangka yang kini basah, dingin, tapi tak goyah.Lampu kota di kejauhan padam sebagian.Gelap menjalar seperti penyakit, menelan satu demi satu wilayah. Kekacauan yang ia lepaskan kini hidup, bernapas, dan bergerak.Damar mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, senyum tenangnya retak. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol. Pria itu masih berdiri tegap, tapi matanya tak lagi penuh kendali."Kamu gila," katanya, suaranya tenggelam oleh deru angin.Livia berdiri diam. Wajahnya pucat, tapi matanya hitam pekat, berkilat oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari amarah. Keyakinan. Keputusan yang sudah dibuat dan tak

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    35 > Di Antara Hidup Dan Perang

    Bau antiseptik bercampur darah basah menyergap hidung, begitu Livia melangkah masuk. Lorong rumah sakit itu terlalu terang, dengan lampu putihnya yang kejam serta memantulkan wajah-wajah tegang, epatu yang berlari, dan genangan air hujan yang menetes dari ujung mantel hitamnya. Gaunnya menempel di tubuh rampingnya, basah dan robek, memperlihatkan kulit pucat di betis dan pergelangan. Rambut hitamnya yang panjang kini luruh menempel di leher, tapi langkahnya tetap tegak. Tidak ragu. Tidak goyah.Monitor jantung berbunyi dari segala arah. bip… bip… bip…Ritme itu cukup menusuk kepala.Maya berjalan setengah langkah di belakangnya. Ia mengenakan jaket hitam dengan bahu tegap, dan mata awas. Tangannya sudah di dekat pinggang, siap untuk menyerang kapan saja."Mereka sengaja bikin rumah sakit ini sibuk, dengan ambulans keluar-masuk, keamanan lengah," ucap Maya, pelan. Livia tidak menjawab. Namun matanya menyapu papan digit

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    34 > Saat Dunia Tak Lagi Diam

    Ledakan itu tidak hanya mengguncang tanah... namun ia juga merobek malam. Gelombang panas menyapu gudang, membuat udara mendesis. Dinding besi bergetar keras, debu runtuh dari langit-langit, dan tubuh-tubuh terhuyung oleh hentakan yang datang terlambat tapi mematikan. Lampu darurat padam total. Kali ini, bukan sekadar gelap… melainkan kegelapan yang disertai kekacauan. Livia tersandung satu langkah ke belakang. Tumit sepatu botnya nyaris tergelincir di lantai beton yang retak. Nafasnya tertahan, dadanya terasa sesak, bukan karena asap... melainkan karena satu nama yang bergaung di kepalanya.Raka."Timur...!" teriak seseorang dari luar, suaranya pecah oleh ledakan susulan.Maya refleks menarik Livia ke sisi dinding, menekan tubuhnya agar merunduk. Postur Maya pendek dan atletis, rambut pendeknya kini berantakan, wajahnya penuh jelaga tapi matanya tajam, fokus. "Ledakan itu bukan punya kita," katanya cepat. "Itu bom jarak deka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status