แชร์

Bab 32. Teror yang Menyusul

ผู้เขียน: SecretAK
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-23 04:24:59

Nolan tidak bereaksi apa pun. Pandangannya masih tertuju ke hal lain, apa saja asal tidak bertemu dengan kedua mata Aria. Sementara Nora hanya bisa melihat kepergian Aria dengan emosi yang memuncak. Dia berniat untuk mengejar, tetapi ditahan oleh kekasihnya.

“Kenapa kau diam saja?” tuntut Nora. “Kau hanya diam mematung melihat tunanganmu direndahkan seperti tadi, Nolan!” teriaknya penuh amarah dan frustrasi. Dia bahkan mengacak rambutnya sendiri dan menendang meja sampai benda di atasnya berget
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 37. Sebuah Transaksi

    Aria menarik napas dalam-dalam. “Saya tidak memiliki kapasitas untuk menantang Anda, Tuan Reynolds. Saya hanya wanita biasa—““Karena itu, jauhi putraku!”“Itu di luar kendaliku juga, Tuan.”“Omong kosong!”Andai saja Aria bisa menjelaskan tentang kontrak mereka. Andai saja dia memiliki kuasa untuk pergi dari Ethan tanpa mempertaruhkan karier yang sudah dibangunnya dengan susah payah. Andai saja. Namun, itu semua percuma. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menerima penghinaan seperti ini.“Jika memang kau sadar akan kapasitasmu yang tidak seberapa itu, seharusnya kau menghilang dari kehidupannya.”“Hanya jika memang itu bisa saya lakukan, Tuan,” balasnya menegaskan. Namun, setelah itu dia hanya menutup mulut karena tidak bisa menjelaskan semuanya. Terlebih dengan tatapan Levi yang seakan siap melahapnya kapan saja, Aria kembali sadar bahwa dirinya berada di kan

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 36. Pertemuan dengan Reynolds

    Aria menghela napas panjang. Lama-lama, keberadaan Ethan sudah seperti hantu saja—tiba-tiba muncul di depannya padahal sedari tadi Aria hanya memikirkan lelaki itu. “Mau apa kau?” tanyanya ketus. Dia berdehem sembali menyelipkan rambut ke belakang telinga.Ethan hanya menatap beberapa detik dan itu membuat Aria semakin penasaran. Pandangan tersebut seperti initimidasi, tetapi juga seolah-olah Aria adalah objek yang siap diobservasi kapan saja. Sementara itu, jantungnya berdegup kencang. Semakin dalam tatapan Ethan, semakin gelisah juga dirinya karena takut ketahuan. Atau mungkin lelaki itu sudah tahu?“Tidak ada paket terror lagi?”Pertanyaan itu membuat Aria mengernyitkan dahi, sekaligus merasa lega. Sempat bahunya tegang oleh Ethan, Aria berjalan ke meja kerjanya untuk menaruh tas. “Tidak ada. Aku sudah mengurusnya dengan baik. Kau tidak perlu mencemaskannya lagi.”Ethan memandang ke lantai cukup lama hingga tid

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 35. Asumsi dan Fakta

    “Apa maksudmu?” tanyanya. Dia meletakkan sendok, kemudian mengambil ponsel Aria. Dia menyaksikan video itu beberapa saat sambil mengernyitkan dahi. “Ini apa?”Sejak tadi, Aria sibuk memerhatikan ekspresi Nolan, kemudian menjelaskan, “Ada paket misterius yang aku terima. Itu berisi terror—bangkai burung dan surat ancaman.”Nolan terbelalak. “Kau serius? A-apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja?” Dia tampak panik sampai kursinya bergeser ke belakang.Aria menggeleng. “Hanya sampai situ.”“Lalu? Apa maksudmu dengan pertanyaanmu tadi?”“Kau lihat sepatu itu? Orang yang ada di video itu mengenakan sepatu yang sama seperti sepatu yang kukasih untukmu sebagai hadiah ulang tahun.” Dia sudah berusaha keras untuk tidak terbawa emosi. “Aku tidak ingin bertele-tele. Jadi, aku tanya sekali lagi. Apa itu kau?”Ekspresinya yang semula khawatir berubah

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 34. Dominasi dan Penolakan

    Detik berlalu terasa lebih lambat. Area sensitifnya mendapat invasi dari jemari Ethan—pelan, repetitive hingga gerakannya mulai terasa obsesif. Tak kuasa Aria mengeluh, tubuhnya menegang hingga lehernya mendongak.“Pelan saja,” pintanya sembari mencengkeram pundak pria itu. “Aku akan beteriak jika kau bermain kasar.” Dia juga harus menjaga keselamatan calon bayinya.Ethan tidak mendengarkan, fokusnya adalah tubuh Aria dan sensasi yang sulit untuknya lawan. Buah dada di depannya membuat pikiran Ethan menggelap. “Ukurannya melebihi kemampuan tanganku menggenggam. Sialan!”“Ethan,” desahnya saat lelaki itu meremas buah dada dengan agresif. “Kau tahu, aku sulit menahan diri setiap kali berjumpa denganmu. Sejak pagi itu, tubuhmu seperti canduku.” Dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Aria, menciumi leher jenjang wanita itu dan terus bergerak ke bawah hingga bertemu dengan buah dada sintal, lembut dan m

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 33. Luka dan Obat

    Kalau bukan Lucy, lalu siapa?Sesuai dengan spekulasi mentah Aria, pikirannya langsung tertuju pada keluarga Reynolds. Namun, apakah yang dikatakan Lucy benar adanya atau tidak, Aria belum bisa memastikan. Dia masih sibuk membawa barang belanjaan. Menuju ke area parkir basement dengan susah payah. Lucy sudah berjalan jauh di depan meninggalkannya tanpa sedikit pun menoleh. Dia melihat bodyguard yang sejak awal bersamanya, tetapi karena Aria sudah memberi peringatan agar tidak ikut campur dalam masalah ini, mereka yang tampak gatal ingin membantunya hanya bisa melihat dari jauh.Aria menghela napas panjang. Beruntung hari ini kondisi tubuhnya sedang prima, jadi meski berat dan repot, dia tidak merasakan tekanan yang berlebihan di perutnya. “Tenang saja. Kau tidak mungkin lahir dari wanita yang lemah.” Dia berbicara pada bayinya.“Cepatlah!” teriak Lucy dari kejauhan.Mobil menuju ke kediaman Lucy, apartemen mewah di tengah kota New

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 43. Undangan Pernikahan

    Aria merasakan di bawahnya penuh. Sedikitnya, Ethan sudah mencapai pelepasan di dalam sebanyak dua kali—paling tidak itu yang dia ingat. Selebihnya, Aria tenggelam dalam puncak gairah yang membuatnya hilang akal. Dia bahkan melupakan realitas bahwa saat ini mereka masih di kantor. Aria tidak tahu apa yang dilakukan pria itu hingga tidak ada satu pun telepon masuk atau ketukan pintu yang menginterupsi kegiatan mereka.Mereka berakhir di sofa setelah meja, kursi bahkan sisi jendela yang mendadak menjadi arena intim. Tubuh Aria terasa lemas, tetapi melegakan di saat yang sama. Kini, rasa kantuk mulai menyerang. Sementara itu, Ethan masih mendekapnya dalam pelukan. Kulit basah mereka saling menempel tanpa penghalang sedikit pun. Degup jantung Ethan terdengar merdu, menenangkan bahkan menjelma bak melodi penghantar tidur untuk Aria.“Kau tahu sekarang pukul berapa?”Ethan hanya membalas dengan embusan napas. Matanya terpejam dan tak terlihat ingin membukanya sedikit pun.“Aku takut ada yan

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 28. Peperangan Lucy

    “Dia juga mengorbankan persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun,” lanjut Aria dalam hati. Dia menarik napas panjang untuk kembali ke dirinya saat ini. Ditatapanya wajah Lucy yang sudah memerah. “Saranku, jika memang Ethan tidak menyukaimu, lepaskan saja dia. Pria tidak ak

  • Benih Rahasia CEO Dingin    Bab 27. Lucy yang Frustrasi

    Lucy menarik sebelah sudut bibirnya. Dia mendekat satu langkah dengan dagu sedikit terangkat, kemudian berhenti tepat di samping telinga Aria. “Inkompetensi?” bisiknya. “Berani sekali kau. Memangnya untuk apa aku membayarmu selain menggunakan 30 menit yang berharga itu untuk mel

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 26. Inkompetensi Lucy

    Aria mengerjap. Apa barusan Nolan berteriak padanya? “Kau gila, ya?” ucap Aria akhirnya.“Aria, maksudku—” Nolan tampak kacau. Dia menyisir rambut dengan jemari asal-asalan. Dia menarik napas dalam, seolah apa yang hendak dia bicarakan memang ses

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 23. “Wanitaku”

    Rasa itu kian membelenggu hasrat Aria dan Ethan. Keduanya beradu dalam keringat, desah yang membara dan sesekali hentakan yang membuat sendi ranjang berderit. Aria menikmati setiap sentuhan yang Ethan berikan, lembut, memabukkan, menenangkan dan anehnya sekaligus membakar habis kewarasannya. Aria

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status