LOGIN“Sepertinya aku yang harus pergi,” kata Brandon. Dia menunjuk Ethan. “Kapan kau pastikan akan melepaskan putriku? Kau harus menepati janjimu.”Ethan mengabaikannya dan itu membuat Brandon mendengus sinis. Brandon melirik Levi yang diam saja dan itu terasa seperti pria tersebut memintanya segera pergi dari sana. “Pastikan didikanmu cukup untuk membuatnya menjadi pewaris, Tuan Levi Reynolds.” Dia berlalu sambil merutuk, “Apa-apaan ini, semuanya hanya karena perempuan!”Ethan menatap datar kepargian Brandon. Padahal baru beberapa saat yang lalu pria itu terlihat menciut di depannya. Apa pengaruh Levi membuat keberaniannya sedikit muncul untuk mengembalikan harga diri? Momennya untuk berpikir dihancurkan Levi saat pria itu melempar gelas kaca ke arahnya. Beruntung Ethan sempat menghindar. Namun, pecahan gelas kaca itu menggores tulang pipinya hingga berdarah.“Aku sudah mendengar semuanya. Di mana Lucy sekarang?”“Itu bukan urusanmu,” tandas Ethan tanpa ekspresi.Levi membuang napas kasar
Aria menunduk, tak mampu menatap lama tubuh Ethan yang terpaku dan panangan kosong yang tak berbaling dari wajahnya. Perasaan Aria campur aduk hingga sulit menerjemahkan reaksi lelaki itu. “Aku merahasiakannya darimu karena aku takut kau akan memintaku menggugurkan kandunganku,” ucap perempuan tersebut berterus terang.Masih tidak ada tanggapan, Aria melanjutkan, “Tapi aku tidak mengerti, kau dari awal berpikir kalau anak ini bukan anakmu, ‘kan? Lalu, kenapa kau masih ingin menikah denganku?” Kali ini dia memberanikan diri untuk menatap mata biru itu.Ethan terkekeh hambar. “Bahkan meski begitu, kau masih tidak mengerti?”Alis Aria berkerut. “Kau tidak marah? Maksudku, kau tidak marah tentang anak ini?”“Kau masih tidak mengerti?” Pertanyaan itu dijawab dengan gelengan kepala Aria. Ethan mendekat dan memeluknya erat tanpa aba-aba. “Bagaimana mungkin aku melakukannya? Pikiranmu tentangku tidak pernah berubah ternyata, dasar keras kepala.”Tubuh Aria melemas. Reaksi Ethan seperti ini ja
Aria belum benar-benar bernapas lega, tetapi lelaki ini muncul dengan membawa masalah baru. Tampaknya Ethan benar-benar menginginkan kehancuran hidup Aria dengan mempermainkannya sesuka hati. Dia membuang napas panjang, rahangnya mengeras dan berusaha agar tidak melempar bogem ke wajah lelaki di depannya ini. “Aku baru saja selamat dari situasi yang hampir membuatku mati!”“Karena itu, menikahlah denganku.”Sungguh, Aria tidak tahu harus berkata apa lagi. Keras kepala Ethan benar-benar sulit untuk diatasi. “Coba katakan, apa menikah denganmu menyelesaikan semua masalah ini? Kau tahu aku hampir mati karenamu. Perempuan gila itu! Dia tergila-gila padamu sampai nekat ingin membunuhku!” Suaranya meninggi. Tatapan lelah bercmpur frustrasi itu tidak bisa dia sembunyikan lagi.“Aku pikir dengan kejadian ini kau sadar bahwa jika aku berada di sisimu, mereka akan terus mengincarku. Apa kau terbiasa menjadi manusia seegois ini? Apa hanya ini yang kau pelajari seumur hidupmu?!” Kedua mata biru
Aria menghubungi Nolan usai tiba di rumah, tetapi nomornya tidak aktif. “Apa mungkin dia sedang mencari Nora?” Dia tidak bisa memastikan itu karena Nora masih di tangan Ethan. Datang ke apartemennya juga bukan ide yang bagus. “Tapi, tunggu. Kenapa aku harus memikirkannya?”Dia membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil memejamkan mata. Rasanya tidak ada tempat ternyaman selain rumah sendiri. Benar kata pepatah, sebaik apa pun tempat di luar sana, tetapi jika bukan rumah sendiri, itu akan terasa asing dan tak sebebas saat di rumah sendiri.“Ada banyak hal yang harus aku lakukan, tetapi tenagaku rasanya sudah habis,” gumamnya mengeluh dengan suara serak. Lalu, tiba-tiba matanya terbuka. Tangannya naik ke perut dan mengelus perlahan. Apa yang akan Ethan lakukan pada bayi ini? Adalah isi pikirannya sekarang. Hari ini dia tidak sempat bertemu dengan dokter itu lagi, untungnya. Terlebih, jika memang Ethan tidak berpikir bahwa bayi ini adalah anaknya, maka seharusnya Aria tidak perlu mengkha
Perempuan itu mengenakan masker dan topi rajut hingga sebagian besar wajahnya tak terlihat. Dia membuka pintu dan berjalan dengan tenang melewati para pengawal. Namun, tidak berhenti di sana, langkahnya terhenti saat pengawal menghampirinya.“Nona, Anda dilarang keluar,” katanya. Lalu, dia menyadari sesuatu. “Di mana teman Anda, Nona? Bukannya dia ada di dalam?”Tidak ada jawaban. Dia semakin merapatkan kardigan dan topinya seakan ini adalah musim dingin. Setelah beberapa saat kemudian, dia berlari menerjang para pengawal. Dia lihai menghindar, tidak membiarkan siapa pun menyentuh dirinya.“Jangan biarkan dia keluar!” Pengawal itu berteriak, memberi intruksi pada yang lain. Sampai saat dia sadar ada yang aneh dengan pakaian dan tingkah Aria. “Tidak mungkin,” gumamnya. Dia menepuk pundak pengawal di sampingnya. “Dia bukan Nona Aria. Kita ditipu!”“Apa maksudmu?” tanya pengawal lain.“Ayo cek ke kamarnya.”Mereka membuka kamar Aria dan mendapati seseorang dengan pakian formal, topi hita
“Tu-tunggu dulu!” Pria itu menghentikan Ethan saat hendak pergi. “Aku tidak mengerti kenapa putriku melakukan hal seperti ini. Dia mungkin keras kepala, tetapi menculik orang?” Suara tawanya menyembur. “Kau bercanda?” Meski dia tahu bahwa ekspresi Ethan saat ini tidak sedang bermain-main dengannya.Ethan tidak memedulikan ocehan lelaki itu. Saat dia melangkah pergi, Tuan Perez kembali mencegatnya. “Di mana dia sekarang? Apa yang kau lakukan padanya?” teriaknya membuat suasana menjadi lebih mencekam.Helaan napas Ethan terdengar. Tampak jelas bahwa dia sedang tidak ingin berlama-lama meladeni sisi emosional pria tua itu. Ethan memiliki segudang cara untuk menghancurkan Lucy, membalas semua perbuatan perempuan itu, tetapi tidak untuk sekarang. Lagi pula, dia membutuhkan hal lain untuk dia pastikan terlebih dahulu.Tanpa diduga, Tuan Perez menarik tangannya, keringat yang bercucuran itu membuat rambut berubannya terlihat lepek, tidak lupa dengan wajahnya yang pucat pasi. Melihat semuanya
Lidah Aria tiba-tiba saja mendadak menjadi kelu. Otaknya benar-benar tak berfungsi dengan baik. Dia sampai memejamkan mata beberapa kali, guna memastikan apa yang dia lihat ini adalah mimpi. Tidak hanya sekadar memejamkan mata saja, tetapi dia juga sampai mencubit jemarinya agar yakin bahwa dirinya
Dua pekan setelah keputusan telak telah dicetuskan oleh sang CEO, Aria disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang menumpuk. Bosnya itu menuntut kesempurnaan dalam hal apa pun, termasuk ekspektasinya terhadap keberhasilan presentasi yang akan dia akukan di hadapan sang investor. Selama itu juga tidur
Keluar dari taksi, kaki jenjang Aria melangkah cepat menuju lobi salah satu gedung kantor di bilangan pusat kota New York. Tubuh langsingnya dibalut setelan blazer putih, dengan celana panjang bahan katun warna senada. Berjalan anggun layaknya model papan atas membelah kesibukan di sana. Dia memasuk
Pening menghantam kepala Aria dengan keras. Tubuhnya terasa kosong setelah mengetahui fakta mencengangkan itu. Sebelah tangannya menepuk dahi, merutuk, memaki, dan menyalahkan diri karena nasib sial tak jengah menyapanya sejak kemarin. Bibirnya bergetar pelan, paras cantik dilapis riasan naturalnya







