Share

🖤 EPISODE 64

last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-06 23:20:47

Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi buruk bagi Rani. Ia merasa Tasya terus mengawasinya, memperhatikan setiap gerakannya dengan intensitas yang membuatnya merinding.

Bisik-bisik mulai terdengar di antara para staf rumah tangga, percakapan yang tiba-tiba berhenti saat Rani masuk ke ruangan, tatapan curiga yang mengikutinya saat ia berjalan di lorong.

Rani berusaha mengabaikan perasaan tidak nyaman itu, dan fokus pada tugasnya dan hubungannya dengan Dimas. Namun, semakin sulit untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, karena setiap sel dalam tubuhnya berteriak untuk lari, menjauh dari suasana curiga dan tidak percaya yang mencekik itu.

Suatu malam, saat Rani membantu Afqlah mengerjakan pekerjaan rumah di perpustakaan, ia melihat Tasya berdiri di ambang pintu, mengamati mereka dalam diam. Bulu kuduk Rani meremang saat merasakan tatapan Tasya yang dingin dan menusuk.

Rani berusaha fokus pada soal matematika di hadapan Afqlah, tangannya sedikit gemetar saat meraih p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 89

    Ruang konferensi dipenuhi dengungan percakapan rendah dan suara kertas yang saling bergesekan. Dimas duduk di ujung meja, tubuhnya tegak, tatapannya terkunci pada layar presentasi di depan. Namun pikirannya melayang ke tempat lain—terseret pada sosok Rani, pada kegelisahan yang perlahan berubah menjadi obsesi dan kian mencengkeramnya dari dalam.Di seberang meja, Elano Hartono—saingannya sekaligus kekasih rahasia Tasya—bersandar santai di kursinya. Senyum tipis penuh kepuasan terlukis di wajahnya. Sepanjang rapat, ia terus menyelipkan komentar sinis, mempertanyakan keputusan Dimas dengan nada seolah-olah tulus, namun cukup tajam untuk menjatuhkannya di hadapan klien penting mereka.“Keluargamu kelihatannya… agak tidak stabil,” ujar Elano ringan, sambil melirik Dimas dengan ekspresi sok pengertian. “Maksudku, punya adik ipar yang tinggal serumah—itu pasti cukup mengganggu fokus, ya.”Rahang Dimas mengeras. Jari-jarinya mencengkeram pena lebih erat dari yang seharusnya. Ia tahu Elano se

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 88

    Saat matahari mulai tenggelam, bayang-bayang panjang menjalar di halaman mansion. Rani menarik diri ke kamarnya, kepalanya penuh oleh pengungkapan yang baru saja disampaikan Danish. Ia mondar-mandir tanpa tujuan, mencoba mencerna semuanya—pernikahan yang seolah dihapus dari sejarah, bisik-bisik tentang kemiripannya dengan istri pertama Dimas, serta sikap Tasya dan Dimas yang terasa ganjil setiap kali berada di dekatnya.Tiba-tiba sebuah pikiran menghantamnya, membuat langkahnya terhenti. Ia teringat bahwa hampir seluruh staf lama telah diganti tepat sebelum kedatangannya. Hanya segelintir orang yang tersisa—Rahman, Aisya, dan Danish. Apakah mereka satu-satunya yang mengetahui terlalu banyak? Orang-orang yang pernah menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lihat?Jantung Rani berdegup lebih cepat saat ia memikirkan kemungkinan itu. Jika Tasya dan Dimas sampai berusaha menghapus masa lalu mereka, rahasia apa lagi yang sedang mereka sembunyikan? Dan mengapa, dengan semua risiko i

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 87

    Rani berjalan tanpa tujuan di taman yang mengelilingi penthouse itu. Langkahnya pelan, pikirannya masih kacau sejak pertemuannya dengan Tasya. Ada terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, dan semuanya terasa menyesakkan. Ia butuh pengalih perhatian—apa pun, asal pikirannya tidak kembali pada hal-hal yang membuat dadanya terasa berat. Saat melewati pagar tanaman yang rimbun dan deretan bunga yang tertata rapi, ia melihat Danish, tukang kebun, sedang memangkas semak mawar. Pria itu mendongak ketika Rani mendekat dan tersenyum ramah. “Selamat pagi, Nona Rani,” sapa Danish sambil menyeka keringat di dahinya. “Cuacanya bagus hari ini.” Rani mengangguk pelan, pandangannya menerawang ke hamparan taman yang terawat sempurna. “Iya…” gumamnya. Setelah ragu sejenak, ia menambahkan, “Danish… boleh aku bertanya sesuatu?” Danish menghentikan pekerjaannya dan menatapnya penuh perhatian. “Tentu saja. Ada apa, Nona?” Rani menggigit bibirnya sebentar, seolah menimbang kata-kata. “Ak

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 86

    Pagi ini, Rani menaiki tangga loteng yang berderit, kain lap berdebu tergenggam di tangannya. Udara terasa pengap, sarat aroma kayu tua dan kenangan yang seolah telah lama dikubur. Sambil menyeka rak-rak berdebu, pikirannya melayang pada peristiwa aneh yang terjadi semalam.Saat tangannya meraih sebuah album foto yang tertutup sarang laba-laba, album itu tiba-tiba terlepas dari genggamannya dan jatuh terbuka ke lantai. Rani membungkuk untuk mengambilnya, lalu membeku. Matanya melebar ketika melihat isi album tersebut.Halaman-halamannya dipenuhi foto-foto pernikahan. Pernikahan Dimas dan Tasya, sepertinya. Namun satu foto membuat jantung Rani mencelos. Sebuah foto close-up wajah pengantin perempuan—wajah itu telah hangus terbakar, seolah sengaja dirusak, hanya menyisakan garis-garis hitam di tempat wajah seharusnya berada.Jantung Rani berdebar kencang. Siapa yang tega melakukan hal seperti itu? Dan mengapa?Tangannya gemetar saat memegang album itu. Tiba-tiba, ingatan samar menyeruak

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 85

    Mereka saling berpandangan dengan gelisah sambil mendengarkan kata-kata Tasya di luar sana.“Kalau dia mengingat semuanya… kita selesai,” suara itu terdengar bergetar, sarat ketakutan dan keputusasaan.Rahang Dimas mengeras, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia menatap Rani, melihat kebingungan dan kecemasan terpahat jelas di wajah perempuan itu.“Dia sedang membicarakan kita,” bisiknya nyaris tak terdengar.Rani mengangguk, jantungnya berdegup kencang saat mencoba memahami maksud di balik ucapan Tasya. Apa arti selesai? Dan mengapa Tasya tampak begitu takut jika Dimas mengingat sesuatu? Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat ke pintu kamar. Dimas refleks melangkah ke depan Rani, berdiri protektif, tubuhnya menegang seolah bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Pintu berderit terbuka. Tasya berdiri di ambang pintu. Matanya menyipit saat menangkap pemandangan di hadapannya—Dimas berdiri di depan Rani, wajah keduanya dipenuhi kekhawatiran. Ia melangkah masuk, su

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 84

    Mata Dimas menyipit mendengar kata-kata Rani. Rahangnya mengeras, otot di sana tampak berkedut. “Kamu sedang menginjak es yang rapuh, adik kecil,” peringatnya dengan suara rendah, mengandung ancaman. “Itu cuma momen kelemahan. Tidak lebih.” Ia menyingkirkan selimut dan bangkit dari ranjang. Tubuhnya yang tinggi menjulang di hadapan Rani. Panas dari kulitnya yang telanjang terasa jelas, dan Rani tak bisa mengabaikan cara otot-otot itu menegang dan bergerak setiap kali ia melangkah. “Kamu pikir kamu mengenalku hanya karena beberapa ciuman dan sentuhan yang dicuri?” Dimas mencibir. “Kamu sama sekali tidak tahu apa yang mampu kulakukan.” Rani ikut berdiri. Meski rasa takut mengalir deras di nadinya, ia menolak mundur. “Aku cukup tahu,” katanya pelan. “Aku tahu bahwa saat Tasya tidak ada, kamu tak pernah benar-benar bisa menjauh dariku. Cara kamu menatapku… seolah ingin melahapku hidup-hidup.” Ia melangkah lebih dekat, jantungnya berdegup keras. “Dan aku tahu, saat kamu menyebut na

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status