LOGINLereg mengalihkan pandangannya ke papan catur yang terbentang di atas meja kecil di hadapan mereka. Jemarinya memainkan sebuah bidak hitam sejenak sebelum akhirnya terkekeh pelan. Tatapannya kembali beralih kepada Laticia, seolah masih mencoba memastikan apakah perempuan itu benar-benar seyakin itu dengan rencananya."Keyakinanmu benar-benar besar."Laticia hanya tersenyum tipis. Ia menggeleng pelan sambil menyandarkan tubuhnya dengan lebih nyaman ke sofa."Bukan keyakinan," ucapnya tenang. "Melainkan pemahaman."Ia mengangkat cangkir tehnya, membiarkan aroma hangatnya memenuhi indra penciuman sebelum menyesapnya perlahan."Aku mengenal Carsein lebih lama daripada siapa pun. Bertahun-tahun hidup di sisinya membuatku tahu bagaimana cara ia berpikir. Ia memang keras kepala, tetapi lebih dari itu, ia adalah seseorang yang tidak pernah rela terlihat kalah di hadapan orang lain."Laticia meletakkan kembali cangkirnya di atas meja dengan gerakan pelan."Itulah sebabnya hari ini ia menolak b
Ucapan itu membuat jantung para pejabat seolah berhenti berdetak. Mereka tidak pernah memikirkan kemungkinan sejauh itu. Yang ada di benak mereka hanyalah menyelesaikan krisis pangan secepat mungkin.Namun kini Carsein berhasil membuat mereka melihat sisi lain dari persoalan tersebut.Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan setelah ucapan Carsein. Para pejabat saling berpandangan, tetapi tidak ada lagi yang berani mengajukan pendapat. Mereka memahami bahwa keputusan sang kaisar telah bulat.Carsein menyapu mereka dengan tatapan dingin."Aku tidak peduli bagaimana caranya."Nada suaranya terdengar tegas, tanpa memberi ruang untuk dibantah."Cari jalan sampai kalian bisa mengatasi krisis ini. Kas kosong, harga pangan naik, atau wilayah lain menolak membantu, itu bukan alasanku untuk gagal."Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Kalau kalian tidak mampu menyelesaikannya, maka kalian juga tidak pantas mempertahankan jabatan kalian."Ucapan itu membuat seluruh pejabat menundukka
Carsein menghela napas panjang. Semakin lama rapat berlangsung, semakin ia menyadari satu kenyataan yang sulit diterimanya.Selama ini ia hanya menyelesaikan masalah yang muncul di hadapannya. Sedangkan Laticia sudah memikirkan masalah berikutnya bahkan sebelum masalah pertama selesai. Perbedaan itulah yang membuat seluruh ruangan tanpa sadar mulai lebih sering menunggu pendapat sang ratu daripada perintah sang kaisar.Dan hal itu tidak luput dari perhatian siapa pun yang hadir dalam rapat hari itu. Bahkan tanpa harus mengucapkannya, para pejabat mulai memahami mengapa selama bertahun-tahun Kekaisaran Ascham tetap mampu berdiri kokoh.Karena di balik takhta Carsein, selama ini selalu ada Laticia yang diam-diam menjaga agar kekaisaran tidak runtuh.Rapat akhirnya dibubarkan menjelang siang. Para bangsawan dan pejabat mulai meninggalkan ruang sidang dengan wajah yang masih dipenuhi kecemasan. Laticia keluar lebih dahulu tanpa mengatakan apa pun, diikuti Lereg yang berjalan santai di sam
Kebakaran Lumbung Barat membuat seluruh ibu kota berada dalam keadaan siaga. Sejak pagi, para pejabat keluar masuk istana tanpa henti membawa laporan dari berbagai wilayah. Gudang-gudang penyimpanan diperiksa satu per satu, jumlah persediaan dihitung ulang, sementara para utusan berkuda terus dikirim ke berbagai daerah untuk memastikan cadangan pangan yang masih tersisa.Tidak seorang pun berani meremehkan keadaan itu. Musim panen telah lama berakhir, sedangkan pergantian musim tinggal menghitung minggu. Seharusnya seluruh lumbung kekaisaran sudah penuh sejak beberapa bulan sebelumnya untuk menghadapi musim berikutnya. Kini, setelah Lumbung Barat musnah, semua orang akhirnya menyadari betapa rapuhnya keadaan pangan kekaisaran.Namun laporan yang datang justru semakin memperburuk keadaan. Sebagian besar wilayah hanya memiliki persediaan yang cukup untuk rakyat mereka sendiri. Tidak ada yang berani mengirim bantuan dalam jumlah besar karena mereka juga harus bersiap menghadapi musim yan
"Tidak!""Tolong, Yang Mulia!""Itu tidak adil!"Jeritan memenuhi halaman istana. Beberapa orang menangis histeris, sementara yang lain berusaha melepaskan diri dari cengkeraman para kesatria.Di sisi lain, Laticia hanya berdiri dalam diam. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan kepuasan ataupun belas kasihan. Bagi seorang penguasa setiap keputusan memiliki harga. Dan hari itu, Carsein telah memilih membayar harga dari keputusannya sendiri.Sementara Pricilla berdiri membeku di tempatnya. Jemarinya mengepal erat di balik lengan gaunnya. Ia tidak menyangka Carsein akan mengambil keputusan yang jauh lebih kejam daripada usulan yang disampaikan Laticia.Ia menyadari bahwa di hadapan urusan takhta, bahkan suaranya pun tidak selalu mampu mengubah keputusan sang kaisar.Jeritan para terpidana perlahan menghilang. Para kesatria menyeret mereka satu per satu menuju ruang tahanan, sementara keluarga mereka menangis dan memohon belas kasihan. Namun pagi itu, tidak ada seorang pun
Carsein terdiam. Tatapannya masih tertuju pada para bangsawan yang berlutut di hadapannya, tetapi pikirannya sudah melayang jauh ke masa lalu. Tanpa ia sadari, Laticia baru saja menyeretnya kembali pada keputusan-keputusan yang pernah ia buat dengan tangannya sendiri.Dahulu, seorang bangsawan pernah dijatuhi hukuman mati hanya karena terbukti melakukan korupsi terhadap kas kekaisaran. Begitu pula keluarga Valcren yang dihukum atas tuduhan pengkhianatan. Saat itu Carsein tidak pernah ragu menghunus pedang keadilan.Laticia melihat perubahan di wajahnya, tetapi ia tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi Carsein untuk tenggelam dalam keraguannya."Kalau begitu..." ucapnya pelan, "Hukum mati mereka semua."Suara itu tidak keras. Namun setiap kata yang keluar dari bibirnya membuat seluruh halaman istana seolah membeku.Para bangsawan yang berlutut langsung memucat. Beberapa di antara mereka bahkan jatuh bersimpuh sambil memohon ampun. Para pejabat saling berpandangan dengan wajah tegang
Lereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang d
Suasana di sekitar mereka langsung berubah canggung begitu nama Grand Duke Lereg disebutkan.Beberapa bangsawan yang berdiri tidak jauh dari sana saling melirik kecil sambil berpura-pura tetap melanjutkan percakapan masing-masing. Bahkan seorang viscount tua buru-buru meneguk wine-nya terlalu cepat
Jenoh sedikit menundukkan kepala sebelum akhirnya berkata pelan,“Menurut pelayan istana utama… keputusan itu berubah mendadak setelah rapat siang tadi.”Laticia langsung terdiam dan tanpa sadar, dirinya kembali mengingat tatapan Carsein di aula rapat tadi.Tatapan dingin penuh tekanan saat dirinya
Laticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam







