LOGINCarsein akhirnya mengangkat wajahnya dan memandang seluruh orang yang masih menunggu keputusannya. Aula itu dipenuhi keheningan yang aneh. Tidak ada seorang pun yang berani melanjutkan perdebatan setelah Laticia pergi, tetapi jelas dari tatapan mereka bahwa mereka masih menunggu jawaban mengenai Selena.Carsein menghela napas pendek.“Aku akan membicarakan masalah ini secara terpisah dengan Ratu.”Beberapa bangsawan saling berpandangan. Mereka mengira keputusan itu akan dibicarakan nanti secara tertutup, tetapi setidaknya mereka mendapatkan satu kepastian bahwa Carsein tidak berniat memperpanjang perdebatan di hadapan semua orang.Carsein kemudian mengalihkan pandangannya kepada kepala pelayan istana.“Untuk sementara, siapkan sebuah kamar untuk Selena.”Kepala pelayan yang sejak tadi berdiri di sisi aula langsung maju beberapa langkah. Ia menundukkan kepala dengan hormat, tetapi sebelum memberikan perintah kepada para pelayan, ia tampak ragu sejenak.“Yang Mulia,” katanya hati-hati,
Wajah beberapa bangsawan langsung berubah pucat. Seseorang bahkan tanpa sadar menarik napas panjang.“Mustahil...”“Jika kuil benar-benar memiliki hak tersebut...”“Berarti...”Tidak ada yang berani menyelesaikan kalimatnya.Carsein masih menatap dokumen itu.Laticia memandangnya tanpa sedikit pun rasa gentar.“Jadi,” katanya perlahan, “ketika Anda tadi mengatakan kita bisa membicarakannya, saya hanya ingin memastikan bahwa Anda benar-benar yakin.”Carsein akhirnya mengangkat wajahnya.Tatapan mereka bertemu.“Lati...”“Jika Anda ingin membatalkan perjanjian pertama,” lanjut Laticia, “Anda tentu bisa melakukannya.”Ia tersenyum tipis.“Namun jangan lupa bahwa ada perjanjian kedua yang akan ikut terkena dampaknya.”Carsein terdiam, ia benar-benar merasa terpojok oleh sesuatu yang bahkan tidak dapat ia bantah. Bukan karena Laticia memiliki pasukan. Bukan karena ia memiliki pengaruh lebih besar. Melainkan karena semua yang dibawa perempuan itu adalah dokumen yang memiliki tanda tangannya
Tidak ada kemarahan, air mata, ataupun permohonan dalam suara Laticia. Ia hanya menyampaikan batasnya dengan tenang.Carsein menatapnya dalam diam. Kini ia sadar bahwa masalahnya bukan hanya tentang Selena atau jumlah selir. Laticia tidak sedang cemburu. Ia hanya tidak lagi mau menerima keputusan Carsein begitu saja.Dan entah mengapa, sikap tenang itu justru terasa lebih menyakitkan baginya.“Yang Mulia Ratu, kami memahami bahwa persoalan ini mungkin tidak mudah bagi Anda. Namun, keputusan mengenai selir seharusnya tidak didasarkan pada persoalan pribadi. Yang harus dipertimbangkan adalah kepentingan kekaisaran.”Beberapa bangsawan lain segera mengangguk.“Benar. Perasaan pribadi tidak seharusnya memengaruhi keputusan seorang Ratu.”“Jika Yang Mulia Kaisar membutuhkan keturunan tambahan, maka keputusan tersebut seharusnya dipandang sebagai bagian dari kepentingan negara.”Laticia mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya tetap tenang saat para bangsawan kembali memperdebatkan masalah ters
Seluruh aula seketika membeku.Tidak ada yang menyangka Laticia akan memberikan jawaban sesingkat itu. Bahkan Carsein sendiri terlihat tertegun selama beberapa detik, seolah-olah ia masih mencoba memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.“Lati...,” panggil Carsein akhirnya.Laticia mengangkat pandangannya kepadanya. “Aku tidak setuju.”Kali ini suara Laticia terdengar lebih tegas. Para bangsawan yang masih mengira jawabannya hanya kesalahpahaman mulai gelisah. Mereka tahu perselisihan antara Kaisar dan Ratu bukan masalah kecil.Namun, Laticia tampak sudah mengambil keputusan dan tidak berniat berdebat lebih jauh.Carsein perlahan menarik napas.“Keturunan keluarga kekaisaran terlalu sedikit,” katanya akhirnya. “Kau tahu sendiri bagaimana keadaan kekaisaran. Sebagai Ratu, salah satu tugasmu adalah memastikan garis keturunan kekaisaran tetap berlanjut.”Laticia tidak menjawab.Carsein melanjutkan, “Aku memiliki alasan untuk mempertimbangkan beberapa selir lagi. Ini bukan keputusan yang
Carsein terdiam.Kali ini, ia tidak memiliki jawaban yang bisa segera digunakan untuk membela dirinya. Angin dingin menyusup melalui celah jendela, tetapi ia hampir tidak merasakannya. Pikirannya masih tertuju pada Latici, pada sikap dingin perempuan itu, pada tatapannya yang tidak lagi menuntut apa pun darinya, dan pada kenyataan bahwa Laticia kini dapat berdiri di hadapannya tanpa menunjukkan sedikit pun rasa sakit.Dahulu, Carsein mungkin akan merasa lega melihat Laticia tidak membuat keributan.Sekarang, ketenangan itu justru membuatnya takut.Selena menundukkan kepala kembali.“Maaf, Yang Mulia. Saya seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu.”Carsein menggeleng pelan. “Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf.”Ia lalu menatap pintu yang sebelumnya dilewati Laticia. Setelah beberapa saat, Carsein melangkah masuk ke dalam istana, tetapi kali ini langkahnya tidak setegas sebelumnya. Selena mengikuti dari belakang, sementara para pengawal berjalan dalam jarak tertentu.Tidak ada seora
Nada bicaranya tetap tenang, tetapi kalimat itu membuat Carsein semakin sulit menjawab. Laticia dapat melihat bagaimana jemari pria itu mengepal samar di sisi tubuhnya. Ia tidak tahu apakah Carsein merasa bersalah, khawatir, atau hanya tidak mampu memahami sikap Laticia.Dahulu, jika Carsein membawa Pricilla ke hadapannya, Laticia pasti akan bertanya mengapa. Ia akan menuntut penjelasan, memaksa Carsein menyadari luka yang telah ditimbulkannya. Namun, sekarang, Laticia tidak lagi membutuhkan pengakuan dari pria itu.Ia tidak perlu bertanya mengapa Carsein memilih Selena.Ia hanya perlu melihat bagaimana Carsein melindungi perempuan tersebut, bagaimana ia berbicara dengan hati-hati, dan bagaimana tatapannya terus kembali kepada Selena seolah-olah takut sesuatu akan terjadi padanya.Semua itu sudah cukup.Laticia tersenyum tipis, kemudian berbalik untuk pergi. Di belakangnya, Carsein masih berdiri dalam keheningan, sementara Selena tetap menundukkan wajahnya dengan sempurna.Selena masi
Lereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang d
“Apa kau kerasukan setan?”Laticia tertegun sebelum perlahan menghela napas, ekspresinya tetap tenang.“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “saya serius.”Tatapan Carsein langsung berubah tajam. Ia melepaskan tangannya dari bahu Pricilla lalu berjalan mendekati Laticia perlahan.Langkahnya berhenti tepat di
Langkah kaki Carsein menjauh tanpa ragu, gema sepatunya perlahan menghilang di balik lorong istana. Pintu ruang makan tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.Laticia tetap duduk di kursinya, punggungnya masih tegak seperti seorang ratu, namun napasnya perlahan terlepas. Ia memejamk
“Aku setuju bercerai.”Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Ka







