ANMELDENSeluruh aula terdiam.Ucapan Zion barusan menggantung di udara, berat dan tajam, seperti bilah tipis yang baru saja menggores sesuatu yang tak terlihat. Tak seorang pun bergerak. Bahkan para pejabat yang sejak tadi saling berbisik kini hanya bisa diam, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Carsein menatap Zion dari kursi kekaisarannya dengan tatapannya yang dingin sekali sampai beberapa orang yang duduk di dekat Zion ikut menegang, seolah tekanan itu ikut menjalar ke seluruh ruangan.Lalu, dengan suara rendah yang tertahan, Carsein akhirnya berbicara.“Duke.”Satu kata itu saja sudah cukup membuat suasana semakin berat.“Jadi kau setuju melempar adikmu sendiri ke Utara... dan pada saat yang sama mendukung wanita lain di sisiku?” Nada suaranya tenang.Beberapa pejabat menunduk. Sebagian menahan napas. Pertanyaan itu jelas bukan sekadar pertanyaan. Itu tuduhan dan tekanan. Serta sedikit ancaman yang dibungkus dengan formalitas.Zion tetap duduk dengan tenang, punggungnya tegak, wa
Seorang pejabat senior akhirnya angkat bicara, suaranya terdengar lebih hati-hati dibanding sebelumnya, seolah mencoba meredakan arah pembicaraan yang mulai memanas.“Yang Mulia... baik Anda maupun Yang Mulia Kaisar tidak perlu langsung menuju Utara.”Ucapan itu membuat beberapa pejabat lain segera mengangguk setuju.“Benar,” sahut yang lain cepat. “Di sana sudah ada Yang Mulia Grand Duke. Beliau lebih dari cukup untuk menangani situasi di wilayah itu.”Suasana rapat kembali dipenuhi gumaman setuju. Bagi mereka, itu adalah jalan paling aman, semua urusan berbahaya diserahkan pada orang yang memang terbiasa hidup di garis depan.Laticia mendengarkan semuanya tanpa menyela. Ia hanya menghela napas pelan, matanya jatuh pada peta Utara yang terbuka di atas meja. Lalu Laticia mengangkat wajah.Tatapannya tenang, tetapi cukup tajam untuk membuat beberapa orang yang tadi berbicara menundukkan kepala tanpa sadar.“Sudah terlalu lama Utara diabaikan,” katanya akhirnya, suaranya datar namun
“Apa keadaannya sekacau itu?” tanya Laticia akhirnya, suaranya tenang, nyaris terlalu tenang untuk situasi seperti ini.Carsein mengatupkan bibirnya sejenak, seolah sedang menimbang apakah ia harus mengatakan semuanya sekarang. “Pemberontak dari Kekaisaran Bar menyusup ke wilayah Utara.”Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti batu yang dilempar ke permukaan air tenang menciptakan gelombang yang tak terlihat, tetapi cukup untuk mengubah segalanya.Laticia tidak segera menjawab.Tatapannya tetap lurus pada Carsein, tetapi pikirannya bergerak cepat. Dan apa yang diucapkan Carsein adalah sesuatu yang sebetulnya ia sendiri tahu. Namun yang tidak diketahui Carsein adalah apapun yang terjadi di utara tidak pernah berada di bawah kendalinya.Carsein memperhatikan perubahan kecil di wajah Laticia, bagaimana mata wanita itu menjadi lebih dalam, lebih dingin, seolah sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya. Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan ditangani tanpa perlu dirinya terlibat,
Lereg tidak langsung menjawab.Setelah permintaan itu keluar dari bibir Laticia, ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Tatapan pria itu tertahan padanya, tajam dan dalam, seolah sedang menimbang bukan hanya kata-katanya, tetapi juga perubahan yang kini berdiri di hadapannya.Laticia membiarkan keheningan itu beberapa saat sebelum akhirnya kembali bicara, suaranya tetap tenang.“Itulah mengapa Anda harus pergi lebih dulu.”Sudut bibir Lereg bergerak samar, membentuk senyum tipis yang sulit ditebak artinya.“Apa sekarang Anda sedang memintaku memberontak secara langsung?”Nada suaranya terdengar ringan, tetapi makna di baliknya jelas, tapi Laticia tidak terpengaruh. Ia hanya menyandarkan tubuhnya sedikit ke sofa, menatap lurus ke arah pria itu.“Tidak perlu,” jawabnya datar. “Aku hanya ingin Anda lebih dulu sampai di Utara. Apa pun alasannya.”Lereg mengangkat alis tipis. “Tapi kau memintaku membunuh mereka.”Laticia memiringkan kepala sedikit, seolah itu bukan hal yang perlu diperd
Melisa menunduk dalam, memahami bahwa pertemuan itu bukan sekadar percakapan biasa.“Baik, Yang Mulia.”Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Laticia melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan. Gaunnya bergesekan pelan di atas lantai marmer, langkahnya terdengar mantap meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih.Saat pengawal membuka pintu ruang tamu, Laticia tidak langsung melangkah masuk. Ia berhenti di ambang pintu, tatapannya menyapu ruangan itu lebih dulu sebelum akhirnya jatuh pada sosok yang sudah menunggunya di dalam. Namun sebelum benar-benar masuk, ia menoleh pada para pengawal yang berjaga di sisi pintu.“Pergilah. Kosongkan tempat ini.”Perintahnya singkat, tetapi cukup membuat kedua pengawal itu segera menunduk.“Baik, Yang Mulia.”Mereka mundur tanpa bertanya, menutup pintu perlahan setelah Laticia melangkah masuk. Suasana di dalam ruangan itu langsung berubah sunyi. Hanya ada dirinya dan Lereg.Pria itu, yang sejak tadi duduk menunggu, langsung berdiri begitu melihatnya. Ia memberi
Carsein tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. Bibirnya sempat terbuka, lalu tertutup kembali tanpa suara. Keraguan seperti itu jarang terlihat pada dirinya, dan justru karena itulah Laticia bisa menangkapnya dengan jelas.Ia tahu Carsein ingin menahan kepergiannya, ingin membantah, atau setidaknya memaksanya mengubah keputusan. Namun ia juga tahu lelaki itu tidak bisa melakukannya. Tidak setelah malam sebelumnya ia sendiri yang berjanji akan memberikan apa pun yang Laticia inginkan.Janji itu kini menjadi rantai bagi dirinya sendiri.Laticia mengangkat pandangannya dari dokumen di atas meja, menatap Carsein yang masih berdiri di hadapannya dengan wajah tegang. Tidak ada lagi sisa kehangatan yang dulu selalu muncul setiap kali ia melihat lelaki itu. Semua yang tersisa hanyalah ketenangan yang dingin, ketenangan yang justru terasa lebih tajam daripada kemarahan.“Ada lagi yang ingin kau katakan?” tanyanya pelan.Carsein terdiam beberapa saat. Tatapannya turun sejenak, lalu kemb
Suasana malam itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara benturan pedang menggema di jalan yang gelap sementara para pengawal kerajaan berusaha mempertahankan posisi di sekitar kereta sang ratu. Ringkikan kuda terdengar nyaring bercampur dengan teriakan para penjaga yang mulai panik mengha
Ia tidak bercanda. Karena dirinya tahu bagaimana akhir dari semua ini.Jika Zion tetap berada di sisinya sampai akhir, maka lelaki itu juga akan ikut hancur bersamanya seperti kehidupan sebelumnya.Dan kali ini, Laticia tidak sanggup melihat itu terjadi lagi.“Aku serius, Zion,” bisiknya pelan. “Ak
Laticia menundukkan pandangannya beberapa saat sebelum akhirnya kembali membuka suara. Suaranya pelan, namun terdengar begitu berat di dalam ruangan yang sunyi itu.“Hanya karena aku menolak bercerai… Carsein melakukan semua ini.”Zion diam menatapnya.Tatapan mata lelaki itu tetap tenang, tetapi r
Raut wajah Carsein berubah drastis setelah mendengar jawaban Laticia. Tatapan mata biru lelaki itu mengeras samar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Selama ini Laticia selalu menunggunya. Bahkan ketika dirinya datang larut malam atau sama sekali tidak datang, wanita itu te






