LOGIN“Siapa yang menyuruhmu menyentuhnya?”
Mayra refleks menahan napas. Jari-jarinya masih mencengkram ujung gaun, sementara pelayan di hadapannya tampak semakin pucat. “T-Tuan, maaf. Saya hanya khawatir gaun itu akan rusak. Saya bermaksud—” “Lalu kau ingin merusak gaun itu dengan tanganmu sendiri?” Suara Matthias terdengar lebih tajam dan menusuk. Pelayan itu semakin menundukkan kepala. Tidak ada lagi keberanian untuk menjelaskan apa pun. Pandangan Matthias kembali tertuju pada Mayra yang hanya bisa menundukkan kepala. Ia sempat menatap perempuan itu beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan kepada pelayan di hadapannya. “Orang yang merasa dirinya berkuasa di rumah ini tidak pantas untuk tinggal di sini.” Tatapan Matthias mengeras. Ia mengangkat satu tangannya dan menunjuk pelayan tersebut. “Singkirkan dia.” Wajah pelayan itu seketika pucat. “T-Tuan, mohon ampuni saya. Saya benar-benar tidak bermaksud—” Belum sempat pelayan itu menyelesaikan ucapannya, Elias tiba-tiba meraih lengannya dan menariknya dengan kasar. “Apa yang kau lakukan?” Pelayan itu tersentak, matanya membesar saat berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Elias. Ia menoleh kepada Matthias, berharap mendapatkan ampunan dari tuannya. “T-Tuan, saya...” “Lempar dia ke kawanan serigala,” potong Matthias langsung. Suaranya terdengar dingin dari belakang mereka. Tubuh pelayan itu seketika menegang. Wajahnya berubah pucat pasi, seolah baru saja mendengar vonis atas hidupnya sendiri. Mayra yang mendengar ucapan tersebut ikut membeku. Ia tidak berani mengangkat kepala, tetapi ia tahu betul apa maksud perintah Matthias. Keluarga Hayes memang terkenal kejam. Di antara berbagai cerita yang beredar tentang keluarga itu, kawanan serigala milik Hayes menjadi salah satu yang paling ditakuti. Serigala-serigala itu bukan hanya digunakan untuk menjaga kediaman, tetapi juga menjadi bagian dari hukuman bagi orang-orang yang dianggap telah melewati batas. Mayra semakin menundukkan kepalanya. Ia tidak berani melihat ke arah pelayan itu yang telah diseret dengan paksa, meskipun jantungnya mulai berdetak semakin cepat. Kini, hanya tersisa dirinya dan Matthias di dapur. Mayra tidak berani bergerak sedikit pun. Ia bisa merasakan tatapan Matthias yang kembali tertuju kepadanya, membuat jemarinya tanpa sadar mencengkeram ujung gaun. “Bersihkan gaun itu.” Matthias melirik sekilas gaun yang masih dikenakan Mayra, lalu kembali menatap wajah gadis itu. “Jam setengah sembilan malam, sudah harus ada di ruang kerjaku.” Mayra segera mengangguk kecil. “Baik, Tuan.” Matthias menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah memastikan perintahnya benar-benar dipahami. Setelah itu, ia berbalik dan berjalan meninggalkan dapur tanpa mengatakan apa-apa lagi. Mayra tetap berdiri di tempatnya sampai langkah pria itu semakin menjauh. Barulah ia menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. “Ada apa? Kamu tidak apa-apa?” Ivy segera menghampiri Mayra dengan wajah cemas. “Aku tadi melihat dari ruang makan, tapi tidak berani mendekat karena Tuan Matthias masih ada di sini.” Sejak Mayra mulai bekerja di kediaman Hayes, Ivy menjadi salah satu pelayan yang paling sering menemaninya. Ia selalu membantu Mayra beradaptasi dengan berbagai pekerjaan di kediaman tersebut. Sikapnya yang ramah juga membuat Mayra perlahan menganggap Ivy sebagai seorang teman. “Aku tidak apa-apa,” jawab Mayra pelan. Dapur dan ruang makan memang hanya dipisahkan oleh sebuah lorong pendek tanpa pintu, sehingga apa yang terjadi di dapur masih dapat terlihat dari meja makan. Ivy tadi hanya bisa memperhatikan dari kejauhan ketika Matthias datang dan suasana dapur berubah tegang. Ivy masih tampak khawatir. Ia memperhatikan wajah Mayra beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, “Tapi pelayan tadi kenapa? Dia melakukan sesuatu kepadamu? Apa dia sempat mengganggumu?” Mayra hanya menggeleng kecil. Kepalanya kembali tertunduk, seolah tidak ingin membicarakan apa yang baru saja terjadi. Ivy tidak memaksanya. Ia hanya menepuk bahu Mayra pelan. “Tidak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja. Kamu bisa cerita padaku kapanpun kamu mau.” Namun, saat itu juga pandangan Ivy tertuju pada pakaian Mayra, seolah ia baru menyadari sesuatu. “Tunggu...” Ivy memperhatikan gaun yang dikenakan Mayra dengan raut bingung. “Kenapa kamu bisa memakai gaun ini?” Mayra ikut menunduk, memperhatikan gaun yang masih melekat di tubuhnya, lalu menjawab lirih, “Tadi Tuan memberikan tugas untukku.” “Tuan Hayes?” tanya Ivy memastikan. Mayra mengangguk kecil. Ivy tidak langsung bertanya lagi. Ia hanya menghela napas pelan, lalu menepuk lengan Mayra dengan lembut. “Kalau begitu, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin memang ada alasan Tuan menyuruhmu melakukan itu.” Mayra hanya mengangguk. Ia juga ingin berpikir seperti itu. Gaun yang dikenakannya hanyalah bagian dari pekerjaannya. Tidak ada alasan baginya untuk menghubungkan kejadian tadi dengan sesuatu yang lebih dari itu. “Aku mau mencuci gaun ini dulu,” ujar Mayra pelan. “Tuan bilang gaun ini harus sudah ada di ruang kerjanya jam setengah sembilan malam.” “Baiklah.” Ivy mengangguk. “Aku juga masih ada pekerjaan lain.” Mayra membalas anggukan itu sebelum membawa gaun tersebut pergi. *** Malam harinya, Mayra kembali memeriksa gaun yang harus dikembalikannya kepada Matthias. Namun, baru saja ia membentangkan gaun tersebut, matanya langsung tertuju pada bagian kain yang berlubang akibat panas setrika. “Bagaimana bisa...?” Mayra menyentuh bagian yang rusak itu dengan jemari gemetar. Ia ingat betul sudah menjauhkan setrika sebelum meninggalkannya untuk pergi ke kamar mandi. Lantas, bagaimana gaun ini bisa sampai berlubang? Pandangan gadis itu kemudian jatuh pada jam di dinding. Sudah hampir setengah sembilan malam. “Apa yang harus kukatakan kepada Tuan?” gumam Mayra lirih sambil memeluk gaun itu. Jika kerusakan gaun ini membuatnya kehilangan pekerjaan, mungkin ia memang harus menerimanya. Bagaimanapun, gaun itu berada dalam tanggung jawabnya dan ia tidak punya alasan untuk menyangkal kesalahan tersebut. Namun, Mayra tidak punya banyak waktu untuk memikirkannya. Ia segera merapikan gaun itu sekali lagi, berusaha menyamarkan bagian yang rusak sebisanya, sebelum akhirnya membawanya menuju ruang kerja Matthias. Semakin dekat langkahnya dengan ruangan itu, semakin kuat pula perasaan tidak enak yang memenuhi dadanya. Setelah berdiri beberapa saat di depan pintu, Mayra akhirnya menarik napas panjang dan mengetuk. Tok! Tok! “Masuk.” Suara Matthias terdengar dari dalam. Mayra menelan ludah sebelum membuka pintu dan melangkah masuk. Ruangan itu hanya menyisakan dirinya dan Matthias yang masih duduk tenang di balik meja kerja. Namun, ketenangan pria itu justru membuat Mayra semakin gugup ketika tatapannya langsung tertuju pada gaun yang dibawanya. “Itu...” Mayra menggenggam gaun tersebut semakin erat. “Maaf, Tuan.” Matthias mengangkat pandangan kepadanya. “Kemarikan.” Mayra ragu sejenak sebelum akhirnya menyerahkan gaun itu. Matthias menerimanya dengan tenang, tetapi ekspresinya berubah ketika menemukan bagian kain yang berlubang. Sorot matanya perlahan mengeras. “Siapa yang melakukannya?” tanya Matthias rendah. Mayra langsung menegang. Jemarinya saling meremas di depan tubuh, sementara kepalanya tertunduk karena tidak tahu harus memberikan jawaban apa. Bersambung...."Kenapa?" Suara Matthias tiba-tiba terdengar, dan matanya kini tertuju penuh pada Mayra. "Ada yang ingin kau katakan?”Mayra sedikit gelagapan, entah apa yang membuat wajahnya seketika memanas. Jantungnya pun tiba-tiba berdetak tak beraturan, membuatnya semakin tak berani menatap Matthias terlalu lama. Di saat seperti ini, rasanya Mayra sangat tidak tenang. Ia menahan napas sebentar, berusaha menyusun pikiran yang tiba-tiba terasa berantakan."Tidak ada, Tuan." Mayra berpura-pura sibuk menatap ke arah jendela seolah sedang fokus mengamati pemandangan."Katakan saja." Matthias tidak membiarkan Mayra menghindar. "Kau sedang mencoba membohongiku?”Napas Mayra seketika tercekat di tenggorokannya, ia buru-buru menggeleng dengan panik. "Saya tidak akan berani berbohong pada Tuan.”“Lalu?” Sebelah alis Matthias sedikit terangkat.“Saya hanya berpikir … saya tidak seharusnya menanyakan hal yang mungkin membuat Tuan tersinggung.” Mayra menatap lurus ke arah lututnya, berharap Matthias mengerti
"Tuan Hayes, senang bisa bertemu denganmu." Jane menghampiri Matthias dengan senyum yang anggun dan hangat.Ayah Jane memang punya kerja sama dengan perusahaan milik Matthias, wajar saja jika Jane ikut pergi bersama ayahnya. Di kesempatan ini Jane punya banyak sekali kesempatan untuk dekat dengan Matthias.Mayra berdiri agak di belakang, menunduk sedikit sambil menahan perasaan aneh yang merambat di hatinya. Semacam sesak yang samar, ia tahu seharusnya dirinya tidak merasa seperti itu.Matthias hanya menanggapi Jane dengan sikap dingin seperti biasa."Ayahku ingin bicara denganmu, bagaimana kalau kita ke sana?" Jane berniat meraih lengan Matthias, namun Matthias langsung menghindar.Matthias sedikit mundur selangkah dengan tangan yang tetap ada di saku celananya.Jane berusaha menahan rasa canggungnya, lalu tersenyum kembali. "Tidak masalah, kita bisa mengobrol sebentar di sini.”Jane menarik tangannya perlahan, berusaha terlihat seolah tidak terjadi apa-apa, meski matanya sekilas men
Matthias memandang sapu tangan itu sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Mayra dengan wajah yang masih tenang. "Matahari kecil ini, buatanmu?”Jantung Mayra tiba‑tiba berdebar lebih kencang, ia tidak menyangka Matthias akan memperhatikan detail sekecil itu. “Ya, Tuan.”Matthias mengusap perlahan tepi bordir dengan ujung jari, raut wajahnya tetap datar dan tidak ada senyum sedikitpun. “Kau tidak mungkin membuatnya dalam satu hari, kan?”Tangan Mayra mendadak dingin, seolah pertanyaan yang diajukan Matthias bukanlah hal yang sederhana. Ia menahan napas sejenak, menunduk agar Matthias tidak melihat pipinya yang memerah. bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa ia mengerjakannya sebelum hari ulang tahun Matthias tiba."Saya …" Mayra tergagap, mendadak tidak tahu harus berkata apa seolah semua kalimat mendadak lenyap dari kepalanya.Sorot mata Matthias tak terbaca, sementara rahangnya sedikit mengeras halus. "Sapu tangan ini harusnya untuk orang lain?”Mayra menggeleng cepat, matany
"Hantu." Matthias terkesan seperti sedang melawak, namun raut wajahnya tetap datar dan suaranya tenang.Mayra terdiam sejenak, tidak yakin apakah dia baru saja diberi candaan atau justru ditegur dengan cara yang aneh. Ia juga bingung bagaimana cara menanggapinya."Untukmu." Suaranya terdengar rendah dan singkat, namun ada penekan halus di ujung kalimatnya."Tapi Tuan—""Kau tidak menginginkannya?" potongnya cepat, seakan tak memberi ruang untuk penolakan.Mayra terdiam. Di dalam hatinya ia bertanya-tanya, kenapa Tuan memberikannya begitu saja? Seolah-olah pria itu tahu kalau ia memang menginginkannya. Tapi tentu saja itu mustahil. Bagaimana mungkin tuannya memperhatikan hal sekecil itu tentang dirinya? Pikirnya sambil menunduk, berusaha menepis perasaan aneh itu.Tatapan Mayra kini tertuju pada kue kering di piring itu. Daripada nanti terbuang percuma, jelas jauh lebih baik jika ia memakannya sekarang. Mayra tersenyum tipis pada dirinya sendiri, setidaknya dengan begitu ia tidak menyi
“Apa?” tanya Matthias dengan sebelah alis yang sedikit terangkat.Padahal tadi Mayra sudah sangat percaya diri, bahkan sudah berulang kali berlatih di dalam hati agar bisa mengucapkan kalimatnya dengan benar. Ia ingin mengambil cuti untuk hari esok. Tapi begitu berdiri di hadapan pria itu, keberaniannya perlahan menipis.Kata-kata Mayra tertahan di ujung lidah, dan ia hanya bisa menghindari tatapan pria itu dengan jantung yang berdebar kencang. Meskipun begitu, Mayra tidak bisa mengurungkan niatnya."Saya ingin mengambil cuti untuk hari esok, Tuan." Kata-kata itu akhirnya terucap, setelah Mayra menelan ludah dan menenangkan diri sejenak."Tidak boleh." Matthias langsung menolaknya mentah-mentah, seakan kata-kata itu sudah siap di ujung lidahnya sebelum Mayra selesai berbicara.Hati Mayra berdebar cemas, namun ia memberanikan diri untuk bertanya. "Kalau boleh tahu … apa ada alasan khusus, Tuan?”Matthias hanya diam, tatapannya masih dingin seperti sebelumnya.Mayra menarik napas pelan,
"Ini bukan untuk siapa-siapa," jawab Mayra buru-buru, wajahnya memerah seketika tanpa alasan yang jelas.Mayra segera menyembunyikan sapu tangan itu di balik punggungnya, berharap Ivy tidak akan menanyainya lebih jauh lagi. Jangan sampai Ivy tahu sosok yang ingin dirinya berikan sapu tangan itu.Mayra menelan ludah gugup, membayangkannya saja sudah membuatnya merasa sangat malu dan tidak tenang. Ia harus menyimpan rahasia itu rapat-rapat."Lihat apa?" Mayra mendorong pelan bahu Ivy sambil memalingkan wajah sedikit. "Tidak ada yang menarik untuk dilihat.”Ivy masih tersenyum dengan tujuan menggoda Mayra. “Kau membordir sapu tangan untuk seseorang yang kau suka, itu sangat menarik.”"Jangan bicara sembarangan," bisik Mayra sepelan mungkin, matanya melirik ke kanan dan kiri seakan takut ada yang mendengar."Kenapa gugup begitu? Aku cuma bercanda." Ivy tertawa tanpa suara, matanya berbinar nakal. "Tapi … apa orang yang kau sukai benar-benar ada di kediaman ini?”Mayra langsung membekap mu







