تسجيل الدخولMalam itu, mereka memutuskan untuk menginap di penginapan tersebut.Gavriel menyewa dua kamar.Satu kamar berukuran besar untuk dirinya bersama kedua kusir.Sementara satu kamar lainnya ditempati Aruna dan Mira.Karena perjalanan yang begitu panjang, Mira langsung tertidur begitu tubuhnya menyentuh kasur.Kedua kusir pun tak jauh berbeda.Bahkan Gavriel sempat memejamkan matanya seolah benar-benar terlelap.Namun...beberapa jam kemudian, ia perlahan membuka matanya.Ruangan masih gelap.Hanya cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela.Gavriel bangkit tanpa menimbulkan suara.Ia menyalakan sebuah lilin kecil, mengenakan mantel tebalnya, lalu berjalan keluar dari kamar.Di kamar sebelah...Aruna justru belum bisa tidur.Suasana baru membuatnya sulit memejamkan mata.Saat tanpa sengaja melirik ke luar jendela, ia melihat sesosok pria membawa cahaya lilin berjalan meninggalkan penginapan."...Gavriel?"gumamnya pelan.Rasa penasaran mengalahkan rasa kantuk.Dengan hati-hati agar tida
"Memangnya kenapa dengan Duke Rowan?"tanya pemilik kedai sambil tetap fokus mengoleskan bumbu rempah ke permukaan daging rusa yang sedang dipanggang.Gavriel sempat terdiam.Ia hampir saja menjawab.Namun bayangan Rowan yang beberapa waktu lalu terang-terangan mengejar Aruna di Elarion langsung terlintas di benaknya."Lebih baik jangan kubahas..."batinnya.Ia tersenyum tipis."Tidak apa-apa.""Lupakan saja."Pemilik kedai hanya mengangkat bahu."Kalau begitu, anggap saja aku tidak bertanya."Tak lama kemudian, beberapa piring besar berisi daging rusa bakar yang masih mengepulkan asap hangat dihidangkan ke atas meja.Aroma rempah yang kuat langsung memenuhi ruangan.Di sampingnya, tersaji cangkir-cangkir berisi sirup jahe hangat yang dicampur teh.Pemilik kedai menyandarkan tubuhnya di dekat meja mereka sambil melipat kedua tangan."Nah, silakan dinikmati.""Semoga cocok dengan lidah tamu dari Elarion."Mereka pun mulai menyantap hidangan itu.Di sela-sela suasana makan yang hangat,
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, kereta mereka akhirnya melewati gerbang wilayah terluar Nochtaryn.Suara roda kereta yang bergesekan dengan jalanan berbatu perlahan melambat.Aruna mengembuskan napas lega."Akhirnya..."gumamnya pelan.Mira segera membuka sedikit tirai jendela kereta.Aruna ikut mendekat.Keduanya sama-sama menatap ke luar dengan penuh rasa penasaran.Pemandangan pertama yang menyambut mereka berbeda jauh dari Elarion.Langit Nochtaryn diselimuti kabut tipis berwarna keabu-abuan.Sinar matahari sore yang mulai condong ke barat hanya mampu menembus sedikit, menciptakan suasana yang tampak suram, tetapi entah mengapa juga terasa tenang.Kereta kemudian memasuki sebuah jalan yang tidak terlalu lebar.Di sepanjang sisi kanan dan kirinya berjajar puluhan pedagang.Suara tawar-menawar terdengar di mana-mana.Asap putih mengepul dari tungku-tungku kecil.Aroma daging panggang bercampur rempah memenuhi udara.Mata Aruna langsung berbinar."Street food..."batinnya
Gavriel tersenyum kecil."Lalu...""Nochtaryn memiliki seorang Duke yang akan melakukan apa pun demi melindungi wilayahnya."Aruna dan Mira sama-sama menoleh ke arahnya."Beliau tidak segan menjatuhkan hukuman.""Bahkan...""Jika ada yang membangkang dan mengancam keselamatan Nochtaryn, beliau sendiri yang akan menghunus pedangnya.""Tak jarang...""...kepala orang itu akan terpenggal."Gavriel mengucapkannya dengan nada datar, seolah sedang membicarakan hal yang biasa."Itulah Duke Rowan Blackwood.""Beliau sangat kejam terhadap musuh...""...tetapi sangat adil kepada rakyatnya."Ia terkekeh pelan."Aku bisa berkata seperti ini karena dulu aku pernah menjadi tangan kanan beliau.""Sebelum akhirnya memutuskan mengundurkan diri dan mengabdi kepada keluarga Ardent."Mira yang sejak tadi mendengarkan langsung menyenggol pelan lengan Gavriel."Kalau begitu...""Bagaimana pendapatmu setelah menjadi kesatria keluarga Ardent, Sir Gavriel?"Ia tersenyum jahil."Apakah Lady Evelyne sama sepert
Kereta kuda mulai meninggalkan Kediaman Ardent.Roda-roda kayunya berderit pelan, melewati jalan berbatu yang masih basah oleh embun pagi.Di kanan dan kiri, pepohonan berbaris rapi seakan mengantarkan kepergian mereka.Suasana di dalam kereta jauh lebih santai.Mira duduk berhadapan dengan Aruna, sementara Gavriel memilih duduk di dekat pintu kereta agar dapat sesekali memperhatikan keadaan di luar.Beberapa saat mereka hanya menikmati perjalanan.Hingga akhirnya Mira memecah keheningan."Lady..."Aruna mengangkat kepalanya."Apa yang Lady katakan kepada Lord Cedric tadi benar?"Mira tersenyum kecil."Beliau pulang dengan wajah yang benar-benar kecewa."Aruna terdiam.Pandangannya beralih ke luar jendela kereta.Hatinya juga terasa tidak nyaman.Ia memang tidak berbohong.Namun, ia juga tidak mengatakan alasan yang sebenarnya.Jika tadi ia memilih diam, Cedric pasti akan terus mendesaknya dengan berbagai pertanyaan.Tetapi...jika ia mengajaknya ikut...perjalanan ini justru akan men
Pagi itu, suasana Kediaman Ardent jauh lebih sibuk dari biasanya.Beberapa pelayan hilir mudik membawa koper, peti kayu, serta perbekalan yang telah dipersiapkan sejak dini hari.Di halaman depan, dua kereta kuda telah menunggu.Seekor demi seekor kuda diperiksa kembali oleh kusir, memastikan tidak ada perlengkapan yang tertinggal sebelum perjalanan panjang dimulai.Aruna berdiri di samping kereta.Tangannya sibuk merapikan tas berisi peta, pakaian ganti, dan beberapa buku yang sengaja ia bawa.Di dekatnya, Gavriel memeriksa pedangnya untuk terakhir kali, sementara Mira membantu para pelayan menata barang-barang agar tidak bergeser selama perjalanan."Sayang..."Duchess Marianne melangkah menghampiri Aruna.Wajahnya dipenuhi kekhawatiran."Kau benar-benar yakin ingin pergi ke Nochtaryn?"Aruna menghentikan tangannya sejenak.Duchess Marianne kembali berkata pelan,"Dulu kau sangat membenci Duke Rowan Blackwood.""Bahkan kau selalu mengeluh setiap kali mendengar namanya.""Bukankah kau
Pesta Musim Semi berlangsung hingga larut malam, tapi Aruna sudah muak dengan kebangsawanan setelah dua jam pertama.Ia menghabiskan sisa waktu dengan berdiri di dekat meja makanan—bukan karena lapar, tapi karena di sanalah tempat paling aman. Para bangsawan sibuk bergosip dan saling menjilat, tida
Aruna butuh waktu lima menit penuh untuk berhenti menatap bayangannya sendiri di cermin.Bukan karena ia terpesona—meski harus diakui, wanita di cermin ini cantik luar biasa. Tapi karena otaknya masih sibuk mencerna fakta bahwa ia baru saja kehilangan lima persen gaji di dunia lama dan mendapatkan
"Lady Evelyne... Duchess Marianne memerintahkan Anda segera bersiap."Suara itu lembut. Terlalu lembut. Seperti kapas yang diusapkan ke telinga.Aruna membuka mata. Dan dunia yang ia kenal lenyap. Bukan lampu neon kantor. Bukan meja kerja dengan tumpukan berkas. Bukan kursi ergonomis yang sudah buny
Setibanya di kediaman Ardent, Aruna langsung disambut gembira oleh para pelayan, terutama Mira karena telah memenangkan pelelangan. Beberapa pelayan pun diminta untuk memindahkan lukisan wanita peramal itu ke galeri seni milik Lady Evelyne.Galeri itu sangat besar, hampir menyerupai aula pameran pr







