ANMELDEN“Buat apa bahas hal ini di saat makan malam? Jangan bikin malu,” potong Sean tajam.
Suaranya yang berat memotong keheningan ruangan. Tatapan matanya menajam, menusuk Stella dengan implikasi teguran yang teramat jelas, bahwa Sean paling benci membahas masalah pribadi bersama orang lain, apalagi hal sesensitif dan seprivat itu di hadapan seluruh keluarga besar. Mendengar respons Sean, wajah Nyonya Anderson yang tadinya sempat pucat pasi seketika berganti warna menjadi merah padam. Wanita paruh baya itu menunduk tajam, meremas kain serbet di pangkuannya demi menutupi rasa malu dan kecemasan yang sempat membakar dadanya. Jika saja Nenek Anderson tidak berada di ujung meja, pasti dia sudah membentak Stella habis-habisan. Sementara itu, Jessica duduk terpaku dengan napas tertahan. Di bawah taplak meja kayu jati yang tebal, jemarinya meremas kain gaunnya sendiri. Matanya berkilat menatap Stella dengan dendam yang membara. Berani-beraninya wanita tanpa latar belakang ini mencoba memancing topik kehamilan di depan nenek, orang paling berpengaruh di keluarga Anderson! Stella hanya menyunggingkan senyum tipis, senyuman hambar yang sama sekali tak menyentuh matanya. Tanpa menjawab ucapan Sean, dia kembali mengambil sendok dan garpunya, melanjutkan makan malamnya dengan ketenangan yang terasa aneh. Begitu santap malam yang penuh kepalsuan itu usai, suasana ruang makan perlahan mencair. Nenek Anderson pamit menuju ruang keluarga untuk beristirahat, ditemani oleh Tante Maudy dan beberapa kerabat lainnya. Sesuai kebiasaan lamanya selama dua tahun ini, Stella melangkah ke area dapur bersih untuk membantu membereskan cangkir dan piring pencuci mulut. Bukan karena dia merasa menjadi pelayan, melainkan hanya ingin menjauhkan diri dari atmosfer ruang tengah yang beracun. Namun, saat Stella sedang membilas beberapa cangkir di balik counter dapur, langkah kaki beradu pelan terdengar mendekat. Jessica berdiri tak jauh dari ambang pintu dapur. Dengan sengaja, adik kandung Sean itu menempelkan ponsel mewahnya ke telinga dan mengaktifkan mode pengeras suara dengan volume yang cukup nyaring agar memantul di dinding dapur. “Halo, Kak Chelsea!” panggil Jessica dengan suara riang yang sengaja dibuat-buat, begitu manis hingga terdengar menggelikan. Dari seberang telepon, suara halus dan lembut milik Chelsea terdengar merespons. “Halo, Jess… Makan malam keluarganya sudah selesai?” “Baru saja selesai, Kak! Aduh, aku kangen banget sama Kak Chelsea,” seru Jessica manja, matanya melirik ke arah punggung Stella yang masih tegak di depan wastafel. “Aku cuma mau bilang, aku benar-benar nggak sabar tunggu keponakan baruku lahir! Aku sudah memilah-milah baju bayi lucu. Begitu bayimu lahir nanti, aku yang bakal pertama kali mengajarinya panggil aku ‘Onty Jess’. Anak Kak Chelsea pasti bakal jadi keponakan kesayangan di rumah ini!” “Kamu ini berlebihan sekali, Jess,” kekeh Chelsea penuh nada manja dari seberang garis. “Nanti kalau Sean dengar, dia bisa tertawa.” “Ngapain tertawa? Kak Sean kan juga pasti bahagia banget!” timpal Jessica seraya melangkah makin dekat ke arah wastafel, memastikan Stella menyerap setiap kata yang keluar dari bibirnya. Stella menghentikan usapan kain lap pada gelas di tangannya sejenak. Namun, tidak ada derai air mata. Tidak pula keputusasaan yang menyusup di dadanya. Stella justru merasa mual, bukan karena kehamilannya, melainkan karena tingkat kepalsuan dan kedengkian orang-orang di rumah ini. Fakta bahwa Chelsea tidak hanya dekat dengan Sean, melainkan sudah terikat erat dengan seluruh anggota keluarga Anderson sejak lama, kini makin terlihat jelas. Hubungan mereka sudah terjalin rapi di belakang punggungnya. Tanpa sudi mendengar kicauan Jessica lebih lanjut, Stella mengeringkan jemarinya dengan tisu dapur. Dia berbalik, melewati Jessica begitu saja tanpa melirik sedikit pun, seolah-olah adik iparnya itu hanyalah suara kaset rusak. “Cih, sok cuek, jijik!” desis Jessica sinis saat Stella menghilang di balik pintu lorong. Stella menaiki tangga melingkar menuju lantai dua, melangkah menuju kamar tamu utama tempat dia dan Sean biasa menginap jika harus menginap di kediaman Nenek. Saat jemarinya mendorong pintu kayu tebal kamar tersebut, suara gemercik air yang mengalir deras terdengar dari arah kamar mandi. Sean sudah berada di dalam, sedang membersihkan diri. Ruangan itu hening, hanya dihiasi pencahayaan temaram dari lampu tidur bernuansa hangat. Stella berjalan mendekati meja rias. Dia membuka tas tangannya yang diletakkan di sana, lalu menarik keluar amplop cokelat tebal yang dibawanya sejak dari hotel. Di dalamnya, beberapa lembar berkas gugatan perceraian beserta surat persetujuan bermaterai telah menanti. Jemarinya menggenggam erat berkas putih tersebut. Ini adalah malam terakhirnya menggunakan nama Anderson. Begitu lembaran ini ditandatangani oleh Sean, penderitaan dan penyesuaian dirinya yang sia-sia selama dua tahun akan resmi berakhir. Cklek. Suara pintu kamar mandi yang terbuka memecah keheningan sekaligus konsentrasinya. Uap air hangat berembus keluar menyertai langkah Sean. Pria itu keluar hanya dengan mengenakan kimono hitam panjang, sementara dadanya yang bidang masih tertutup bulir-bulir air yang belum dikeringkan sepenuhnya. Rambut hitamnya basah berantakan. Akhirnya Stella membalikkan badannya dengan tenang. Matanya terkunci pada sosok Sean yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. “Kak Sean, ada yang harus kamu…” Kalimat Stella terputus seketika. Sean tak memberi ruang bagi Stella untuk menyelesaikan ucapannya. Pria itu melangkah lebar dengan dorongan impulsif yang mendadak. Tatapannya tajam terbakar oleh campuran rasa jengkel akibat ulah Stella di hotel, ditambah kekesalan atas pertanyaan Stella di meja makan tadi, serta dorongan kepemilikan yang mendadak meluap saat melihat istrinya berdiri dalam balutan pakaian rapi malam itu. Sebelum Stella sempat mengangkat berkas di tangannya, Sean mencengkeram pergelangan tangan Stella dengan kuat. “Kak Sean! Apa-apaan…” Bruk! Dengan satu gerakan kasar dan cepat, Sean menarik tubuh Stella ke arah tempat tidur berukuran king size. Dia menghempaskannya ke atas kasur yang empuk. Kertas-kertas gugatan cerai di jemari Stella terlepas, berhamburan, dan terselip di antara lipatan selimut tanpa sempat Sean lihat. Sebelum Stella sempat bangkit dan menghindar, tubuh tinggi dan tegap Sean sudah menindihnya dari atas. Kedua tangan Sean mengunci pergelangan tangan Stella di atas kepala, menahan seluruh pergerakan wanita itu dengan beban tubuhnya. Napas Sean yang hangat dan beraroma maskulin terembus berat tepat di atas wajah Stella. Pandangan pria itu mendingin, sarat akan dominasi yang kuat menuntut kepatuhan. “Kamu sudah makin berani malam ini, Stella,” desis Sean rendah, suaranya bergetar dalam jarak yang teramat dekat. “Bicara sesuka hatimu di depan publik, pamer dengan pria lain, dan sekarang memancing topik anak di depan Nenek. Kamu benar-benar butuh diingatkan siapa pemegang kendali di sini, hm?”"Sudahlah, Mas. Jangan terlalu khawatir, aku tahu persis apa yang kulakukan dan bagaimana cara menghadapi situasi ini," ucap Stella dengan nada lembut namun tegas di ujung sambungan telepon, mencoba meredakan kekhawatiran berlebihan dari pria yang sudah lama menjadi tempatnya bersandar itu."Bagaimana aku tidak merasa cemas, Ste? Keluarga Anderson itu punya kekuasaan dan pengaruh besar untuk memutarbalikkan fakta, apalagi mengambil hak asuh Liam darimu," sanggah Satria masih dengan nada suara yang meninggi karena diliputi rasa panik. "Kalau kamu butuh bantuan sekecil apa pun, katakan padaku sekarang juga. Aku bisa langsung meluncur ke pesisir malam ini.""Tidak usah, Mas Satria. Terima kasih banyak atas semua perhatian dan tawarannya, tapi ini adalah masalah rumah tanggaku sendiri dan aku harus menghadapinya secara bijaksana," jawab Stella menolak secara halus namun mutlak. "Kamu baru saja mendarat dari misi yang sangat melelahkan di Afrika. Sebaiknya kamu istirahat total, pulihkan te
Hari sudah beranjak malam ketika Sean melangkah kembali mendekati ranjang president suite tempat Nyonya Besar beristirahat. Setelah perbincangan singkat lewat sambungan telepon dengan Mbak Lastri sore tadi, keputusan di dalam kepala pria itu sudah bulat. Besok pagi, ia akan meninggalkan ibu kota sejenak demi membawa pulang istri tercintanya kembali ke pelukan keluarga.Clarissa si bungsu Anderson yang baru saja merapikan kotak mainan balok susun milik Liam mendongak menatap kakaknya. Ia menangkap binar tekad yang begitu kuat di mata Sean."Kak Sean sudah memutuskan kapan akan kembali ke pesisir dan jemput kak Stella?" tanya Clarissa pelan, berusaha tidak mengusik ketenangan Nyonya Besar yang masih memejamkan mata di pembaringan.Sean mengangguk tegas. "Besok pagi, Ca. Kondisi Nenek sudah jauh lebih stabil dan membaik. Aku tidak bisa membiarkan Stella sendirian terlalu lama di sana, apalagi perasaannya sedang bimbang antara rindu dan gengsi."Mendengar hal itu, Nyonya Besar yang dik
"Nanti kalau pesanan katering Mama sudah selesai, Mama pasti akan menyusul kita ke Jakarta, Nenek Buyut!" jawab Liam dengan penuh semangat, mempertahankan argumennya seraya menggenggam erat jemari renta sang buyut.Nyonya Besar terkekeh pelan di sela sisa napasnya yang masih terdengar lemah, merasa takjub dengan kecerdasan dan ketegasan cucu buyutnya itu. “Wah, hebat sekali cucu buyutku ini. Pintar, tegas, dan sangat menghargai kerja keras ibunya," puji Nyonya Besar sambil mengusap lembut pipi mulus Liam, menyalurkan kehangatan yang sudah lama hilang dari keluarga besar tersebut.Sean yang berdiri di sisi ranjang turut tersenyum tipis. Percakapan kecil itu semakin membuka matanya lebar-lebar bahwa Stella telah mendidik Liam dengan luar biasa baik, meskipun di tengah keterbatasan dan beban hidup yang berat selama tiga tahun terakhir.Nyonya Selvie yang duduk di kursi sebelah menyentuh lengan putranya secara perlahan. "Sean, perkataan Liam benar. Setelah kondisi Nenekmu benar-benar st
"Oma...?" sapa Liam dengan suara kecilnya yang polos, mendongak menatap wanita paruh baya berwajah tegas yang berdiri terpaku di hadapannya. Bocah tiga tahun itu mengerjap pelan, lalu membungkuk sopan seraya mencium punggung tangan Nyonya Selvie dengan lembut, meniru apa yang biasa ia ajarkan di rumah. "Halo, Oma. Aku Liam, anak Papa Sean dan Mama Stella." Sentuhan kecil dari tangan mungil sang cucu seketika meruntuhkan seluruh pertahanan dan ego tinggi yang selama ini melekat pada diri Nyonya Selvie. Wanita paruh baya itu terperanjat hebat, matanya mendadak memanas, dan tanpa sadar air mata menetes membasahi pipinya yang biasa tampak angkuh. Selama tiga tahun terakhir, ia hidup dalam penyesalan atas keretakan rumah tangga putranya, dan kini, darah daging dari anak yang paling ia sayangi berdiri di hadapannya dengan senyuman manis tanpa dosa. Dengan tangan yang bergetar hebat, Nyonya Selvie berlutut menyamakan tinggi badannya dengan sang cucu. Ia merengkuh tubuh kecil Liam ke d
"Tidak," jawab Stella tandas, menolak mentah-mentah ajakan tersebut tanpa sedikit pun keraguan di wajahnya. "Aku punya urusan katering yang tidak bisa ditinggal, dan rumah ini juga tidak boleh kosong. Pergilah kalian berdua bersama Liam."Sean menatap istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan kepedihan mendalam. Ia tahu ego dan luka masa lalu Stella terlalu tebal untuk ditembus hanya dalam waktu semalam, apalagi harus membawanya kembali ke lingkaran keluarga Anderson yang pernah menghancurkan hidupnya. Namun, penolakan itu tetap meninggalkan nyeri yang luar biasa di rongga dadanya."Baiklah, Ste," ujar Sean pasrah dengan suara berat. "Aku akan mengemas pakaian Liam dan bersiap sekarang."“Kak, tidak perlu bawa baju Liam banyak. Kita cukup langsung berangkat saja. Nenek sudah mengkawatirkan…”“Oke.”Tidak butuh waktu lama bagi Sean untuk bergerak. Setelah membereskan beberapa keperluan mendesak, pria itu segera menemui Liam di ruang tengah dan menjelaskan bahwa mereka harus pergi ke
Suara ketukan pintu depan berbunyi nyaring, disusul oleh isak tangis tertahan yang membuat udara di dalam rumah kecil itu mendadak terasa berat.Stella yang sedang merapikan pakaian di ruang tengah menghentikan gerakannya. Ia mengerutkan kening, melangkah pelan menuju pintu utama dan membukanya perlahan.Begitu daun pintu terbuka lebar, sosok seorang wanita muda berjas dokter rapi dengan mata bengkak dan pipi basah karena air mata langsung menyambut pandangannya. Clarissa tertegun di ambang pintu, menatap wanita di hadapannya dengan tatapan tak percaya seolah sedang melihat hantu. Napas gadis itu tercekat seketika."Kak... Stella... kamu kah itu?" cicit Clarissa dengan suara bergetar parah, jemarinya menutup mulut karena terkejut luar biasa.Stella yang tidak menyangka akan kedatangan adik iparnya di tempat terpencil ini sempat terpaku beberapa detik. Lidahnya mendadak kelu, namun melihat penderitaan di wajah gadis itu, ia akhirnya mengangguk pelan dengan gestur yang sedikit gagap.







