Share

Paksaan

Author: Nic Arhsy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-14 08:59:28

“Buat apa bahas hal ini di saat makan malam? Jangan bikin malu,” potong Sean tajam.

Suaranya yang berat memotong keheningan ruangan. Tatapan matanya menajam, menusuk Stella dengan implikasi teguran yang teramat jelas, bahwa Sean paling benci membahas masalah pribadi bersama orang lain, apalagi hal sesensitif dan seprivat itu di hadapan seluruh keluarga besar.

Mendengar respons Sean, wajah Nyonya Anderson yang tadinya sempat pucat pasi seketika berganti warna menjadi merah padam.

Wanita paruh baya itu menunduk tajam, meremas kain serbet di pangkuannya demi menutupi rasa malu dan kecemasan yang sempat membakar dadanya. Jika saja Nenek Anderson tidak berada di ujung meja, pasti dia sudah membentak Stella habis-habisan.

Sementara itu, Jessica duduk terpaku dengan napas tertahan. Di bawah taplak meja kayu jati yang tebal, jemarinya meremas kain gaunnya sendiri.

Matanya berkilat menatap Stella dengan dendam yang membara. Berani-beraninya wanita tanpa latar belakang ini mencoba memancing topik kehamilan di depan nenek, orang paling berpengaruh di keluarga Anderson!

Stella hanya menyunggingkan senyum tipis, senyuman hambar yang sama sekali tak menyentuh matanya. Tanpa menjawab ucapan Sean, dia kembali mengambil sendok dan garpunya, melanjutkan makan malamnya dengan ketenangan yang terasa aneh.

Begitu santap malam yang penuh kepalsuan itu usai, suasana ruang makan perlahan mencair. Nenek Anderson pamit menuju ruang keluarga untuk beristirahat, ditemani oleh Tante Maudy dan beberapa kerabat lainnya.

Sesuai kebiasaan lamanya selama dua tahun ini, Stella melangkah ke area dapur bersih untuk membantu membereskan cangkir dan piring pencuci mulut. Bukan karena dia merasa menjadi pelayan, melainkan hanya ingin menjauhkan diri dari atmosfer ruang tengah yang beracun.

Namun, saat Stella sedang membilas beberapa cangkir di balik counter dapur, langkah kaki beradu pelan terdengar mendekat.

Jessica berdiri tak jauh dari ambang pintu dapur. Dengan sengaja, adik kandung Sean itu menempelkan ponsel mewahnya ke telinga dan mengaktifkan mode pengeras suara dengan volume yang cukup nyaring agar memantul di dinding dapur.

“Halo, Kak Chelsea!” panggil Jessica dengan suara riang yang sengaja dibuat-buat, begitu manis hingga terdengar menggelikan.

Dari seberang telepon, suara halus dan lembut milik Chelsea terdengar merespons. “Halo, Jess… Makan malam keluarganya sudah selesai?”

“Baru saja selesai, Kak! Aduh, aku kangen banget sama Kak Chelsea,” seru Jessica manja, matanya melirik ke arah punggung Stella yang masih tegak di depan wastafel.

“Aku cuma mau bilang, aku benar-benar nggak sabar tunggu keponakan baruku lahir! Aku sudah memilah-milah baju bayi lucu. Begitu bayimu lahir nanti, aku yang bakal pertama kali mengajarinya panggil aku ‘Onty Jess’. Anak Kak Chelsea pasti bakal jadi keponakan kesayangan di rumah ini!”

“Kamu ini berlebihan sekali, Jess,” kekeh Chelsea penuh nada manja dari seberang garis. “Nanti kalau Sean dengar, dia bisa tertawa.”

“Ngapain tertawa? Kak Sean kan juga pasti bahagia banget!” timpal Jessica seraya melangkah makin dekat ke arah wastafel, memastikan Stella menyerap setiap kata yang keluar dari bibirnya.

Stella menghentikan usapan kain lap pada gelas di tangannya sejenak. Namun, tidak ada derai air mata. Tidak pula keputusasaan yang menyusup di dadanya. Stella justru merasa mual, bukan karena kehamilannya, melainkan karena tingkat kepalsuan dan kedengkian orang-orang di rumah ini.

Fakta bahwa Chelsea tidak hanya dekat dengan Sean, melainkan sudah terikat erat dengan seluruh anggota keluarga Anderson sejak lama, kini makin terlihat jelas. Hubungan mereka sudah terjalin rapi di belakang punggungnya.

Tanpa sudi mendengar kicauan Jessica lebih lanjut, Stella mengeringkan jemarinya dengan tisu dapur. Dia berbalik, melewati Jessica begitu saja tanpa melirik sedikit pun, seolah-olah adik iparnya itu hanyalah suara kaset rusak.

“Cih, sok cuek, jijik!” desis Jessica sinis saat Stella menghilang di balik pintu lorong.

Stella menaiki tangga melingkar menuju lantai dua, melangkah menuju kamar tamu utama tempat dia dan Sean biasa menginap jika harus menginap di kediaman Nenek.

Saat jemarinya mendorong pintu kayu tebal kamar tersebut, suara gemercik air yang mengalir deras terdengar dari arah kamar mandi. Sean sudah berada di dalam, sedang membersihkan diri.

Ruangan itu hening, hanya dihiasi pencahayaan temaram dari lampu tidur bernuansa hangat.

Stella berjalan mendekati meja rias. Dia membuka tas tangannya yang diletakkan di sana, lalu menarik keluar amplop cokelat tebal yang dibawanya sejak dari hotel. Di dalamnya, beberapa lembar berkas gugatan perceraian beserta surat persetujuan bermaterai telah menanti.

Jemarinya menggenggam erat berkas putih tersebut. Ini adalah malam terakhirnya menggunakan nama Anderson. Begitu lembaran ini ditandatangani oleh Sean, penderitaan dan penyesuaian dirinya yang sia-sia selama dua tahun akan resmi berakhir.

Cklek.

Suara pintu kamar mandi yang terbuka memecah keheningan sekaligus konsentrasinya.

Uap air hangat berembus keluar menyertai langkah Sean. Pria itu keluar hanya dengan mengenakan kimono hitam panjang, sementara dadanya yang bidang masih tertutup bulir-bulir air yang belum dikeringkan sepenuhnya. Rambut hitamnya basah berantakan.

Akhirnya Stella membalikkan badannya dengan tenang. Matanya terkunci pada sosok Sean yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

“Kak Sean, ada yang harus kamu…”

Kalimat Stella terputus seketika.

Sean tak memberi ruang bagi Stella untuk menyelesaikan ucapannya. Pria itu melangkah lebar dengan dorongan impulsif yang mendadak. Tatapannya tajam terbakar oleh campuran rasa jengkel akibat ulah Stella di hotel, ditambah kekesalan atas pertanyaan Stella di meja makan tadi, serta dorongan kepemilikan yang mendadak meluap saat melihat istrinya berdiri dalam balutan pakaian rapi malam itu.

Sebelum Stella sempat mengangkat berkas di tangannya, Sean mencengkeram pergelangan tangan Stella dengan kuat.

“Kak Sean! Apa-apaan…”

Bruk!

Dengan satu gerakan kasar dan cepat, Sean menarik tubuh Stella ke arah tempat tidur berukuran king size. Dia menghempaskannya ke atas kasur yang empuk. Kertas-kertas gugatan cerai di jemari Stella terlepas, berhamburan, dan terselip di antara lipatan selimut tanpa sempat Sean lihat.

Sebelum Stella sempat bangkit dan menghindar, tubuh tinggi dan tegap Sean sudah menindihnya dari atas. Kedua tangan Sean mengunci pergelangan tangan Stella di atas kepala, menahan seluruh pergerakan wanita itu dengan beban tubuhnya.

Napas Sean yang hangat dan beraroma maskulin terembus berat tepat di atas wajah Stella. Pandangan pria itu mendingin, sarat akan dominasi yang kuat menuntut kepatuhan.

“Kamu sudah makin berani malam ini, Stella,” desis Sean rendah, suaranya bergetar dalam jarak yang teramat dekat. “Bicara sesuka hatimu di depan publik, pamer dengan pria lain, dan sekarang memancing topik anak di depan Nenek. Kamu benar-benar butuh diingatkan siapa pemegang kendali di sini, hm?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (36)
goodnovel comment avatar
E❤️‍🩹A
yg kekanak Kanakan kmu atau Stella Sean ? bukannya kmu yg cemburu dan nggak terima mlihat Stella bersinar dan dkat dngan laki" lain ? hhhh
goodnovel comment avatar
E❤️‍🩹A
helllehh prettt, muak banget aku lihat klakuan mu itu Sean ......
goodnovel comment avatar
𝙽𝚊𝚟𝚎𝚍
sok"an akrab kmu ma chelsea ya jess, d kira Stella bakal mencak" ga jelas gtu? kmu bgtu welcome calon anaknya chelsea ya, dan abai pd calon keponakan mu sendiri yg ada d rahim Stella
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Jeritan

    Malam pertama Stella di pedesaan Swiss berlalu dengan keheningan yang menghanyutkan. Udara dingin pegunungan Alpen berembus pelan di balik dinding-dinding kayu pinus rumah panggung peninggalan nenek Sofia. Di dalam kamar tidur bernuansa hangat, Stella terlelap dalam tidur nyenyak yang tak pernah ia rasakan selama berbulan-bulan, dilindungi oleh rasa aman dan hangatnya selimut tebal.Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.Saat fajar pertama menyingsing di balik puncak gunung bersalju, menyinari padang rumput hijau yang dipenuhi embun, sebuah gejolak tak biasa mulai membakar tubuh Stella. Rasa mulas yang tajam mendadak datang menyengat, menjalar dari pinggang bawah hingga menembus perut bagian depannya dengan skala nyeri yang belum pernah ia alami sebelumnya."Ngh..." Stella terkesiap bangun. Napasnya langsung memburu dan dangkal. Jemari lentiknya meremas erat kain sprei putih, menahan dorongan mules hebat yang datang berturut-turut tanpa jeda panjang.Sebagai seorang dokter bedah

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Sofia Von Bern

    "Masuklah, udara di sini cepat sekali dingin kalau menjelang sore," ujar Sofia Von Bern seraya merangkul hangat bahu Stella dan membimbingnya melangkah melewati ambang pintu rumah kayu tersebut.Aroma khas kayu pinus yang hangat dan wangi lavender kering langsung menyambut indra penciuman Stella. Interior rumah panggung gaya Alpen itu terasa sangat bersahaja namun menenangkan. Perabotan kayu antik peninggalan nenek Sofia tertata rapi di sekeliling perapian batu yang menyala redup, memberikan kehangatan alami yang melenyapkan sisa-sisa rasa lelah Stella dari perjalanan jauh lintas benua."Duduklah di sofa dekat perapian ini, Stel," pintanya lembut sambil menumpuk dua bantal empuk di belakang punggung Stella untuk menopang pinggangnya yang kian sarat. "Aku sudah menyeduh teh chamomile hangat untukmu. Sangat bagus untuk menenangkan otot dan memperlancar sirkulasi darah ibu hamil.""Terima kasih banyak, Sofia," desah Stella pelan, meluruskan kakinya yang sedikit membengkak dengan rasa leg

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Keputusan

    "Putar balik sekarang! Bawa helikopter itu kembali ke gedung utama!" suara menggelegar Tuan Anderson terdengar memecah keheningan kabin melalui sambungan telepon satelit yang langsung terhubung ke sistem radio navigasi pilot.Pilot yang terkejut langsung menatap layar indikator sebelum menoleh gugup ke arah Sean. Di dalam kabin helikopter yang melayang di atas langit malam Jakarta, Sean membeku. Pria itu menyambar interkom dengan rahang mengetat tajam."Jangan berani-berani memutar balik, Kapten! Tetap lanjutkan penerbangan!" bentak Sean dengan suara bariton yang sarat akan dominasi."Gunakan otakmu, Sean!" potong Tuan Anderson dari seberang telepon, intonasinya meninggi penuh amarah yang menekan. "Kamu pikir tindakan nekadmu menerobos malam ini dengan membawa pasukan helikopter akan menyelesaikan masalah? Hah?! Kamu hanya akan membuat Stella ketakutan setengah mati!""Pa, Stella sedang sendirian di luar sana! Aku harus memastikan kondisinya…”"Tutup mulutmu!" gertak Tuan Anderson ta

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Swiss

    Seusai melayanan sapaan hangat para menteri dan donatur terkemuka, Sean melangkah tenang menuju lorong VIP di belakang panggung utama. Riuh gemuruh tepuk tangan dan alunan musik simfoni malam amal masih samar-samar bergema dari dalam ballroom, namun fokus pria itu sudah sepenuhnya berpindah. Di sudut lorong yang relatif lengang, Samuel berdiri menunggunya dengan sebuah helikopter mini dan tim pengawal yang sudah berjaga rapat."Tim dari influencer tadi sudah melakukan siaran langsung dan peliputan, bukan?" tanya Sean seraya membetulkan kancing jasnya. "Pastikan semua media sosial dipenuhi berita ini. Aku mau acara ini akan masuk trending topic dunia. Jadi di mana pun Stella berada, dia pasti akan melihat ini mau tidak mau."Samuel mengangguk mantap seraya memegang ponselnya. "Semua aman, Sean. Media luar negeri juga sudah ada dari masing-masing perwakilan negara besar, terutama yang kerja sama dengan Anderson Group. Peliputan global sudah berjalan maksimal.""Bagus," puji Sean sin

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pidato

    Kemilau lampu gantung kristal berukuran raksasa memantulkan cahaya di atas panggung utama ballroom termegah di Jakarta. Malam Amal Anderson Group yang digelar serentak di seluruh Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial berlangsung amat megah dan spektakuler. Ratusan jurnalis dari berbagai media nasional berkumpul, sementara jajaran pembesar negara, pengusaha ternama, hingga donatur kelas atas memadati area VIP.Di barisan depan, Menteri Kesehatan dan Menteri Sosial duduk berdampingan dengan Tuan Anderson dan Nyonya Selvie serta keluarga besar Anderson. Terlihat pula nenek Anderson ada di barisan itu.Suasana hangat berbalut kemewahan menyelimuti ruangan, merayakan program bantuan medis dan sosial terbesar tahun ini.Setelah sesi pembukaan dan penyerahan simbolis dana bantuan medis selesai, pembawa acara menyerukan nama yang paling ditunggu-tunggu malam itu."Hadirin sekalian, mari kita sambut CEO Anderson Group, Tuan Sean Anderson!"Tepuk tangan b

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Papa

    "Lalu kenapa kau membiarkan noda itu merusak rumah tanggamu?!" gertak Tuan Anderson, langkahnya menerobos maju hingga jarak di antara mereka nyaris tak berjarak. Cengkeraman tangannya di koper kecil melemas hingga benda itu terhempas berat ke lantai marmer.Mata Tuan Anderson menyala merah, dipenuhi amarah yang membakar namun terpancar jelas kehancuran seorang kepala keluarga yang gagal menjaga ketenteraman atapnya sendiri."Kau membiarkan wanita ular itu menginjak-injak harga diri Stella di rumah ini! Kau biarkan dia memakai tuduhan anak haram untuk menyiksa batin istrimu! Kau tahu betapa sakitnya wanita yang dipaksa melihat suaminya menampung wanita lain yang mengaku mengandung darah dagingnya?!""Sean bodoh, Pa! Sean tahu Sean salah!" raung Sean, suaranya pecah tercekik di tenggorokan. Pria perkasa yang tak pernah merunduk di hadapan ratusan saingan bisnisnya itu kini mengepalkan kedua tangan di samping tubuh, gemetar hebat ditimpa remuk penderitaan. "Sean percaya pada jebakan i

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status