LOGINNaomi menarik tangannya perlahan dari permukaan tumbler itu. Dingin yang tadi terasa ringan, kini seperti tertinggal di ujung jarinya. Ia menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu menghela napas pelan dan kembali ke layar komputer. Kursor berkedip di satu baris yang belum selesai, seolah menunggu sesuatu yang bahkan Naomi sendiri belum siap memberikannya.
Fokus. Ia harus kembali ke sana. Jemarinya mulai bergerak lagi, mengetik, menghapus, lalu mengetik ulang. Ritme kerja yang biasanya
Naomi menarik tangannya perlahan dari permukaan tumbler itu. Dingin yang tadi terasa ringan, kini seperti tertinggal di ujung jarinya. Ia menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu menghela napas pelan dan kembali ke layar komputer. Kursor berkedip di satu baris yang belum selesai, seolah menunggu sesuatu yang bahkan Naomi sendiri belum siap memberikannya.Fokus. Ia harus kembali ke sana. Jemarinya mulai bergerak lagi, mengetik, menghapus, lalu mengetik ulang. Ritme kerja yang biasanya otomatis kini terasa sedikit dipaksakan. Tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya mengalir. Pikirannya masih terlalu penuh.Sore akhirnya datang tanpa terasa. Cahaya matahari mulai meredup, berganti warna keemasan yang jatuh lembut di balik kaca gedung. Satu per satu meja mulai ditinggalkan, suara kursi yang bergeser dan langkah kaki yang pulang menciptakan suasana yang berbeda. Lebih ringan, tapi juga lebih kosong.Naomi mematikan komputernya. Layar yang gelap memantulkan wajahnya
Mareeq tidak langsung menyalakan mobil. Tangannya masih berada di setir, tapi tidak bergerak. Pandangannya lurus ke depan, pada jalan yang terbuka, tapi pikirannya jelas tidak di sana.Naomi di sampingnya juga diam. Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan, justru mungkin karena terlalu banyak.Suara AC mengisi ruang di antara mereka, lembut, konstan, seperti mencoba menjaga sesuatu agar tidak pecah.“Kamu selalu tahu apa yang aku pikirkan.” kata Mareeq akhirnya. Pelan. Hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.Naomi tidak langsung menanggapi. Ia memutar tumbler di tangannya, memperhatikan embun tipis yang terbentuk di permukaannya.“Manusia memang kadang terlalu banyak berpikir,” jawabnya ringan.Mareeq terkekeh kecil. Kali ini benar-benar terdengar, meski singkat. “Itu bukan jawaban yang seharusnya.”Naomi mengangkat bahu tipis. “Itu jawaban yang aman.”Hening lagi. Tapi tid
Mareeq tidak langsung kembali pada makanannya. Ia justru menatap Naomi. Dalam diam itu, ada sesuatu yang akhirnya terasa jelas. Bahwa mungkin, mereka berdua sedang memikirkan hal yang sama. Hanya saja… belum ada yang cukup berani untuk mengatakannya lebih dulu.Naomi akhirnya mengambil gelas tehnya, menyesap pelan hanya untuk memberi jeda pada pikirannya sendiri. Rasa hangat itu turun perlahan, tapi tidak benar-benar menenangkan. Ia meletakkan gelasnya kembali, lalu menarik napas kecil.“Nanti mampir beli matcha ya,” katanya tiba-tiba.Kalimat itu terdengar ringan. Hampir seperti kebiasaan. Mareeq yang semula diam, mengangkat pandangannya. Lalu dia mengangguk. Tidak ada protes. Tidak ada pertanyaan tambahan. Dan justru itu yang membuat Naomi sedikit terdiam.Naomi menyandarkan punggungnya, memperhatikannya lagi.“Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Naomi pelan pada akhirnya.Mareeq terlihat sedikit bingung. &ldq
Langit siang itu tidak benar-benar cerah. Ada lapisan tipis awan yang menggantung rendah, menyaring cahaya matahari menjadi lembut dan pucat. Seolah dunia sedang menahan diri untuk tidak terlalu terang.Angin berembus pelan, membawa aroma aspal yang hangat dan dedaunan yang bergesekan lirih di sekitar area parkir.Naomi berjalan melewati deretan mobil dengan langkah yang tidak terburu-buru, tapi juga tidak benar-benar santai. Dia ada janji makan siang dengan Mareeq.Di tempat parkir, ia sudah bisa mengenali mobil itu dari kejauhan. Selalu di posisi sama, tidak pernah berubah. Jika Naomi membawa mobil, tempatnya juga akan sama. Di sebelah mobil itu.Naomi memperlambat langkahnya sedikit saat mendekat, matanya menangkap siluet seseorang di balik kaca gelap. Mareeq.Namun ada sesuatu yang membuat langkahnya berhenti setengah detik lebih lama. Di dalam mobil itu, Mareeq tidak bergerak. Kepalanya sedikit menunduk, satu tangannya bertumpu di setir, dan y
Suara air mengalir pelan memenuhi ruang toilet yang siang itu cukup sepi. Cahaya lampu memantul di cermin besar, menciptakan suasana yang bersih, tapi juga terasa terlalu tenang.Naomi berdiri di depan wastafel, mencuci tangannya. Gerakannya rapi, seperti biasa. Tenang dan terkontrol. Di sampingnya, Claudia sedang merapikan penampilannya di depan cermin. Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.“Tumblermu bagus.” Suara Claudia terdengar ringan, seolah hanya komentar biasa.Naomi melirik lewat cermin, lalu tersenyum kecil. “Yang di meja?”Claudia mengangguk. “Iya.”Naomi mengeringkan tangannya dengan tisu. “Lagi promo, jadi sekalian beli.”Claudia mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu. Tapi matanya masih tertahan di pantulan Naomi di cermin. Claudia tersenyum tipis.“Menariknya… Rahaal punya yang sama.”Naomi berhenti sejenak. Bukan karena terkejut. Lebih
Pagi datang dengan ritme yang kembali rapi. Naomi sudah duduk di mejanya lebih dulu, seperti biasa. Komputer menyala, beberapa dokumen terbuka, dan di sampingnya tumbler yang kemarin dia beli.Naomi sedang menatap layar komputernya ketika sebuah map diletakkan pelan di mejanya. Ia mendongak. Mareeq berdiri di sana.“Ada yang perlu direvisi,” katanya singkat, menunjuk dokumen di dalam map. “Bagian tengahnya, coba dicek lagi.”Naomi mengangguk, lalu menarik map itu mendekat. “Oke, nanti aku lihat.”Saat itulah pandangan Mareeq bergeser. Ke samping meja. Tumbler. Ia berhenti sejenak.Mareeq mengangkat alis tipis, masih memperhatikan. “Tumbler baru?” tanyanya.Naomi mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum kecil. “Iya. Bagus nggak?”Mareeq mengangguk dan tersenyum. "Bagus."Naomi tampak sedikit lebih hidup mendengar itu. Ia mengangkat tumblernya sedikit, seolah memperliha
Sore hari datang lebih cepat dari yang Naomi sadari. Lampu-lampu kantor mulai terasa lebih hangat, layar-layar komputer satu per satu dimatikan. Suara percakapan berubah dari serius menjadi ringan.Naomi merapikan mejanya, mematikan komputer, lalu menarik napas pelan. Hari itu terasa&helli
Rahaal mempercepat sedikit langkahnya hingga sejajar dengan Naomi.“Meeting berjalan lancar karenamu,” katanya akhirnya.Naomi tidak menoleh. “Itu sudah seharusnya.” Jawaban datar.Mereka sampai di depan lift. Naomi menekan tombol, lalu berdiri menungg
“Yang datang dalam meeting ini adalah pamanmu,” katanya pelan. “Dia memintaku untuk membawamu.”Naomi hanya menjawab singkat, “Hmm.” Tidak ada antusiasme.Rahaal melanjutkan, "Jika bukan karena itu aku tidak akan memintamu datang bersamaku.
Naomi menoleh sedikit, tampak tidak keberatan. Tanpa banyak kata, mereka berdua berjalan berdampingan menyusuri koridor.Rahaal tetap di tempatnya. Ia tidak ikut. Hanya berdiri diam beberapa detik, memperhatikan punggung Naomi yang perlahan menjauh bersama Mareeq.Langkah mereka tid







