Share

Sushi Spesial

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-09-02 20:00:35

"Kamu mau ke mana?" tanya Leon.

"Sky terrace. Mau cari udara."

Leon mengangguk.

Maya tersenyum kepada Naomi. "Hai."

"Hai, Maya."

Naomi melihat keduanya bergantian. Kemudian ia tersenyum tipis. "Kalian sudah kembali seperti semula."

Maya hanya tersenyum.

Leon tertawa kecil. "Bukan begitu." Leon memasukkan satu tangan ke saku celananya. "Kami mendapatkan tugas bersama."

Maya mengangguk.

Leon menghela napas kecil. "Kliennya agak suli

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Sushi Spesial

    "Kamu mau ke mana?" tanya Leon."Sky terrace. Mau cari udara."Leon mengangguk.Maya tersenyum kepada Naomi. "Hai.""Hai, Maya."Naomi melihat keduanya bergantian. Kemudian ia tersenyum tipis. "Kalian sudah kembali seperti semula."Maya hanya tersenyum.Leon tertawa kecil. "Bukan begitu." Leon memasukkan satu tangan ke saku celananya. "Kami mendapatkan tugas bersama."Maya mengangguk.Leon menghela napas kecil. "Kliennya agak sulit.""Agak?" Maya tertawa."Oke. Sangat sulit." Leon merevisi.Naomi ikut tersenyum. Mereka benar-benarkembali arab seperti semula."Kami harus banyak koordinasi." Leon kemudian tiba-tiba seperti mengingat sesuatu. "Eh, tapi kamu mungkin tahu klien ini."Naomi mengernyit. "Siapa?"Leon menyebut nama perusahaan tersebut. Lalu menyebut nama salah satu perwakilan proyek ini.Naomi langsung mengangguk. "Oh, aku tahu."Leon terlihat lega. "Syukur

  • Bilur Bulir Bertaut   Kembali Akrab

    "Terima kasih."Namun setelah jeda singkat, Claudia melanjutkan dengan nada yang terdengar lebih ringan."Setidaknya kamu masih punya Leon."Naomi menatapnya."Aku yakin setelah kejadian itu, Leon tidak akan membatalkan rencana pernikahan kalian."Suasana di sekitar mereka terasa sedikit berubah. Naomi terdiam sejenak sebelum menjawab. Claudia tersenyum kecil."Tapi sepertinya tidak, kan?""Claudia...""Kalian sangat serasi."Naomi menarik napas panjang. "Doakan saja yang terbaik."Claudia sedikit mengangkat alis. "Menurutku, setelah apa yang terjadi, justru sekarang Leon seharusnya semakin serius."Naomi menoleh. "Serius?"Claudia tersenyum. "Kalian sudah merencanakan pernikahan, kan? Jangan sampai semuanya berhenti hanya karena satu kejadian."Nada suaranya terdengar prihatin, tetapi ada sesuatu yang menusuk di balik kalimatnya. Naomi merasakan itu."Lagipula, kamu sudah kehilangan ba

  • Bilur Bulir Bertaut   Memulai lagi

    Senin pagi, Naomi kembali ke kantor setelah beberapa hari mengambil cuti. Langkahnya terasa sedikit berat ketika memasuki gedung. Naomi menarik napas panjang. Ia harus kembali menjalani rutinitasnya.Ketika sampai di meja kerja, Flora yang sedang memeriksa beberapa dokumen langsung menoleh. Mata mereka bertemu. Flora terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bangkit dari kursinya."Naomi..." Flora berjalan mendekat dan memeluk Naomi.Naomi tersenyum kecil. "Hai."Flora kemudian melepas pelukannya. "Kamu sudah masuk?""Iya."Flora terlihat ragu untuk beberapa saat, seolah tidak yakin apakah ia seharusnya membicarakannya.Akhirnya ia berkata pelan, "Aku... turut sedih, Naomi."Senyum Naomi perlahan menghilang.Flora melanjutkan dengan suara lembut. "Aku benar-benar sedih.""Terima kasih."Flora mendekat dan menyentuh lengan Naomi. "Aku tahu mungkin enggak ada kata-kata yang bisa bikin semuanya jadi lebih baik."

  • Bilur Bulir Bertaut   Pelukan Hangat

    Hari Minggu sore, setelah menghabiskan beberapa hari di rumah bersama Vino, Naomi akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen. Vino mengantarnya sampai ke lobi apartemen."Jika ada sesuatu kabari kakak." pesan Vino.Naomi mengangguk. "Hmm."Vino memperhatikan Naomi beberapa saat, seolah memastikan adiknya benar-benar baik-baik saja. "Jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan."Naomi mengangguk lagi. "Kakak juga."Vino kemudian menepuk pelan kepala Naomi sebelum dia turun dari mobil. Naomi keluar dari mobil dan berjalan emuju pintu masuk ke lobi. Dia berdiri beberapa saat, memperhatikan kakaknya pergi.Sepanjang perjalanan menuju lantai apartemennya, Naomi merasa ada sesuatu yang aneh di dadanya. Ia senang bisa kembali. Begitu pintu lift terbuka, Naomi berjalan menuju unitnya. Ia memasukkan kunci, memutarnya perlahan, lalu membuka pintu.Leon sudah berdiri tepat di hadapannya. Begitu melihat Naomi berdiri di ambang pintu dengan koper d

  • Bilur Bulir Bertaut   Hi Bye...

    Naomi kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Sebelum melewati pagar, ia sempat menoleh sekali lagi. Mareeq masih berdiri di dekat mobilnya. Mata mereka bertemu. Naomi mengangkat tangannya sedikit. Mareeq membalasnya.Baru setelah Naomi masuk, Mareeq masuk ke mobil. Kali ini ia tidak menunggu sampai malam. Ia menjalankan mobilnya meninggalkan rumah itu dengan perasaan sedikit lebih ringan. Setidaknya sekarang ia tahu Naomi sudah melihatnya.***Naomi terbangun lebih lambat dari biasanya. Tidak ada alarm yang berbunyi. Ia masih berbaring di kamar ketika mendengar suara langkah kaki dari luar. Disusul suara pintu yang dibuka sebentar lalu ditutup lagi.Dia sudah bangun, tapi kakaknya pasti mengira dia masih tidur. Tangannya kembali meraba perutnya. Dia tahu Nunu tidak akan kembali. Tapi kekosongan itu terasa menyesakkan. Apalagi ketika Naomi mulai menerima kehadirannya dan mulai menyayanginya.Naomi menghela napas pelan sebelum akhirnya bangun. Begit

  • Bilur Bulir Bertaut   Rindu

    "Nggak sih." jawab si Mbok.Naomi tidak langsung menjawab. Entah kenapa, sesuatu di dalam dirinya mulai terasa tidak asing."Mobilnya seperti apa?"Si Mbok menjelaskan warna dan bentuknya. Naomi langsung terdiam. Ia merasa pernah melihat mobil itu berkali-kali. Sangat sering. Naomi bangkit."Masih ada?""Masih."Naomi berjalan menuju ruang CCTV. Ia membuka layar kamera depan rumah. Beberapa detik kemudian, mobil yang dimaksud terlihat jelas di layar. Naomi membeku. Mobil itu. Ia mengenalnya. Terlalu mengenalnya. Mobil Mareeq.Si Mbok yang berdiri di belakangnya ikut melihat layar. "Kenal, Neng?"Naomi tidak menjawab. Ia hanya menatap mobil itu. Jadi selama beberapa hari terakhir Mareeq datang ke sini? Setiap sore? Tidak pernah masuk ke halaman. Tidak pernah membunyikan bel. Hanya terparkir di pinggir jalan. Dan orang di dalamnya tidak pernah turun. Tidak pernah menghubunginya?Naomi kemudian mengambil cardigan tipis yang

  • Bilur Bulir Bertaut   Awal Pertemuan

    Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru

  • Bilur Bulir Bertaut   Tantangan Pertama

    "Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.

  • Bilur Bulir Bertaut   Semakin Dekat

    Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.

  • Bilur Bulir Bertaut   Mendekat

    Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status