共有

Bab 108

作者: macaroonie
last update 公開日: 2026-07-07 16:42:44

"Aku udah cari ke mana-mana, tapi benang kuningnya nggak ada." Fero menghampiri mereka sambil menggaruk tengkuknya.

Mama Fero tampak berpikir sejenak sebelum terkekeh pelan. "Astaga... Mama lupa. Memang belum sempat beli lagi. Nggak papa. Mama pake yang ada aja."

Wanita itu tersenyum lalu menoleh kepada putranya. "Yaudah, Fero. Temenin Bita dulu, ya. Mama mau ke dapur ambil minum." Ia bersiap mendorong kursi rodanya sebelum Bita menyela.

"Biar aku aja, Tan." Bita buru-buru berdiri. "Tante mau
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 123

    "Mau lo pantengin sampai lima tahun kemudian, itu kangkung nggak bakal berubah jadi duit."Martin tak lagi mampu menahan komentarnya. Hampir setengah jam berlalu semenjak ia kembali, tetapi Vino masih duduk bersila di atas tikar dengan pandangan yang tak pernah lepas dari tumis kangkung di hadapannya.Melihat tidak adanya respon, Martin mendecak dan bangkit dari kasurnya. "Sini gue makan aja daripada lo anggurin."Belum sempat jemarinya menyentuh, Vino lebih dulu menepis kasar punggung tangannya. "Kalau tangan lo nyentuh ini, gue nggak segan patahin," ucap Vino datar tanpa mengalihkan perhatiannya.Martin segera menarik tangannya dan berakhir mendecak pelan. "Segitunya amat sama kangkung."Vino tetap bergeming.Melihat tak ada tanda-tanda laki-laki itu akan beranjak dalam waktu dekat, Martin akhirnya mengembuskan napas pasrah. Ia menyandarkan tubuh ke dinding lalu kembali sibuk dengan game di ponselnya.Sementara itu, pa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 122

    Tok! Tok! Tok!"Tinggal buka aja. Nggak gue kunci, Tin."Tok! Tok! Tok!Vino mendesah kasar.Martin memang sempat keluar membeli tempe penyet di warung depan kos untuk makan mereka. Sementara itu, Vino memilih menunggu di kamar.Namun bukannya langsung masuk, laki-laki itu malah sibuk mengetuk pintu yang jelas-jelas ia tahu tidak pernah dikunci.Tok! Tok! Tok!Kesabaran Vino akhirnya habis.Ia melempar ponselnya ke atas kasur, lalu melangkah lebar menuju pintu. Begitu kenop diputar, pintu itu langsung dibukanya dengan kasar."Udah gue bilang nggak dikun—"Suara Vino mendadak terhenti. Tubuhnya membeku di tempat. Semua omelan yang tadi sudah memenuhi ujung lidahnya lenyap begitu saja.Sebab, sosok yang berdiri di depan pintu bukanlah Martin. Melainkan Tante Anggun. Perempuan itu menatapnya dengan senyum tipis, sementara kedua matanya telah dipenuhi air mata. "Vino?"Vino m

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 121

    Fero ternyata tidak membawanya ke klinik, melainkan ke rumah sakit milik kampus yang menjulang tinggi di samping gerbang utama.Begitu memasuki ruang ganti perban, Bita sempat tertegun.Ruangan itu jauh lebih nyaman dari yang ia bayangkan. Dindingnya didominasi warna putih gading dengan pencahayaan hangat. Sebuah sofa kecil diletakkan di sudut ruangan, sementara pot tanaman hijau dan lukisan-lukisan sederhana membuat suasananya terasa tenang, nyaris tak menyerupai ruang tindakan.Selama perawat mengganti perbannya, pandangan Bita tak henti-hentinya menyapu setiap sudut ruangan.Namun kini, tatapannya justru bertahan lama pada layar ponsel di tangannya. Tepatnya pada rentetan pesan panjang dari Martin yang dikirim beberapa menit lalu. Bahkan setelah perawatnya selesai mengganti perban dan pergi meninggalkannya sendirian, Bita tak jua mengangkat pandangannya.'Habis kelas pagi tadi vino ngomong pengen ketemu sama lo. Dia beneran n

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 120

    Martin sudah mengabarinya bahwa hari ini Vino datang ke kampus. Maka dari itu, begitu remedial selesai, Bita segera membereskan alat tulisnya lalu bergegas keluar kelas, meninggalkan Sasha yang masih sibuk mengerjakan soal. Tujuannya hanya satu. Menuju lantai atas, tempat ruang kelas Vino berada. "Kak Bita." Mendengar seseorang memanggilnya, langkah Bita terhenti di tengah lorong. Ketika menoleh ke belakang, Bita melihat Fero menghampirinya dengan langkah setengah berlari. "Kak Bita ke kampus lagi?" tanya Fero sesampainya di hadapan Bita. Tatapannya langsung jatuh ke kaki Bita yang masih dibalut perban. "Bukannya istirahat aja di rumah?" Bita mengulas senyum tipis. "Tadi ada remedial. Jadi harus masuk." Fero mengangguk pelan. Matanya masih sempat memperhatikan kaki Bita beberapa saat sebelum akhirnya kembali menatap wajah gadis itu. "Oh..." Bita memiringkan kepala

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 119

    Mengetahui Vino tidak datang ke kampus, Bita segera menghubungi Martin menanyakan keberadaan laki-laki itu. Tadi Martin sempat menyuruhnya datang ke kos karena Vino memang masih di sana. Namun begitu Bita tiba, Martin yang berdiri di ambang pintu kos hanya menggaruk tengkuknya dengan wajah serba salah. "Maaf, ya, Ta. Gue juga nggak tahu Vino ke mana. Bilangnya cuma jalan-jalan bentar." Bita spontan menoleh ke lorong kos, berharap sosok yang dicarinya tiba-tiba muncul dari sana. Sayangnya tetap tidak ada siapa-siapa. Bita mengarahkan kembali matanya menatap Martin. "Kira-kira bakal cepet balik nggak, ya?" Martin ikut melirik ke arah luar sebelum mengembuskan napas pelan. "Kayaknya bakal lama, sih." Bahunya terangkat kecil. "Udah hampir sejam dia nggak balik-balik. Mungkin lagi ngopi di mana gitu. Lagi pengen sendiri kayaknya." Bita mengembuskan napas pelan.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 118

    Martin memberhentikan motornya tepat di depan rumah Bita. Belum juga Bita turun, Anggun yang sejak tadi duduk gelisah di kursi teras langsung bergegas menghampiri sambil menyerukan namanya panik. "Bita!" Langkahnya mendadak terhenti saat pandangannya jatuh pada balutan perban di kaki putrinya. "Ya Allah, kaki kamu kenapa?" Wajah Anggun memucat. Tangannya buru-buru meraih bahu Bita, memeriksa dari atas hingga bawah dengan panik. "Berdarah? Sakit nggak? Gimana bisa begini?" "Nggak apa-apa, Ma..." "Mana bisa Mama nggak panik lihat kaki kamu dibalut begini!" Martin segera turun dari motor, lalu membantu Bita menurunkan kakinya dengan hati-hati."Nggak sengaja keinjek pecahan beling, Tan," jelas Martin sambil memastikan Bita sudah berdiri dengan seimbang. "Udah dibawa ke klinik tadi. Pecahannya juga udah dikeluarin sama perawat. Lukanya sempat dijahit beberapa jahitan, jadi sementara w

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status