Share

Bab 138

Author: macaroonie
last update publish date: 2026-07-20 15:14:14

Vino terdiam. Rasa kantuknya lenyap seketika. Sorot matanya yang semula sayu perlahan berubah dingin, menatap pria yang kini justru menundukkan kepala.

"Temennya Mami?"

Pria itu mengangguk pelan.

"Mami emang punya banyak teman. Nggak cuma wanita." Vino menyandarkan punggungnya ke kursi, namun tatapannya tak pernah lepas. "Jadi, anda ini teman yang seperti apa? Sampai rela datang nyari anaknya, padahal kita bahkan belum pernah ketemu."


Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 141

    Setelah meluapkan rasa rindu yang selama ini tertahan, pelukan mereka perlahan terlepas.Vino kembali mengambil mangkuk bubur di atas nakas. Kali ini, Clara tidak lagi menolak.Sesendok demi sesendok bubur masuk ke mulutnya. Setelah mangkuk bubur itu tandas, Clara tetap bersandar pada sandaran ranjang yang telah ditegakkan. Wajahnya tak lagi sepucat saat Vino baru datang. Sedikit demi sedikit, rona di pipinya mulai kembali.Vino kemudian mengupas sebutir jeruk. Jemarinya telaten membersihkan serat-serat putih dan memisahkan bijinya sebelum menyuapkannya kepada sang Mami.Clara menerima suapan itu sambil terus tersenyum menatap putranya."Kamu kok bisa tahu Mami sakit?" tanyanya pelan. "Dikasih tahu sahabat Mami?"Vino menggeleng kecil. "Dikasih tahu Om Reynald."Senyum Clara perlahan memudar. Kunyahannya ikut melambat. Tatapannya jatuh ke pangkuannya. "Maafin Mami..." suaranya lirih. "Karena udah mengkhianati Papa."

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 140

    Reynald mengangguk pelan. "Clara mengalami gastritis akut." Tatapannya perlahan menunduk. "Dokter bilang lambungnya meradang cukup parah. Belakangan dia sering telat makan, bahkan beberapa kali sama sekali tidak mau makan. Ditambah stres dan kurang istirahat." Napas Vino tercekat sementara jemarinya saling meremas di atas pangkuannya. "Saya tahu kabar itu dari Rani, sahabat dekat Clara." Reynald mengembuskan napas pelan. "Sebenarnya saya ingin menjenguknya. Tapi... Clara melarang saya menemuinya lagi. Sudah hampir seminggu." Senyum tipis terbit di bibirnya, lalu kembali memudar. "Jadi selama ini saya hanya mengetahui kondisinya dari sahabat-sahabat dekatnya." Pria itu kembali mengarahkan tatapannya ke Vino. "Mereka bilang Clara sekarang kurus sekali." Hening sesaat menyelimuti keduanya. "Barangkali," suara Reynald terdengar lebih pelan, "kalau yang datang menjenguknya adalah kamu, kondisinya a

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 139

    Mata Vino langsung membulat. Ia sampai melongo beberapa saat. Sulit menyembunyikan keterkejutannya. "Lo udah tahu Mami gue masih punya suami..." ucapnya tak percaya. "Tapi masih lancang ngelamar Mami?" Reynald menggeleng pelan. "Sebenarnya bukan melamar seperti yang kamu bayangkan. Saya tidak berlutut ataupun menyodorkan cincin. Saya hanya iseng bertanya apa dia mau hidup bersama saya." Lantas terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil pada dirinya sendiri. "Tapi kalau dipikir-pikir, iya. Saya memang lancang. Saya berharap mereka bercerai, dan berharap setelah itu Clara mau memberi saya kesempatan." Senyumnya terasa pahit. "Mau bagaimana pun juga, saya tidak tega melihat Clara terus bertahan, padahal yang dia terima hanya luka." Tatapan Reynald perlahan jatuh ke permukaan meja, seolah kembali pada kenangan yang jauh. "Bisa-bisanya Seno memilih Dinda," gumamnya lirih. "Padahal Clara me

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 138

    Vino terdiam. Rasa kantuknya lenyap seketika. Sorot matanya yang semula sayu perlahan berubah dingin, menatap pria yang kini justru menundukkan kepala. "Temennya Mami?" Pria itu mengangguk pelan. "Mami emang punya banyak teman. Nggak cuma wanita." Vino menyandarkan punggungnya ke kursi, namun tatapannya tak pernah lepas. "Jadi, anda ini teman yang seperti apa? Sampai rela datang nyari anaknya, padahal kita bahkan belum pernah ketemu." Tak ada jawaban. Pria itu hanya terdiam. Seolah masih mencari kalimat yang tepat. "Atau," Vino menyeringai tipis. "Teman yang terlalu peduli sama Mami. Sampai tahu semua masalah keluarga kami. Terus sekarang datang ke sini buat nyeret gue pulang?" Keheningan kembali menjawab. Dan bagi Vino, diam itu sudah lebih dari cukup. Rahang Vino mengeras. "Tahu nggak? Sebenarnya ada satu kata yang lebih cocok buat ngegambarin anda. Selingkuhan."

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 137

    Bita melotot. Sesaat ia hanya menatap Sasha dengan bibir terkatup rapat. Lalu tawanya meledak."Hahahaha!" Ia sampai terpingkal-pingkal di atas kasur sambil memegangi perutnya.Sasha mengernyit. "Kenapa malah ketawa?""Nggak." Bita berusaha menghentikan tawanya. "Aku cuma heran. Kok bisa kamu kepikiran sampai situ?" Ia kembali tertawa kecil. "Vino suka sama aku? Hahaha...""Kamu nggak liat tadi? Telinganya merah waktu ngobrol sama kamu."Bita langsung menggeleng. "Itu karena dia gerah!""Gerah apanya?" Sasha mendengus. "Baru jam sembilan lewat udah gerah? Aku lebih percaya dia salting."Bita hanya tersenyum geli. "Sha..." Gadis itu menggeleng pelan. "Aku sama Vino udah sahabatan dari kecil. Nggak mungkin dia salting cuma gara-gara ngobrol sama aku.""Nggak sekedar ngobrol, tapi kamu acak rambutnya.""Ya terus?" Bita terkekeh kecil. "Mau aku acak rambutnya, peluk dia, atau bahkan cubitin dia se

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 136

    "Liburan ke Puncak pasti seru banget. Jadi pengen, deh." "Ikut aja, yuk. Orang tuaku pasti seneng kalau kamu ikut," sahut Sasha antusias sambil memasuki pekarangan rumah Bita. "Mana bisa ikut kalau kakiku masih begini." Bita menggerutu sembari turun dari motor Sasha. Sasha buru-buru meringis bersalah. "Sorry, Ta. Lupa kalau lo masih sakit." Namun sesaat kemudian wajahnya kembali berbinar. "Tapi bentar lagi jahitan kamu kan udah kering? Liburannya juga masih seminggu lagi." Bita yang sedang memasang kruknya mendelik. "Iya, sih. Nanti mungkin aku udah boleh jalan. Tapi masalahnya..." Ia mendesah pasrah. "Mau aku udah bisa salto sekalipun, Papaku nggak bakal ngizinin." Sasha ikut mengembuskan napas. "Susah sih kalau udah berurusan sama Papa kamu." "Iya." Bita mengangguk kecil. "Kayaknya liburan semester ini aku bakal di rumah terus. Sampai bosen." "Bita!"

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status