LOGINVino terdiam. Rasa kantuknya lenyap seketika. Sorot matanya yang semula sayu perlahan berubah dingin, menatap pria yang kini justru menundukkan kepala.
"Temennya Mami?" Pria itu mengangguk pelan. "Mami emang punya banyak teman. Nggak cuma wanita." Vino menyandarkan punggungnya ke kursi, namun tatapannya tak pernah lepas. "Jadi, anda ini teman yang seperti apa? Sampai rela datang nyari anaknya, padahal kita bahkan belum pernah ketemu."Sekeluarnya dari ruang dosen, Vino segera menyusul Martin yang sudah lebih dulu berada di kantin. Namun langkahnya terhenti di lorong ketika dari kejauhan ia melihat Bita berjalan menuju ruang dosen seorang diri. Tubuh Vino seketika diam. Pandangannya mengikuti Bita yang berjalan sambil sibuk mengutak-atik ponsel. Dari cerita Martin, gadis itu memang sedang disibukkan dengan berbagai tugas yang cukup menyita waktunya. Vino tidak tahu apakah Bita sedang mengerjakan salah satu tugasnya, membalas pesan anggota kelompok, atau sekadar mencari sesuatu di ponselnya. Ia hanya berharap gadis itu tidak tiba-tiba tersandung atau menabrak seseorang karena terlalu fokus pada layar. Jarak di antara mereka semakin menipis. Bita tinggal beberapa langkah lagi darinya. Namun Vino tetap berdiri di tempat. Sampai akhirnya— Bruk! Bita menabrak tubuhnya. Gadis itu langsung terhuyung mundur. “Maaf! Maaf! Aku—” Kalim
Tamara tersenyum lebar ke arah kamera sambil mengoleskan serum ke wajahnya. “Baru selesai syuting, guys. Hari ini panjang banget. Aku bahkan baru bisa pulang sekarang.”Perempuan itu memang sengaja menyalakan live sosial medianya sesampainya ia di apartemen. Dan kurang dari semenenit, komentar mulai memenuhi layar.'Kak Tamara cantik banget!''Baru pulang syuting ya, Kak?''Kak, kapan main film lagi?''Kak Tamara skincare-nya apa aja? Spill dong!'Tamara terkekeh pelan. “Pelan-pelan, dong. Komentarnya banyak banget.”Matanya menyapu layar, membaca satu per satu komentar yang terus bergerak. Sampai sebuah komentar membuat gerakan tangannya berhenti.'Kak, sekarang masih sering bareng Vino nggak?'Tamara terdiam selama beberapa detik. Kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat. “Oh... Vino?”Nada suaranya terdengar santai, seolah nama itu sama sekali bukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Padah
Untungnya, Sasha langsung menuju tempat yang disebut Vino.Begitu sampai, ia benar-benar menemukan Bita di bawah pohon beringin. Tidak sedang menangis seperti yang sempat ia bayangkan sampai membuat Sasha mengendarai mobilnya dengan kecepatan gila. Bita justru terlihat tenang duduk di bawah pohon sambil mengorek-ngorek tanah dengan sebatang ranting, seolah tidak terjadi apa-apa.Sasha seketika mengembuskan napas lega. “Kamu bikin aku panik banget tau nggak, Ta? Untung aja ketemu," ungkapnya sembari melangkah menghampiri Bita, lalu duduk di sampingnya.Bita tidak menoleh sedikit pun. Tangannya masih sibuk mengorek tanah di hadapannya.“Ta?” panggil Sasha pelan.Awalnya tidak ada respons. Namun, tepat sebelum Sasha kembali membuka suara, Bita akhirnya berkata lirih.“Aku ... aku berhak buat cemburu, kan, Sa?” Suaranya nyaris seperti bisikan.Sasha terkekeh kecil. “Ya boleh, lah. Justru aneh kalau kamu nggak cemburu.”
Vino seketika menyentakkan tubuhnya bangkit dari kursi, mengejar Bita yang sudah mundur dan berbalik berlari keluar dari kafe.Jantungnya berpacu semakin cepat, seiring rasa takut yang ikut membesar dalam dirinya. Langkahnya melebar saat ia mendorong pintu kafe dan mendapati Bita sudah berada di atas motornya dengan Sasha yang berusaha menahannya.“Bita! Kamu mau ke mana?! Bita!”Seakan tuli, Bita langsung menarik gas motornya dan meninggalkan kafe. Ia tidak peduli pada Sasha yang berteriak mengejarnya, bahkan helm yang terlempar begitu saja dari atas motornya.Langkah Vino terhenti. Tubuhnya terpaku menyaksikan helm yang ia belikan untuk Bita terlempar dan menghantam paving kafe dengan cukup keras.Salah satu telinga kucing pada helm itu patah seketika. Helm tersebut kemudian masih sempat menggelinding beberapa kali di atas paving sebelum akhirnya berhenti tepat di ujung sepatu Vino.Vino menatapnya nanar. Helm dengan telinga ku
Pintu Asteria Café terbuka, Vino melangkah pelan memasuki kafe dengan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Pandangannya sempat menyapu ke sekeliling. Kondisi kafe yang tidak terlalu ramai membuatnya cukup mudah menemukan sosok yang ia cari. Tamara duduk di salah satu sudut kafe. Begitu menyadari kedatangannya, perempuan itu langsung melambaikan tangan ke arahnya. Vino segera menghampirinya. “Udah lama nunggunya?” tanyanya begitu mengambil tempat duduk di hadapan Tamara. Tamara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Nggak lama. Baru empat puluh tujuh menit.” Hampir satu jam. Waktu yang sebenarnya cukup untuk membuat Tamara hampir mati bosan. Ia bahkan sempat beberapa kali menyandarkan tubuh ke kursi, memainkan ponselnya tanpa tujuan, sampai hampir tertidur karena terlalu lama menunggu. Belum lagi waktu yang terbuang itu sudah pasti membuatnya terlambat datang ke lokasi sy
"Oke. Kalau gitu besok kita ketemu di Asteria Café aja ya jam sebelas. See you.” Setelah sambungan terputus, Tamara masih menatap layar ponselnya dengan senyum lebar yang belum juga hilang. Tak lama kemudian, pintu ruang makeup terbuka. Asistennya masuk sambil membawa segelas kopi yang sejak tadi diminta Tamara untuk dipesankan. “Ini kopinya.” Tamara menerima gelas tersebut. “Thanks, La." Lala memperhatikan Tamara yang kini menyesap kopinya dengan senyum yang tak juga luntur. “Ngapain kamu senyum-senyum? Kesambet?” Meski Tamara memang memiliki wajah cantik yang bisa dengan mudah membuat banyak laki-laki jatuh hati sejak detik pertama melihatnya, apalagi setelah penampilannya dipoles sedemikian rupa, dengan rambut panjang yang ditata bergelombang lembut, makeup soft glam yang semakin menonjolkan mata abu-abu terangnya, serta gaun hitam elegan yang membalut tubuhnya, untuk menghadiri Ardelle Fashion Night beber
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be







