Home / Romansa / Binar / Ch 1 | Namanya Melva

Share

Binar
Binar
Author: iyanalmasalbantani

Ch 1 | Namanya Melva

last update publish date: 2026-06-21 00:42:12

Malam itu aku merebahkan tubuh di atas kasur.

Hari pertama ospek akhirnya selesai.

"Melelahkan."

Aku menghela napas panjang, memandangi langit-langit kamar yang diam. Tidak ada yang menarik di sana hanya cat putih yang mulai kusam di sudut-sudutnya, dan seekor cicak kecil yang dari tadi tidak bergerak di dekat lampu. Dari luar kamar, sayup-sayup terdengar suara televisi yang masih menyala di ruang keluarga.

Ibu pasti belum tidur.

Hari ini, ospek dijalani sepenuhnya lewat Zoom.

Delapan jam penuh menatap layar laptop, mendengarkan suara-suara yang kadang terputus di tengah kalimat, melihat wajah-wajah kecil dalam kotak-kotak persegi yang berjajar rapi, tapi tetap saja terasa jauh. Ini tahun ketiga sejak pandemi melanda. Pemerintah masih mewajibkan masker untuk kegiatan di luar rumah, dan kampus memilih jalan aman: semua sesi hari ini dipindahkan ke dunia maya.

Bukan hal yang asing bagiku. Selama tiga tahun terakhir, layar sudah menjadi jendela utamaku ke mana-mana. Tapi tetap saja, delapan jam Zoom bukan sesuatu yang mudah dilalui tanpa merasa seperti otak yang diperas.

Sesi terakhir hari ini adalah yang paling aku tunggu sekaligus yang paling menegangkan.

' pembagian kelompok ospek fakultas. '

Nama-nama dibacakan satu per satu oleh panitia. Aku mencatat dengan setengah perhatian, mataku lebih banyak mengikuti daftar nama yang muncul di layar share screen mereka. Dua puluh nama. Satu kelompok. Dan dari dua puluh nama itu, tidak ada satu pun yang aku kenal.

Tentu saja. Baru satu hari.

Sesi resmi ditutup pukul lima sore. Tapi grup W******p angkatan langsung menyambut dengan ratusan pesan yang silih berganti tanpa jeda, perkenalan panjang dengan format yang hampir seragam, candaan yang disambut deretan emoji tawa, pertanyaan soal tugas ospek yang teknisnya masih belum jelas dijawab dengan jawaban yang sama-sama belum pasti. Aku membacanya sekilas, menggeser layar ke atas, mencoba memahami konteks percakapan yang sudah berjalan jauh tanpaku.

Tidak ada yang benar-benar menarik perhatianku.

Aku meletakkan ponsel di samping bantal, menutup mata sebentar. Bukan karena mengantuk — lebih karena butuh jeda. Berinteraksi dengan orang baru, bahkan lewat layar sekalipun, selalu menguras energiku dengan cara yang sulit dijelaskan kepada orang-orang yang tidak merasakannya. Hari ini aku sudah "hadir" di depan puluhan orang asing selama hampir seharian penuh. Sekarang yang aku butuhkan adalah diam.

Tapi belum sempat benar-benar beristirahat, sebuah notifikasi muncul di layar.

*Pesan pribadi.*

Aku mengernyit.

Bukan dari teman lama — semua teman lamaku tahu aku tidak suka dihubungi tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Dan di kampus ini, aku belum punya siapa-siapa. Belum ada yang benar-benar bisa disebut teman setelah baru satu hari.

Kubuka pesan itu perlahan.

"Hallo, kamu Awan kan?"

Aku memperhatikan foto profilnya sebentar.

Seorang perempuan berhijab, tersenyum di depan latar belakang yang hijau, taman atau halaman kampus, entah di mana. Bukan foto asal jepret. Ada sesuatu yang disengaja dari cara ia berdiri, dari sudut pengambilannya. Foto yang dipilih, bukan sekadar dipasang.

Namanya Melva.

Wajahnya, kalau dinilai secara objektif, mungkin tidak akan membuat semua orang berhenti berjalan. Tapi ada sesuatu di sana yang membuat mataku tidak langsung berpaling sesuatu yang hangat, entah dari senyumnya atau dari cara ia terlihat nyaman di depan kamera. Aku tidak punya kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Yang aku tahu hanya satu: untuk seseorang yang belum pernah aku temui, rasanya aneh bahwa aku sampai memperhatikan foto profilnya selama ini.

"Eh... iya," balasku singkat.

Beberapa detik kemudian, pesan baru muncul.

"Syukurlah bener orangnya."

"Aku Melva. Kita satu kelompok ospek fakultas ternyata."

Aku membacanya sekali, lalu membacanya lagi.

Tidak ada yang istimewa dari kalimat itu. Perkenalan biasa, seperti puluhan perkenalan lain yang hari ini berhamburan di mana-mana. Tapi pesan ini datang langsung ke ruang pribadi, tanpa keramaian di sekelilingnya. Dan entah kenapa, itu terasa berbeda. Tidak dramatis. Hanya... berbeda.

"Oh iya, satu kelompok," balasku. "Tadi zoom-nya lancar dari sana?"

"Nggak sama sekali," tulisnya cepat. "Pas panitia lagi jelasin teknis outbound besok, koneksiku malah putus. Masuk lagi udah ganti topik."

"Sama persis."

"Eh serius? Kirain aku doang.... 😭"

"Nggak, ada temannya."

Dan dari sana, percakapan mengalir begitu saja.

Tentang Zoom hari ini yang lebih melelahkan dari yang dibayangkan. Tentang koneksi yang selalu memilih putus di momen paling penting. Tentang nama-nama di kelompok ospek yang belum ada satu pun yang dikenal. Hal-hal kecil, tidak penting tapi terasa mudah dibicarakan.

Di sela-sela itu, entah bagaimana, topik bergeser ke hal lain.

Film.

"Eh, kamu suka nonton?" tanyanya tiba-tiba.

"Lumayan. Genre apa?"

"Thriller sama slice of life. Yang bikin mikir atau yang bikin nangis tanpa aba-aba, dua-duanya aku suka."

Aku terdiam sebentar sebelum membalas.

"Sama persis🙂"

"Bohong🤨" Dia kirim emoji curiga.

"Nggak. Terakhir nonton film apa?"

"Parasite. Udah nonton?🫠"

"Dua kali."

"SAMA."

Kami tertawa, atau setidaknya, aku membayangkan kami tertawa, karena di layar hanya ada teks dan emoji, tapi rasanya seperti itu. Dari film, pembicaraan merembet ke musik. Ternyata selera kami juga tidak jauh berbeda, sama-sama menyukai lagu-lagu yang liriknya terasa seperti ditulis oleh seseorang yang pernah merasakan hal yang sama persis denganmu di momen yang paling tidak terduga.

Aku tidak terlalu banyak bicara seperti biasa. Tapi kali ini diamku bukan karena tidak ada yang ingin kukatakan. Lebih karena aku sedang menikmati ritme percakapan ini dengan caraku sendiri. Membaca. Membalas. Membaca lagi.

Tanpa kusadari, waktu berjalan.

Ketika aku akhirnya meletakkan ponsel dan memejamkan mata, jam di sudut layar menunjukkan hampir tengah malam. Grup angkatan masih ramai di latar belakang. Tapi aku sudah tidak membukanya lagi.

Sebelum benar-benar terlelap, satu pikiran kecil melintas tanpa izin.

*Ternyata tidak semua orang asing terasa asing.*

Aku tidak memikirkannya lebih jauh dari itu. Hanya membiarkannya lewat, seperti angin malam yang masuk dari celah jendela yang tidak rapat terasa sebentar, lalu hilang.

Begitulah yang kukira.

Pagi datang lebih cepat dari yang aku harapkan.

Jam enam, mataku terbuka sendiri. Di luar, langit masih menanggung sisa kelabu semalam tapi udara sudah berbau pagi, tanah basah dan daun yang belum selesai melepas embun.

Hari ini outbound fakultas.

Hari pertama kami keluar dari layar dan masuk ke dunia yang sebenarnya.

Aku bergegas mandi, lalu memakai pakaian yang sudah kusiapkan sejak tadi malam. Dari ruang makan, tercium aroma masakan yang sudah matang dan suara Ibu yang tidak perlu ditunggu lama.

"Kakak, sarapan dulu," panggilnya sebelum aku sempat bilang apa-apa.

"Mamah, kakak sarapan di jalan aja ya..."

"Mamah udah masak banyak" potongnya, nada suaranya tidak meninggalkan ruang negosiasi. Sebelum aku sempat menjawab, ia sudah menarik lenganku untuk duduk dan menyiapkan sepiring nasi dengan tangan yang sudah hafal selera masing-masing anaknya.

Aku menyerah dengan senang hati.

"Hari ini semangat ya, Kak. Mamah doain yang terbaik."

Selesai sarapan, aku mencium tangannya, lalu berjalan ke depan. Kupakai masker karena aturan, tapi juga karena entah kenapa hari ini rasanya seperti perisai kecil lalu sepasang sepatu yang sudah menunggu di depan pintu.

Masker untuk keberanian. Sepatu untuk keyakinan.

"Mah, kakak berangkat."

Motor menyala. Aku melambai sekali ke arah Ibu yang berdiri di depan pintu, lalu mulai melaju.

Jalanan pagi ini tidak terlalu padat. Angin menerpa wajahku pelan, membawa serta pikiran-pikiran yang dari tadi berkeliaran di kepala. Hari ini kami akan bertemu langsung satu kelompok, dua puluh orang, wajah-wajah yang selama ini hanya ada di daftar nama dan foto profil kecil.

Dan di antara dua puluh nama itu, ada satu yang sejak semalam memenuhi pikiranku lebih dari yang seharusnya.

'Melva'

Aku tidak tahu ia akan seperti apa kalau dilihat langsung. Tidak tahu suaranya, tidak tahu cara ia tertawa, tidak tahu apakah ia akan sama hangatnya di dunia nyata seperti di layar semalam. Tapi ada sesuatu kecil, tidak bisa dijelaskan. yang membuat hari ini terasa sedikit lebih dari sekadar kegiatan ospek biasa.

Kupacu motor sedikit lebih cepat.

Bukan karena terlambat. Hanya karena ada yang ingin cepat kutemui.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Binar   Ch 9 | Perkuliahan Pertama Di Kampus

    Pukul dua siang, aku sudah berdiri di depan lemari lagi.Kemeja biru muda yang sama masih menempel di badan sejak pagi, tapi sekarang giliran bagian bawah yang harus menyusul. Kolor kotak-kotak sudah kulepas, digantikan celana panjang berwarna abu gelap yang kuseterika terburu-buru sepuluh menit lalu karena ternyata masih ada bekas lipatan yang membandel di bagian lutut. Aku menariknya, memasukkan ujung kemeja ke dalam dengan rapi, lalu berdiri sekali lagi di depan cermin.Kali ini dari atas sampai bawah semuanya cocok. Tidak ada yang perlu ditutupi meja.Zoom tidak melihat ke bawah meja, batinku, tapi tatap muka melihat semuanya. Jadi kali ini semuanya harus benar.Aku menyambar tas ransel yang sudah kusiapkan sejak makan siang, isi seadanya, laptop, buku catatan yang masih kosong halamannya kecuali beberapa poin yang kutulis waktu Zoom tadi pagi, dan botol minum yang belum sempat kuisi ulang. Kuisi cepat-cepat di dispenser dekat dapur, lalu berjalan keluar.Motor sudah menunggu di

  • Binar   Ch 8 | Kemeja Dan Kolor

    Alarm berbunyi pukul enam pagi.Aku tidak langsung mematikannya. Membiarkannya berbunyi beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena mengantuk, tapi karena ada sesuatu yang ingin ditunda dari momen sebelum alarm dimatikan. Momen ketika hari belum benar-benar dimulai. Ketika semuanya masih mungkin dan belum ada yang bisa salah.Lalu kutap layarnya. Diam.Aku duduk di tepi kasur.Hari ini hari pertama kuliah.Kalimat itu sudah ada di kepala sejak semalam, sejak aku meletakkan ponsel dan memejamkan mata, sejak tidur yang tidak terlalu nyenyak karena pikiran terus berputar di frekuensi yang tidak bisa dimatikan. Bukan cemas atau mungkin iya, sedikit, tapi bukan jenis cemas yang melumpuhkan. Lebih ke jenis perasaan yang muncul sebelum sesuatu yang besar dan baru dimulai, yang membuat tidur terasa lebih dangkal dari biasanya dan membuat pagi datang lebih cepat dari yang seharusnya.Aku berdiri. Membuka lemari.Zoom pagi, tatap muka sore. Itu jadwal hari ini dua mode yang ber

  • Binar   Ch 7 | Yang Tidak Awan Ketahui

    Di pagi yang sama, di tempat yang berbeda. Kamar Melva lebih rapi dari yang bisa diduga dari seseorang yang baru saja bangun. Kasurnya sudah dirapikan, bukan rapi sempurna, tapi cukup rapi untuk menunjukkan bahwa ini bukan kebetulan, bahwa ada seseorang yang memang terbiasa merapikan tempat tidurnya sebelum melakukan hal lain. Buku-buku di rak tersusun tidak sepenuhnya lurus tapi tidak berantakan. Meja belajarnya bersih kecuali satu gelas yang setengah isinya sudah tinggal sisa air dari semalam. Melva berbaring di atas kasur dengan laptop terbuka di depannya. Bukan untuk belajar. Bukan untuk mengerjakan sesuatu yang produktif. Pagi Minggu tidak seharusnya diisi dengan hal-hal yang produktif, itu prinsip yang tidak pernah ia ucapkan dengan keras tapi selalu ia praktikkan. Jadi laptop terbuka, platform streaming sudah menyala, film yang sudah lama masuk daftar tonton akhirnya mulai diputar. Opening credit masih berjalan. Musik latar yang pelan. Nama-nama yang ia tidak kenal. D

  • Binar   Ch 6 | Tiga Laki-Laki dan Satu Penerjemah

    Tidak ada alarm pagi ini. Hari Minggu. Hari di mana dunia tampaknya menyepakati secara kolektif bahwa tidak ada yang perlu terburu-buru. Aku membiarkan mataku terbuka dengan kecepatan mereka sendiri pelan, malas, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sudah masuk dari celah gorden yang tidak pernah benar-benar rapat. Aku berbaring diam sebentar, membiarkan kesadaran kembali pelan-pelan, seperti air yang mengisi bejana dari bawah. Langit-langit kamar. Kipas yang masih berputar. Suara sendok dari arah dapur. Ibu sudah bangun. Tentu saja sudah bangun. Ibu tidak pernah benar-benar tidur sampai siang bahkan di hari libur, ada saja yang dikerjakan, ada saja yang dibenahi, ada saja suara yang keluar dari dapur sebagai bukti bahwa hari ini sedang dimulai oleh setidaknya satu orang di rumah ini. Aku meraih ponsel di sisi kasur. Beberapa notifikasi dari semalam yang belum kubuka. Grup angkatan. Satu pesan dari Milo yang dikirim tengah malam isinya hanya meme yang tidak ada konteksnya, c

  • Binar   Ch 5 | Tadi Kenapa Diem Aja?

    Satu notifikasi.Aku yang baru saja memejamkan mata membukanya kembali.Layar ponsel menyala di sisi kasur, cahayanya terlalu terang untuk ruangan yang sudah gelap ini. Aku meraihnya setengah sadar, setengah berharap itu hanya notifikasi grup angkatan yang tidak penting.Tapi bukan."Wan.."Dua kata. Bahkan bukan dua kata, satu kata dan dua titik yang menggantung, seperti kalimat yang belum selesai, seperti seseorang yang membuka mulut lalu ragu untuk melanjutkan.Aku duduk.Mataku yang tadi sudah hampir menyerah pada kantuk tiba-tiba tidak lagi mengantuk. Aku membaca pesannya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Bukan karena tidak mengerti isinya hanya dua karakter, tidak ada yang perlu diurai tapi karena ada sesuatu yang aneh dari cara dua titik kecil itu bisa membuat dadaku tidak bisa tenang.Apa maksudnya?Bisa apa saja. Bisa sapaan biasa. Bisa ia mau bertanya sesuatu. Bisa ia lagi iseng. Bisa ia tidak sengaja mengirim. Bisa...Sudah. Jangan dipikirkan terlalu dalam.Aku mengetik."Gima

  • Binar   Ch 4 | Malam yang Tidak Perlu Banyak Kata

    Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status