登入
Malam itu aku merebahkan tubuh di atas kasur.
Hari pertama ospek akhirnya selesai. "Melelahkan." Aku menghela napas panjang, memandangi langit-langit kamar yang diam. Tidak ada yang menarik di sana hanya cat putih yang mulai kusam di sudut-sudutnya, dan seekor cicak kecil yang dari tadi tidak bergerak di dekat lampu. Dari luar kamar, sayup-sayup terdengar suara televisi yang masih menyala di ruang keluarga. Ibu pasti belum tidur. Hari ini, ospek dijalani sepenuhnya lewat Zoom. Delapan jam penuh menatap layar laptop, mendengarkan suara-suara yang kadang terputus di tengah kalimat, melihat wajah-wajah kecil dalam kotak-kotak persegi yang berjajar rapi, tapi tetap saja terasa jauh. Ini tahun ketiga sejak pandemi melanda. Pemerintah masih mewajibkan masker untuk kegiatan di luar rumah, dan kampus memilih jalan aman: semua sesi hari ini dipindahkan ke dunia maya. Bukan hal yang asing bagiku. Selama tiga tahun terakhir, layar sudah menjadi jendela utamaku ke mana-mana. Tapi tetap saja, delapan jam Zoom bukan sesuatu yang mudah dilalui tanpa merasa seperti otak yang diperas. Sesi terakhir hari ini adalah yang paling aku tunggu sekaligus yang paling menegangkan. ' pembagian kelompok ospek fakultas. ' Nama-nama dibacakan satu per satu oleh panitia. Aku mencatat dengan setengah perhatian, mataku lebih banyak mengikuti daftar nama yang muncul di layar share screen mereka. Dua puluh nama. Satu kelompok. Dan dari dua puluh nama itu, tidak ada satu pun yang aku kenal. Tentu saja. Baru satu hari. Sesi resmi ditutup pukul lima sore. Tapi grup W******p angkatan langsung menyambut dengan ratusan pesan yang silih berganti tanpa jeda, perkenalan panjang dengan format yang hampir seragam, candaan yang disambut deretan emoji tawa, pertanyaan soal tugas ospek yang teknisnya masih belum jelas dijawab dengan jawaban yang sama-sama belum pasti. Aku membacanya sekilas, menggeser layar ke atas, mencoba memahami konteks percakapan yang sudah berjalan jauh tanpaku. Tidak ada yang benar-benar menarik perhatianku. Aku meletakkan ponsel di samping bantal, menutup mata sebentar. Bukan karena mengantuk — lebih karena butuh jeda. Berinteraksi dengan orang baru, bahkan lewat layar sekalipun, selalu menguras energiku dengan cara yang sulit dijelaskan kepada orang-orang yang tidak merasakannya. Hari ini aku sudah "hadir" di depan puluhan orang asing selama hampir seharian penuh. Sekarang yang aku butuhkan adalah diam. Tapi belum sempat benar-benar beristirahat, sebuah notifikasi muncul di layar. *Pesan pribadi.* Aku mengernyit. Bukan dari teman lama — semua teman lamaku tahu aku tidak suka dihubungi tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Dan di kampus ini, aku belum punya siapa-siapa. Belum ada yang benar-benar bisa disebut teman setelah baru satu hari. Kubuka pesan itu perlahan. "Hallo, kamu Awan kan?" Aku memperhatikan foto profilnya sebentar. Seorang perempuan berhijab, tersenyum di depan latar belakang yang hijau, taman atau halaman kampus, entah di mana. Bukan foto asal jepret. Ada sesuatu yang disengaja dari cara ia berdiri, dari sudut pengambilannya. Foto yang dipilih, bukan sekadar dipasang. Namanya Melva. Wajahnya, kalau dinilai secara objektif, mungkin tidak akan membuat semua orang berhenti berjalan. Tapi ada sesuatu di sana yang membuat mataku tidak langsung berpaling sesuatu yang hangat, entah dari senyumnya atau dari cara ia terlihat nyaman di depan kamera. Aku tidak punya kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Yang aku tahu hanya satu: untuk seseorang yang belum pernah aku temui, rasanya aneh bahwa aku sampai memperhatikan foto profilnya selama ini. "Eh... iya," balasku singkat. Beberapa detik kemudian, pesan baru muncul. "Syukurlah bener orangnya." "Aku Melva. Kita satu kelompok ospek fakultas ternyata." Aku membacanya sekali, lalu membacanya lagi. Tidak ada yang istimewa dari kalimat itu. Perkenalan biasa, seperti puluhan perkenalan lain yang hari ini berhamburan di mana-mana. Tapi pesan ini datang langsung ke ruang pribadi, tanpa keramaian di sekelilingnya. Dan entah kenapa, itu terasa berbeda. Tidak dramatis. Hanya... berbeda. "Oh iya, satu kelompok," balasku. "Tadi zoom-nya lancar dari sana?" "Nggak sama sekali," tulisnya cepat. "Pas panitia lagi jelasin teknis outbound besok, koneksiku malah putus. Masuk lagi udah ganti topik." "Sama persis." "Eh serius? Kirain aku doang.... 😭" "Nggak, ada temannya." Dan dari sana, percakapan mengalir begitu saja. Tentang Zoom hari ini yang lebih melelahkan dari yang dibayangkan. Tentang koneksi yang selalu memilih putus di momen paling penting. Tentang nama-nama di kelompok ospek yang belum ada satu pun yang dikenal. Hal-hal kecil, tidak penting tapi terasa mudah dibicarakan. Di sela-sela itu, entah bagaimana, topik bergeser ke hal lain. Film. "Eh, kamu suka nonton?" tanyanya tiba-tiba. "Lumayan. Genre apa?" "Thriller sama slice of life. Yang bikin mikir atau yang bikin nangis tanpa aba-aba, dua-duanya aku suka." Aku terdiam sebentar sebelum membalas. "Sama persis🙂" "Bohong🤨" Dia kirim emoji curiga. "Nggak. Terakhir nonton film apa?" "Parasite. Udah nonton?🫠" "Dua kali." "SAMA." Kami tertawa, atau setidaknya, aku membayangkan kami tertawa, karena di layar hanya ada teks dan emoji, tapi rasanya seperti itu. Dari film, pembicaraan merembet ke musik. Ternyata selera kami juga tidak jauh berbeda, sama-sama menyukai lagu-lagu yang liriknya terasa seperti ditulis oleh seseorang yang pernah merasakan hal yang sama persis denganmu di momen yang paling tidak terduga. Aku tidak terlalu banyak bicara seperti biasa. Tapi kali ini diamku bukan karena tidak ada yang ingin kukatakan. Lebih karena aku sedang menikmati ritme percakapan ini dengan caraku sendiri. Membaca. Membalas. Membaca lagi. Tanpa kusadari, waktu berjalan. Ketika aku akhirnya meletakkan ponsel dan memejamkan mata, jam di sudut layar menunjukkan hampir tengah malam. Grup angkatan masih ramai di latar belakang. Tapi aku sudah tidak membukanya lagi. Sebelum benar-benar terlelap, satu pikiran kecil melintas tanpa izin. *Ternyata tidak semua orang asing terasa asing.* Aku tidak memikirkannya lebih jauh dari itu. Hanya membiarkannya lewat, seperti angin malam yang masuk dari celah jendela yang tidak rapat terasa sebentar, lalu hilang. Begitulah yang kukira. Pagi datang lebih cepat dari yang aku harapkan. Jam enam, mataku terbuka sendiri. Di luar, langit masih menanggung sisa kelabu semalam tapi udara sudah berbau pagi, tanah basah dan daun yang belum selesai melepas embun. Hari ini outbound fakultas. Hari pertama kami keluar dari layar dan masuk ke dunia yang sebenarnya. Aku bergegas mandi, lalu memakai pakaian yang sudah kusiapkan sejak tadi malam. Dari ruang makan, tercium aroma masakan yang sudah matang dan suara Ibu yang tidak perlu ditunggu lama. "Kakak, sarapan dulu," panggilnya sebelum aku sempat bilang apa-apa. "Mamah, kakak sarapan di jalan aja ya..." "Mamah udah masak banyak" potongnya, nada suaranya tidak meninggalkan ruang negosiasi. Sebelum aku sempat menjawab, ia sudah menarik lenganku untuk duduk dan menyiapkan sepiring nasi dengan tangan yang sudah hafal selera masing-masing anaknya. Aku menyerah dengan senang hati. "Hari ini semangat ya, Kak. Mamah doain yang terbaik." Selesai sarapan, aku mencium tangannya, lalu berjalan ke depan. Kupakai masker karena aturan, tapi juga karena entah kenapa hari ini rasanya seperti perisai kecil lalu sepasang sepatu yang sudah menunggu di depan pintu. Masker untuk keberanian. Sepatu untuk keyakinan. "Mah, kakak berangkat." Motor menyala. Aku melambai sekali ke arah Ibu yang berdiri di depan pintu, lalu mulai melaju. Jalanan pagi ini tidak terlalu padat. Angin menerpa wajahku pelan, membawa serta pikiran-pikiran yang dari tadi berkeliaran di kepala. Hari ini kami akan bertemu langsung satu kelompok, dua puluh orang, wajah-wajah yang selama ini hanya ada di daftar nama dan foto profil kecil. Dan di antara dua puluh nama itu, ada satu yang sejak semalam memenuhi pikiranku lebih dari yang seharusnya. 'Melva' Aku tidak tahu ia akan seperti apa kalau dilihat langsung. Tidak tahu suaranya, tidak tahu cara ia tertawa, tidak tahu apakah ia akan sama hangatnya di dunia nyata seperti di layar semalam. Tapi ada sesuatu kecil, tidak bisa dijelaskan. yang membuat hari ini terasa sedikit lebih dari sekadar kegiatan ospek biasa. Kupacu motor sedikit lebih cepat. Bukan karena terlambat. Hanya karena ada yang ingin cepat kutemui.Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung
Motor belok kanan di persimpangan yang sudah hafal sendiri.Aku tidak langsung pulang.Sebenarnya tidak ada rencana ke sini. Tapi tangan ini seperti punya memori sendiri ketika pikiran sedang penuh dan badan sudah lelah, jari-jari yang menggenggam setang otomatis memilih jalan ini. Jalan yang lebih sempit, lebih teduh, dengan pohon mangga tua di ujungnya yang sudah tidak pernah berbuah tapi tidak pernah ditebang juga.Rumah Milo.Aku memarkir motor di depan pagar yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat sudah mengelupas sejak dulu, dan tidak ada yang pernah repot-repot mengecat ulang. Ada sandal jepit biru tua di depan pintu. Berarti Milo ada.Aku tidak mengetuk. Tidak perlu."Wan?"Suaranya terdengar dari dalam, dari arah dapur, diiringi bunyi sendok yang beradu dengan gelas."Iya."Beberapa detik kemudian Milo muncul di ambang pintu, kaus oblong abu-abu yang sudah kebesaran, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur padahal sudah hampir sore. Di tangannya ada dua cangkir
Motor melaju pelan meninggalkan kompleks perumahan.Aku menyetel helm dengan satu tangan, mataku menyapu jalan yang masih sepi pagi-pagi begini. Baru setengah tujuh. Matahari belum terlalu tinggi, tapi udaranya sudah cukup hangat untuk membuat kerah bajuku terasa sedikit gerah.Aku tidak terburu-buru, Tapi juga tidak bisa diam.Semalam, setelah meletakkan ponsel dan memejamkan mata, ku pikir otakku akan langsung beristirahat. Tapi ternyata tidak. Pikiranku malah memilih untuk replay percakapan tadi malam, pesan demi pesan, seperti seseorang yang menonton ulang film yang baru saja ku tonton setengahnya.* Ngapain sih. * ucapku sembari menggeleng pelan di balik helm.Bukan apa-apa. Aku hanya menemukan seseorang yang nyambung diajak ngobrol. Itu saja yang terpikir olehku. Di kampus baru, di hari pertama yang panjang dan melelahkan, menemukan orang yang bisa diajak bicara tanpa harus menjelaskan diri sendiri terlalu banyak itu terasa... melegakan. Sesederhana itu.Melva suka film, begitu
Malam itu aku merebahkan tubuh di atas kasur.Hari pertama ospek akhirnya selesai."Melelahkan."Aku menghela napas panjang, memandangi langit-langit kamar yang diam. Tidak ada yang menarik di sana hanya cat putih yang mulai kusam di sudut-sudutnya, dan seekor cicak kecil yang dari tadi tidak bergerak di dekat lampu. Dari luar kamar, sayup-sayup terdengar suara televisi yang masih menyala di ruang keluarga.Ibu pasti belum tidur.Hari ini, ospek dijalani sepenuhnya lewat Zoom.Delapan jam penuh menatap layar laptop, mendengarkan suara-suara yang kadang terputus di tengah kalimat, melihat wajah-wajah kecil dalam kotak-kotak persegi yang berjajar rapi, tapi tetap saja terasa jauh. Ini tahun ketiga sejak pandemi melanda. Pemerintah masih mewajibkan masker untuk kegiatan di luar rumah, dan kampus memilih jalan aman: semua sesi hari ini dipindahkan ke dunia maya.Bukan hal yang asing bagiku. Selama tiga tahun terakhir, layar sudah menjadi jendela utamaku ke mana-mana. Tapi tetap saja, dela







