LOGINRaka tidak bergerak. Matanya terpaku pada foto yang tergeletak di lantai.Foto itu tua. Sudut-sudutnya menguning. Ada bekas lipatan panjang di tengahnya, seolah seseorang pernah menyimpannya bertahun-tahun di dalam dompet atau buku. Namun bukan kondisi foto yang membuat Raka kehilangan kata-kata, melainkan tulisan di bawahnya.17 AGUSTUS 1996 : 03.17Dan satu nama:RAKA PRADANATangannya perlahan mengambil foto itu. “Ini tidak mungkin,” bisiknya. Lalu Raka membalik foto. Di bagian belakang terdapat tulisan tangan yang sangat ia kenal, yaitu tulisan sang ayah:Jika suatu hari dia melihat foto ini, jangan katakan bahwa ini adalah masa lalu.Ini adalah pilihan pertamanya.“Pilihan?” Naya mendekat. “Apa maksudnya?”Raka membaca tulisan berikutnya: Raka bukan korban pertama Kamar Nol.Raka adalah orang pertama yang memilihnya.Raka menatap Kustodian. “Katakan padaku ini bukan seperti yang kupikirkan.”“Bukan.”Raka mengembuskan napas lega. Namun Kustodian melanjutkan, “Tapi juga bukan se
“Raka…,” Suara Naya terdengar sangat dekat, namun yang dilihatnya hanyalah seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun berdiri di ujung lorong hotel, berdiri membelakanginya. Tangan kanannya menggenggam sesuatu, yaitu sebuah kunci bernomor 0.“Naya,” Tanya Raka pelan. “Aku di sini dan aku melihat diriku sendiri.” Tidak ada jawaban dari suara Naya.Lalu anak itu perlahan menoleh. Wajahnya adalah wajah Raka ketika masih kecil dan tidak menyeramkan. Sepertinya hanya sebuah ingatan yang selama puluhan tahun dikunci terlalu dalam hingga akhirnya memiliki bentuk.Anak itu menatap Raka dan berkata, “Aku tidak membawamu ke Kamar Nol, kamu sendiri yang menemukannya.”Lalu anak itu menunjuk ke sebuah pintu di belakangnya bertuliskan:CHECK-IN TERAKHIRLantas pintu itu terbuka sendiri, memperlihatkan sebuah ruang besar yang menyerupai lobi hotel, namun seluruh dindingnya dipenuhi foto keluarga, rapat, orang orang yang Raka kenal, dan bahkan foto yang belum pernah dilihatnya.Dan di tengah rua
Wajahnya jauh lebih muda daripada pria tua yang baru saja ditemui Raka di Kamar Nol, namun wajah itu tidak mungkin salah. Itu ayahnya. Ayah yang selama ini diyakini telah meninggal.Raka mundur selangkah. "Ini bukan nyata."Sementara itu, Surya berdiri di samping pintu kamar. "Tidak, ini ingatan."Raka menoleh pada Surya, "Kenapa dia ada di sini?""Karena ini adalah malam yang sebenarnya.""1996?"Surya mengangguk. "17 Agustus." Jam di dinding menunjukkan 03.17, waktu yang sama dengan rekaman tadi.Kemudian ayah Raka berjalan menyusuri lorong, seakan tidak melihat dan mendengar mereka.Raka mengikutinya dengan waspada hingga mereka sampai di lobi.Ternyata kini lobi hotel terlihat jauh lebih sederhana daripada Hotel Booking Terakhir yang Raka kenal, namun bentuk dasarnya sama.Di belakang meja resepsionis berdiri seorang perempuan yang langsung dikenali oleh Raka, yaitu ibunya sendiri.Dengan napas tertahan, Raka memanggilnya, "Ibu..."Perempuan itu mengangkat kepala, tampak seolah me
"Surya?" Nama itu seakan menggantung di udara saat Raka menatap radio di tangan Mira. Tidak mungkin salah, itu adalah suara Surya, orang yang selama ini membantu mereka membaca blueprint, mengurai simbol, memahami sejarah bangunan, bahkan beberapa kali menyelamatkan mereka dari situasi yang seharusnya mematikan, kini justru menyuruh mereka membawa Raka kembali ke hotel. "Surya," kata Raka pelan ke radio. "Jawab aku." Statis. Tidak ada respons. Raka merampas radio dari tangan Mira. "Kalau kau memang di sana, bicara langsung denganku." Kemudian terdengar suara itu. "Baik." Raka membeku."Surya?" "Ya." "Kau di mana?" "Di tempat yang seharusnya tidak pernah kalian tinggalkan." Raka mengerutkan kening. "Hotel?" Terdengar tawa pendek. "Bagus. Ternyata kau ingat.” "Surya, apa yang sebenarnya terjadi?" "Kalian masih terlalu banyak bertanya." "Kami berhak tahu." "Berhak?" Suara Surya terdengar getir. "Jangan bermain teka-teki." "Aku tidak bermain." Sangkal Surya tegas. "Kalau
Cahaya putih sangat terang memenuhi Kamar Nol, memaksa Raka menutup wajah dengan kedua tangannya. Di sekelilingnya terdengar suara kaca pecah, orang-orang berteriak, dan sesuatu yang berat menghantam lantai.Kemudian…, sunyi, seolah seluruh dunia baru saja dimatikan.Raka perlahan membuka mata dan menyaksikan Kamar Nol yang telah berubah.Cermin di tengah ruangan hancur berkeping-keping dan anak laki-laki yang tadi berada di dalam cermin menghilang begitu saja."Di mana dia?" Suara Naya terdengar dari belakang.Raka menoleh melihat Naya masih berdiri bersama yang lainnya. Namun para anggota Pemutus yang tadi memenuhi tangga sudah menghilang tanpa satu pun tersisa.Raka mengerutkan kening. "Kemana mereka?"Kustodian tidak menjawab, malah ia menatap lantai yang ternyata terdapat sesuatu diantara pecahan kaca. Sepasang sepatu kecil anak anak.Lantas Kustodian berjongkok dan menyentuhnya dengan tangan gemetar. "Dia keluar."Raka menatapnya."Keluar ke mana?"Kustodian mengangkat wajah. "K
Raka menuruni tangga selangkah demi selangkah, sedangkan di belakangnya terdengar suara benturan pada pintu Kamar Nol yang semakin keras.DUANG! DUANG!Tampaknya seseorang berusaha keras untuk masuk ke dalam.Sementara itu, Ayah Raka berdiri beberapa anak tangga di belakangnya. "Jangan berhenti."Raka tidak menoleh karena masih merasa bingung. "Ke mana tangga ini?""Ke tempat yang tidak pernah masuk blueprint.""Ke tempat apa?""Ke pusat Kamar Nol."Raka berhenti. "Bukankah kita sudah berada di Kamar Nol?"Ayahnya menggeleng. "Ruangan tadi hanya pintunya."Kemudian Raka menatap ke bawah, memperhatikan tangga yang terus turun dan tidak terlihat ujungnya sama sekali. Dinding di kiri dan kanan terbuat dari beton tua yang dipenuhi goresan. Namun semakin jauh mereka turun, semakin banyak gambar dan foto yang muncul di dinding.Gambar dan foto anak-anak, rumah, pohon, wajah, pintu dan ada sebuah gambar yang sama tapi dalam jumlah sangat banyak. Gambar seorang anak sedang berdiri di depan se
Rak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal.
Naya mundur satu langkah seolah tubuhnya menolak apa yang terlihat. “Itu…,bukan gue!” suaranya bergetar penuh penyangkalan cenderung sedikit histeris. Mendengar itu, Raka tidak menjawab karena dia juga melihatnya. Sosok di ujung lorong itu, tinggi, bentuk tubuh, rambut, bahkan cara berdirinya sama
“Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,
“Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J







