LOGINTok. Tok. Dua ketukan terdengar dari jendela. Semua langsung waspada. Dan Ye Shuang bergerak paling cepat. Dalam sekejap ia sudah membuka jendela dan menarik seseorang masuk. “Yang Mulia,” ucap seorang penjaga bayangan yang ditugaskan untuk mengintai Aula Phoenix. Pria itu langsung memberi hormat. “Laporan,” ucap Liang Wei cepat. “Hamba mengikuti kepala dayang pribadi Permaisuri malam ini. Dia keluar dari Aula Phoenix setelah tengah malam,” jelasnya. “Pergi kemana?” tanya Liang Wei menyipitkan matanya. “Ke Aula kosong bekas kediaman Mendiang Permaisuri Shen Yurong, Yang Mulia,” lanjutnya gugup. Ruangan langsung hening. Ming Zhu perlahan menegang. Tepat seperti dugaan mereka sebelumnya. Liang Wei tidak menunjukkan reaksi apa pun. Namun tatapannya berubah lebih tajam. “Dia masuk?” tanya Liang Wei. “Ya, Yang Mulia.” “Berapa lama?” “Hampir setengah jam,” jawabnya. “Dia melakukan apa disana?” “Itulah masalahnya Yang Mulia. Kepala dayang itu tidak masuk sendiria
Malam di Paviliun Giok berubah mencekam. Seluruh area ditutup rapat oleh penjaga bayangan Liang Wei. Tidak ada pelayan yang diizinkan bergerak bebas, bahkan suara langkah kaki di koridor pun nyaris tidak terdengar. Di dalam kamar utama, Ming Zhu akhirnya selesai membersihkan luka kecil di lehernya. Ming Yue masih duduk di samping adiknya dengan wajah belum tenang sepenuhnya. Sementara di luar ruangan, Liang Wei berdiri di aula depan bersama Hei Yan, Mo Lin, Ye Shuang, dan Su Mu. Mayat pembunuh tadi sudah dipindahkan ke ruang bawah paviliun untuk diperiksa. Tatapan Liang Wei dingin seperti es. “Laporan,” ucapnya dengan ekspresi dingin. Mo Lin melangkah maju lebih dulu. “Tubuhnya tidak memiliki tanda keluarga atau organisasi mana pun, Yang Mulia,” jelas Mo Lin. Hei Yan mendecakkan lidah. “Profesional sekali,” celetuknya. “Namun ada bekas luka bakar kecil di belakang leher. Ini sangat mirip dengan tanda hukuman budak bayangan,” jelas Mo Lin lagi. Ye Shuang ikut bica
Malam itu, setelah meninggalkan Paviliun Teratai, mereka semua akhirnya kembali ke Paviliun Giok. Suasana di koridor istana jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Liang Wei, Hei Yan, Mo Lin, Ye Shuang, dan Su Mu masih mendiskusikan rencana penyelidikan aula lama Permaisuri Shen Yurong di ruang depan paviliun, sementara Ming Zhu memilih kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Uap hangat memenuhi kamar mandi pribadi kecil di balik tirai sutra. Aroma herbal lembut memenuhi udara. Ming Zhu perlahan menuangkan air hangat ke bahunya, mencoba menenangkan pikirannya setelah seharian penuh ketegangan. Namun entah kenapa, malam itu terasa terlalu sunyi. Ming Zhu perlahan mengangkat kepala. Tatapannya bergerak ke arah jendela kayu yang sedikit terbuka. Angin malam masuk pelan, membuat nyala lilin bergoyang samar. Dan tepat saat itu— CRAAT! Seseorang tiba-tiba menerobos masuk dari balik tirai. Mata Ming Zhu langsung membesar. Sosok berpakaian hitam itu bergerak
“Aku tidak pernah menyangka hidupku akan berakhir membersihkan kandang sambil mendengar Hei Yan menyanyikan lagu sedih tentang kebebasan,” celetuk Mo Lin. Ming Zhu tertawa makin keras. “Dia benar-benar bernyanyi?” tanya Ming Zhu dengan wajah tak percaya. Ye Shuang mengangguk kecil. “Lima belas lagu, Putri Ming,” ucap Ye Shuang datar. “PENGKHIANAT!” teriak Hei Yan. Untuk pertama kalinya bahkan Mo Lin terlihat hampir tersenyum. Sementara Liang Wei, yang biasanya akan mengusir mereka sejak awal, justru membiarkan ketiga pria itu tetap di paviliun. Hei Yan yang akhirnya duduk sembarangan langsung menyipitkan mata ke arah Liang Wei dan Ming Zhu. “Tapi serius, kenapa suasana di sini terasa lembut?” Mo Lin langsung menoleh. Ye Shuang juga perlahan mengangkat kepala. Ming Zhu langsung salah tingkah. “Tidak ada apa-apa!” ujar Ming Zhu cepat. Hei Yan menunjuk cepat. “Lihat! Dia panik!” seru Hei Yan. “Dan Yang Mulia diam saja,” tambah Mo Lin tenang. Hening. Semua ma
“Pangeran Ketiga,, kau membawa nama mendiang ibumu ke aula kerajaan hanya demi kasus racun?” ucap Permaisuri lembut. Liang Wei menatap beliau tanpa menghindar sedikit pun. “Karena keduanya mungkin berkaitan,” balas Liang Wei. Beberapa menteri langsung menunduk lebih dalam. Ucapan itu nyaris seperti tuduhan terbuka bahwa ada rahasia besar di balik kematian Permaisuri Shen Yurong dahulu. Permaisuri Zhao Lianhua tersenyum tipis. Namun kehangatan dalam senyum itu telah hilang. “Sudah bertahun-tahun aku membesarkanmu, Dan sekarang kau mulai mencurigai seluruh istana karena rumor lama?” Tatapan Liang Wei tetap dingin. “Aku tidak percaya rumor,” balasnya datar. “Lalu?” “Aku percaya bukti,” ucapnya. Suasana aula langsung semakin menyesakkan. Perdana Menteri Xu bahkan diam-diam mulai berkeringat. Karena perang dingin antara Permaisuri dan Pangeran Ketiga bukan sesuatu yang bisa dianggap ringan. Satu pihak adalah ibu resmi istana. Satu lagi adalah pangeran paling berpeng
Malam sudah sangat larut ketika Liang Wei dan Ming Zhu akhirnya kembali menuju istana. Keramaian kota perlahan tertinggal di belakang mereka. Lampion-lampion jalan mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan suasana tenang dengan angin malam yang dingin. Ming Zhu berjalan di samping Liang Wei sambil masih memegang lentera kecil tadi. Sesekali wanita itu diam-diam melirik tulisan doa milik Liang Wei lalu cepat-cepat memalingkan wajah lagi karena malu. Dan tentu saja, Liang Wei menyadarinya. “Kau sudah membacanya lima kali,” ucap Liang Wei pelan. Ming Zhu langsung tersedak sendiri. “Aku tidak menghitung!” kesalnya. Liang Wei menahan senyum tipis. Pemandangan langka yang untungnya tidak dilihat para pejabat istana. Karena empat penjaga bayangan mereka saat ini sedang berjalan cukup jauh di belakang sambil pura-pura tidak mengenal tuannya sendiri. Hei Yan masih belum pulih dari kejadian lentera tadi. “Aku bersumpah, kalau besok Yang Mulia mulai menulis puisi cinta, aku
Malam semakin dalam. Suasana di kediaman perlahan mereda, para pelayan sudah mundur, dan hanya suara jangkrik yang terdengar dari taman. Di dalam kamar, lampu minyak masih menyala redup. Ming Zhu terbaring tenang. Namun alisnya sedikit berkerut. Napasnya tidak sehalus sebelumnya. Di luar Liang W
Ruangan itu perlahan kembali sunyi setelah Su Mu pergi. Pintu tertutup rapat, meninggalkan hanya dua orang di dalam. Liang Wei dan gadis yang sejak tadi tak pernah benar-benar jauh darinya. Peta masih terbentang di meja. Namun perhatian mereka tidak lagi di sana. Liang Wei berdiri diam beberapa s
“Aku akan memotong lidahnya jika kabar ini tersebar,” ucap Liang Wei. Sementara di luar, Su Mu berdiri beberapa langkah dari pintu, masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia lihat. “Pantas Tuan sangat lembut pada Nona Ming,” gumam Su Mu kemudian pergi. “Tuan, sudah waktunya beristirahat,”
Malam itu, paviliun dalam terasa lebih sunyi dari biasanya. Ming Zhu berdiri di depan pintu, tangannya sedikit gemetar saat mendorongnya perlahan. Ini pertama kalinya ia masuk ke bagian kediaman yang paling pribadi milik Liang Wei—tempat yang bahkan para pelayan lama pun jarang diizinkan mendekat.







