ログイン"Sikapmu benar-benar angkuh. Apakah kamu berpikir hanya dirimu saja yang terbaik di dunia ini? Dan bagaimana bisa kamu menilai seseorang begitu subjektif? Tidakkah kamu juga memberikan nilai kepada dirimu sendiri? Apakah kamu begitu gagah sampai berani mengatakan orang lain loyo?"
Nara bersikap tegas dengan membela suaminya. Dan hal itu sontak saja langsung menyentuh hati Ashlan. Karena biar bagaimanapun juga, selama ini tidak ada yang pernah membela dirinya seperti itu. "Lebih baik kalian berdua segera pergi dari sini. Jika yang kalian berdua inginkan adalah keributan, maka kami tidak akan meladeni hal itu. Tetapi jika nanti di lain waktu kalian datang karena murni ingin bersilaturahmi, maka pintu masuk kami akan terbuka lebar," jelas Vea. Ashlan tidak diberikan waktu untuk berbicara, karena segala hal yang ingin ia katakan sudah dikatakan oleh Nara dan juga Vea. ——— Di dalam rumah, Ashlan langsung mengucapkan terima kasih kepada para istrinya karena telah membelanya di hadapan mantan majikannya. "Aku benar-benar tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa kepada kalian. Karena jika bukan karena kalian, aku mungkin hanya bisa diam saja saat Tuan Arka melakukan hal yang sebelumnya dia lakukan," ucap Ashlan. "Kamu tidak perlu berterima kasih, karena biar bagaimanapun juga, sekarang kamu adalah suami kami. Dan harga dirimu adalah harga diri kami!" tegas Lira. "Mulai sekarang jangan biarkan orang-orang merendahkan dirimu lagi. Kamu harus ingat, saat ini kamu bukan lagi budak. Kamu seorang manusia biasa. Kamu sama seperti orang lain, dan kamu juga punya hak untuk melakukan apa yang orang lain lakukan. Jadi, berhentilah terjebak dalam peran sebagai budak!" tambah Lira. Sangat sulit bagi Ashlan untuk memberitahukan betapa bahagianya dirinya karena pada saat ini, ia sudah tidak sendirian lagi. Dan bukan hanya satu, tetapi ia mendapatkan lima teman sekaligus! Lima istri yang benar-benar menjaga harga dirinya— tidak membiarkan orang lain merendahkan dan menjatuhkan harga dirinya. Dan hal itu adalah hadiah terindah yang pernah langit berikan kepadanya. ——— Di malam harinya Ashlan berinisiatif untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya dan juga kelima istrinya. Tetapi pada saat ia sudah selesai membuat makanan, Ashlan tidak bisa menemukan di mana keberadaan lima istri cantiknya. "Pergi kemana mereka semua? Perasaan beberapa saat yang lalu mereka masih ada di sini..." Ashlan memulai pencariannya; di awal ia memeriksa bagian depan rumah, tetapi hasilnya nihil. Disana tidak ada siapa-siapa, hanya ada angin dingin malam. "Mereka tidak ada di sini juga..." Ashlan menggaruk kepalanya, berusaha untuk mengingat dimana mungkin mereka berada pada saat ini. Dan tepat pada saat itu, satu tempat terpikir oleh Ashlan. "Ah! Aku rasa mereka berada di sana!" Tempat yang dipikirkan oleh Ashlan pada saat itu adalah ruangan yang berada di bawah tanah— tempat dimana sumur suci mereka berada. Tempat yang digunakan untuk pernikahan mereka beberapa hari yang lalu. Dan pada awalnya Ashlan hanya asal menebak saja. Tetapi siapa yang akan menyangka bahwa ia ternyata benar! Lira, Nara, Vea, Sia dan Elen, mereka berlima benar-benar ada di tempat itu. Dan pada saat itu Ashlan cukup kaget ketika melihat kelima wanita tersebut duduk mengelilingi sumur suci tersebut tanpa menggunakan sehelai benang pun di tubuh mereka! Walaupun ini bukan pertama kalinya bagi Ashlan melihat kelima istrinya tanpa pakaian apapun di tubuh mereka, tetap saja bagi Ashlan hal itu cukup mengagetkan untuk dilihat secara tiba-tiba. Akibatnya Ashlan hampir saja terpeleset pada saat itu dan berakhir dengan jatuh ke dalam kolom air tersebut. Tetapi dengan menggunakan kekuatannya Nara berhasil menyelamatkan Ashlan. Untuk pertama kalinya Ashlan melihat kekuatan yang dimiliki oleh Nara. Dengan hanya menggunakan tangannya saja, Nara berhasil membuat tubuh Ashlan terbang dan kemudian kembali kepada pijakan yang lebih aman. "Wah!" Satu-satunya kata yang bisa diucapkan oleh Ashlan pada saat itu hanyalah, 'wah'. Ia benar-benar dibuat kagum dengan kemampuan wanita itu. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Nara. Sebelum menjawab pertanyaan dari wanita itu, Ashlan terlebih dahulu memalingkan wajahnya— membiarkan para wanita itu untuk memakai kembali pakaian mereka. "Tentang itu... aku datang karena aku ingin mengajak kalian untuk makan malam bersama. Kebetulan tadi aku sudah memasak. Siapa tahu kalian ingin makan bersama denganku," ujar Ashlan. "Makan? Memang kamu masak apa?" tanya Lira. "Aku hanya memasak barang-barang yang kita beli dari pasar. Aku buat sup telur ayam, lalu aku juga memanggang ikan. Jika kalian ingin makan, aku akan tunggu di meja makan." Setelah selesai mengatakan apa yang harus dikatakan, Ashlan langsung berlari kembali ke dalam rumah. Dan disana ia berusaha keras untuk mengendalikan hatinya sendiri— yang terus berdebar tanpa henti. "Ashlan, kendalikan dirimu sendiri! Jangan sampai terbawa suasana hanya karena kamu melihat hal-hal seperti itu!" Untuk memberikan peringatan kepada dirinya sendiri, Ashlan dengan keras melayangkan tamparan kepada wajahnya. Dan kebetulan saat ia melakukan hal itu, Elen tiba-tiba saja sudah ada di ruang makan. Elen menatap Ashlan untuk beberapa saat. Lalu kemudian dia bertanya. "Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri?" Karena tidak sengaja dipargoki oleh Elen, Ashlan merasa sangat malu. Dan pada saat itu tidak mungkin ia mengatakan secara langsung kepada Elen alasan sebenarnya kenapa ia menampar wajahnya sendiri. Karena itulah ia berbohong. "Bukan apa-apa. Tadi itu aku hanya sedang memukul nyamuk," jawab Ashlan— rasanya benar-benar sangat canggung. Dan untung saja pada saat itu Elen langsung percaya dengan apa yang dikatakan Ashlan. Dia juga tidak banyak bertanya dan langsung duduk di kursi— menunggu keempat saudarinya datang. Daripada suasana semakin canggung, Ashlan dengan penuh kehati-hatian memberikan piring berisi nasi kepada Elen. Dan bukan hanya untuk Elen saja, tetapi ia juga menata empat piring lain untuk: Lira, Nara, Vea dan Sia. Tepat setelah Ashlan merapikan piring-piring yang sudah berisi nasi di atas meja, keempat wanita itu pun datang dan langsung bergabung dengan Ashlan dan Elen. "Aku tidak tahu apakah makanan ini sesuai dengan selera kalian atau tidak. Tetapi setidaknya aku sudah berusaha. Dan jika kalian punya sesuatu yang ingin dimakan, katakan saja langsung kepadaku. Aku akan mencoba membuatkannya untuk kalian nanti," ucap Ashlan. "Semua makanan yang kamu buat benar-benar enak, Ashlan. Kamu benar-benar berbakat." Lira memuji Ashlan. Dia tampaknya sangat menikmati masakan yang dibuat oleh Ashlan. Dan bukan hanya Lira saja, tetapi empat lainnya juga tampak menikmati makanan yang telah dibuat oleh Ashlan. "Oh ya, Ashlan. Ini tentang malam pertama kita yang sebelumnya tertunda," kata Nara. "Malam ini salah satu dari kami akan menghabiskan malam pertama denganmu. Dan aku hanya ingin memberitahu hal itu agar kamu tidak terlalu terkejut nanti." ——— -Bersambung-Ashlan tersentak ketika tiba-tiba saja Lira berteriak menolak apa yang belum dikatakan oleh Vea. "Jangan berani-berani melakukan hal itu!" Lira memberikan peringatan tegas untuk tidak melakukan apa yang ada di dalam pikiran Vea. Di sisi lain, Ashlan yang masih belum mengerti hanya bisa terdiam di tengah-tengah ketegangan antara Lira dan juga Vea. "Tetapi hanya itu cara satu-satunya agar bisa menyelamatkan kamu Lira! Dan sebagai seseorang yang nyawanya telah kita selamatkan, bukankah memang sudah menjadi kewajiban baginya untuk menyelamatkan kita juga di saat kita kesusahan? Lalu kenapa kamu ingin menolak hal itu?" Vea tampaknya tidak ingin mundur dari rencana yang ada di dalam kepalanya. Di tengah ketegangan itu, pada awalnya Ashlan belum menyadari tentang rencana apa yang ada di dalam pikiran Vea. Tetapi setelah melihat bagaimana reaksi yang ditunjukkan oleh Lira, tampaknya pada saat itu Ashlan mengetahui rencana apa yang sedang dipikirkan ol
Ashlan tidak bisa menjaga ekskresi wajahnya sendiri ketika pertama kali melihat bagaimana kondisi dari wajah Lira pada saat itu. Wajah cantik yang dulu dia miliki kini telah berubah menjadi wajah kering, mirip seperti tanah yang mengering yang pada saat ini sedang dilanda oleh para petani. "Apa yang sebenarnya telah terjadi kepada kamu Lira?" tanya Ashlan."Ini terjadi karena energinya semakin berkurang hari demi hari. Dan semua ini terjadi karena proses penyatuan yang sebelumnya kita lakukan telah ternoda akibat kejadian di istana waktu itu," jawab Nara. Mendengar jawaban yang baru saja diberikan oleh Nara, Ashlan langsung mengerti jika apa yang pada saat ini tengah terjadi kepada Lira adalah karena kesalahan yang ia lakukan di istana waktu itu. "Maafkan aku... "Ashlan benar-benar merasa sangat bersalah atas apa yang telah terjadi kepada Lira karena dirinya. Dan mungkin bukan hanya Lira saja nanti yang akan menerima dampak
Pada malam berikutnya, Ashlan tidak bisa tidur. Di dalam pikirannya ia masih terbayang-bayang dengan apa yang sebelumnya dikatakan oleh Nara.Ia terus bertanya-tanya; bagaimana jika mungkin memang benar-benar ada seorang budak yang mungkin masih mengingat tentang hari dimana Ashlan datang ke kediaman Tuan Bara. Hal tersebut benar-benar mengganggu pikiran tenang Ashlan. Bahkan ketika malam telah berganti dengan siang, ia tidak bisa bekerja dengan fokus di ladang. Pikirannya terbang kemana-mana. Bahkan ketika Pak Joko berusaha untuk membuatnya kembali fokus dengan pekerjaan di ladang, ia tidak bisa melakukannya. "Tuan. Tuan sedang tidak enak badan kah? Sepertinya sejak tadi Tuan tidak bisa fokus. Jika sedang tidak enak badan, tuan bisa serahkan pekerjaan di sini kepada saya. Saya akan mengawasi semuanya dengan baik di sini. Tidak perlu khawatir," kata Pak Joko. "Ndak, Pak. Saya baik-baik saja. Saya cuman sedang berpikir sebentar. Ayo kita lanjutkan lagi bekerjanya. Kita akan harus ke
Baru saja Ashlan sampai di depan rumah, Nara yang sejak tadi sudah menunggu ia datang langsung menyambut kedatangannya dengan begitu hangat. "Ashlan, kamu sudah pulang? Bagaimana perjalananmu? Kamu lelah? Apa kamu ingin aku buatkan minuman?" tanya Nara. "Boleh. Tolong ya, Nara," jawab Ashlan."Baik. Tunggu sebentar ya."Nara langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan Ashlan minuman. Dan setelah selesai membuat minuman untuk Ashlan, Nara langsung mengajukan minuman tersebut kepada Ashlan.Mereka duduk bersama di teras rumah. "Terima kasih ya, Nara."Ashlan mengambil minuman yang sebelumnya dibuatkan oleh Nara dan kemudian meminum minuman tersebut untuk menghilangkan rasa haus. "Bagaimana perjalanan kamu tadi? Berjalan lancar bukan?" tanya Nara. Ashlan hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. "Lalu, bagaimana dengan Tuan Bara? Kamu sudah mendapatkan jawaban yang kamu inginkan dari dia?"
Bertanya langsung kepada Tuan Bara tidak memberikan Ashlan jawaban yang diinginkan. Alhasil upayanya datang jauh-jauh ke sana hanya sia-sia saja. Bahkan kini ia harus menepati janji yang sebelumnya sudah ia buat dengan Nadia. ... Setelah tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Tuan Bara, Ashlan terpaksa harus menepati janji yang ia buat kepada Nadia dengan memberikan sedikit waktu yang ia miliki untuk makan bersama dengan gadis bangsawan itu. "Boleh aku bertanya sesuatu kepada kamu?" tanya Nadia tiba-tiba."Ingin bertanya tentang apa?" tanya Ashlan balik. "Selama lebih dari berpuluh-puluh tahun lamanya kamu tidak pernah mengungkit kembali tentang orang tua kandungmu. Lalu karena apa tiba-tiba sekarang kamu mengungkit tentang hal itu? Kenapa kamu sekarang ingin tahu tentang mereka?" tanya Nadia. Ashlan hanya terdiam untuk beberapa saat. "Awalnya aku memang tidak pernah peduli tentang hal itu. Tetapi setelah
"Kamu ingin aku berjanji apa? Tolong jangan minta hal yang macam-macam dariku. Aku tidak bisa melanggar batasan yang ada, Nona Nadia," ucap Ashlan.Nadia tersenyum dengan senyuman yang paling manis yang dia miliki. "Tidak. Kamu tenang saja. Aku tidak akan meminta hal yang aneh-aneh dari kamu, karena yang aku inginkan dari kamu hanya satu dan itu pun hal yang sangat sederhana," jawab Nadia. Walaupun tidak mengetahui niat sebenarnya yang dimiliki oleh Nadia, tetapi pada saat itu Ashlan tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang dia inginkan. Karena jika tidak, maka usahanya datang jauh-jauh kemari tidak akan membuahkan hasil apa-apa. "Baik. Katakan, bayaran apa yang kamu minta dariku agar aku bisa bertemu dengan ayahmu? Sebagai catatan, aku tidak akan menerima jika kamu meminta hal yang aneh-aneh!" tekan Ashlan."Tenang saja. Aku tidak akan meminta hal yang aneh-aneh dari kamu. Karena yang aku inginkan hanyalah waktu sebentar dari







