Teilen

Empat

last update Veröffentlichungsdatum: 14.03.2022 17:02:43

Zaman memang sudah edan!

Utami terkadang bingung, kenapa orang rela mengeluarkan sangat banyak uang untuk membayar orang asing ketimbang memilih mendapatkan pacar di dunia nyata? Padahal kalau dihitung, keuntungan berpacaran betulan lebih banyak ketimbang menyewa jasa. Terlebih secara emosional.

“Justru itulah masalahnya, Tam!” kata Kak Kiki ketika mereka tidak sengaja bertemu di parkiran apartemen. “Beberapa orang menganggap berpacaran hanya untuk bermain-main. Bersenang-senang. Dan, itulah kenapa mereka tidak berniat membawa hubungannya ke jenjang yang lebih serius apalagi sampai masuk ke kehidupan personalnya.”

“Atau malah sebaliknya,” sahut Kak Diandra yang menyusul dari belakang. Dia baru kembali karena bertugas mencari tempat parkir kendaraan. Maklum, dia dan Kak Kiki memang tinggal serumah. “Mereka merasa kehidupan percintaannya terlalu personal dan tidak berniat memamerkannya ke koneksi bisnis. Makanya, mereka lebih senang menyewa kita untuk dipamerkan ke kolega.”

Alasan masuk akal.

Keduanya masuk akal.

“Bagaimana pekerjaan kalian hari ini? Ada cerita seru apa?” tanya Kak Kiki sambil merangkul lengan Utami dan Kak Diandra dengan tangannya. “Pekerjaanku sendiri cukup lancar karena hanya melayani klien baru. Anak muda. Butuh Ibu untuk diperkenalkan ke mantan istri ayahnya, alias ibu tirinya.”

“Enak banget!” komentar Kak Diandra, agak tak senang. Tampak jelas rasa iri di matanya yang besar. “Aku harus menemani klienku yang sekarat. Dia sendirian di rumah sakit. Kankernya makin ganas.”

“Ini yang katamu dulu menyewamu karena bingung mau minta tolong ke siapa itu, kan?”

“Yup. Tepat sekali.” Kak Dianda menghela napas panjang. “Aku benar-benar tidak menyangka, dari berawal di sewa karena ibu klienku sudah sekarat dan ingin melihat anaknya punya pacar ..., eh malah berlanjut karena klienku yang akhirnya ikut menjadi sekarat juga.”

Kak Diandra memang sangat berdedikasi. Dia tetap mau mengambil job untuk kliennya yang malang itu. Sekalipun pembayarannya pun sering macet-macetan. Bahkan tak jarang, dia membantu pria malang itu membayar biaya rumah sakit. Alih-alih dibayar, Kak Diandra malah menyumbangkan uangnya cuma-cuma. “Tidak apa-apa, hitung-hitung membantu orang, kan?”

“Kalau kamu sendiri, Tam?”

Aku? Sejauh ini semua aman. Pekerjaanku cukup lancar. Semua selalu berputar kalau bukan pesta, rapat ya acara-acara formal lainnya. “Terlalu monoton, sejujurnya. Kadang aku juga ingin mendapat job seperti kalian.”

“Mending jangan!” tegas Kak Kiki, diirini kekehan kecil. “Meski terlihat mudah tapi percayalah, job seperti kami sama dengan bunuh diri. Lebih enak ada di devisimu. Lebih terjamin.”

Utami tidak bisa menyangkal pernyataan ini. Hanya saja, sebagaimana segala hal berjalan di dunia, setiap hal memiliki sisi baik dan buruknya masing-masing, risiko yang mesti ditanggung masing-masing, lebih tepatnya. Termasuk kemudahan yang Utami rasakan. Sebab di tengah keuntungan-keuntungan yang dia dapatkan, Utami juga mesti menghadapi klien-klien tak kalah gilanya.

Pernah sewaktu ketika, dia bekerja untuk seorang anggota dewan yang saking terobsesi pada dirinya sampai harus Utami blokir dari aplikasi. Sampai-sampai di politikus mendatangi kantor dan meminta Utami menerima cintanya.

“Kenapa waktu itu tidak kamu terima saja? Kan lumayan,” canda Kak Kiki.

Utami tersenyum kecut sambil berkata, “Iya, kalau nggak dijadikan istri ke sekian mungkin bisa dipertimbangkan. Masalahnya, dia aku menjadi istri ketiganya. Bayangkan, istri ke tiga!” Dia menekan kalimatnya. “Ada dua perempuan yang sudah menjadi istrinya, dan aku harus menghadapi mereka semua hanya untuk memperebutkan laki-laki sejelek dan setua itu?!” Dia bergidik ngeri.

*_*

Arjuna Trenggana.

Tiga puluh dua tahun.

Pengusaha.

Butuh perempuan untuk menemaninya ke acara keluarga. Yang cerdas, terdidik, suka olahraga dan bisa masak makanan Indonesia.

Untuk fisik terserah, tapi kalau bisa yang tidak terlalu mungil sebab tinggi klien 180 cm.

Utami yang baru selesai mandi membuka profil klien yang masuk ke aplikasi. Dia menimbang sebentar, lalu mengecek foto di profil klien untuk memastikan.

Cukup tampan, batin Utami.

Lalu, dia berpindah ke atas kasur. Mendudukkan bokongnya sebelum meraih alat pengering rambut. Tapi sebelum itu, dia lebih dahulu membuka kontak dan menelepon seseorang.

“Bagaimana, Tam? Kamu mau menerimanya?” tanya Mbak Nafis, manajernya begitu panggilan tersambung. “Kupikir, profilnya sangat cocok denganmu.”

Utami menjawab, “Apakah dia gay?”

“Entahlah tapi dia tidak menyertakan data itu di formulir, memang kenapa?”

“Aku tidak mau dilabrak lagi seperti dulu!” tegas Utami. Sungguh, dia masih ingat kejadian tempo dulu yang pernah dia alami. Di mana dirinya harus ditampar di depan umum oleh seorang pria karena disangka sebagai selingkuhan pacarnya. Meski akhirnya berakhir damai setelah di pacar menjelaskan yang sebenarnya, tapi trauma Utami belum sepenuhnya hilang. “Pastikan bila dia gay untuk memberitahu pacarnya lebih dulu.”

“Baiklah. Aku akan menghubunginya nanti. Oh iya, bagaimana dengan pekerjaan barumu? Kudengar Pak Broto memberimu promosi di kantor.”

“Ya, begitulah. Kupikir, aku akan menjadi lebih sibuk sekarang.”

“Apakah ini berarti kau tak akan bekerja untuk Mawar Merah lagi?”

“Tentu saja masih!” seru Utami, mantap. “Aku tidak akan pernah lupa pada jasa-jasa Mawar Merah kepadaku. Tenang saja. Selama aku masih bisa, aku tidak akan mundur.”

“Kau yakin?”

“Kenapa harus tidak?”

“Bagaimana bila Ben –“

“Jangan bahas nama itu lagi!” sergah Utami, tegas. “Kuanggap dia sudah lama mati. Jadi, jangan sebut namanya lagi. Sampai kapan pun. Paham?”

Nandreans

Terima kasih sudah membaca sejauh ini.

| Gefällt mir
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Bukan Cinta Buta   Bagaimana?

    Tami dan Juna saling menatap satu sama lain. Mereka tentu tidak pernah menyangka jika Ruben akan senekad itu. Mengirimkan foto dirinya dan Asya kepada Nyonya Anggara? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu? Apakah dia memang berniat membunuh sandiwara Tami dan Juna?"Mama kayaknya nggak bakal semudah itu percaya deh, Mas." Tami menyeka keringat dingin yang membasahi tubuhnya. "Bagaimanapun juga, setelah ini Mama pasti akan mencari tahu semuanya dengan jelas. Maksudku, siapa sih orang yang bakal dengan tegas mempercayai berita kayak begini?"Juna yang menyetir mobil akhirnya menghela napas panjang. "Kamu benar, Tam.""Terus, kita harus gimana, Mas?""Bagaimana kalau kita datangi saja dia?" "Kalau menurutku jangan." Tami menjawab dengan tegas. "Ruben yang sekarang bukan Ruben yang dulu aku kenal. Dia sudah sepenuhnya disetir oleh Gina.""Maksudmu?""Mas Jun," Tami menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu mungkin akan menganggap ini omong kosong tapi dia adalah pria yang bodoh. Ruben

  • Bukan Cinta Buta   Viviane Tahu?

    "Bagaimana? Bajunya bagus, kan?" Tami menatap Viviane yang kini dibalut gaun putih pernikahan dengan kagum. Kulit putih dan badan yang tinggi jenjang itu seolah memang sengaja dirancang untuk seorang malaikat. Malaikat yang tentu saja wajar bila membuat Juna jatuh cinta. "Bagus banget, Ma." "Pilihan Mama memang nggak salah." Nyonya Anggara dengan bangga berdiri di samping Viviane. "Mama sengaja minta perancang busana ini untuk membuat gaun pernikahan kalian. Anjasmara pasti langsung kasmaran lihat kecantikan kamu, Vi." "Mama bisa saja." Viviane tertawa. Dia merangkul mertuanya. "Makasih ya Mama sudah mau menerimani aku cari gaun." "Iya, Nak." "Oh iya, Tam," Vivi menatap Tami dengan ekspresi dingin. "Kamu tolong ambilkan kain untuk seragam di depan ya. Yang warna biru." Tami mengangguk. Dia menuruti calon adik iparnya itu dengan sebaik mungkin. Sebenarnya, Tami tahu jika Vivi tak menyukainya. Barangkali Vivi sudah mengetahuinya. Soal kebohongannya. Namun, sejauh apa Vivi tahu, T

  • Bukan Cinta Buta   Kenapa?

    "Kamu kenapa sih pakai bilang begitu segala ke mereka?" Tami menerima segelas es krim dari tangan Paulino. Udara panas membakar keduanya, dari lantai dua sebuah toko es krim, kini duanya duduk berdua menyaksikan kota yang sibuk. Juna tersenyum lalu mendudukkan badannya di kursi tepat di seberang Tami. "Biar semakin meyakinkan, Tam. Kamu kan tahu sendiri kalau sekarang posisi kita makin terdesak. Mama kayaknya juga mulai curiga sama kita."Tami mengangguk. "Tapi nggak harus juga kan kamu memamerkan aku ke depan orang-orang dan ngaku aku istrimu?""Tapi, kan memang kamu istriku.""Istri sewaan!" ralat Tami. Juna diam sejenak tapi kemudian melanjutkan. "Kalau sendiri, bagaimana? Sudah mulai memikirkan mau buka laundry di mana?""Kan aku sudah bilang nggak usah.""Tami, kan aku sudah bilang kalau aku mau bantuin kamu ...." Juna kembali menekankan ucapannya. "Anggap saja ini bagian dari kewajibanku sebagai kompensasi untukmu.""Harus berapa kali aku bilang nggak usah?""Harus berapa kali

  • Bukan Cinta Buta   Ini Istri Saya

    "Kami langsung berangkat ya, Ma!" Juna mencium pipi Nyonya Anggara, kemudian menggandeng tangan Tami. Keduanya keluar dari rumah, menaiki mobil dan hanya ditatap dengan senyuman tipis di wajah wanita tua itu.Nyonya Anggara sejujurnya tidak ingin berprasangka buruk pada anak dan menantunya, hanya saja dia masih heran dengan sang menantu sebab Tami terlalu banyak menyimpan rahasia, seolah ingin menyembunyikan segalanya darinya. Padahal jelas Nyonya Anggara penasaran. Kenapa? Ya, kenapa dia seolah tidak pernah mengenali keluarga menantunya sendiri. Bahkan paman dan bibi Tami, tidak dia kenali sama sekali.Lalu, dikeluarkannya ponsel dari dalam saku. Dia hendak menghubungi Viviane tapi mobil perempuan itu telanjur datang lebih dahulu."Ma? Tami mana?" tanya Viviane. Nyonya Anggara menjawab, "Ikut Juna ke acara peluncuran buku.""Di toko buku Gramedia?""Ya.""Ya ampun!" Viviane menghela napas panjang. "Terus gimana? Mama sudah bicara sama Tami?"Nyonya Anggara mengangguk. "Tapi, katanya

  • Bukan Cinta Buta   Hiburan

    "Makan dulu," kata Juna sambil meletakkan piring berisi nasi goreng buatan ibunya ke samping ranjang Tami. "Udah nggak usah terlalu dipikirin. Nanti rumah sakit."Tami mengalihkan wajahnya dari Juna. "Enak banget kalau ngomong. Belum tahu ya rasanya disakitin, dikhianatin sampai segitunya sama pacaran dan sahabat sendiri.""Aku paham perasaan kamu. Meskipun kasus kita beda tapi rasanya tetap sama, gak beda jauh lah.""Ya bedalah, Mas. Kamu emang niat bikin mereka cemburu, kamu niat menjauhkan vivian dari kamu. Sementara aku? Semua yang kulakukan buat Ruben seolah-olah nggak ada harganya. Dia malah selingkuh di rumah kami. Kenapa sih harus sahabat aku sendiri? Cewek lain saja."Dunia tersenyum selalu menarik napas panjang. "Emangnya kalau ceweknya bukan Gina, buat kamu nggak masalah?""Ya tetap masalah sih, Mas. Tapi kan gak akan sesakit inilah saatnya.""Alasan." juna mencibir. "Terus rencana kamu sekarang apa?"Tami mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku bahkan gak punya bayangan a

  • Bukan Cinta Buta   Putus

    Keesokan harinya kami berangkat ke rumah lamanya, tidak lupa dia membeli beberapa barang dari minimarket bagi oleh-oleh untuk sang kekasih. Semua ini dia lakukan juga sebagai permintaan maaf karena telah menyakiti perasaan Ruben, serta ingin dia kembangkan bisnis laundry yang selama ini dikembangkannya bersama pria itu. Sementara Juna, dia berada di rumah bersama Nyonya Anggara. Untungnya Juna bisa meyakinkan sang ibu jika Tami harus pergi keluar sebentar saja untuk bertemu dengan teman-temannya. "Aku nggak mau larang Tami, kalau dia memang mau ketemu teman-temannya Kenapa harus dilarang?""Kamu benar, Juna. Mama setuju dengan keputusan kamu. Karena meskipun kamu dan Tami sudah menikah, tetap saja Tami berhak memiliki kehidupannya sendiri di luar kamu.""Jadi Mas Juna nggak keberatan?" Begitulah akting Tami dan Juna untuk mengelabuhi wanita paruh baya itu. Dan tentu saja dengan senang hati nyonya Anggara menerima tawaran sang menantu untuk menjaga putranya. Sebagai orang tua tentu

  • Bukan Cinta Buta   Rencana Viviane

    “Dia mulai curiga sama kita.” Arjuna berdiri di teras sambil menikmati secangkir teh hangat, sementara Tami yang ada di sampingnya hanya bisa menghela napas panjang. Keduanya memperhatikan deburan ombak di kejauhan yang menimbulkan keindahan malam, di antara bebatuan karang, pohon kelapa berdiri kok

  • Bukan Cinta Buta   Viviane

    Arjuna bisa melihat ibunya yang sedang berdiri di depan pintu, tepat ketika dia menghentikan mobil di pekarangan. Nyonya Anggara jelas sangat mencemaskan putra pertamanya itu. Yah, bagaimanapun juga apa yang menimpa Juna sebelumnya seolah telah merobek perasaan wanita paruh baya itu. Dia sangat menc

  • Bukan Cinta Buta   Hubungan

    “Maksud Bapak apa?” Tatapan mata Gina seolah menandakan bahwa ada rahasia yang coba dia sembunyikan. Jelas sekali. Namun, Juna hanya tersenyum kecil sambil melanjutkan, “Kamu harus berhati-hati, Gina. Tidak banyak orang yang mau belajar pada kesalahan orang lain. Dan sepertinya, kamu telah merencan

  • Bukan Cinta Buta   Selingkuh?

    “Jangan asal bicara kamu, Tami!” Arjuna mengalihkan pandangannya ke arah lain, sementara jemari tangan kirinya meremas stir mobilnya kuat-kuat. “Aku justru akan sangat bahagia kalau bisa menyaksikan pernikahan Anjas dengan Viviane. Mereka pantas bahagia. Mereka sudah seharusnya mendapatkan kebahagia

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status