LOGINElang melajukan mobilnya menembus hujan. Mbok Narmi, perempuan tua yang ia bayar untuk menemani kekasihnya menghubungi. Demam Silva meninggi, kekasihnya itu juga terus-terusan muntah. Lokasi rumah dimana ia mengontrakkan Silva berada tepat di belakang lokasi project. Di sebuah pemukiman padat penduduk. Harusnya Elang tak perlu datang karena kekerabatan di perkampungan tidaklah sama seperti di kota yang individualis. Tetangga kanan - kirinya akan sigap menolong kalau Silva butuh sesuatu tapi sifat Silva memang tertutup dan Elang tak menyalahkannya.Mau ikut ke kota kecil ini saja sudah membuatnya merasa begitu beruntung. Perempuan lain belum tentu mampu beradaptasi. Ivanka contohnya, si cerewet manja yang bisanya cuma jadi beban. Godammit, sekedar mengingat istrinya saja ia sudah kesal.Everest Elang berbelok memasuki pekarangan rumah Silva. Ciri khas lain dari kota kecil ini adalah pekarangan yang memadai meskipun pemukiman cukup padat. Derasnya hujan membuat pakaiannya tetap basah
"Jadi begitu ceritanya. Elang sudah lama berpacaran dengan perempuan itu, si Nona Silva." Sepanjang jalan, Ivanka memikirkan itu. Ia mengembalikan motor ke rumah mang Sarif lalu berjalan gontai ke arah teras. "Namanya cantik." gumamnya sembari menatap sandal berinisial ‘S’ yang ada disitu.Kira-kira... dua orang dewasa, jauh dari orang tua, jauh dari tetangga, berdua saja di dalam rumah besar yang menyeramkan begini ngapain ya? Hati Iva serasa dikerubuti semut merah membayangkannnya.Ia masuk. Setelah berganti pakaian, hal pertama yang ia lakukan adalah menelepon Mamanya. "Gimana keadaan Papa?" tanyanya datar begitu sang Mama mengangkat telepon."Papamu sudah stabil Va, besok jam 10 pagi akan masuk ke ruang operasi." Mamanya terdiam sesaat. "Harusnya sih hari ini tapi dokternya ada keperluan lain sehingga ditunda sampai besok.""Biayanya? A... aku punya tabungan kalau misalnya..." Iva terdiam karena sang mama memotong kata-katanya."Apa kamu lupa? Sudah ditanggung semuanya oleh pak Ra
"Terima kasih bu." Iva mengangguk, mengumpulkan kepercayaan dirinya, membuka pintu ruangan bertuliskan Kepala Sekolah.Ruangan itu sederhana, tak terlalu besar dan sedikit lebih rapi daripada ruang guru yang dipenuhi tumpukan kertas dimana-mana, dari meja sampai ke lantai."Selama pagi menjelang siang bu Ivanka. Maaf ya, disini berapapun usianya, meskipun masih muda, yang wanita akan dipanggil ibu sedangkan yang pria akan dipanggil bapak." Lelaki yang sepertinya berusia awal empat puluhan itu menyambut ramah. Senyumnya menyungging lebar. "Silakan duduk."Ivanka tentu saja mengerti itu walaupun ditempatnya mengajar dulu ia dipanggil 'Miss' oleh anak didiknya. "Terima kasih pak." ucapnya khidmat sembari duduk tepat dihadapan Kepala Sekolah"Saya sudah baca resume-nya." Kedua tangan kepala sekolah itu bertumpu dimeja. Matanya menyorot hangat ke arah Ivanka. “Kepindahan kemari karena memang ingin mengajar di pedalaman. Ini unik sekali bu."Ivanka hanya mampu tersipu."Dan belum lama vakum
Elang menatap tak sabar."Tamunya mengaku sebagai istri bapak." katanya dengan wajah yang makin serba salah.Tak ada perubahan ekspresi di wajah Elang meskipun hatinya mendadak terbakar amarah. Berani sekali Ivanka muncul di kantornya. Tapi setidaknya Silva sudah meninggalkan kantor. Ia tak mau Ivanka dan Silva bertemu. Perasaan Silva amat halus. Kekasihnya itu langsung meminta putus saat mendengar kabar pertunangannya yang mendadak.Elang yang memaksanya agar mereka berdua tetap bersama jadi sebisa mungkin ia menjaga agar Silva tak tersakiti. "Gimana pak?" Amran masih menunggu sambil berusaha keras menahan penasarannya."Bawa ke ruangan saya." Elang berdiri. Ia tinggalkan berkasnya. Tanpa membawa apa-apa, tidak juga handphone-nya lelaki itu bergerak menuju ke ruang kerjanya."Baik pak." Amran berlalu untuk menemui perempuan muda yang menunggu dengan begitu tenang dan santun itu. "Silakan." katanya sembari berjalan duluan. "Saya tunjukkan tempatnya.""Terima kasih." Ivanka mengikuti
Suara everest Elang memasuki halaman.Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi lagi. "Iya kamu punya kekasih mas." Iva berujar lirih sambil berdiri di pintu utama menatap kepergian sang suami untuk yang kedua kali.Tergesa Iva menuju ke kamarnya sendiri begitu everest itu hilang dari pandangan. Ia meraih handphone yang sejak semalam ia biarkan tergeletak disana. Jemarinya menekan nomor kontak mamanya. Sebentar saja ia sudah tersambung. Iva menarik napas panjang, memastikan suaranya terdengar ceria."Apa kabar Mama dan semua orang rumah?""Mama dan adik-adikmu baik Va tapi Papa enggak. Tadi malam papamu kena serangan lagi."Iva menggigit bibir bawahnya mendengar itu. Mata kirinya langsung menjatuhkan setetes air mata."Untung saja mertuamu langsung membantu, Papa langsu
Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Pekiknya, serta merta bangkit dari sofa.Tekadnya untuk menyingkirkan cinta terpendamnya kepada Elang buyar saat mereka berdekatan begini. Penuh kerinduan Ivanka menghambur memeluk lelaki itu. "Darimana aja mas? Kok jam segini baru pulang? Aku nggak berani di kamar jadi aku nungguin disini sampai ketiduran." Berondongnya tanpa titik koma. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Elang."Lepaskan, aku mau buka sepatu." Ucap lelaki itu dingin."Enggak, aku kangen." Iva nekat menempelkan pipinya di dada Elang. Hidungnya kembang kempis mencoba mencari aroma manis khas perempuan yang tertinggal disana tapi tak ada apa-apa.Kedua tangan Elang mencengkeram pinggang gadis itu, siap mendorongnya mundur
Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis."Saya mau melamar menjadi guru.""Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada
Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis it
"Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma,
Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menaku







