ログインBack to real life setelah inih yah ...
Ezra menatap kemesraan kecil itu dalam diam.Cara Abra merangkul Serayu. Cara wanita itu bermanja pada suaminya. Bahkan langkah mereka yang berjalan berdampingan saja terasa terlalu menyakitkan untuk dipandang lama-lama.Perasaannya salah.Dan Ezra tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengakhirinya. Lucu sekali, pikirnya pahit.Sekalinya jatuh cinta… ia justru jatuh pada seseorang yang tidak mungkin ia miliki.“Dokter Ezra," panggil seseorang.Ezra tetap menatap punggung Serayu yang semakin menjauh di lorong tanpa berkedip. Sampai sebuah lambaian tangan di depan wajahnya menyadarkannya.“Hellooo… dr. Ezra.”Suara riang bercampur heran itu membuat Ezra tersentak kecil lalu menoleh pada Amalia yang berdiri di sampingnya sambil mengangkat alis.“Ah… iya, Dok?” kejut Ezra.“Melamunin apa?” tanya Amalia sambil melirik ke lorong yang kini sudah kosong.Ezra tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. Ia melihat lucunya raut heran di wajah Amalia.“Nggak ada.”Tatapan Amalia masih terlihat cur
“Dokter Ezra,” sapa Abra.Ezra cepat mengulurkan tangan, menjabat tangan Abra yang juga terulur menyambutnya. Sentuhannya sopan, tetapi entah kenapa terasa penuh tekanan.Abra bahkan bertindak seolah dialah tuan rumah di ruangan itu.“Silakan duduk.”Ezra menurut.“Bagaimana kabar Anda?” tanya Abra.Harusnya terdengar santai, tapi entah mengapa Ezra merasa terintimidasi oleh tatapannya.“Baik, Dok,” jawabnya hati-hati. “Bagaimana dengan dr. Abra?”“Luar biasa bahagia.”Tidak ada senyum saat Abra mengatakannya.Hanya tatapan dingin yang membuat dada Ezra semakin sesak.“Bu Riani, Mama saya, ingin membuat janji temu dengan dr. Ezra. Bisa?”Mendengar topik itu, ketegangan di dada Ezra perlahan melonggar.“Oh… tentu, Dok,” jawabnya cepat. “Dengan senang hati.”“Asisten Bu Riani akan menghubungi Anda.” Abra menyandarkan tubuhnya santai di kursi. “Nanti akan ada pertemuan dengan dr. Sebastian. Dokter yang sebelumnya menangani Bu Riani.” Ezra mengangguk fokus mendengarkan. “Anda bisa mempela
Serayu memukul pelan dada Abra mendengar ucapan suaminya. “Siapa juga yang tebar pesona,” protesnya. “Aahh… ternyata memang istri saya yang mempesona.” Abra mengeratkan pelukannya. Pria itu tak henti-hentinya mengecup puncak kepala kesayangannya. “Aduuhh… nggak tahan sama gombalannya,” kata Serayu, mendongak untuk mencubit gemas dagu suaminya. “Nanti show me hasil kontrol kemarin,” pinta Abra tiba-tiba seraya mengusap perut kesayangannya. Serayu langsung berusaha duduk perlahan. Ia meraih tas di atas nakas di samping ranjang lalu mengeluarkan ponselnya. “Ini,” katanya memperlihatkan potret hasil USG. “Mau kirim ke Mas, tapi lupa,” ringisnya. Abra menerimanya. Tatapan pria itu langsung melembut begitu melihat hasil USG bayi mereka. Senyum kecil tak lepas dari wajahnya. “Catatan dokternya nanti aja pas di rumah. Semuanya sehat. Baby-nya pasti tampan seperti papanya,” goda Serayu sambil bersandar lagi di dada Abra. Abra melebarkan senyumnya mendengar itu. Matanya mas
Cengkeraman itu tidak keras, tetapi tatapan Abra membuat Serayu ciut seketika. “Kamu milik saya, Rayu,” ucap Abra nadanya penuh penekanan. Tatapannya turun perlahan dari mata Serayu menuju bibir ranum wanita itu. Sorot matanya malam ini sangat posesif. Sebelum Serayu sempat membalas, Abra sudah lebih dulu menyambar bibir mungil itu. Kecupan itu dalam dan menuntut, membuat Serayu terkesiap. Jemari wanita itu refleks mencengkeram bagian depan jas Abra saat pria itu menyesap bibirnya. Serayu memejamkan mata, larut dalam pagutan mereka. Sampai seketika … Klik! Suara pintu yang terbuka membuat Serayu tersentak kecil. Abra sudah mendorong tubuhnya masuk ke dalam kamar hotel tanpa memutus ciuman mereka. Pintu kembali tertutup di belakang mereka. Kini tubuh Serayu bersandar pada dinding dekat pintu, sementara Abra masih berada begitu dekat di hadapannya. Napas keduanya sedikit tidak teratur. “Tidak ada yang boleh mengganggu milik saya,” gumam Abra di dekat bibir istrinya. “Saya akan
“Hanya itu saja?” ulang Abra. Serayu terdiam sesaat dengan raut wajah yang mudah sekali ditebak oleh Abra. Pria itu tahu betul kalau istrinya sedang menyembunyikan sesuatu. Tatapan Abra datar. “Talk to me later,” katanya. Serayu menelan ludahnya melihat perubahan raut wajah itu. “Kita bicara lagi nanti saat saya pulang,” lanjut Abra, kali ini lebih tegas. Serayu hanya mampu mengangguk menurut. Hening sesaat mengisi panggilan video mereka, lalu Abra kembali bersuara, “besok ada acara makan malam keluarga besar,” katanya. “Mama dan Papa nggak datang. Papa lagi di luar kota dan Mama nggak mau pergi.” Abra berhenti sejenak lalu menambahkan, “Mama juga nggak ngizinin kamu datang.” Serayu diam saja mendengarnya. “Nggak apa-apa, Mas–” “But, I’ll pick you up,” pangkas Abra. “Besok saya masih ada meeting sama klien sebelum pulang. Nanti saya hubungi lagi.” Serayu kembali mengangguk kecil. “Tidurlah, Sayang.” Nada suara Abra melunak sepenuhnya kali ini. Serayu tersenyum tipis sambil m
Serayu menatap Ezra yang tengah menempelkan telunjuknya ke bibir sendiri memberi isyarat agar ia diam. Napas Serayu tercekat. Suara langkah terdengar semakin dekat dari luar ruangan. Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan dua perawat masuk sambil membawa baki perlengkapan medis. Keduanya sibuk mengambil beberapa alat dari rak penyimpanan tanpa menyadari keberadaan Serayu dan Ezra yang berdiri di sudut ruangan. Di tengah ketegangan itu, Ezra justru memanfaatkan kesempatan untuk memandang wajah Serayu lebih lama. Tatapan pria itu terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Sementara Serayu justru merasa jantungnya nyaris meloncat keluar. Begitu kedua perawat itu selesai dan kembali keluar dari ruangan, pintu tertutup rapat. Serayu langsung cepat menjauh dari Ezra. “Setelah ini yang akan kita bicarakan hanya untuk urusan pekerjaan,” katanya tegas meski suaranya sedikit bergetar. “Tidak akan ada percakapan seperti tadi lagi. Permisi.” Tanpa menunggu jawaban, Serayu segera keluar
Tidur nyenyak Serayu perlahan buyar ketika ia membuka mata. Pandangannya berkeliling hingga terhenti pada sosok Abra yang telungkup di ujung ranjang. Lelaki itu tak mengenakan baju, sementara bagian bawah tubuhnya tertutup selimut.Mata Serayu membulat, pekik tertahan lolos dari bibirnya. Panik, sek
Kini semua mata tertuju pada Serayu. Gadis itu tampak bingung, menatap balik pasang mata yang menyorotinya tanpa berkedip.“Ada yang bisa saya bantu, Dok?” tanya Serayu hati-hati pada Abra.Seketika, perhatian mereka kembali beralih pada Abra yang sempat terdiam sejenak.“Saya mau lihat rangkuman ka
Serayu melirik ke arah dirinya, lalu merapikan kimono satin yang ia kenakan memperbaiki penampilannya. “Kenapa, Mas? Saya nggak sempat bersiap,” katanya polos. “Sayang!” protes Abra. Wajahnya tampak tak terima, rahangnya mengeras. “Serius amat. Bercanda,” kekeh Serayu. Seketika ketegangan di waja
Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempua







