Share

96. Ide Absurd

Author: Dinis Selmara
last update publish date: 2025-11-17 23:00:43
Flashback

Abra berjalan mendahului tanpa menoleh, langkahnya panjang dan penuh ketegasan. Serayu hanya bisa mengikutinya dari belakang seperti anak koas tersesat yang tak tahu akan dibawa ke mana. Setiap kali tumit Abra mengetuk lantai koridor, jantungnya ikut bergetar. Ia bahkan sempat berpikir, lebih baik tadi jatuh pingsan saja setelah kecelakaan daripada menghadapi ini.

Abra membuka pintu ruangan pribadinya—ruangan dokter senior yang luas, rapi, dan terlalu dingin untuk ukuran pendingin ru
Dinis Selmara

Back to real life setelah inih yah ...

| 91
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (19)
goodnovel comment avatar
Gen Zee
jangan kepanjangan dong flashback nya kak penulis
goodnovel comment avatar
Siska Anggraini
oooh ngono toh kejadiannya
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
ouhh ternyata IHH ternyata jalan hidup Serayu juga bikin nyesek ya. kalian cocok .
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   289. Marah

    Begitu masuk ke dalam mobil, Serayu langsung menghubungi suaminya. Namun panggilannya tidak diangkat.Serayu menggigit bibir bawahnya sambil menatap layar ponselnya yang kembali gelap.Tak lama kemudian sebuah pesan masuk dari Abra.Bukan balasan panjang, melainkan sebuah foto. Foto suasana ruang diklat yang masih ramai. Beberapa dokter tampak duduk berdiskusi bersama.Foto itu datang bersama pesan singkat.[Masih ada briefing. Saya marah.]Serayu menyernyitkan keningnya.Lucu sekali.Cara Abra marah justru membuatnya gemas sendiri.Cepat-cepat Serayu mulai mengetik penjelasan panjang. Ia mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak membeli apa pun meski berada di toko bayi dan sangat ingin membelinya. Ia tetap ingin pergi bersama Abra. Memilih semuanya bersama suaminya.Sebenarnya Serayu sengaja pulang lebih dulu karena tidak ingin terlalu lama bersama Ezra.Bahkan soal video call tadi, ia hanya beralasan agar bisa cepat pulang. Sejujurnya ia memang tidak ingin terlibat lebih dalam hin

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   288. Berbelanja Bersama

    “Aahh… iya, dr. Ezra ikut juga. Ternyata dia teman kakak sepupuku. Mereka teman waktu jaman kuliah jadi mau ikut jengukin,” jelas Amalia. “Dokter Ezra,” panggil Amalia melambaikan tangan dan dibalas oleh lelaki itu. “Kenapa kamu ajak aku kalau udah ditemanin dokter Ezra?” tanya Serayu memicingkan matanya. “Eh… aku baru tahu dia temennya kakakku waktu mau ke parkiran tadi. Katanya dia mau ke mall beli kado baby.” Serayu melanjutkan langkahnya malas. “Kenapa sih?” tanya Amalia. Serayu menggeleng. “Mau langsung cari kadonya atau makan dulu?” tanya Ezra. “Cari kado dulu aja. Biar nanti setelahnya santai. Lagian masih sore juga ini,” kata Amalia melirik Serayu yang mengangguk setuju. Ketiganya jalan bersamaan menuju toko penjual pelengkapan bayi. “Dokter Serayu,” panggil Ezra membuat Serayu menoleh. “Saya belum minta maaf dengan baik,” katanya pelan. “Dok, sebaiknya kita tidak lagi membicarakan hal itu.” “Iya, untuk itu saya minta maaf. Tolong jalan menghindari saya setelah

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   287. Bermanja Ria

    Tiga hari ke depan jadwal Abra benar-benar padat. Ada diklat kedokteran berskala nasional yang melibatkan banyak rumah sakit besar dan Abra menjadi salah satu pembicara utamanya. Waktunya penuh, bahkan di akhir pekannya. Serayu menatap layar ponsel Abra beberapa saat hingga akhirnya mengembalikannya. “Saya belanja sendiri aja,” rajuknya. Nada suaranya terdengar kecewa meski berusaha agar terdengar biasa saja. Setelah itu Serayu langsung berbaring dan masuk ke dalam selimut membelakangi Abra tanpa bicara lagi. Abra mengembuskan napas pelan. Ia tahu istrinya sedih. Dan itu membuatnya semakin bersalah, padahal permintaan istrinya sederhana saja. Abra ikut naik ke atas ranjang lalu mendekat dari belakang. Tangannya perlahan melingkari tubuh Serayu dengan hati-hati. “Maafkan saya,” bisiknya pelan di dekat telinga istrinya. Serayu diam beberapa saat lalu akhirnya bersuara, “Sedih…” Serayu mengakui. “Padahal pengen pilih sama Mas juga.” Kalimat itu membuat dada Abra mengencang. Pri

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   286. Salah Sangka

    Ezra menatap kemesraan kecil itu dalam diam. Cara Abra merangkul Serayu. Cara wanita itu bermanja pada suaminya. Bahkan langkah mereka yang berjalan berdampingan saja terasa terlalu menyakitkan untuk dipandang lama-lama. Perasaannya salah. Dan Ezra tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengakhirinya. Lucu sekali, pikirnya pahit. Sekalinya jatuh cinta… ia justru jatuh pada seseorang yang tidak mungkin ia miliki. “Dokter Ezra," panggil seseorang. Ezra tetap menatap punggung Serayu yang semakin menjauh di lorong tanpa berkedip. Sampai sebuah lambaian tangan di depan wajahnya menyadarkannya. “Hellooo… dr. Ezra.” Suara riang bercampur heran itu membuat Ezra tersentak kecil lalu menoleh pada Amalia yang berdiri di sampingnya sambil mengangkat alis. “Ah… iya, Dok?” kejut Ezra. “Melamunin apa?” tanya Amalia sambil melirik ke lorong yang kini sudah kosong. Ezra tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. Ia melihat lucunya raut heran di wajah Amalia. “Nggak ada.” Tatapan Amalia masih

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   285. Peringatan

    “Dokter Ezra,” sapa Abra. Ezra cepat mengulurkan tangan, menjabat tangan Abra yang juga terulur menyambutnya. Sentuhannya sopan, tetapi entah kenapa terasa penuh tekanan. Abra bahkan bertindak seolah dialah tuan rumah di ruangan itu. “Silakan duduk.” Ezra menurut. "Bagaimana kabar Anda?” tanya Abra. Harusnya terdengar santai, tapi entah mengapa Ezra merasa terintimidasi oleh tatapannya. “Baik, Dok,” jawabnya hati-hati. “Bagaimana dengan dr. Abra?” “Luar biasa bahagia.” Tidak ada senyum saat Abra mengatakannya. Hanya tatapan dingin yang membuat dada Ezra semakin sesak. “Bu Riani, Mama saya, ingin membuat janji temu dengan dr. Ezra. Bisa?” Mendengar topik itu, ketegangan di dada Ezra perlahan melonggar. “Oh… tentu, Dok,” jawabnya cepat. “Dengan senang hati.” “Asisten Bu Riani akan menghubungi Anda.” Abra menyandarkan tubuhnya santai di kursi. “Nanti akan ada pertemuan dengan dr. Sebastian. Dokter yang sebelumnya menangani Bu Riani.” Ezra mengangguk fokus mendengarka

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   284. Perhatian Suami

    Serayu memukul pelan dada Abra mendengar ucapan suaminya. “Siapa juga yang tebar pesona,” protesnya. “Aahh… ternyata memang istri saya yang mempesona.” Abra mengeratkan pelukannya. Pria itu tak henti-hentinya mengecup puncak kepala kesayangannya. “Aduuhh… nggak tahan sama gombalannya,” kata Serayu, mendongak untuk mencubit gemas dagu suaminya. “Nanti show me hasil kontrol kemarin,” pinta Abra tiba-tiba seraya mengusap perut kesayangannya. Serayu langsung berusaha duduk perlahan. Ia meraih tas di atas nakas di samping ranjang lalu mengeluarkan ponselnya. “Ini,” katanya memperlihatkan potret hasil USG. “Mau kirim ke Mas, tapi lupa,” ringisnya. Abra menerimanya. Tatapan pria itu langsung melembut begitu melihat hasil USG bayi mereka. Senyum kecil tak lepas dari wajahnya. “Catatan dokternya nanti aja pas di rumah. Semuanya sehat. Baby-nya pasti tampan seperti papanya,” goda Serayu sambil bersandar lagi di dada Abra. Abra melebarkan senyumnya mendengar itu. Matanya mas

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   187. Cemburu Lagi

    Serayu melirik ke arah dirinya, lalu merapikan kimono satin yang ia kenakan memperbaiki penampilannya. “Kenapa, Mas? Saya nggak sempat bersiap,” katanya polos. “Sayang!” protes Abra. Wajahnya tampak tak terima, rahangnya mengeras. “Serius amat. Bercanda,” kekeh Serayu. Seketika ketegangan di waja

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   154. Istri Seorang Dokter

    Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempua

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   152. Kerja Setelah Liburan

    Tidak dibenci oleh Riani, tapi mertuanya hanya malu memiliki menantu miskin. Nyatanya Itu bukan penolakan terhadap Serayu, tapi pengakuan atas luka Riani yang belum sembuh di masa lalu. Abra meminta Serayu untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Tidak perlu memikirkan apa yang Riani katakan. *** Ha

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   155. Sweet Abra

    “Siapa, Mas?” tanya Serayu begitu Abra masuk ke dalam mobil. “Serius sekali.” Abra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kaku, lalu mengusap puncak kepala kesayangannya. Setelah itu, ia pun menyalakan mesin mobil. “Kita berangkat sekarang ya,” katanya, jelas sekali mengalihkan pembicaraan. Serayu

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status