MasukBack to real life setelah inih yah ...
“Dokter Ezra,” sapa Abra.Ezra cepat mengulurkan tangan, menjabat tangan Abra yang juga terulur menyambutnya. Sentuhannya sopan, tetapi entah kenapa terasa penuh tekanan.Abra bahkan bertindak seolah dialah tuan rumah di ruangan itu.“Silakan duduk.”Ezra menurut.“Bagaimana kabar Anda?” tanya Abra.Harusnya terdengar santai, tapi entah mengapa Ezra merasa terintimidasi oleh tatapannya.“Baik, Dok,” jawabnya hati-hati. “Bagaimana dengan dr. Abra?”“Luar biasa bahagia.”Tidak ada senyum saat Abra mengatakannya.Hanya tatapan dingin yang membuat dada Ezra semakin sesak.“Bu Riani, Mama saya, ingin membuat janji temu dengan dr. Ezra. Bisa?”Mendengar topik itu, ketegangan di dada Ezra perlahan melonggar.“Oh… tentu, Dok,” jawabnya cepat. “Dengan senang hati.”“Asisten Bu Riani akan menghubungi Anda.” Abra menyandarkan tubuhnya santai di kursi. “Nanti akan ada pertemuan dengan dr. Sebastian. Dokter yang sebelumnya menangani Bu Riani.” Ezra mengangguk fokus mendengarkan. “Anda bisa mempela
Serayu memukul pelan dada Abra mendengar ucapan suaminya. “Siapa juga yang tebar pesona,” protesnya. “Aahh… ternyata memang istri saya yang mempesona.” Abra mengeratkan pelukannya. Pria itu tak henti-hentinya mengecup puncak kepala kesayangannya. “Aduuhh… nggak tahan sama gombalannya,” kata Serayu, mendongak untuk mencubit gemas dagu suaminya. “Nanti show me hasil kontrol kemarin,” pinta Abra tiba-tiba seraya mengusap perut kesayangannya. Serayu langsung berusaha duduk perlahan. Ia meraih tas di atas nakas di samping ranjang lalu mengeluarkan ponselnya. “Ini,” katanya memperlihatkan potret hasil USG. “Mau kirim ke Mas, tapi lupa,” ringisnya. Abra menerimanya. Tatapan pria itu langsung melembut begitu melihat hasil USG bayi mereka. Senyum kecil tak lepas dari wajahnya. “Catatan dokternya nanti aja pas di rumah. Semuanya sehat. Baby-nya pasti tampan seperti papanya,” goda Serayu sambil bersandar lagi di dada Abra. Abra melebarkan senyumnya mendengar itu. Matanya mas
Cengkeraman itu tidak keras, tetapi tatapan Abra membuat Serayu ciut seketika. “Kamu milik saya, Rayu,” ucap Abra nadanya penuh penekanan. Tatapannya turun perlahan dari mata Serayu menuju bibir ranum wanita itu. Sorot matanya malam ini sangat posesif. Sebelum Serayu sempat membalas, Abra sudah lebih dulu menyambar bibir mungil itu. Kecupan itu dalam dan menuntut, membuat Serayu terkesiap. Jemari wanita itu refleks mencengkeram bagian depan jas Abra saat pria itu menyesap bibirnya. Serayu memejamkan mata, larut dalam pagutan mereka. Sampai seketika … Klik! Suara pintu yang terbuka membuat Serayu tersentak kecil. Abra sudah mendorong tubuhnya masuk ke dalam kamar hotel tanpa memutus ciuman mereka. Pintu kembali tertutup di belakang mereka. Kini tubuh Serayu bersandar pada dinding dekat pintu, sementara Abra masih berada begitu dekat di hadapannya. Napas keduanya sedikit tidak teratur. “Tidak ada yang boleh mengganggu milik saya,” gumam Abra di dekat bibir istrinya. “Saya akan
“Hanya itu saja?” ulang Abra. Serayu terdiam sesaat dengan raut wajah yang mudah sekali ditebak oleh Abra. Pria itu tahu betul kalau istrinya sedang menyembunyikan sesuatu. Tatapan Abra datar. “Talk to me later,” katanya. Serayu menelan ludahnya melihat perubahan raut wajah itu. “Kita bicara lagi nanti saat saya pulang,” lanjut Abra, kali ini lebih tegas. Serayu hanya mampu mengangguk menurut. Hening sesaat mengisi panggilan video mereka, lalu Abra kembali bersuara, “besok ada acara makan malam keluarga besar,” katanya. “Mama dan Papa nggak datang. Papa lagi di luar kota dan Mama nggak mau pergi.” Abra berhenti sejenak lalu menambahkan, “Mama juga nggak ngizinin kamu datang.” Serayu diam saja mendengarnya. “Nggak apa-apa, Mas–” “But, I’ll pick you up,” pangkas Abra. “Besok saya masih ada meeting sama klien sebelum pulang. Nanti saya hubungi lagi.” Serayu kembali mengangguk kecil. “Tidurlah, Sayang.” Nada suara Abra melunak sepenuhnya kali ini. Serayu tersenyum tipis sambil m
Serayu menatap Ezra yang tengah menempelkan telunjuknya ke bibir sendiri memberi isyarat agar ia diam. Napas Serayu tercekat. Suara langkah terdengar semakin dekat dari luar ruangan. Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan dua perawat masuk sambil membawa baki perlengkapan medis. Keduanya sibuk mengambil beberapa alat dari rak penyimpanan tanpa menyadari keberadaan Serayu dan Ezra yang berdiri di sudut ruangan. Di tengah ketegangan itu, Ezra justru memanfaatkan kesempatan untuk memandang wajah Serayu lebih lama. Tatapan pria itu terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Sementara Serayu justru merasa jantungnya nyaris meloncat keluar. Begitu kedua perawat itu selesai dan kembali keluar dari ruangan, pintu tertutup rapat. Serayu langsung cepat menjauh dari Ezra. “Setelah ini yang akan kita bicarakan hanya untuk urusan pekerjaan,” katanya tegas meski suaranya sedikit bergetar. “Tidak akan ada percakapan seperti tadi lagi. Permisi.” Tanpa menunggu jawaban, Serayu segera keluar
Baru kali ini Abra merasa begitu tidak nyaman meninggalkan Serayu untuk bertugas. Padahal perjalanan dinas seperti ini bukan hal baru baginya. Menjadi dokter sekaligus pemilik rumah sakit membuat Abra terbiasa berpindah kota, menghadiri konferensi, hingga rapat medis yang kadang memaksanya pergi berhari-hari. Namun entah kenapa hari ini berbeda saja. Tepatnya sejak meninggalkan rumah pagi tadi, perasaannya terus terasa berat. Abra duduk di kursi ruang tunggu bandara dengan jas gelap yang masih rapi melekat di tubuhnya. Di sekelilingnya orang-orang berlalu lalang membawa koper dan suara pengumuman penerbangan terus bersahutan di udara. Pria itu membuka ponselnya lagi. Layar percakapannya dengan Serayu paling atas. [Sudah makan?] [Jangan terlalu capek, Sayang.] [Pemeriksaannya aman? Kalau ada apa-apa langsung telepon saya.] Pesan terakhirnya bahkan belum dibaca. Abra mengembuskan napas pelan lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia tahu jam segini Serayu sudah mulai
Abra gelisah. Ia bolak-balik memeriksa ponselnya, menunggu kabar yang tak juga datang. “Seminggu? Yang benar saja,” gerutunya, nada kesal menyelinap di sela napasnya. Hari itu Abra tidak tenang. Hari ini tidak ada jadwal operasi harusnya bisa fokus pada pekerjaannya sebagai pemilik rumah sakit, ta
FlashbackSeharusnya Abra marah besar. Ada seseorang yang berani mencoreng nama baiknya. Abra paling anti dengan segala jenis skandal—apa pun itu, tapi saat menatap mata wanita itu kemarahan itu luluh seketika.Abra tidak bisa membenci Serayu, ia justru tersiksa karena tak bisa memeluk wanita itu.
“Kamu istri saya, Rayu,” ujar Abra mengingatkan. “Semua orang juga sudah tahu kalau saya istri Mas Abra,” sahut Serayu. “Sangat tahu, bahkan sampai ke masa lalu—” “Sayang…,” panggil Abra tatapannya seolah tak setuju, membuat Serayu spontan menghentikan kalimatnya. Tangan lelaki itu terulur, mengg
Abra menatap wajah yang terlelap di hadapannya. Ia bersimpuh, jemarinya terulur merapikan helaian rambut yang menutupi wajah mungil itu.Ia memang mengaku tak mencintai wanita ini, tapi mengapa rasanya tak rela berpisah? Gundah setiap jauh, takut kehilangan setiap kali bayangan perpisahan melintas d







