ログインKira-kira Tuan Richard ini yang super galak ini bakal luluh ga ya? wkwk
"Jangan sentuh! Lepaskan tanganmu dari kakiku!" Cetus Tuan Richard kencang, berusaha menarik kakinya dari cengkeraman Alina. Pria paruh baya itu menatap Alina dengan tatapan tajam nan penuh permusuhan. "Kau pikir apa yang kau lakukan, hah?! Jangan coba-coba menyentuhku dengan tanganmu itu!" Alina sama sekali tidak menyurutkan keberaniannya. Ia tidak mengindahkan omelan dan tatapan galak sang patriarch keluarga Dirgantara. Jemari halusnya justru mulai menekan titik-titik saraf di sekitar pergelangan kaki hingga betis Richard yang terasa amat tegang. "Tuan diam saja sebentar," ujar Alina tenang, terus menggerakkan jemarinya dengan ritme yang stabil. "Saya tahu Tuan pasti sangat pegal karena seharian bolak-balik mengurus pekerjaan. Kalau tidak dipijat, besok pagi kaki Tuan bisa bengkak dan semakin sakit." "Kau—" Richard sempat hendak menyembur lagi, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan saat rasa hangat dan lega yang luar biasa mendadak menjalar dari betis hingga ke lututnya.
"Ehh... apa, menikah?!" Alina membulatkan matanya, melotot tak percaya mendengar cetusan yang baru saja meluncur dari bibir Nyonya Ella. Napasnya bahkan sempat tertahan di tenggorokan saat melihat kesungguhan yang memancar jelas dari binar mata paruh baya itu. "Iya, Alina. Menikah," panggil Nyonya Ella lagi, menepuk-nepuk punggung tangan Alina dengan lembut namun mengikat. "Kalian harus cepat menikah. Ini demi Sean." Alina menarik jemarinya pelan dari genggaman Nyonya Ella, memalingkan wajahnya yang mendadak panas akibat gelombang cemas dan canggung. "Nyonya... tolong jangan bercanda seperti ini. Ini... ini terlalu mendadak." "Aku sama sekali tidak bercanda, Alina!" tegas Nyonya Ella, memajukan tubuhnya untuk memastikan pandangan mereka saling terkunci. "Kau lihat sendiri kan hari ini? Angel kembali muncul. Wanita gila itu bisa saja sewaktu-waktu berubah pikiran dan menuntut hak asuh atas Sean. Tapi kalau kau resmi menjadi istri Reynard dan menjadi ibu bersurat bagi Sean, wanit
"Sean! Sean, kau tidak apa-apa, Sayang?!" Suara jeritan panik Nyonya Ella menggelegar di ambang pintu, memotong keheningan kamar VIP. Wanita paruh baya itu berlari kecil dengan langkah tergesa-gesa, napasnya memburu kencang bagai habis dikejar sesuatu. Namun, pemandangan di dalam kamar seketika menghentikan pergerakannya. Di atas ranjang, Alina dan Sean sedang duduk bersisian dengan santai. Tak ada tangisan, tak ada keributan, apalagi kepanikan. Keduanya tampak begitu tenang dan baik-baik saja. Sean mengerutkan dahinya bingung melihat kedatangan sang nenek. "Nenek? Kok Nenek sudah kembali lagi? Bukannya Nenek mau pulang untuk mandi?" Nyonya Ella menelan ludahnya yang terasa menyumbat tenggorokan, mencoba menetralkan degup jantungnya yang berdebar liar. "A-Iya... Nenek tiba-tiba kangen sekali sama Sean, jadi Nenek langsung balik lagi ke sini..." Melihat raut cemas yang begitu ketara di wajah Nyonya Ella, Alina bergegas bangkit dari sisi ranjang. Ia melangkah mendekati mantan ibu m
"Mama... itu siapa?" Pertanyaan polos yang keluar dari bibir mungil Sean terasa begitu membeku di udara. Ketika anak laki-laki itu memanggil Alina dengan sebutan Mama, insting kecilnya bekerja memanggil sang pengasuh sebagai tempat perlindungan dari aura berbahaya wanita asing di hadapan mereka. Sean bergeser cepat, memeluk pinggang Alina erat-erat seraya menyembunyikan wajahnya. Alina tersentak mendengar panggilan itu, namun naluri pengayomnya bergerak lebih cepat. Ia langsung berdiri pasang badan, menyilangkan sebelah tangannya untuk menghalangi akses wanita bergaun hitam itu mendekati ranjang. Mendengar bisikan anak kecil itu, wanita asing yang berdiri semampai di tengah ruangan justru menipiskan bibirnya, mengukir senyum kecil yang begitu misterius. "Mama, ya?" cicit wanita itu dengan nada suara rendah nan berkelas. Pandangannya yang dingin sempat bergeser mengamati Alina dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum kembali terkunci pada sosok Sean. "Aku hanya kenalan lama Rey
"Nenek... Tante Alina ke mana? Kenapa belum datang juga?" Pertanyaan bernada cemas itu lolos dari bibir mungil Sean yang duduk tersandar di ranjang rumah sakit. Anak laki-laki itu memegang tangan Nyonya Ella dengan rapat, matanya bergerak gelisah menatap pintu VIP yang tak kunjung terbuka. "Apa Tante Alina pergi lagi meninggalkan Sean, Nek? Papa juga ke mana? Kenapa Papa tidak ada di sini?" Richard yang sedang duduk di sofa VIP langsung mendengus bersikap sinis. "Papamu itu tidak pulang ke rumah semalam, Sean! Pria bodoh itu pasti sedang kelayapan berduaan dengan janda gatal itu!" PLAK! Nyonya Ella melayangkan pukulan cukup keras di bahu suaminya. "Richard! Jaga bicaramu di depan anak kecil! Jangan asal menuduh!" "Bicara sembarangan bagaimana?!" balas Richard tak mau kalah, matanya melotot tajam pada sang istri. "Kenyataannya Reynard itu lebih sibuk mengurusi wanita tidak jelas itu daripada menemui anak kandungnya sendiri yang sedang terbaring di rumah sakit! Semua kekacauan ini
"Lepaskan aku! Tolong! Andri, berhenti!" Jeritan histeris dari lantai atas ruko itu memecah sunyinya malam. Di sudut jalan yang remang, sebuah mobil hitam mewah terparkir mati. Reynard yang berada di dalam kemudi seketika membelalakkan mata. Sejak awal, pria itu memang sengaja mengekor taksi Alina karena rasa cemas dan takut jika wanita itu akan ingkar janji untuk kembali padanya. Pria itu awalnya hanya menunggu diam di kegelapan, mengawasi dari jauh. Ia memang tidak melihat awal perdebatan Alina dan Andri di teras tadi. Namun, begitu telinganya menangkap jeritan ketakutan Alina, jantung Reynard serasa berhenti berdetak. Tanpa berpikir panjang, Reynard keluar dari mobil dan berlari kencang menerobos pintu ruko yang tidak terkunci, mencari sumber suara. Langkah kakinya yang lebar membawanya menaiki tangga menuju lantai dua hingga mendapati sebuah pintu kamar yang tertutup rapat. Dari dalam, suara rintihan ketakutan Alina terdengar makin makin jelas. "Andri, tolong... lepaskan!" Pi







