공유

Bab 3

작가: Flower
"Apa maksudmu?" Ibu menyeka air mata, menatapku dengan muak. "Bukankah karena melihat Adri begitu baik pada Clarissa kamu jadi iri, lalu sengaja membalas dendam?"

"Pernahkah kamu memikirkan, dia itu adik kandungmu, satu ayah satu ibu!"

Ayah juga menimpali, "Bagaimana mungkin kami punya anak seperti kamu! Benar-benar sekejam itu!"

Adriano tiba-tiba melepaskan cengkeramannya. "Kurung dia di penjara bawah tanah. Sebelum Clarissa sadar, biarkan dia merenung di sana."

"Aku nggak ... aku benar-benar sakit ... aku nggak bertemu diam-diam dengan selingkuhan ...." Suaraku gemetar hebat.

"Tentu saja aku tahu kamu nggak," Adriano memandangku dari atas. "Yuanita, kamu perempuan yang rela mati demi aku, mana mungkin berselingkuh?"

Dia menoleh ke Zevan, tatapan meremehkannya makin kentara. "Kamu mendekatinya hanya untuk memancing emosiku. Mengincarku itu urusanmu, tapi yang sama sekali tak seharusnya kamu lakukan ... adalah menipu Clarissa."

Mendengar itu, Ayah dan Ibu menangis makin keras, seolah Clarissa benar-benar sekarat.

Kepalan tangan Adriano mengencang. Dia menatap anak buahnya. "Masih bengong apa? Kurung dia!"

Anak buah segera melangkah ke arahku. Tiba-tiba wakilnya berbicara, "Ketua, kecelakaan itu toh hanya insiden. Lagi pula, barusan kami sudah cek, Nyonya memang mengalami pendarahan hebat ...."

Bang!

Sebuah peluru menggesek telinga sang wakil dan menancap lurus ke dinding seberang.

Dia menutup telinga yang memuncratkan darah dan berlutut kesakitan, lantai tampak ternoda merah.

Tatapan Adriano sedingin es. Dia menurunkan pistol. "Ajudan Ferran, ingat siapa tuanmu."

"Dulu diam-diam memihaknya masih bisa kuterima, tapi sekarang kamu malah bersekongkol menipuku ... pendarahan hebat? Kamu kira aku bodoh?"

"Peluru ini sebagai peringatan. Kalau terjadi lagi, pelurunya akan bersarang di jantung."

Adriano berdiri tegak, menjentikkan jari, beberapa anak buah masuk.

Aku dilempar ke dalam mobil seperti sampah.

...

Saat sadar kembali, yang terlihat hanyalah kegelapan pekat.

Perutku masih terasa nyeri samar.

Aku menyentuh perutku, tersenyum pahit, entah masih ada detak jantung atau tidak di dalamnya.

Entah berapa lama berlalu, barulah terdengar suara dari luar, itu Clarissa.

Suaranya penuh isak. "Kak Adri, bagaimana bisa kamu mengurung Kakak? Semua ini salahku, aku terlalu panik sampai menerobos lampu merah, makanya tertabrak ... aku nggak apa-apa ...."

"Bukan salahmu," Suara Adriano terdengarn luar biasa lembutnya. "Dia sengaja menipumu."

"Ah, Kakak juga hanya panik sesaat, merasa aku mengancam posisinya," ucapnya makin terisak. "Tapi aku benar-benar nggak bermaksud begitu. Dia 'kan kakak kandungku, mana mungkin aku berebut pria dengannya?"

"Meski pria itu ... adalah pria paling luar biasa di dunia ...."

Suara Clarissa makin pelan, di luar mendadak hening.

Melalui celah pintu, kulihat Adriano hanya memeluknya, tangan menepuk-nepuk kepalanya pelan.

Dengan menyunggingkan senyum tipis, pria itu menunduk dan berbisik lembut, "Jangan berkata begitu."

"Aku nggak pernah melupakanmu."

"Kalau bukan karena kamu pergi, bagaimana mungkin aku menikah dengannya."

"Semua yang dia nikmati sekarang pun, hanya karena dia sedikit mirip denganmu."

Ujung jariku menancap dalam ke telapak tangan, meski pada kehidupan sebelumnya aku sudah memahami isi hati Adriano.

Namun mendengarnya sendiri sekarang, mataku tetap memerah tanpa sadar.

Awalnya Adriano bukanlah Ketua Geng yang kini membuat orang gemetar, dia hanya seorang pemuda polos.

Dia sering datang ke rumah kami, bermain denganku dan adikku.

Saat itu aku bisa melihat dia menyukai adikku, tetapi adikku sama sekali nggak menyukainya. Diam-diam dia selalu berkata padaku bahwa dia miskin dan tak berkuasa, tak bisa memberinya kehidupan yang diinginkan Clarissa.

Jadi setelah dewasa, Clarissa memilih dengan tegas pergi ke luar negeri untuk belajar, ingin melihat lebih banyak orang kaya.

Sejak kepergian Clarissa, Adriano sempat terpuruk beberapa waktu, tetapi setelahnya tetap makan bersamaku seperti biasa.

Kupikir dia sudah melupakan adikku.

Kupikir akhirnya di hatinya ada aku.

Maka ketika dia menjadi Ketua Geng paling terhormat dan Ayah-Ibu memaksaku mencari cara menikah dengannya, aku penuh sukacita.

Prosesnya pun lebih mulus dari dugaanku. Belum sempat aku bergerak, dia sudah mengejarku lebih dulu dan menikah denganku.

Kupikir kami akan memiliki masa depan bahagia. Nyatanya, yang menantiku adalah lima tahun pernikahan rahasia.

Kenangan pahit berjejal datang, aku menutup wajah dan menangis tersedu-sedu.

Sepertinya Adriano mendengar sesuatu, baru hendak melepaskan pelukannya, Clarissa segera merangkul lehernya dan menciumnya.

Adriano tertegun sesaat, lalu memeluknya erat.

Ciuman itu begitu lembut.

Setelah lama, barulah dia perlahan melepaskan Clarissa.

Dia bersandar di dada Adriano, berkata dengan maksud tersirat, "Kalau begitu, Kak Adri, nanti saat Kakak sadar kamu mau jelaskan bagaimana soal kita? Bagaimana kalau segera cer ...."

Adriano jelas terkejut. Dia terdiam sejenak, lalu perlahan mendorong Clarissa menjauh.

"Nggak usah terburu-buru."

"Yuanita terlalu mencintaiku. Kalau segera bicara cerai, dia bisa saja gila."

"Bagaimana kalau dia menerimanya dengan cepat? Bukankah kamu nggak suka ...." Clarissa tanpa sadar membantah.

Namun Adriano segera menyelanya, "Sudah, soal ini aku yang putuskan."

"Dia bagaimanapun kakakmu, kamu juga nggak ingin dia runtuh dan bikin keributan, 'kan?"

Clarissa masih ingin mengatakan sesuatu ketika anak buah datang dengan tergesa-gesa dan berbisik di telinga Adriano.

Pria itu menggerutukan perkataan "sungguh merepotkan", lalu buru-buru pergi.

Clarissa menatap punggung Adriano yang menjauh, senyum di bibirnya lenyap sepenuhnya, berubah menjadi kebencian pekat.

Begitu Adriano menghilang, dia segera berbalik dan menendang keras pintu selku.

"Jangan pura-pura! Aku tahu kamu sudah bangun!"

"Sialan! Aktingku kelewatan, sampai sekarang Adriano malah mengira aku kasihan padamu!"

Dia masuk ke sel, menatap wajahku yang tanpa ekspresi.

"Sekarang kamu pasti sangat puas, ya? Tapi kuberitahu, kalian sekarang sudah bukan suami-istri. Aku punya banyak cara untuk membuatnya membuangmu!"

Ayah dan Ibu juga keluar dari bayangan. "Tenang saja, Clarissa. Kami semua akan mendukung aktingmu. Kakakmu berniat mencelakai kamu, jangan salahkan kami kalau berpihak!"

Ibu menunduk dan menatapku dari atas. "Dulu memang seharusnya kami nggak menaruh harapan pada pecundang ini. Bertahun-tahun ini hanya membuat kami menanggung malu."

Sambil berkata begitu, Ibu merangkul lengan Clarissa. "Clarissa, kamu harus lebih giat. Begitu kamu menjadi Nyonya Ketua Geng, kulihat siapa lagi yang berani menindas kita!"

Tawa mereka semakin keras. Ayah dan ibu mengerumuni Clarissa di tengah, melangkah makin jauh.

Di ujung lorong, suasana kembali sunyi seperti mati.

Dengan gemetar aku mengeluarkan ponsel dari saku. Tiba-tiba, di bagian atas layar muncul permohonan pertemanan dari nomor asing.

[Aku sudah menyelidiki semuanya.]

[Aku akan membantumu.]

Itu Zevan.

Aku mengembuskan napas panjang. Sebenarnya aku tidak suka merepotkan orang lain.

Namun kini, yang mampu menandingi kekuatan Adriano hanyalah dia.

Aku menerima permohonan pertemanan itu, jari-jariku gemetar mengetik beberapa kata.

[Butuh satu jet pribadi, tujuan Darviso.]
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 15

    Pada hari Adriano diusir dari keluarganya, aku melepaskannya.Sebelum berpisah, dia menatapku dalam-dalam."Nita, kamu masih terlalu berhati lembut.""Kamu membiarkanku hidup, itu sama saja dengan memberiku kesempatan untuk merebutmu kembali."Aku mencibir dalam hati, tetapi wajahku tetap tenang.Zevan sama sekali tidak menutupi niatnya, wajahnya muram. "Kamu tak akan punya kesempatan."Begitu kata-kata itu keluar, dia mengeluarkan pistol di tangannya dan mengarahkannya ke Adriano.Sama seperti saat Adriano dulu mengarahkannya kepadanya.Namun Zevan tidak membunuhnya.Dia hanya menembakkan dua peluru, satu mengenai lengan kiri, satu lagi mengenai lengan kanan.Darah menyembur deras, Adriano kesakitan hingga jatuh berlutut."Dia nggak menyiksamu karena hatinya baik. Tapi aku berbeda, aku selalu membalas dendam."Kemudian menurut cerita para penjaga, Adriano yang berlumuran darah kembali ke gerbang keluarga, tetapi sama sekali tidak ada yang mengenalinya.Dia menyibakkan rambutnya yang k

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 14

    Hari ketiga Adriano ditahan, dia tetap tidak mau makan.Aku tahu, dia sedang bertaruh, bertaruh bahwa aku tidak tega membiarkannya mati.Dia bertaruh dengan benar, memang aku tidak ingin dia mati.Bukan karena aku masih peduli padanya, melainkan karena aku lebih menghargai kehidupan daripada dirinya.Terlebih lagi, balas dendam yang konyol ini sudah merenggut nyawa banyak orang tak bersalah.Karena itu, aku sendiri yang membawa makanan ke sel untuk menemuinya.Baru beberapa hari tidak bertemu, dia sudah terlihat jauh lebih kurus dan lelah.Saat itu aku tiba-tiba ingin tertawa, baru beberapa bulan berlalu, alurnya sudah terulang kembali.Hanya saja kali ini, dia di dalam, aku di luar."Makanlah."Aku melempar kotak makan ke depannya.Dia meliriknya sekilas lalu memalingkan wajah, menolak.Aku menghela napas, mengambil garpu di lantai, lalu mengarahkannya ke pergelangan tanganku. "Kalau kamu nggak makan, aku akan menusukkannya."Detik berikutnya, garpu di tanganku segera dirampas."Kamu

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 13

    "Lepaskan aku! Aku mau pergi menyelamatkannya!"Ajudan Ferran memelukku erat-erat. "Nyonya, sudah terlambat, kalau Anda pergi ke sana hanya akan menemui jalan kematian!"Aku menangis sambil berteriak, suaraku hampir serak. Akhirnya aku memegangi perutku sambil meringkuk kesakitan.Ajudan Ferran buru-buru memasukkan diriku ke dalam mobil, tetapi api sudah menyebar terlalu ganas."Sial!"Mobil mengerem mendadak di pinggir jalan.Aku sudah kesakitan sampai tidak bisa bergerak. Dengan suara pelan aku berkata, "Pergilah, jangan urus aku lagi."Belum sempat dia membuka mulut, seseorang sudah mendorongnya ke samping. "Kamu pergi dulu, aku yang akan melindunginya."Itu Adriano.Bagian bawah kemeja putihnya sudah hangus terbakar, wajahnya juga penuh darah serta jelaga hitam."Tapi, Ketua ....""Aku sudah bilang, cepat pergi!"Ajudan Ferran menatap kami dalam-dalam, lalu berbalik pergi.Adriano mengangkatku dengan memeluk pinggangku, berlari menuju pegunungan di kejauhan.Keringatnya menetes ke

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 12

    Dengan demikian, aku dan Zevan pun menetapkan hubungan pacaran.Hal ini dengan cepat menyebar ke seluruh perkemahan, bahkan anak-anak kecil di bangsal perawatan akan tersenyum sambil memanggil Zevan "pacar Dokter Yuanita".Sepertinya dia sangat menyukai sebutan itu, setiap kali mendengarnya dia selalu tampak bangga.Hidup kembali berjalan seperti biasa.Sedangkan Adriano, sejak keributan hari itu, dia menghilang.Kupikir setelah anak itu tiada, dia akan menyerah. Tak kusangka, tiba-tiba dia teringat bahwa di antara kami masih ada pernikahan yang hanya sebatas formalitas.Dia mencari pengacara dan memanggilku pulang.Dengan tegas aku menyerahkan dokumen perceraian kepada pengacaranya.Menurut sang pengacara, saat dokumen perceraian itu sampai ke tangan Adriano, dia sangat murka.Dia mengatakan dokumen itu palsu, karena dia sama sekali tidak pernah menandatanganinya.Bahkan dia sampai menyewa ahli grafologi terbaik, tetapi hasilnya membuktikan bahwa itu memang tanda tangannya sendiri.Hu

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 11

    "Apa?"Tubuh Adriano seketika menegang.Dia segera menunduk dan menatap perutku yang memang tampak sangat rata."Ng ... nggak mungkin ...." Dia bergumam dengan kepala tertunduk, matanya merah sampai seperti berdarah. Detik berikutnya dia mencengkeram bahuku dan mengguncangnya dengan gila."Bagaimana mungkin anak itu sudah nggak ada? Jangan-jangan, jangan-jangan kamu sendiri yang menggugurkannya? Yuanita, kamu sebegitu membenciku?"Mendengar teriakannya yang hampir tak terkendali, rasa jijik di mataku makin dalam."Aku yang menggugurkannya?""Anak ini, dibunuh olehmu, oleh ayahnya sendiri.""Nggak ada satu pun anak di dunia ini yang bisa bertahan dari hari-hari di dalam sel tahanan."Adriano tertegun.Aku melewatinya dan berjalan ke arah Zevan. "Bisakah kamu menggendongku di punggung untuk kembali, aku sudah nggak bisa berjalan."Zevan tertegun sejenak, lalu tersenyum dan mengangguk, tetapi dirinya tidak menggendongku di punggung, melainkan mengangkatku dalam pelukan.Adriano segera men

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 10

    Sudut pandang Yuanita:Akhirnya aku tiba di Negara Darviso.Dulu aku memilih tempat ini, bukan hanya karena di sini tidak ada pengaruh kekuasaan Adriano.Juga karena ini adalah impianku sejak dulu, aku ingin menjadi seorang dokter medan perang.Setelah menikah dengan Adriano, dia melarangku keluar bekerja, karena orang lain bisa mendekatiku untuk mengancam dirinya.Meskipun aku bukan lulusan fakultas kedokteran, selama bertahun-tahun mengikuti Adriano terjun dalam baku tembak, demi melindunginya dan melindungi diriku sendiri, aku belajar banyak pengetahuan medis dasar.Selama beberapa tahun ini, aku telah melihat banyak orang mati di hadapanku.Ada gembong narkoba yang keji, juga ada warga sipil tak bersalah yang ikut terseret.Setiap kali melihat mereka tumbang di depanku, hatiku selalu terasa sangat perih.Inilah salah satu hal yang paling membedakanku dengan Adriano.Dia tidak punya perasaan terhadap hal-hal ini, karena seorang Ketua Geng tidak boleh berhati lembut. Dia harus dingin

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status