เข้าสู่ระบบBrielle tidak menyangka Raka akan mengakui semua itu dengan terus terang. Dia menatapnya selama beberapa detik sebelum berkata, "Semuanya sudah terjadi. Yang terpenting sekarang adalah menyelesaikan masalah ini dan memastikan kejadian seperti ini nggak terulang lagi. Soal Faye, biarkan hukum yang menanganinya."Menurut Brielle, sudah tidak ada gunanya memperdebatkan siapa yang benar atau salah.Kebencian Faye terhadapnya sudah terlalu dalam. Sekalipun yang memecat Faye bukan Raka, melainkan Harvis atau orang lain, besar kemungkinan Faye tetap akan menyalahkan dirinya.Ditambah lagi keluarganya sudah bangkrut, ayahnya dipenjara, ibunya masuk daftar hitam karena gagal memenuhi kewajiban finansial. Hidup Faye sudah jatuh ke titik paling rendah. Dalam keadaan seperti itu, kejadian apa pun bisa memicu kegilaannya."Baik. Kita nggak usah bahas ini lagi. Makan dulu."Raka mengambil sendok dan lebih dulu mengambilkan lauk untuk Brielle.Brielle sedikit tertegun."Aku bisa ambil sendiri.""Mala
Pikiran Brielle kembali melayang pada tatapan Raka yang terus bersikeras menanyakan soal gelas air tadi. Perasaannya menjadi semakin rumit.Pukul tujuh malam, Harvis masih tertidur. Brielle mendengar suara pintu dibuka dari luar. Dia mengira seorang perawat yang masuk. Namun saat menoleh, ternyata Raka yang datang. Di tangannya ada sebuah tas berisi kotak makanan, juga sebuah tas pakaian."Kenapa kamu datang lagi?" tanya Brielle dengan suara pelan dan penuh keterkejutan."Aku bawain pakaian bersih untukmu. Pergilah mandi dan ganti baju di kamar mandi sebelah."Sambil berbicara, Raka melirik lengan baju Brielle yang masih berlumuran darah.Sebenarnya Brielle tidak terlalu memedulikannya. Namun karena Raka sudah membawakannya, dia pun pergi ke kamar mandi di ruangan sebelah.Ketika mengeluarkan isi tas itu, dia terkejut mendapati bahwa isinya bukan hanya pakaian, tetapi juga pakaian dalam dan handuk mandi. Barulah dia teringat Raka tadi memang menyuruhnya mandi sebelum berganti pakaian.
Brielle berdiri di tempatnya, perasaannya menjadi semakin rumit. Dia tahu semua yang dilakukan Raka adalah demi kebaikannya, tetapi ...."Brielle, aku beliin buah untuk Kak Harvis. Apa dia sudah sadar?" Suara Cherlina terdengar dari belakang."Sudah. Ayo masuk jenguk dia."Brielle mengangguk.Di ruang rawat, Harvis sedang bersandar di ranjang. Saat melihat mereka masuk, dia langsung bertanya kepada Brielle, "Pak Raka sudah pergi?""Dia ada urusan di perusahaan," jawab Brielle singkat, lalu bertanya dengan penuh perhatian, "Lukanya masih sakit?"Harvis menggeleng. "Obat biusnya masih bekerja, jadi belum terasa sakit."Cherlina berkata dengan kesal, "Kali ini Faye benar-benar keterlaluan. Ini sudah termasuk percobaan pembunuhan, 'kan? Kalau bukan karena Kak Harvis, Brielle pasti sudah ...."Baru sampai di situ, dia melihat Harvis menatapnya. Dia langsung menghentikan ucapannya. Tatapan Harvis pun berubah lebih dingin. "Perbuatan Faye memang sudah termasuk percobaan pembunuhan."Biasanya
Raka berkata dengan suara rendah untuk menenangkan Brielle, "Tenang saja. Dia akan baik-baik saja."Brielle mengangguk. Menatap luka Harvis, pikirannya dipenuhi ketakutan. Kalau saja garpu yang diayunkan Faye menusuk sedikit lebih ke bawah, dia benar-benar tidak berani membayangkan akibatnya.Mata Brielle kembali dipenuhi air mata. Dia menggigit bibirnya pelan, sementara air mata terus berputar di pelupuk matanya.Melihat hal itu, Raka mengambil selembar tisu lalu menyodorkannya kepada Brielle. Brielle menerimanya dan mengusap sudut matanya.Saat itu, Harvis perlahan membuka mata. Efek obat bius tampaknya mulai hilang. Dia berkedip beberapa kali sebelum pandangannya akhirnya terfokus pada wajah Brielle. Melihat tatapan penuh kekhawatiran itu, bibirnya yang pucat sedikit bergerak. Suaranya terdengar serak karena tenggorokannya kering."Aku nggak apa-apa ...."Kemudian pandangannya beralih ke Raka yang berdiri di ujung ranjang. Dia tampak sedikit terkejut."Pak Raka juga ada di sini."Ha
Melihat Brielle menangis, Harvis segera menghiburnya. "Nggak apa-apa. Sungguh, aku baik-baik saja.""Jangan bicara dulu, hemat tenagamu." Brielle menahan air matanya dan berusaha menenangkan diri.Di samping mereka, Cherlina sudah lebih dulu menghubungi polisi.Faye terduduk lemas di lantai. Dia mendongak menatap pria yang telah dicintainya diam-diam selama tiga tahun. Kini karena dirinya, tubuh Harvis berlumuran darah. Dunia seolah berputar di sekelilingnya. Jantungnya terasa seperti ikut ditembus garpu itu, begitu sakit hingga dia sulit bernapas."Kak Harvis ... Kak Harvis ... maaf ... maaf ...."Tanpa sadar dia merangkak mendekati Harvis, tetapi Cherlina mengulurkan tangan untuk menghalanginya. "Kamu masih berani manggil dia Kak Harvis? Kamu sudah nggak pantas mendekatinya lagi.""Maaf ... aku nggak sengaja ... aku benar-benar nggak ingin melukaimu ...."Faye menutupi wajahnya sambil menangis tersedu-sedu. Penyesalan yang begitu besar menelannya hingga tak mampu berpikir jernih.Tak
Brielle berbalik dan menatap Faye dengan dingin. "Kalau ada urusan, langsung saja katakan.""Aku dipecat karena kamu menghasut di depan Pak Raka, 'kan? Brielle, kamu benar benar licik. Mengandalkan kekuasaan mantan suamimu untuk seenaknya menindas karyawan Grup Pramudita. Kamu bangga sekali, ya?" Suara Faye menjadi tajam, wajahnya dipenuhi kebencian yang sudah lama terpendam terhadap Brielle."Faye, tolong jaga ucapanmu." Brielle berkata dengan dingin, "Kalau kamu nggak puas, silakan ajukan keberatan sesuai prosedur.""Memangnya ada gunanya? Seluruh Grup Pramudita milik mantan suamimu. Kalau dia mau memecatku, alasan apa pun bisa dipakai." Mata Faye dipenuhi rasa sakit dan kebencian."Brielle, berhenti berpura pura. Semua orang tahu sekarang kamu dekat lagi sama Raka. Mau mengandalkan putrimu untuk kembali jadi Nyonya Pramudita, ya? Kenapa? Mau balas dendam dengan memanfaatkan jabatan? Aku sudah nggak menghalangimu lagi, tapi kamu masih nggak mau melepaskanku? Masih ingin menendangku k
Raka mengajari putrinya bermain ski. Anya meluncur dengan sangat baik. Tekniknya juga cukup bagus.Sementara itu, Vivian lebih penakut. Dia bergerak dengan sangat hati-hati dan pelan.Setelah Brielle terjatuh tiga kali berturut-turut, Anya merasa tak tega melihatnya. Dia mendorong ayahnya dan berkat
Tak lama kemudian, Raline menelepon Devina dan memberitahunya bahwa dia telah membeli satu unit lain di Cloudwave Residence."Hah? Raline? Bukannya kakakmu sudah punya satu unit di sana?""Aku nggak mau tinggal di rumahnya. Aku juga bukan nggak mampu beli sendiri." Nada bicara Raline masih mengandun
Raline ikut terpengaruh oleh kisah pertemuan yang begitu romantis itu. Dia tersenyum dan berkata, "Ternyata kalian punya kenangan yang seindah itu. Sepertinya kakakku jatuh cinta pada pandangan pertama.""Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Raline penasaran."Lalu?" Devina berkata dengan sedikit malu
"Nggak ada pilihan, soalnya anaknya ada di tangannya. Dia juga menuntut kakakku membelikan kalung edisi terbatas yang dibuat khusus. Entah kakakku berutang apa padanya di kehidupan sebelumnya, sampai di kehidupan ini dia terus membayangi dan melekat pada kakakku."Tangan Brielle yang memegang gelas







