เข้าสู่ระบบRuntuhnya kepercayaan sering kali dimulai dari retakan-retakan kecil. Diamnya Raka dan keengganannya untuk menjelaskan, sama saja seperti pengakuan dan perlakuan dingin di mata Brielle. Dia mulai curiga, gelisah, dan meninjau kembali segala hal di antara mereka. Semua kemanisan dan keyakinan yang dulu dimilikinya, perlahan-lahan terkikis habis oleh rasa curiga dan kecewa.Dalam hal memahami hati manusia, Devina memang sangat tepat sasaran. Dia memanfaatkan sikap Raka yang tidak pernah menjelaskan dan rasa terlalu pedulinya Brielle, lalu merangkai kebohongan dan kesalahpahaman dengan sabar, hingga akhirnya membunuh cinta Brielle terhadap Raka."Devina, lagi mikirin apa?" panggil Freyna yang berada di sampingnya karena penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan wanita ini lagi.Devina tersadar, lalu memandang ke luar jendela. Tatapan matanya semakin dingin. Anya, yang dulu pernah dia manfaatkan sebagai alat, kini sudah tumbuh besar. Semua senjata yang dulu digunakan Devina juga kini tel
Perkataan Freyna memang cukup menghibur Devina, tetapi hatinya tetap terasa sesak. Dia terlalu mengenal Raka. Lelaki seangkuh itu, kalau tidak benar-benar peduli, mana mungkin mau merendahkan diri melakukan hal kecil seperti menjemput di bandara atau membawakan tas?Selama sepuluh tahun ini, Devina hanya pernah sekali meminta Raka membawakan tasnya. Waktu itu, Jay mengundangnya ke sebuah jamuan para konglomerat. Di ruang VIP ada dua pasangan keluarga kaya.Devina ingin berbaur dengan kelompok para nyonya kaya itu, jadi setelah sengaja menciptakan pertemuan "kebetulan" dengan Raka di parkiran, sebelum masuk ke ruang VIP, dia meminta Raka membawakan tasnya karena dia ingin merapikan rambut.Setelah Raka menerima tasnya, Devina pura-pura sibuk merapikan rambut dan sengaja tidak mengambil kembali tas itu, sampai mereka masuk ke ruang VIP dan kedua nyonya kaya tersebut melihat Raka membawakan tasnya masuk.Benar saja, malam itu kedua nyonya kaya tersebut langsung mendekatinya dengan ramah d
Demi memohon agar Jay membawanya menghadiri forum medis yang diminati Raka, dia bahkan bermanja-manja dan bersikap imut di tengah malam.Selama tahun-tahun itu, ke mana pun Jay, Raka, dan Lambert pergi, mereka selalu membawanya ikut. Bukan karena dia benar-benar diundang, melainkan karena dia diam-diam memohon pada Jay agar membawanya melihat dunia yang lebih luas.Saat itu, Jay selalu memenuhi semua permintaannya.Semakin lama berakting, kadang Devina benar-benar merasa dirinya adalah satu-satunya tuan putri di sisi ketiga pria itu.Perasaan dikelilingi oleh tiga pria papan atas seperti Raka, Jay, dan Lambert bagaikan candu paling memabukkan, membuat Devina tenggelam sepenuhnya.Meskipun dia tahu, Raka selalu menjaga jarak darinya, Lambert menghormatinya hanya demi Jay, sedangkan Jay sendiri hanyalah ban serap yang dia permainkan sesuka hati.Namun, tatapan iri dan kagum dari orang-orang luar, ditambah pemberitaan media yang penuh spekulasi, sangat memuaskan rasa gengsinya.Di depan m
Freyna biasanya selalu mendapatkan informasi media secepat mungkin, tetapi untuk berita yang dirilis hari ini, dia terus ragu apakah harus memperlihatkannya kepada Devina atau tidak.Bagaimanapun, belakangan ini suasana hati Devina sedang buruk dan emosinya juga tidak stabil.Namun, setelah memikirkan bahwa Devina sudah menyinggung Raka, dia tetap perlu mengetahui perkembangan terbaru pria itu.Akhirnya, Freyna membawa tablet ke lantai dua untuk mencarinya."Devina, ini berita media hari ini. Coba lihat," katanya sambil menyodorkan berita utama yang mencolok di layar tablet ke hadapan Devina.Awalnya Devina sedang bersandar malas di sofa sambil membolak-balik majalah mode terbaru dengan acuh tak acuh.Namun, ketika matanya menangkap judul berita yang menyilaukan itu, jari yang mencubit sudut halaman majalah langsung menegang kuat.Di sampingnya, Freyna mengamati ekspresinya dengan hati-hati. Devina melempar majalah ke samping, lalu mengambil iPad untuk melihat berita tersebut."Rujuk?"
Syahira sebenarnya sudah tidak berani bertanya lebih jauh lagi. Bagaimanapun, pekerjaan Brielle menyangkut rahasia tingkat tinggi.Dia pun bertanya, "Kalau kamu sudah nggak benci Raka lagi, terus ... kamu ... masih cinta dia?"Pertanyaan Syahira membuat Brielle tertegun beberapa detik. Namun, tatapannya segera kembali tenang dan jernih."Kamu mau dengar jawaban jujur?" tanya Brielle sambil tersenyum."Tentu saja. Aku mau dengar isi hatimu yang sebenarnya. Lagi pula semua masalah masa lalu Raka itu masih belum bisa kumaafkan." Syahira mendengus.Dalam benak Syahira, Raka masih tetap sosok pria berengsek yang selingkuh. Citra itu sama sekali belum bisa dibersihkan.Bagaimanapun, banyak hal yang terjadi pada Brielle selama hampir setahun terakhir juga tidak dia ceritakan kepada Syahira.Suara Brielle terdengar tenang tanpa sedikit pun keraguan. "Yang ada di kepalaku sekarang cuma jadwal eksperimen dan analisis data. Aku sudah sangat jelas dengan rencana masa depanku.""Jadi maksudmu di ma
Brielle lebih dulu naik untuk meletakkan laptopnya. Dia duduk sambil memeriksa email.Hari ini, Rowan dan Zondi kembali mendapatkan data baru. Brielle sudah tidak sabar membukanya untuk melihat hasilnya.Lima belas menit kemudian, sosok Raka muncul di depan pintu ruang kerja. "Minya sudah siap, turun makan dulu."Brielle mengangkat kepala dari layar komputer dan menatapnya. "Aku langsung turun."Brielle mengikuti Raka turun, satu di depan satu di belakang.Lastri sedang menghidangkan lauk kecil racikan spesialnya, sangat cocok disantap bersama mi. Di atas kedua mangkuk mi itu pun ada dua telur ceplok. Kuahnya kental dan harum, tampak sangat menggugah selera.Raka dan Brielle sudah makan masakan Lastri selama enam tahun, dan mereka sangat memuji kemampuan memasaknya.Dulu setelah Raka pulang dari perjalanan dinas, Lastri juga sering memasakkan makan malam untuknya, kebanyakan berupa mi.Setelah duduk, Brielle makan dengan tenang. Raka di seberangnya juga tidak mengajaknya berbicara. Ked
Brielle meminta Lastri menjemput putrinya sepulang sekolah, sementara dia sendiri berencana lembur di laboratorium hingga pukul sembilan malam.Sekitar pukul setengah enam, telepon dari Lastri masuk. Jantung Brielle langsung berdebar. 'Jangan-jangan terjadi sesuatu?'Dia segera mengangkat telepon, "
Devina tersenyum tipis. "Sebenarnya nggak ada apa-apa, hanya saja sayang sekali vas itu nggak bisa aku berikan untuk Nenek Emily, rasanya agak menyesal.""Aku harus kasih tahu Nenek soal ini. Aku ingin dia tahu seperti apa sebenarnya Brielle itu, biar dia sadar kalau cucu kesayangannya selama ini cu
Brielle melihat sekilas dan teringat waktu terakhir dia makan bersama Lambert. Mereka memang pernah makan hidangan ini. Dia pun pernah memuji rasanya waktu itu. Tak disangka Lambert sengaja meminta orang untuk menyiapkannya lagi kali ini."Waktu itu kamu bilang enak, jadi aku sengaja menambah menu i
Brielle memijat bagian kepalanya yang benjol dan menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, tadi cuma nggak sengaja kebentur."Tak lama kemudian, Raka dan Smith melangkah masuk ke ruang makan. Madeline meminta Cherlina untuk memesan makanan lebih dulu. Segera, hidangan pun tersaji dan mereka mulai makan samb







