LOGINAngel mendorong pintu toilet dengan kasar, langsung bertumpu pada pinggiran wastafel, dan memuntahkan cairan bening dari perutnya yang terasa diaduk-aduk.Tubuhnya bergetar hebat. Rasa mual itu begitu menyiksa, padahal pagi ini dia belum sempat menyantap sarapan apa pun selain segelas air putih.Setelah beberapa saat mereda, Angel menyalakan keran. Dia membasuh mulut dan wajahnya yang kini tampak pucat di pantulan cermin. Napasnya terengah-engah."Dua bulan...," bisik Angel pada dirinya sendiri. Tatapannya mendadak terpaku pada perutnya yang masih tampak rata di balik blazer kerja yang modis.Detak jantungnya yang semula perlahan normal, kini kembali berdegup brutal. Ingatannya berputar cepat pada malam-malam panas penuh gairah bersama Alexis sebelum kecelakaan tragis itu merenggut segalanya. Kontrak rahim buatan, hubungan tanpa status yang didasari cinta terlarang, dan kenyataan bahwa dia sudah terlambat datang bulan selama hampir enam minggu.'Tuhan, jangan sekarang,' batin Angel m
"Garis batas apa yang kamu maksud, Mbak Vio?" tanya Angel, menahan getaran di suaranya agar tetap terdengar tegap dan berkelas di hadapan sang Ice Queen. Dia melangkah maju, lalu duduk di sofa seberang Viona dengan punggung tegak. Keangkuhan alaminya sebagai putri tunggal pengusaha properti Kebayoran Baru dipaksa keluar sepenuhnya untuk membentengi hatinya yang sebetulnya sedang rapuh. Viona menatap Angel lekat-lekat, senyum tipis yang sarat akan dominasi terukir dingin di bibirnya. "Aku rasa kamu wanita yang cerdas, Angel. Kamu tahu persis apa maksudku," ucap Viona, nadanya datar tanpa emosi sedikit pun. "Aku ke sini untuk memintamu benar-benar meninggalkan dan melupakan Alexis. Anggap saja hubungan singkat kalian selama dua minggu ini tidak pernah terjadi. Mulai hari ini, jangan pernah memunculkan wajahmu lagi di hadapan adikku, baik di rumah sakit, apartemen, maupun kantor pusat." Mendengar permintaan yang kaku dan kejam itu, dada Angel bergemuruh hebat. "Meninggalkan Lexi
Untuk sesaat Rian terdiam, dia sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa. Masalahnya, Viona sudah memberikan ancaman secara tidak langsung jika sampai Rian mengatakan yang sejujurnya, Viona bisa memberikan tekanan pada keluarga besar Rian. Rian pun menggeleng, sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal dia pun menjawab, "Sembunyiin apaan, ngaco lo ah." Lexi menaikkan satu alis, memicingkan kedua matanya, meski jawaban Rian terdengar meyakinkan, entah kenapa Lexi tetap merasakan, sahabatnya menyembunyikan sesuatu padanya saat ini. "Gue selalu ngerasa, gue sama Clarissa nggak ada ikatan apapun, Yan. Perhatian yang dia berikan, entah kenapa gue merasa itu bukan perhatian yang tulus," ucap Lexi dengan nada datar. Rian menghela napas panjang, jangan sampai Lexi menemukan kejanggalan, Viona sudah mengatakan padanya dia tidak bisa memberikan Lexi untuk Angel. Bagi Viona, Angel meski berasal dari keluarga kaya raya, wanita itu sudah pernah menikah, dan juga dengan hubungan terlar
"Aku butuh berpikir jernih, kenapa Lexi bisa menjadi seperti itu," gumam Angel pelan di sela-sela isak tangisnya yang mulai mereda. Begitu dia melangkah masuk ke dalam ruang tamu raksasa berlantai marmer Italia tersebut, sepasang paruh baya berpenampilan aristokrat langsung bangkit dari sofa mewah mereka dengan raut wajah panik. Mereka adalah Haryo dan Rosa, Papa dan Mama kandung Angel yang merupakan pengusaha properti kelas kakap di Jakarta. "Angel! Astaga, kamu kenapa, Sayang?!" pekik Rosa langsung berlari memeluk tubuh gemetar putri tunggalnya. Dia mengusap punggung Angel yang masih terbalut mantel panjang, sementara Haryo menatap tajam dengan dahi berkerut dalam. "Papa sudah dengar semua kekacauan di pesta gala semalam, Angel! Si Baron berengsek itu benar-benar mempermalukan keluarga kita karena skandal wanita jadi-jadiannya!" geram Haryo dengan suara berat penuh wibawa. "Tapi kenapa penampilanmu sekusut ini? Dan kenapa matamu sembap seperti ini?!" Angel menggelengkan kepala
"Lexi, are you okay?" tanya Clarissa dengan wajah panik, berusaha meraih kembali lengan kekar pria itu.Lexi tidak menjawab. Denyut nyeri di kepalanya terasa begitu menyiksa, seolah ada palu raksasa yang menghantam batok kepalanya berulang kali dari dalam. Sepasang matanya berkedip kaku, menatap kosong ke ujung lorong sepi tempat aroma sabun mawar dan bayangan gaun zamrud Angel baru saja lenyap. Jantungnya berdegup brutal, memicu rasa sesak yang mencekik di dadanya."Ugh!"" Lexi mengerang rendah, tangannya bergerak kaku memegangi pelipisnya yang berbalut perban putih tebal.Pandangannya mendadak buram dan berputar liar. Kekosongan di dalam otaknya seolah menolak keras klaim kebohongan yang baru saja ditanamkan oleh Clarissa. Sebelum tubuh tegapnya sempat bertumpu pada dinding, kekuatan di kedua kaki jangkungnya lenyap total.Bruk!Tubuh tinggi besar Alexis Permana ambruk pingsan, jatuh terkapar di atas lantai marmer dingin koridor rumah sakit tepat di hadapan Viona dan Clarissa."Al
Mendengar kata-kata wanita murahan keluar dari bibir Clarissa yang tersenyum penuh kemenangan, emosi di dada Angel yang semula hancur lebur mendadak terbakar hebat. Rasa duka dan penyesalan karena sempat menyakiti Lexi seketika melebur menjadi amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun.Angel tidak sudi lagi menahan diri. Harga dirinya yang diinjak-injak oleh wanita asing di depan pria yang dicintainya benar-benar memicu instingnya untuk membalas, dia pun mengangkat satu tangannya dan.... Plak!Suara tamparan yang keras dan nyaring bergaung hebat memecah keheningan koridor VIP rumah sakit. Tamparan telak dari telapak tangan Angel mendarat dengan tepat di pipi mulus Clarissa Kensington, membuat kepala gadis blasteran London itu terkesiap menoleh ke samping kanan.Kekuatan tamparan Angel yang didorong oleh rasa cemburu dan amarah benar-benar sanggup membuat cengkeraman tangan Clarissa di pinggang Lexi terlepas seketika. Clarissa terhuyung mundur satu langkah sembari memegangi pipinya ya
"Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya
Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su
Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai
Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m







