ログイン"Gue mau lo, Paris. Gue suka sama lo," bisik River di depan bibir Paris yang mulai terbuka.
Sentuhan bibir mereka yang semula hanya berupa gesekan tipis yang menyiksa, dalam sekejap berubah menjadi lumatan yang dalam dan menuntut.Paris mencengkeram erat tubuh River, membiarkan seluruh sisa logikanya menguap bersama deru napas mereka yang kian memburu.Kata-kata River "Gue mau lo, Paris. Gue suka sama lo"-masih berdengung di kepalanya, bertindak sebagai pemantik gairah ySudah satu jam Paris terus menatap langit-langit kamarnya. Rintik hujan di luar terdengar berisik namun kebisingan di dalam kepala Paris jauh lebih melelahkan.Ia membalikkan tubuhnya ke kanan, menarik selimut hingga sebatas dada. Kalimat Manda di kantin siang tadi terus bergaung di kepala, berputar-putar seperti kaset rusak di dalam benaknya.“River itu tipe cowok yang nggak mau serius sama perempuan. Dia cuma suka main-main, nikmatin kenyamanan instan…”Paris memejamkan mata erat-erat, meremas ujung bantalnya dengan rasa sesak yang perlahan mulai kembali menggerogoti dada. Kata-kata itu terasa seperti peringatan dingin yang menuntutnya untuk bangun dari mimpi.Logikanya tahu Manda benar. Track record River di kampus adalah bukti nyata yang tidak bisa dibantah. Pria itu sedingin es, namun bisa berubah menjadi sangat hangat dan protektif saat menginginkan sesuatu.Paris mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir bayangan tatapan intens
Suasana kantin fakultas siang itu begitu riuh. Dentang sendok yang beradu dengan mangkok bakso berbaur bising dengan riuh rendah obrolan mahasiswa yang memadati area tersebut. Di meja sudut dekat jendela, Kenzie menggebrak meja pelan dengan dahi berkerut dalam."Gak bisa gitu dong, Fan! Bab tiga itu bagian lo yang nyusun analisis datanya. Kenapa malah dilempar ke gue lagi?" semprot Kenzie, menunjuk draf print kertas di atas meja dengan ujung sendoknya.Fandy yang sedang mengunyah bakso buru-buru menelan makanannya, lalu mendengus. "Gue kan bagian nyebar kuesioner kemarin, Ken. Lagian si Febby yang janji mau bantu olah data di SPSS, tanya aja tuh anaknya!""Ih, kok bawa-bawa gue?!" sahut Febby cepat, menjauhkan mangkok sotonya karena takut kecipratan kuah bakso Fandy. "Gue kan bagian nyari landasan teori di bab dua! Jangan numpuk semua kerjaan di gue ya!"Di tengah perdebatan sengit tentang tugas kelompok yang merajai meja, Paris memilih menarik di
Paris berdiri di sudut area parkiran motor yang mulai lengang, merapatkan jaket denim milik River yang masih membungkus tubuhnya. Aroma parfum pria itu yang menguar seolah menjadi tameng yang melindunginya dari rasa canggung akibat kasak-kusuk mahasiswa lain yang sesekali masih meliriknya. Jantungnya berdesir halus setiap kali ia mengingat pesan singkat di ponselnya beberapa menit lalu. Tak lama kemudian, suara deru mesin motor sport hitam yang berat memecah keheningan parkiran. River datang, mengendarai motornya dengan gestur santai namun teramat gagah. Begitu berhenti tepat di depan Paris, ia menurunkan kaca helm full-face hitamnya, menampilkan sepasang mata yang langsung menatap Paris dengan binar penuh arti. "Lama nunggunya?" tanya River, suaranya agak teredam helm namun tetap terdengar berat dan seksi di telinga Paris. Paris tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Enggak kok, baru beberapa menit.
Langkah kaki orang asing itu berhenti tepat di sekat rak sosiologi, hanya berjarak belasan sentimeter dari tempat River dan Paris bersembunyi. Suara gesekan buku yang ditarik dari jajarannya terdengar begitu nyaring di tengah keheningan perpustakaan.Paris membelalak panik. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam rongga dada, menciptakan taluan bertubi-tubi yang membuatnya yakin orang di luar sana bisa mendengarnya.Tubuhnya gemetar hebat di bawah himpitan tubuh tegap River yang menempel tanpa celah. Logikanya berteriak histeris membayangkan skandal apa yang akan terjadi jika mereka tertangkap basah dalam posisi seintim ini di area kampus.Menyadari ketakutan luar biasa yang melanda gadis di bawahnya, River bertindak cepat.Perlahan dan dengan gerakan yang teramat sangat halus, River menurunkan telapak tangan kanannya yang semula membekap mulut Paris.Namun, sebelum Paris sempat menarik napas lega, River segera menundukkan kepala, mengganti
Langkah kaki Paris terasa jauh lebih ringan saat ia memasuki gerbang kampus siang itu. Sisa-sisa kehangatan dari kecupan saat River pamit tadi pagi seolah masih melekat di kulitnya. Memberikan energi baru yang membuat Paris sering senyum tanpa sadar.Sepanjang koridor menuju kelas, ia tidak lagi merasa terbebani oleh tatapan orang-orang. Fokusnya sudah bergeser total pada satu nama yang kini menguasai seluruh isi kepalanya.Namun, realitas kampus segera menyentaknya kembali ke bumi.Di dekat area loker tengah, Paris melihat sebuah kerumunan kecil yang cukup bising. Di pusat keramaian itu, River sedang berdiri bersandar pada dinding, dikelilingi oleh teman-teman tongkrongannya dan beberapa mahasiswi dari fakultas sebelah yang tampak tertawa genit mendengar leluconnya.Pria itu kembali menjadi River yang populer, yang tidak tersentuh, dan yang ramah kepada semua perempuan.Paris menghentikan langkahnya sejenak. Dadanya mendadak terasa sedikit se
"Gue mau lo, Paris. Gue suka sama lo," bisik River di depan bibir Paris yang mulai terbuka.Sentuhan bibir mereka yang semula hanya berupa gesekan tipis yang menyiksa, dalam sekejap berubah menjadi lumatan yang dalam dan menuntut.Paris mencengkeram erat tubuh River, membiarkan seluruh sisa logikanya menguap bersama deru napas mereka yang kian memburu.Kata-kata River "Gue mau lo, Paris. Gue suka sama lo"-masih berdengung di kepalanya, bertindak sebagai pemantik gairah yang membakar habis sisa-sisa keraguannya.River mencengkeram erat tengkuk Paris, memperdalam ciuman mereka dengan ritme yang posesif namun teramat lembut. Paris mengerang rendah di sela tautan bibir mereka ketika River perlahan membimbing tubuhnya untuk bangkit dari sofa.Tanpa memutuskan ciuman, River menuntun langkah Paris yang sedikit sempoyongan masuk ke dalam kamar utama yang remang.Begitu tubuh Paris menyentuh permukaan kasur yang empuk, River merangsek maju, me







