Share

The Devil

Author: Do Hawu
last update publish date: 2024-02-11 13:19:40

Aku selalu merasa bahwa hidupku tenteram. Namun sekarang tidak lagi. Ketika kata 'pecat dia' menghantuiku hingga aku tidak tidur sama sekali sepanjang malam.

Jadi, dengan kantung mata tebal ini, aku menatap cupcake yang masih panas, baru saja mengeluarkan kue ini dari oven. Setelah dipanggang, aku dinginkan sebentar sebelum mulai menghiasnya dengan butter cream hijau dengan taburan coklat di atasnya.

'Cupcake ‘penghapusan dosa’ ini terlihat menggiurkan, bahkan untuk diriku sendiri. Ternyata memiliki hobi membuat kue ini ada untungnya juga. Mungkin dengan ini, aku bisa menyogok Pak Archer agak tidak memecatku.

Sekali lagi aku memeriksa cupcake. Semuanya sudah rapi di dalam box. Semoga Pak Archer mau menerima ini.

"Kalau tidak diterima, mungkin aku akan memikirkan lebih serius jadi pembuat kue di sosmed," gumamku sambil pura-pura menangis.

Dalam hati aku berdoa agar dia mau memaafkanku dan tidak jadi memecatku. Kinerjaku selama ini bagus dan harusnya ini bisa menjadi bahan pertimbangannya.

Jadi aku melangkah pasti dan percaya diri ke Swift Enterprise. Gedung tinggi ini mengintimidasi seperti pemiliknya.

Tapi aku tidak gentar. Ini demi hidup dan kehidupanku, demi mimpi untuk membangun sebuah toko kue. Karena aku yakin tidak ada lagi tempat yang membayar tukang bersih-bersih dengan gaji sebesar itu.

Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kegugupan menjalar di sepanjang punggungku, keringat dingin membasahi pelipis. Dalam hati aku menguatkan hati.

'Sekarang atau tidak sama sekali.'

Aku memasuki ruangan, ruangan besar dengan nuansa hitam ini sejujurnya membuatku merasa kecil. Dan membuatku semakin gelisah karena ternyata tidak ada orang sama sekali.

Bahkan sekertaris Pak Archer pun tidak ada di tempat. Biasanya tempat itu tidak pernah kosong.

Tapi ini sudah hampir satu jam aku menunggu di dalam ruangan ini, aku bahkan sudah mengantuk berat.

Inilah akibatnya jika tidak tidur sama sekali. Aku jamin, aku terlihat seperti ayam yang terkena penyakit.

"Ngapain kamu di sini?!"

Ugh. Aku benci melihat tatapan jijik yang begitu menyebalkan dari Pak Archer. Dia melihatku seakan aku adalah serangga yang harus di basmi.

'Aku takut.'

Aku menipis pikiran itu, dan menatapnya mantap.

"Pak Archer, saya minta maaf dan izinkan saya tetap bekerja di sini."

Aku menunduk dan menyerahkan kotak kue ke hadapannya.

Tapi, dengan satu hantaman, dia menghancurkan harapanku.

Cupcake yang ku buat sepenuh hati tergeletak di lantai tidak berbentuk.

"Keluar sekarang!" bentaknya.

Tanpa sadar aku mengeluarkan air mata.

'Oh Tuhan, kenapa hidupku begitu sulit.'

Aku kesal setengah mati karena tidak dihargai. Aku ingin memukulnya hingga ia meminta maaf.

PLAK!

Dan tanpa sadar satu tamparan melayang, tepat mengenai pipi kanan Pak Archer.

Aku tidak sadar sama sekali dengan apa yang aku lakukan. Aku tidak menyangka bahwa yang aku pikirkan di realisasikan oleh tubuhku secara nyata. Bahkan tanganku yang menghantam pipinya terasa panas.

Kali ini aku sungguhan akan hancur. Pak Archer marah, ia terlihat menakutkan.

Tatapannya tajam, menghunus hingga rasanya aku kehabisan napas. Aku tidak pernah setakut ini dalam hidup. Rasanya aku sedang berhadapan dengan malaikat maut.

"Berani-beraninya kamu!" Suara rendah yang begitu dingin, tapi jemarinya yang sudah meremas rahangku begitu hangat.

Ia siap membumi hanguskanku.

"S-saya, saya minta maaf." Hanya itu yang bisa aku keluarkan. Aku seperti tikus terjepit. Mencicit dan memohon pengampunan.

"Kau akan menanggung akibatnya karena sudah mengusikku." Itu ancaman paling pasti yang pernah aku dengar.

"T-tapi saya tidak bermaksud mengusik bapak."

Entah kenapa pernyataan itu keluar begitu saja. Mulutku ini memang tidak bisa di ajak kerjasama. Tapi, hei, aku tidak akan mengusiknya jika ia tidak memecatku.

"Apa kamu bilang?" Suara Pak Archer masih terdengar begitu dingin.

Seandainya tatapan bisa membunuh, aku yakin aku sudah tidak bernyawa dari tadi.

"Seandainya b-bapak mengijinkan saya b-bekerja di sini lagi, s-saya janji s-saya hanya akan bekerja dan tidak akan mengganggu bapak." Cengkeraman di rahangku semakin mengeras.

"Saya butuh pekerjaan, Pak." Aku menambahkan dan berusaha membujuk.

"Pak, rahang saya sakit." Aku berusaha melepas cengkeramannya, tapi tidak membuahkan hasil. Wajahnya semakin mendekat, tapi jemarinya masih terasa kuat di rahangku. Hembusan hangat menerpa wajahku.

"Berani-beraninya kamu menyalahkan saya." Dan akhirnya Pak Archer melepaskanku. Wajahku rasanya kebas. Aku menggerakkan mulutku, rasanya sakit.

Argh, ini pasti akan memar.

Pak Archer sudah duduk di singgasananya. Aku melangkah untuk bisa berhadapan dengannya.

Masih ada harapan.

"Jadi, Pak. Saya bisa kerja di sini lagi, kan?" Aku tersenyum semanis mungkin.

Tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Yang dilakukannya adalah menekan tombol di telepon.

"Panggil Eve masuk." Pak Archer memberi perintah. Aku tidak yakin Eve itu siapa. Tapi apakah mungkin itu adalah sekertarisnya.

Dan seorang wanita cantik masuk terburu-buru. Wajahnya pias, kaget karena ada kehadiran orang lain di ruangan ini selain pemiliknya.

"Jelaskan padaku bagaimana dia bisa masuk di dalam ruanganku dan bahkan bisa sampai tertidur?" Wajah Pak Archer mengeras. Tatapannya beralih pada Eve yang sudah pucat pasi.

Oh ya Tuhan, apakah aku membawa masalah untuk orang lain?

"Saya minta maaf, Pak. Saya tidak tahu." Pak Archer menghembuskan napasnya kasar.

"Hah. Saya menggaji Anda agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke ruangan saya tanpa seizin saya. Bagaimana bisa kamu melalaikan tugasmu itu?"

Argh, aku emosi. Amarahku sudah memuncak di ubun-ubun kepala dan siap meledak.

"Saya akan keluar. Saya janji tidak akan masuk sembarangan lagi, Pak. Ini bukan kesalahan sekertaris Bapak. Ini saya salah, sepenuhnya saya yang bersalah." Dan tatapan jijik itu kembali di perlihatkan.

"Siapa kamu berani menyela pembicaraan saya?" Aku menutup mata menahan singa di penuhi dengan amarah di dalam diri.

"Eve. Kamu saya pecat."

"T-tapi Pak. S-saya...."

"Keluar sekarang atau saya panggil pihak keamanan." Eve berusaha tegar, tapi ia tidak bisa menyembunyikan airmatanya yang menetes seperti hujan.

Dan aku merasa bersalah.

"Eh, Pak. Kok gitu, sih?"

"Kenapa? Kalau dia di pecat itu sepenuhnya salah kamu karena berani masuk ke ruangan saya."

Oh, aku sungguh tidak bisa menahan lagi emosi ini. Jadi kali ini melangkah mendekatinya dengan cepat mengambil tangannya lalu menggigitnya dengan keras.

Hah, biar tahu rasa dia.

Aku mendengar teriakan putus asanya dan berusaha melepaskan tangannya, tapi aku pun melawannya dan berusaha menggigitnya dengan lebih keras.

Bruk!

Pak Archer berontak dan berusaha bangun dari tempat duduknya, namun karena gerakan itu begitu tiba-tiba aku tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhku dan kami terjatuh dengan aku yang berada tepat di atas tubuh Pak Archer.

Lebih tepatnya tepat di bagian tubuh bagian bawah.

BAGIAN BAWAH!

Bahwa yang ku masksudkan dengan bawah adalah 'bawah yang itu.'

Tepat di tengah paha Pak Archer. Wajahku tepat di gundukan celana yang mulai mengeras perlahan.

Hening sesaat sebelum aku mendengar umpatan frustasi dari Pak Archer.

"Oh, shit."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CEO Arogan yang Menginginkanku   Wajah dalam Foto Lama

    Pagi berikutnya, mansion terasa lebih tenang dari biasanya, seolah semua orang di dalamnya masih memulihkan diri dari ketegangan semalam. Aku bangun lebih awal, memutuskan untuk menyelesaikan tugas yang tertunda kemarin, mencari buku resep Prancis yang sempat disebutkan Archer di perpustakaan sebelum momen di rak buku itu terpotong oleh telepon mendadak. Suasana pagi yang sunyi terasa seperti kesempatan langka untuk menenangkan pikiran sebelum hari yang sibuk dimulai.Perpustakaan masih sepi ketika aku tiba, cahaya pagi menerobos lembut lewat tirai tipis, menciptakan garis-garis emas di atas lantai kayu. Aku menaiki tangga kecil yang masih tersandar di tempat yang sama seperti kemarin, kali ini dengan lebih hati-hati, mengingat kejadian yang hampir terjadi di sana.Buku itu akhirnya kutemukan, terselip di antara jilid-jilid tebal lainnya, sampulnya berwarna krem pudar dengan tulisan emas yang sudah mulai memudar. Aku menariknya perlahan, namun ketika aku menurunkannya, sesuatu terseli

  • CEO Arogan yang Menginginkanku   Telepon dari Masa Lalu

  • CEO Arogan yang Menginginkanku   Rak Buku Paling Atas

  • CEO Arogan yang Menginginkanku   Angka-Angka yang Tidak Berperasaan

    "Ricardo ingin aku membujukmu untuk menjual sahammu sekarang," Vivienne memulai, suaranya lebih stabil dari yang kuduga, meski tangannya masih sedikit gemetar di atas pangkuannya. Cahaya lilin di meja makan berkedip pelan, membuat bayangan wajahnya bergerak-gerak seolah ikut gelisah dengan apa yang akan diucapkannya. "Bisnisnya sedang di ambang kebangkrutan, Archer. Ia butuh dana segar, dan menurutnya, cara tercepat adalah dengan mencairkan saham warisan orang tua kita."Archer diam sejenak, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, topeng dingin yang sudah sangat kukenal kembali terpasang sempurna. "Dan kau setuju dengannya?""Aku tidak tahu," jawab Vivienne jujur, matanya menatap lurus ke arah Archer tanpa berkedip. "Ricardo adalah saudaraku, dan aku ingin membantunya. Tapi aku juga tahu, kalau saham itu dijual sekarang, dengan harga pasar yang sedang jatuh, kita berdua akan kehilangan lebih dari separuh nilai sebenarnya.""Jadi kau datang ke sini bukan hanya untuk urusan warisan,

  • CEO Arogan yang Menginginkanku   Yang Tak Terucap

    Dapur masih ramai ketika aku tiba, namun begitu Chef Marco melihat wajahku, ia langsung menghentikan pekerjaannya sejenak, matanya menyipit penuh selidik. Beberapa asisten dapur melirik sekilas sebelum kembali sibuk dengan tugas masing-masing, seolah sudah terbiasa dengan drama-drama kecil yang sesekali muncul di antara jajaran pelayan mansion ini."Kau kelihatan seperti baru saja mendengar seluruh riwayat hidup seseorang," komentarnya sambil mengambil nampan dari tanganku."Kurang lebih begitu," gumamku, tidak berniat menjelaskan lebih jauh. Beberapa rahasia memang lebih baik disimpan sendiri, terutama yang menyangkut luka orang lain yang tidak seharusnya kuketahui.Chef Marco tidak mendesak, hanya mengangguk paham, seolah sudah terbiasa dengan penghuni mansion ini yang selalu menyimpan lebih banyak dari yang mereka tunjukkan. Aku membantu sebentar di dapur, mencuci beberapa peralatan, mencoba menyibukkan tangan agar pikiranku berhenti berputar pada kata-kata Vivienne yang masih meng

  • CEO Arogan yang Menginginkanku   Percakapan dari Wanita ke Wanita

  • CEO Arogan yang Menginginkanku   Bad Habit

    Aku akui bahwa sebagai seorang perempuan, aku punya kelakuan yang cukup kasar dan sedikit terlihat maskulin. Cara jalanku tidak seperti perempuan feminin lainnya, suaraku rendah seperti suara laki-laki pada umumnya. Paling parah adalah aku punya kebiasaan untuk bernyanyi di kamar mandi seperti seda

  • CEO Arogan yang Menginginkanku   Fiancé

    “Aku tidak tahu dia akan mampir kesini. Bukankah dia baru tiba?” Pak Ardy mengangguk.“Benar, Tuan Muda. Dari bandara Nona Felicia langsung menuju ke sini.” Archer memakai jam tanganya.Sungguh aku sangat penasaran dengan perempuan bernama Felicia ini. Aku menahan diri untuk tidak bersuara, untuk ti

  • CEO Arogan yang Menginginkanku   I Don't Love Drama, It Loves Me

    Terkadang aku merasa begitu relate dengan lagu dari salah satu penyanyi pop yang sedang naik daun saat ini. Kabarnya penyanyi itu sedang mengadakan tour dunia. Ya, aku tidak peduli sih. Karena tidak ada hubungannya denganku.Ku akui beberapa lagunya memberikan semangat lebih untuk menjalani hari ya

  • CEO Arogan yang Menginginkanku   Morning Drama

    “Hah? Saya, Pak?”Ia mengangguk. Aku melirik tempat tidur besar di tengah kamar.Ada iblis yang pulas dan tugasku adalah membangunkan iblis itu. Aku menelan ludah kasar.Aku melangkah perlahan mendekat. “Bagaimana saya harus membangunkan tuan muda, Pak Ardy?”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status