تسجيل الدخول"Apa kamu sudah gila?"
Adrian mendorong bahu Kilaara hingga punggung wanita itu menabrak pintu mobil di belakangnya. Adrian refleks melakukan itu karena Kilaara yang tiba-tiba mencium dirinya. "Aw, kasar banget sih." Kilaara mengaduh kesakitan sembari mengusap punggungnya sesekali. Dari sorot matanya yang khawatir, Adrian tampak merasa bersalah sudah menyakiti Kilaara, namun ia segera mengganti ekspresinya menjadi tak acuh. Adrian berdeham singkat sebelum melanjutkan ucapannya, "itu salah kamu sendiri yang tiba-tiba menyergap saya." "Tapi gak usah sekeras itu juga kali Pak dorong saya sampe kepentok pintu. Masih nyeri tau." Kilaara paham kalau tindakan Adrian terlalu spontan akibat dia terkejut setelah Kilaara menyerangnya. Namun tetap saja Adrian tak perlu sekasar itu. Adrian segera mengalihkan pembicaraan sebelum Kilaara mengoceh lagi, "saya tidak peduli caranya seperti apa, yang jelas kamu harus tanggung jawab." "Berarti bapak setuju kalau kita wik-wik lagi gitu?" timpal Kilaara seraya bersedekap dada. Karena ucapannya yang asal ngomong, Adrian berusaha menahan tawa. Untung saja ia bisa segera menutupinya. "Tentu saja tidak. Apa kamu pikir saya tidak punya harga diri?" "Jadi maksud bapak, saya yang gak punya harga diri gitu?" Kilaara tidak terima kalau dia dipandang rendah oleh Adrian. Padahal kejadian malam itu dilakukan oleh dua orang, namun Kilaara merasa hanya dia di sini yang disalahkan. Tidak adil bukan? Seharusnya, Kilaara yang minta tanggung jawab pada Adrian, karena dia yang rugi. Sudah hilang perawan, badannya sakit semua lagi. Hari ini saja, rasanya Kilaara tidak tahan menahan nyeri di pangkal pahanya. Seberapa dashyat percintaan mereka sih sampai ia susah berjalan. "Saya tidak bilang begitu." "Ugh, situasi ini nyebelin banget deh. Serius pak, apa kita gak bisa ngelupainnya aja? Kita anggep itu gak sengaja terjadi biar gak keterusan kayak gini," ujar Kilaara yang ketara sudah menyerah untuk berdebat dengan Adrian. Dia bingung kenapa Adrian tidak mempermudah hal yang sepele ini. Kilaara menatap Adrian yang terlihat kecewa setelah mendengar ucapannya. Apalagi dengan Adrian yang tiba-tiba membisu tak mau menjawab. "Jangan-jangan, bapak jatuh cinta pada saya ya?!" tembak Kilaara. "Itu tidak mungkin terjadi." Kilaara mendengus kesal. Padahal dia bercanda lho, tapi Adrian langsung tegas menolaknya. Dia agak sakit hati. "Jadi kenapa bapak bersikeras seperti ini?" Adrian cukup lama meresponnya. Ia ingin Kilaara tahu kalau sejak istrinya meninggal, dia tidak lagi berhubungan dengan wanita manapun. Ia tidak mau bersentuhan dengan wanita selain istrinya. Tapi jika Adrian menjawab seperti itu, Kilaara mungkin akan menertawainya. Entah kenapa, Adrian merasa gengsi di depan Kilaara. "Sudahlah, kamu tidak perlu tahu alasannya. Lebih baik kamu pikirkan bagaimana cara bertanggung jawab pada saya. Besok saya akan tagih di kantor," ujar Adrian seraya membuka kunci pintu mobil, "keluar sana." "Dih gak jelas. Sendirinya yang nahan saya di sini." Tanpa babibu lagi, Kilaara segera keluar dari mobil Adrian dan mengempaskan pintunya dengan keras. Adrian sampai kaget dibuatnya. Memangnya mobil dia ini angkot? "Saya tunggu besok!" ucap Adrian cukup keras sebelum memutar mobilnya kembali ke jalan raya. "Bodo amat, weee." Kilaara memeletkan lidah dan belari menuju rumah kosnya. Adrian tidak menyangka kalau Kilaara bisa berekspresi lucu seperti itu. Tanpa disadari, Adrian pun tersenyum kecil. *** "Nebeng dong Ver. Motor gue lagi di bengkel nih." Kilaara menahan tangan Vero, teman sekosnya yang hendak pergi kerja. "Gak bisa Ra, bentar lagi gue telat nih. Apalagi arah kantor lo dan kantor gue kan berlawanan!" Vero menepiskan tangan Kilaara, "loe ikut Lila aja sama cowoknya." "Ogah deh, gue gak mau jadi obat nyamuk!" Kilaara menggeleng cepat, "please deh Ver, sekali ini aja." "Gak bisa. Lo naik ojek aja." Vero pun tancap gas dan meninggalkan Kilaara yang terbengong tak percaya. Dasar temen kampret, pengennya pas enak doang! Kilaara mendesah berat, mau tak mau dia memesan ojek online untuk pergi ke kantor. Dia pun mengutuk ban motornya yang pecah kemarin. Dua-duanya lagi, seolah memang ada yang sengaja mempermainkannya. Aduh, gak boleh suudzon Kilaara. Anggep aja kemarin hari sial. Pokoknya hari ini terakhir naik ojek. Besok-besok Kilaara akan merawat motornya secara sempurna supaya dia tidak buang-buang duit buat ongkos. Entah berapa lama Kilaara dibonceng bapak-bapak ojol yang helmnya bau minyak rambut ini, akhirnya dia sampai di depan kantor tempat dia mencari uang. Rencananya sih, Kilaara mau ambil motor di bengkel dekat kantornya pas istirahat makan siang saja. Kalau sekarang, sudah pasti dia akan telat. "Oy!" Pundak Kilaara ditepuk dari belakang. Sontak wanita berambut panjang itu menoleh, ternyata Leo, si bujang ganteng tapi belok. "Napa?" tanya Kilaara ketus. "Ya elah, pagi-pagi udah masem aja tuh muka." Leo pun berjalan bersisian dengan Kilaara saat masuk ke area kantor. "Kenapa lo naik ojek? Motor lo kemana?" "Bengkel. Apes banget gue, ban motor gue dua-duanya kempes. Mana lembur sampe malem gue kemaren." Leo pun terbahak, bukannya sedih melihat penderitaan teman, dia justru senang melihat Kilaara kesusahan. Selain Vero, Leo juga masuk ke daftar teman kampret. "Jadi gimana lo balik?" "Dianter Pak Adrian," jawab Kilaara tanpa minat. Uhh, kalau kembali ingat soal percakapannya bersama Adrian semalam, Kilaara jadi badmood. "Hah serius? Ini Pak Adrian yang kita tau kan? Apa ada nama Adrian lain?" Leo tampak tak percaya dengan ucapan Kilaara. "Siapa lagi lah kalau bukan CEO kita. Lo kira di kantor ini nama Adrian banyak gitu?" Kilaara menaiki tangga menuju lantai dua berada. Maklum, kantor cabangnya ini termasuk kecil, hanya terdiri dari dua lantai saja. Kalau kantor pusat, jangan ditanya. Kantor mereka berada di dalam gedung pencakar langit yang lagi famous sekarang. "Gile hebat banget lo dapet tumpangan dari bos. Tapi cuman khayalan tingkat tinggi lo kan?" tuduh Leo sambil menyeruduk pundak Kilaara. "Kalo gak percaya, ya udah. Ngapain juga gue bohong." "Iye iye, gue percaya banget kalo lo bohong kok." "Sialan!" Kilaara tidak tahan untuk memukul perut Leo. Namun rencananya itu batal dilakukan karena teman-temannya sedang heboh bergosip di satu tempat. Entah lagi membicarakan apa. Baik Kilaara maupun Leo, mereka langsung ikut menimbrung mereka. "Ada apa nih? Apa yang seru?" tanya Leo penasaran. Kilaara hanya mendengarkan tanpa ikut bicara. "Kalian gak tau ya? Katanya ada pertukaran pegawai dari kantor pusat ke sini," jawab Winda, salah satu biang gosip di kantornya. "Serius? Siapa siapa? Gue mau lah pindah, suntuk banget di sini," ucap Leo menimpali. "Kata siapa sih Win?" Kilaara mulai merasa curiga. Jangan bilang ini rencana Adrian. "Barusan gue nguping dari kantor Bu Romlah." Winda lalu menceritakan tentang acara mengupingnya di depan kantor SPV mereka. Sepertinya, atasannya itu sedang menelepon seseorang dan membicarakan tentang topik pertukaran pegawai. Kilaara menggigit jari tangannya gugup. Sudah pasti Adrian yang mengutus ide ini untuk meminta pertanggungjawaban darinya. Pikir saja, tidak mungkin Adrian akan di kantor cabang kecil ini selamanya, jadi dia melakukan segala cara untuk membawa Kilaara ke kantor pusat supaya selalu dekat dengannya. Ah, hidup tenang Kilaara terancam hancur. Bisa tidak sih, Kilaara berharap kalau pegawai yang akan ditukar itu bukan dirinya?Kilaara tak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Adrian terus menciuminya seolah-olah ciuman itu adalah napas terakhirnya untuk hidup. Ciumannya begitu menuntut, bergairah, dan membuatnya gerah. Kilaara kira, Adrian hanya berbohong saja saat dia bilang ciuman ini cuma permulaan, ternyata pria itu tidak main-main dengan ucapannya.Adrian mengecup kulit leher Kilaara berkali-kali namun dia tidak mencecapnya. Dia hanya mengecup dan menjilat sedikit demi sedikit hingga Kilaara menggelinjang geli. Entah sudah berapa kali Kilaara mendesah di dalam mobil yang terparkir di area basement sepi itu."Pak Adrian..." Kilaara meremas rambut Adrian yang lembut saat pria itu membuka kancing kemejanya satu per satu. Seolah sudah handal melakukannya, tangan Adrian merambat ke punggung Kilaara dan membuka pengait bra milik Kilaara. "Eh Pak Adrian. Gak. Saya malu.. Ahh..." Adrian tidak melepaskan bra Kilaara namun ia hanya menaruhny
Perkara satu malam saja, masalahnya bisa sepanjang ini. Kilaara akui, dari semua orang yang dia kenal selama dua puluh tiga tahun, Adrian Sachdev adalah pria yang paling merepotkan, menyebalkan, dan ingin menang sendiri. Pokoknya Kilaara serba salah menghadapinya. Belum cukup untuk membuatnya pusing memikirkan bagaimana cara bertanggung jawab atas malam itu, kini Kilaara semakin linglung karena Adrian seenaknya memindahkan dia ke kantor pusat. Kilaara tidak tahu maksud dan tujuan Adrian melakukan itu, mungkin memang benar dugaannya kalau Adrian sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Jika tidak, alasan apa lagi coba? Tidak mungkin kan Adrian ingin mengikat dirinya supaya tidak lari kemana-mana. “Parah sih kalo bener, ngeri ah,” batin Kilaara. Dia ingin berpikir positif saja saat ini. Bahkan bagus dong kalau dia dipindahtugaskan ke kantor pusat, karirnya akan lebih berkembang dan ia bisa bertemu orang-orang baru yang lebih profesional. "Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Aduh, K
"Apa kamu sudah gila?" Adrian mendorong bahu Kilaara hingga punggung wanita itu menabrak pintu mobil di belakangnya. Adrian refleks melakukan itu karena Kilaara yang tiba-tiba mencium dirinya. "Aw, kasar banget sih." Kilaara mengaduh kesakitan sembari mengusap punggungnya sesekali. Dari sorot matanya yang khawatir, Adrian tampak merasa bersalah sudah menyakiti Kilaara, namun ia segera mengganti ekspresinya menjadi tak acuh. Adrian berdeham singkat sebelum melanjutkan ucapannya, "itu salah kamu sendiri yang tiba-tiba menyergap saya." "Tapi gak usah sekeras itu juga kali Pak dorong saya sampe kepentok pintu. Masih nyeri tau." Kilaara paham kalau tindakan Adrian terlalu spontan akibat dia terkejut setelah Kilaara menyerangnya. Namun tetap saja Adrian tak perlu sekasar itu. Adrian segera mengalihkan pembicaraan sebelum Kilaara mengoceh lagi, "saya tidak peduli caranya seperti apa, yang jelas kamu harus tanggung jawab." "Berarti bapak setuju kalau kita wik-wik lagi gitu?" timpa
Benarkah pria yang tidur dengannya malam itu adalah bosnya sendiri? Itu tidak mungkin terjadi kan. Bukankah kebetulan yang sangat menyenangkan—ah maksud Kilaara, kebetulan yang sangat sial itu hanya terjadi di novel romansa saja. Tetapi kalau mereka tidak melakukannya, tidak akan mungkin Adrian yang terkenal angkuh dan sombong ini berani mencium karyawannya sendiri. Apalagi Adrian memegang teguh pendirian bahwa tidak boleh ada skandal antara bos dan bawahnnya di kantor. Kepala Kilaara pusing memikirkan itu, ditambah lagi dengan sapuan lembut di bibirnya yang sudah lenyap saat tubuh Adrian menjauh dari sisinya. Kilaara hanya bisa menghirup rakus aroma parfum maskulin setelahnya. Entah perasaan darimana, Kilaara ingin dicium lagi. Astaga, tidak-tidak! Kilaara sontak menggelengkan kepalanya. Apa yang baru saja dia harapkan? "Hm. Ehmm.." Kilaara memulai percakapan karena Adrian memilih diam setelah mencium bibirnya, "maksud bapak— yang semalam itu, saya yang menghabiskan satu
Gak enak. Kaku. Tegang. Begitulah suasana kantor Kilaara seharian ini karena bos mereka yang terlihat dingin nan kejam itu terus mengawasi gerak-gerik mereka seperti harimau yang mengintai rusa sebagai mangsanya. Satu sama lain mulai menyalahkan masing-masing atas tingkah aneh dari CEO Sachdev tersebut, dan mereka mulai berpikir jika ada seseorang yang membuat beliau marah pada pesta tadi malam. Tanpa sepengetahuan Adrian yang berdiri di depan pintu dengan gaya angkuh—kedua tangan terlipat di depan dada dan kakinya yang menyilang—beberapa karyawan yang sepertinya tampak sibuk akan pekerjaan mereka di depan komputer, ternyata heboh mengetik hujatan dan tuduhan di grup. "Ngaku aja deh siapa yang bikin bos marah? Sumpah daritadi gue gak tenang!" "Bukannya lo yang paling kurang ajar semalem? Kan lo yang ngajak pak bos karoke?" "Gue ajak beliau juga kan ditolak." "Gue sama sekali gak ngapa-ngapain ya. Gue cuman nyapa beliau. Udah." "Iyaaaa!! Bukannya bos juga ngilang setelah hampi
Kilaara membatu. Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya. Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukannya berdesir karena jatuh hati, melainkan rasa takut. Yang benar saja, pahanya bergetar lirih saking ingin kabur dari lantai yang ia pijak saat ini. "Se-selamat pagi Pak Adrian," gagap Kilaara sembari menundukkan kepalanya dengan sopan. Dalam hati, dia berdoa dan berharap jika Adrian tidak menyadari betapa kusut penampilannya. Dibandingkan dengannya, sosok Adrian berhasil membuatnya terpukau. Kilaara akui, bosnya yang berstatus duda tampan ini memiliki kharisma yang luar biasa. Padahal Adrian hanya diam saja, tetapi auranya itu lho meluap-luap sampai tumpah."You look different," ucap Adrian lirih sehingga Kilaara susah mendengarnya."Hah?" Kilaara spontan menutup mulutnya. Bodoh! Bodoh! Ken







