ログイン“Menurut Daddy, besok Ratu pakai bando yang warna apa?” Ratu berdiri di depan ayahnya sambil mengangkat dua bando yang baru dibelinya bersama sang ibu. “Pink atau merah?”
Radja menurunkan pandangannya, memperhatikan kedua bando itu dengan saksama. “Kamu pakai warna apa pun tetap cocok, Nak. Tetap cantik.” Senyum Ratu langsung mengembang lebar. “Makanya itu, Daddy yang pilih satu.” “Merah aja,” sahut Narendra dari siDjiwa hanya mampu mengangguk lemah, meski hatinya menolak. Langkah kaki kecil anak-anaknya semakin mendekat. Ratu yang paling duluan berlari, diikuti Regan dan Naren di belakangnya. “Daddy!” seru Ratu, langsung memanjat ke atas ranjang dan memeluk tubuh ayahnya tanpa ragu. Radja tersenyum tipis. Tangannya otomatis merangkul putri kecilnya itu. “Iya, sayang ….” Sementara itu, Regan dan Naren berdiri di sisi ranjang, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh tanya—terutama saat melihat mata ibunya yang masih sembab. “Mommy kenapa?” tanya Regan, keningnya berkerut tipis, menatap wajah ibunya yang masih menyisakan jejak air mata. “Mommy nangis, ya?” sambung Naren, suaranya lebih polos, sedikit meninggi karena khawatir. Djiwa melirik Radja sekilas. Tatapannya rapuh, seolah meminta bantuan tanpa suara. Radja menghembuskan napas pelan, lalu menepuk lembut punggung Djiwa sebelum mengalihkan perhatiannya pada ketiga anaknya. “Mommy gak kenapa-kenapa,” ucapnya tenang. “Tadi Dadd
Radja mengusap lembut bahu Djiwa yang masih bergetar dalam tangis. Tubuh mereka berbaring berdampingan di atas brankar rumah sakit, dalam diam yang terasa menyesakkan. “Ssstt ….” bisik Radja pelan, suaranya rendah, sarat rasa bersalah. Tangannya terangkat, menghapus jejak air mata di pipi istrinya yang tak kunjung berhenti mengalir. Namun Djiwa perlahan bangkit. Ia duduk, berhadapan dengan Radja. Tatapannya kosong, rapuh, tapi menyimpan ribuan pertanyaan yang menyesakkan dada. “Ini gak masuk akal, Mas,” suaranya lirih, bergetar. “Gimana bisa kamu kena edema otak, dan langsung divonis waktu kamu gak lama lagi?” Ia menggenggam tangan Radja erat. Dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang masih bernapas di hadapannya. “Kecelakaan kamu itu belum lama, Mas … jangan bohongin aku,” lanjutnya, hampir memohon. Radja menghela napas pelan. Tatapannya tenang, terlalu tenang. “Sebelum kamu menikah dengan Kai, saya sudah pernah kecelakaan,” ucapnya akhirnya. Napas Djiwa tercekat. Dadanya
Djiwa membeku. Dunia seolah berhenti berputar. “Nggak …,” suaranya nyaris tak terdengar. “Gak mungkin.” “Kami sudah menyarankan operasi,” lanjut dokter itu hati-hati. “Tapi tingkat keberhasilannya tidak mutlak. Hanya sekitar lima puluh persen.” Djiwa menatap dokter itu dengan mata yang mulai basah. “Dan Tuan Radja menolak.” “Kenapa?” suara Djiwa pecah. “Kenapa dia nolak?” Dokter itu terdiam, lalu menjawab pelan, “Mungkin beliau sudah mempertimbangkan semua resikonya.” Djiwa menunduk, bahunya mulai bergetar. “Lalu ... waktu dia?” ia tak sanggup melanjutkan. Dokter itu menatapnya penuh arti. “Kami tidak bisa memastikan secara pasti,” ucapnya hati-hati. “Tapi ... waktu beliau tidak sebanyak yang Anda kira, Nyonya.” _____ Pintu ruang rawat itu terbuka dengan hentakan keras, nyaris membentur dinding. Radja yang baru saja menutup panggilan dari Arga langsung menoleh, alisnya berkerut tajam saat melihat sosok istrinya berdiri di ambang pintu—napasnya tersengal, matanya merah, dan
Pagi itu, Djiwa sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Meski jarak di antara mereka terasa begitu nyata, ia tetap menjalankan perannya dengan sepenuh hati. Di atas nakas, obat-obatan Radja sudah tersusun rapi. Menunggu disentuh setelah suapan terakhir. Djiwa duduk di tepi ranjang, menyuapi pria itu dengan gerakan pelan dan telaten. Namun tak ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Wajah Djiwa pun datar—tanpa senyum, tanpa kelembutan yang biasanya selalu hadir. Hal itu membuat Radja akhirnya bersuara. “Terserah kamu mau marah atau tidak,” ucapnya dingin, tanpa menatap. “Kalau memang marah, tunjukkan saja. Jangan lakukan semua ini seolah kamu terpaksa.” Gerakan tangan Djiwa terhenti sejenak. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus pada pria di hadapannya. Tatapannya sama dinginnya. “Aku masih istri kamu. Dan kamu masih suami aku,” ucapnya pelan, namun tegas. “Ini kewajiban aku.” Radja menggeser pandangannya. “Kalau kamu tidak mau melakukannya, tidak masalah,” balasnya
“Aku udah kehabisan cara buat ngomong sama kamu,” ucap Djiwa pelan, namun nadanya dingin. “Makanya aku minta Ratu yang bilang. Siapa tahu, kamu lebih mau denger omongan anak kamu daripada aku.” Radja hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Saya bekerja untuk menghilangkan rasa bosan di rumah,” jawabnya datar. Djiwa tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka yang dipaksa tertutup. “Kamu gak akan bosen kalau mau dengerin penjelasan aku, dan kita sama-sama berusaha memperbaiki ini,” balasnya tegas. “Mau sampe kapan hubungan kita begini terus?” Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin menekan. Djiwa menarik napas dalam, mencoba menahan sesuatu yang terus mendesak keluar dari dadanya. “Aku juga bosen di rumah, Mas,” lanjutnya lirih. “Sejak kamu menjauh, sejak kamu diemin aku, dan gak mau percaya sama aku.” Radja akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, menelusup tanpa ampun. “Percaya?” ulangnya pelan. “Kamu minta saya percaya, sementara setiap yang saya li
“Dok.” Djiwa nyaris berlari saat tiba di rumah sakit. Begitu pintu ruangan dibuka, langkahnya terhenti seketika. Radja terbaring di atas brankar. Wajahnya pucat, dan belum sadarkan diri. Di sisi lain, dokter yang sebelumnya menghubunginya sudah berdiri di sana, seolah memang menunggu kedatangannya. “Selamat siang, Nyonya,” sapa dokter itu dengan nada ramah. “Siang, Dok,” suara Djiwa terdengar tercekat. Ia mendekat beberapa langkah, matanya tak lepas dari sosok suaminya. “Bagaimana kondisi suami saya? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit lagi?” Dokter itu menarik napas pelan, lalu menatap Djiwa dengan serius. “Begini, Nyonya. Tuan Radja dilaporkan pingsan di kantornya, setelah menghadiri rapat penting bersama rekan bisnisnya.” Tatapannya sempat beralih pada Radja yang masih belum sadar. “Kondisinya memang sudah stabil, tapi saya sangat menyarankan agar beliau tidak memaksakan diri bekerja terlalu berat.” Djiwa menelan ludahnya. “Pekerjaan kantor mungkin tidak menguras tenaga fi
“Papa!” seru Inggrit begitu melangkah masuk ke rumahnya, suaranya menggema keras memecah keheningan. Satya yang tengah mengamati lukisan mahal yang baru saja dibelinya langsung mengernyit. Ia menoleh, lalu melangkah menghampiri sang anak dengan langkah tenang, kedua tangannya bertaut di belakang
“Apa?” Linda bergumam pelan, lalu menoleh pada putrinya dengan tatapan yang tak lagi lembut. Ada keterkejutan yang bercampur luka di sana. “Kamu … kamu serius mengatakan itu, Sultan?” “Tentu, Ma,” jawab Sultan tanpa ragu. Suaranya tenang, nyaris datar. “Saya tidak menyampaikan ini untuk memperma
Malam itu, suasana makan malam terasa jauh lebih menegangkan dari malam-malam sebelumnya. Udara di ruang makan seolah mengeras, dipenuhi beban yang tak terucap. Setiap orang membawa pikirannya masing-masing, hingga tak satu pun sanggup membuka suara lebih dulu. Sekar yang biasanya menjadi pusat
“Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya. Menyatakan perkawinan antara Rajendra Afnand Reinard sebagai Penggugat dan Inggrit Anindya Satya sebagai Tergugat yang dilangsungkan pada tanggal hari ini dinyatakan putus karena perceraian.” Palu hakim diketuk satu kali. Sunyi memenuhi ruang sidang







