MasukAndaliman melangkah mendekat, bayangannya menutupi tubuh Dinara di ranjang.“Namaku Bobby Suganda. Aku adalah putra dari Robby Suganda,” ucapnya dengan nada yang bergetar karena kebencian. “Kebetulan saja aku menemukan nama Andaliman di masa lalumu, sebuah ide yang bagus untuk samaranku supaya bisa masuk ke perusahaan Elang tanpa dicurigai. Aku ingin melihat dari dekat, pria macam apa yang sudah menghancurkan hidup ayahku.”Dinara ternganga. Nama Robby Suganda pernah ia dengar dalam selentingan kabar berita lama, seorang mantan konglomerat yang jatuh bangkrut secara tragis.“Kau tahu apa yang dilakukan Elang?” Andaliman yang adalah Bobby tertawa getir. “Dia melakukan hostile takeover. Dia menjebak ayahku dalam kontrak properti yang mustahil, lalu menggoreng saham perusahaan kami hingga nilainya nol. Dalam semalam, seluruh aset keluarga Suganda, termasuk rumah ini beralih ke tangan Elang Adikara. Ayahku kehilangan kewarasannya, Dinara! Dia sekarang mendekam di rumah sakit jiwa karena u
“Siapa dia?” desak Andaliman.Dinara tetap bergeming.“Katakan siapa dia!” teriak Andaliman penuh amarah.Dinara tersentak. Ini pertama kalinya ia melihat kemarahan yang begitu hebat meledak dari mata Andaliman. Pria lembut dan ramah yang dulu ia kenal seolah menghilang, berganti dengan sosok asing yang mengerikan. Rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuh Dinara.Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Andaliman menyalakan mesin, dan langsung menginjak gas dengan kencang. Mobil itu melesat membelah jalanan, meninggalkan area mall dengan kecepatan yang membahayakan.Mobil itu melesat keluar dari area parkir sebelum Dinara sempat memprotes atau membuka pintu.“Mas, mau ke mana?! Berhenti, Mas!” seru Dinara panik sambil menarik sabuk pengaman dan memasangnya dengan kesulitan.Andaliman tetap diam, mencengkeram kemudi dengan buku jari yang memutih. Ia tidak menghiraukan seruan Dinara. “Mas, berhenti! Bahaya, Mas!” teriak Dinara sembari mencengkeram pegangan di atas pintu mobil. Tubuhnya t
“Maaf, Mas...” lirih Dinara, suaranya bergetar menahan beban di dadanya.“Maaf? Kamu pikir semudah itu?” sahut Andaliman di seberang telepon, suaranya meninggi. “Kamu membuatku panik, Dinara! Kamu anggap aku ini apa? Kita sebentar lagi akan menikah!”Kata 'menikah' itu menghantam perasaan Dinara. Rasa bersalahnya pada Andaliman kian menumpuk. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa kini ia sudah sah menjadi istri Elang Adikara, bos mereka sendiri?“Dinara! Aku mau kita bertemu sekarang juga!” desak Andaliman.“Maaf, Mas, tapi aku tidak bisa...” tolak Dinara, berusaha tetap tenang meski jemarinya mendingin.“Kenapa? Kalau begini terus, bagaimana kita bisa menyiapkan pernikahan kita?” tanya Andaliman, emosinya masih meluap. “Kamu di mana sekarang? Biar aku susul.”“Jangan, Mas. Aku masih ada urusan yang tidak bisa ditinggal,” ujar Dinara gugup.“Kapan kamu masuk kantor?” tanya Andaliman lagi, mencoba mencari celah untuk bertemu.“Mas, aku... aku sudah resign.”Dinara tersentak, ia menyadar
Dinara menatap deretan layar itu dengan perasaan campur aduk. Ia merasa aman, namun di sisi lain, ia menyadari betapa ketatnya Elang menjaganya atau mungkin, mengurungnya.“Ternyata Pak Elang seserius itu soal keamanan ya?” tanya Dinara sambil menata piring makanan di atas makan.Bastian berdiri dengan sikap tegap, menjaga jarak yang sopan. “Tuan tidak pernah main-main jika sudah menyangkut hal yang berharga baginya, Bu. Tugas saya memastikan tidak ada satu pun debu yang bisa melukai Ibu tanpa seizin beliau.”Dinara tersenyum tipis, lalu menarik kursi dan duduk di meja makan paviliun itu. “Boleh saya bertanya sesuatu, Pak?”“Silakan, Bu. Selama itu dalam kapasitas saya untuk menjawab,” balas Bastian dengan tenang.“Sudah berapa lama Bapak bekerja membantu Pak Elang?” tanya Dinara penasaran.Bastian tidak langsung menjawab, ia tampak menimbang sejenak seberapa banyak informasi yang bisa ia bagikan. Melihat keraguan itu, Dinara mempersilakan, “Silakan duduk dulu, Pak.”Bastian akhirnya
“Jangan pikirkan dia,” jawab Elang datar, suaranya berubah dingin begitu nama Karin disebut. Ia merapikan sisa pakaiannya, lalu menatap Dinara yang masih berada di atas ranjang. “Urusan Karin adalah tanggung jawabku. Kamu jangan khawatir.”Tiga hari berlalu seperti mimpi yang terisolasi dari dunia luar. Dinara benar-benar menjalankan perannya sebagai istri dengan sepenuh hati. Menyiapkan keperluan Elang, menemaninya makan, dan memberikan seluruh perhatian yang selama ini Elang dambakan. Namun, masa bulan madu itu harus berakhir. Elang harus kembali ke kantor untuk menghadapi rutinitas lagi.Pagi itu, Dinara membantu Elang memasangkan dasinya. “Mas,” panggil Dinara pelan setelah usai membantu suaminya berpakaian.“Ya?” Elang menunduk, menatap wajah istrinya yang tampak sendu.Dinara menyerahkan sebuah amplop putih pada Elang. “Ini surat pengunduranku. Aku rasa... tidak akan benar jika aku kembali ke kantor sebagai sekretarismu.”Elang menerima amplop itu tanpa terkejut. Ia sudah mendu
Setelah membersihkan diri pasca-aktivitas intim di kamar mandi, mereka beristirahat di balkon kamar. Sore itu terasa hangat. Dinara menyandarkan kepalanya di dada Elang, sementara pria itu melingkarkan lengannya di perut Dinara.“Malam itu... aku merasa sudah kehilangan segalanya,” ujar Elang tiba-tiba, seolah baru saja menemukan keberanian untuk menjawab pertanyaan Dinara sebelumnya.Dinara terdiam, memberikan ruang bagi Elang untuk melanjutkan ceritanya.“Dikhianati oleh orang-orang yang paling aku percaya dan terjebak dalam tuntutan yang tidak masuk akal,” lanjut Elang dengan suara rendah yang sedikit berat. “Aku merasa kehilangan arah, seolah hanya bertahan hidup tanpa tujuan. Tidak ada gairah sama sekali dalam diriku.”Dinara mengubah posisi duduknya agar bisa menatap wajah suaminya secara langsung.“Bahkan aku tidak berminat untuk menyentuh Karin atau perempuan mana pun,” tambah Elang. Ia menatap Dinara dengan pandangan yang jauh lebih tenang dibandingkan malam pertama mereka di
‘Apa maksudnya… jangan berpikir macam-macam? Ini sudah sangat macam-macam…’Elang menarik dress itu hingga melewati bahu Dinara hingga terlepas dari tubuhnya. Tersisa bh dan cd saja. Elang melepaskan kait bh-nya, refleks Dinara menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Bh itu pun jatuh ke lantai. La
Dinara duduk di kasur, menelan saliva dan menggigit bibirnya. Ia tak habis pikir, bagaimana dirinya bisa berada diantara sosok bos dingin dan istrinya. “Apa aku sekarang jadi selingkuhan Pak Bos… ya ampuun…”Ceklek!Dinara terkejut saat pintu kamar mandi terbuka. Elang keluar hanya dengan handuk y
Dinara duduk di kasur, menelan saliva dan menggigit bibirnya. Ia tak habis pikir, bagaimana dirinya bisa berada diantara sosok bos dingin dan istrinya. “Apa aku sekarang jadi selingkuhan Pak Bos… ya ampuun…”Ceklek!Dinara terkejut saat pintu kamar mandi terbuka. Elang keluar hanya dengan handuk y
‘Apa maksudnya pulang ke apartemen Elang Adikara?’ Dinara hampir tak bisa berpikir apapun.Tempat yang ingin Dinara hindari selamanya, tapi Elang justru akan membawanya kembali.“Kenapa ke apartemen, Pak?” tanya Dinara.“Jangan membantah saya.” Tegas Elang.“Tapi Pak…”Elang menatap Dinara, membuat







