Home / Rumah Tangga / Cara Menangani Perselingkuhan / BAB 134 : Racun yang Bereaksi

Share

BAB 134 : Racun yang Bereaksi

Author: Zakia
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-24 13:49:04

Di area parkir yang remang dan sepi di sudut gedung Holy Entertainment, sebuah gerakan konstan terdeteksi dari dalam sebuah mobil dengan kaca gelap.

Guncangan samar itu berpusat di kursi belakang, di mana Indra dan Nabilla sedang memadu kasih dengan begitu intens, hingga riak gerakannya merambat sampai ke luar mobil.

"Apa kita... harus melakukannya di sini, Dra? Kita bisa pergi ke hotel... hah... hah..." ucap Nabilla terengah-engah, mencoba mengatur napasnya yang memburu di sela-sela gerakan in
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 136 : Umpan Lewat Suara Polos

    Siang itu, di dalam ruang tengah rumahnya, Saifanny duduk dengan perasaan yang campur aduk tidak beraturan.Ketegangan batin setelah konfrontasinya dengan Adrian semalam membuat dadanya terasa sesak.Dengan jemari yang bergerak gelisah, ia kembali mendial nomor pribadi Bima, menaruh harapan besar bahwa pria itu berhasil mengamankan satu jengkal bukti hukum untuk menyeret Adnan."Jadi... apa kau menemukan bukti rekaman kejahatan Adnan di rumah sakit, Bima?" tanya Saifanny langsung, menuntut kejelasan.Di balik sambungan telepon, Bima menggelengkan kepalanya pasrah, sebuah helaan napas berat terdengar lolos dari bibirnya."Aku sama sekali tidak menemukan rekaman CCTV-nya. Aku sudah coba melakukan restore data sistem dari beberapa hari lalu, tapi sepertinya seluruh berkas digital di server rumah sakit udah dihapus secara permanen oleh orang profesional. Pergerakan kita buntu sekarang. Kita tidak punya bukti fisik apa pun untuk menuntutnya," ucap Bima dengan nada frustrasi yang kental.Sa

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 135 : Batas Nafas Kekecewaan

    Malam itu, atmosfer di dalam kediaman mewah keluarga Utama terasa begitu menekan. Dengan langkah kaki yang lebar dan berdentum berat, Adrian melangkah menyusuri koridor lantai dua.Tanpa aba-aba atau mengetuk terlebih dahulu, ia mendorong kasar pintu kamar pribadi ayahnya.Di dalam ruangan bernuansa temaram itu, terlihat Adnan sedang duduk bersandar di atas sofa beludru berwarna abu-abu dengan pembawaan yang teramat santai.Adrian bisa melihat dengan jelas guratan luka memar yang keunguan di pipi kiri Adnan—sebuah jejak hantaman dari tongkat kayu kakeknya, Arkana yang mengamuk hebat setelah skandal perusakan panti asuhan terbongkar kemarin pagi.Tanpa basa-basi, Adrian berdiri tegak di tengah ruangan, menghujamkan tatapan mata yang menyala tajam ke arah Adnan."Tidak cukupkah Ayah melakukan perusakan di panti asuhan Bu Sania? Sekarang Ayah malah nekat menambah dosa dengan mencoba membunuh Bu Sarah?" ucap Adrian tanpa ragu sedikit pun, meluncurkan tuduhan langsung.Adnan tetap tak berg

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 134 : Racun yang Bereaksi

    Di area parkir yang remang dan sepi di sudut gedung Holy Entertainment, sebuah gerakan konstan terdeteksi dari dalam sebuah mobil dengan kaca gelap.Guncangan samar itu berpusat di kursi belakang, di mana Indra dan Nabilla sedang memadu kasih dengan begitu intens, hingga riak gerakannya merambat sampai ke luar mobil."Apa kita... harus melakukannya di sini, Dra? Kita bisa pergi ke hotel... hah... hah..." ucap Nabilla terengah-engah, mencoba mengatur napasnya yang memburu di sela-sela gerakan intim mereka.Indra mendongak, menatap wanita di hadapannya dengan sepasang netra biru yang tampak polos namun sarat akan ggairah"Aku belum pernah mencobanya di dalam mobil, Noona," bisik Indra manja.Nabilla seketika menghentikan gerakannya sejenak."Jadi, kau ingin menjelajahi tempat-tempat baru bersamaku? Ini akan menjadi petualangan yang hebat," canda Nabilla dengan tawa yang tertahan di tenggorokan.Indra tertawa renyah. Ia kemudian meraih bagian belakang tubuh Nabilla, meremasnya dengan gem

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 133 : Teriakan di Balik Jeruji Besi

    Siang itu, di dalam ruang kunjungan lembaga pemasyarakatan tempat Zain mendekam, atmosfer terasa begitu pengap dan dilingkupi kegelisahan yang pekat.Laila duduk berhadapan dengan putranya, merasai sepasang tangannya sendiri bergetar dingin akibat kecemasan yang terus memburu batinnya sejak pagi.Brak!Secara tidak terduga, Zain menggebrak permukaan meja kayu di hadapan mereka dengan sangat keras, menciptakan dentuman nyaring yang seketika memecah keheningan ruangan yang diawasi ketat oleh seorang petugas kepolisian di sudut pintu."Apa maksud Ibu?! Brankas itu kosong?! Itu tidak mungkin, Bu! Aku jelas-jelas menyimpan seluruh dokumen aset dan kartu penting di dalam sana!" Zain meninggikan volume suaranya, melotot gusar dengan napas yang memburu tidak beraturan.Zain mencengkeram kepalanya yang mendadak terasa berdenyut hebat akibat frustrasi gila yang menghimpit dadanya.Laila menunduk, bahunya merosot lesu seraya menumpahkan air mata yang sejak tadi ia tahan."Ibu sudah mencari ke se

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 132 : Jebakan Brangkas Kosong

    Siang itu, di dalam kediamannya yang sunyi, Saifanny sedang menempelkan ponsel di telinga, terlibat dalam obrolan serius bersama Bima mengenai langkah taktis mereka selanjutnya."Itulah yang kemarin kami bicarakan. Aku tidak menyangka Arkana pada akhirnya akan tetap melindungi Adnan. Aku terlalu naif karena berpikir pria tua itu bisa dijadikan kekuatan utamaku untuk balas dendam," ucap Saifanny, suaranya terdengar datar namun menyiratkan kekecewaan yang mendalam.Ia duduk bersandar di atas sofa, tangan kanannya mendekap erat secangkir teh hangat yang menguar aroma melati."Bagaimanapun juga, Adnan adalah putra kandungnya. Arkana tidak akan membiarkan keturunannya mendekam di balik jeruji besi. Hmm jadi... apa rencana berikutnya?" tanya Bima di seberang sambungan telepon.Saifanny meneguk tehnya perlahan, merasakan kehangatan cairan itu melewati tenggorokannya yang kaku."Kita harus membuat dia bangkrut, Bim. Memotong akses finansialnya, dengan begitu Adnan tidak akan lagi memiliki kek

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 131 : Mimpi dan Realita

    Andien merasakan sentuhan lembap yang teramat hangat mendarat di permukaan bibirnya.Ketika perlahan membuka kedua kelopak matanya, sosok Bima sudah berada tepat di hadapannya, dengan jarak wajah yang hanya terpaut beberapa sentimeter saja.Bima menyunggingkan sebuah senyuman manis—sebuah lengkungan kurva langka yang hampir tidak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun.Jemari tangannya bergerak perlahan, mengelus lembut pipi Andien yang merona."Selamat pagi, Cantik," ucap Bima dengan untaian nada yang teramat lembut.Pria itu kemudian memajukan tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga Andien."Haruskah kita nunda buat mendaki gunung? Karena sejujurnya... yang aku inginkan sekarang hanyalah berbaring lebih lama di sini bersamamu." Ucap Bima.Andien seketika meledakkan tawa renyah mendengar untaian kalimat tersebut.Di telinganya, ucapan Bima terdengar sangat cringe dan menggelikan, merusak atmosfer romantis yang coba dibangun.Namun, Bima menolak menerima tawa ejekan tersebut. Seca

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status