LOGINLampu neon di ruang interogasi Markas Kepolisian Daerah J-City memancarkan cahaya putih dingin yang menyengat mata. Udara di dalam ruangan berdinding kedap suara itu terasa pekat, dilingkupi aroma pahit kopi hitam yang sudah dingin serta ketegangan psikologis yang kian membumbung tinggi. Setiap detak jarum jam dinding seolah menekan dada siapa pun yang berada di dalam ruangan tersebut. Marcus duduk menyandarkan punggungnya di atas kursi besi yang dingin dan keras. Meskipun setelan jas mahal yang dikenakannya tampak sedikit kusut akibat pemeriksaan maraton sejak sore tadi, raut wajahnya tetap dipaksakan tenang. Tatapan matanya dingin dan tertutup, membentengi gelombang kejengkelan serta kepanikan internal yang membakar benaknya. Marcus memilih bersikap angkuh, melipat sepasang tangannya di dada tanpa niat sedikit pun untuk meloloskan kata dari bibirnya. Di seberang meja kayu tebal, Kompol Hendra melipat kedua tangannya di atas tumpukan berkas perkara. Matanya sembap dan kemera
Malam perlahan-lahan merayap turun menyelimuti kediaman Astaguna yang berdiri megah dan terisolasi.Di dalam rumah besar itu, para pelayan sibuk melangkah tanpa suara, menarik tirai-tirai beludru tebal untuk menghalau dinginnya malam dan merapikan ruang makan demi menyiapkan jamuan malam.Namun, kesibukan rutin yang teratur dari para pekerja itu sama sekali tak menyentuh ataupun mengusik aktivitas sensual yang tengah membakar udara di dalam kamar pribadi Tyas Astaguna."Ahh... Ahh..."Desah Tyas berhamburan secara konstan di tengah keheningan kamar yang remang. Wanita itu duduk menindih tubuh seorang pria tampan yang terbaring pasrah di bawahnya, menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang teratur dan penuh kendali.Kedua telapak tangannya bertumpu kokoh pada dada bidang pria itu, menegaskan bahwa dirinya adalah pemegang kendali penuh atas dinamika kekuasaan dan gairah di atas ranjang tersebut.Sang pria tak tinggal diam menerima dominasi itu. Jemari tangan
Suara detak teratur dari monitor tanda vital (patient monitor) memecah keheningan di ruang perawatan intensif Rumah Sakit J-City. Hanya dua menit setelah Yudi menekan tombol panggilan darurat, daun pintu kayu pun terbuka. Dokter spesialis bedah yang menangani Ghina melangkah masuk tergesa-gesa bersama seorang perawat yang memegang map rekam medis tebal. "Selamat malam, semuanya. Syukurlah, Pasien akhirnya sudah siuman," puji dokter itu ramah seraya mengambil posisi di samping ranjang. Dengan gerakan tangkas dan terukur, dokter mengecek pupil mata Ghina menggunakan penlight, memeriksa saturasi oksigen pada layar monitor, serta meraba area sekitar balutan perban tebal di leher wanita itu dengan sangat hati-hati. Ghina mencoba bersuara untuk merespons pemeriksaan tersebut. Ada rasa gatal, panas, dan perih yang membakar di area tenggorokannya. Namun, sekeras apa pun usahanya, vokal yang lolos dari pita suaranya hanyalah bisikan serak yang amat parau dan nyaris tak terdengar. "Sa
Sepeninggal Marcus yang meluncur deras membawa gejolak amarahnya menuju J-City, Saifanny tidak ingin membuang waktu berharga yang terbuka di hadapannya.Tanpa ragu, wanita itu melangkah mantap menaiki tiap anak tangga menuju lantai atas, berniat menemui Mawar di area pribadinya.Begitu kakinya berpijak di depan daun pintu kamar wanita paruh baya itu, pendengaran Saifanny menangkap suara isakan samar yang tertahan dari dalam.Alis Saifanny berkerut dalam. Pertanyaan demi pertanyaan merayapi benaknya. Mengapa Mawar membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan yang begitu dalam?Apa yang sebenarnya terjadi di antara ibu dan anak itu hingga Marcus memperlakukan Mawar dengan keputusasaan dingin yang teramat picik?Saifanny meyakini satu hal: Marcus menganggap ibunya tak berdaya dan tak berguna karena sebuah alasan historis yang berakar kuat di keluarga Manggala.Saifanny mengulurkan tangannya, mengetuk permukaan pintu kayu tebal itu secara perlahan.Tok! Tok!Di dalam lubuk hatinya,
Sepeninggal Mawar yang berlari membawa sisa-sisa kepedihan jiwanya, Marcus berdiri membisu di ruang baca. Pria itu menghela napas pendek, lalu melangkah menuju pintu dengan niat untuk segera meninggalkan ruangan yang mendadak terasa menusuk itu. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh dinginnya knop pintu kayu tebal tersebut... Ting! Ting! Ting! Ponsel di saku celananya bergetar hebat disertai rentetan nada notifikasi beruntun. Marcus mengerutkan alisnya yang tipis, merogoh benda persegi itu dengan gerakan malas. Namun, begitu layarnya menyala dan mata tajamnya menyapu barisan pesan yang masuk, pupil mata Marcus seketika membelalak sempurna. Pesan-pesan itu berisi laporan mendalam mengenai rangkaian peristiwa mencekam kemarin malam di Kompleks Seruni: insiden matinya aliran listrik secara mendadak, penyusupan terencana dari personel keamanan Utama Group, hingga aksi nekat Ririn yang menyayat leher Ghina—semuanya telah terbongkar dan terekam jelas oleh kamera pengawas tersembun
Sore yang cerah di kediaman Manggala justru menyebarkan atmosfer dingin yang terasa amat menyesakkan bagi Mawar.Wanita itu terduduk kaku di sofa ruang baca, jemarinya menggenggam sebuah buku dengan posisi seolah-olah sedang membaca dalam ketenangan. Namun, di balik sikap tenang yang dipaksakan itu, kecemasan merayapi benaknya.Sementara itu, Marcus berdiri menyandarkan tubuhnya di bingkai dinding dekat pintu. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menjaga jarak fisik seolah keberadaannya di dekat Mawar adalah sesuatu yang ingin dihindarinya."Apa yang kau bicarakan dengan Saifanny selama dua hari ini?" Tanya Marcus tiba-tiba.Suara Marcus terdengar datar namun sarat curiga. Sebenarnya, berada di ruang yang sama dengan ibunya adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.Namun, dorongan obsesif untuk mengetahui pikiran Saifanny memaksa pria itu menurunkan ego dinginnya sejenak.Mawar hanya bergeming. Ia menghembuskan napas lelah yang teramat berat, sengaja mempert
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada







