LOGINMobil hitam milik Adrian berhenti sempurna tepat di depan gerbang rumah Saifanny. Begitu roda kendaraan terkunci, Adrian segera memalingkan pandangannya ke samping, menatap paras polos Syahdan dengan binar mata yang teramat lembut."Syahie yakin mau langsung pulang? Gak mau makan siang dulu?" Tanya Adrian penuh perhatian.Syahdan menganggukkan kepalanya pelan. "Nesan bilang Mama sudah pulang. Jadi aku pengen langsung pulang aja," sahut Syahdan polos.Adrian menyunggingkan senyum tipis yang menghangatkan paras tampannya. Ia mengulurkan tangan, mengelus lembut puncak kepala putra kandungnya tersebut."Ya sudah, nanti Papa jemput lagi pas Syahdan mau berangkat les, ya?" Ucap Adrian melembut, yang dibalas anggukan kepala mantap dan ceria dari Syahdan.Syahdan lantas bergegas turun dari mobil, melambaikan tangannya singkat ke arah Adrian, lalu berlari kecil melintasi pekarangan menuju pintu utama.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, aroma masakan yang menggugah selera seketika menyambut
Mobil silver itu meluncur mulus membelah jalanan J-City pagi itu. Sinar matahari merekah cerah, menjanjikan cuaca yang bersahabat.Namun, paparan cahaya terang di luar sana berbanding terbalik secara dramatis dengan gulita yang menyelimuti benak Saifanny.Ia menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil yang dingin, membiarkan tatapan matanya kosong tanpa riak.Sel-sel otaknya berputar hebat, diliputi kecurigaan yang menusuk tajam: mengapa Zain, pria yang sudah hampir satu tahun mendekam di balik jeruji besi penjara, mendadak mengirimkan surat untuknya hari ini?Di mata analitis Saifanny, tindakan mantan suaminya itu terasa sangat janggal, tidak wajar, dan sarat motif tersembunyi.Sania melirik sekilas putri tunggalnya di balik lingkar kemudi. Kebungkaman Saifanny pasca-mendengar kabar keberadaan surat dari Zain memercikkan rasa cemas di dadanya.Namun, Sania menahan diri untuk tidak mencecar lebih jauh. Ia memilih fokus mengendalikan laju kendaraan hingga akhirnya mobil berhenti sem
Pagi hari menyiramkan cahaya keemasan di atas lanskap pedesaan yang asri, menyirami hamparan pepohonan hijau dan pekarangan rumah kayu yang sejuk.Di dalam ruang makan keluarga Bima, keheningan justru menggantung pekat. Bima dan ketiga anggota tim keamanan elit Utama Group duduk melingkari meja kayu sederhana, menciptakan atmosfer serius dan kaku yang menyerupai sebuah ruang rapat darurat.Tap! Tap! Tap!Langkah kaki yang tenang memutus ketegangan itu. Indah, ibu kandung Bima, muncul dari arah lorong dapur sembari membawa nampan kayu.Di atasnya terhidang sepiring gorengan hangat yang masih mengepulkan uap serta empat cangkir teh melati. Ia meletakkannya secara perlahan di tengah meja."Makasih, Bu," ucap Bima singkat, suaranya datar namun sarat penghormatan."Maaf, Bu, jadi merepotkan," timpal salah satu anggota tim keamanan berpakaian serba hitam dengan nada sungkan.Indah menyunggingkan senyum hangat sembari mengibaskan tangannya santai."Sama sekali tidak merepotkan. Dimakan, ya,"
Pukul setengah enam pagi di desa terpencil itu menyuguhkan kedamaian yang terasa asing namun sangat didambakan. Udara dingin yang menusuk tulang berpadu dengan kabut tipis yang masih menggantung rendah di atas hamparan sawah dan perkebunan hijau sejauh mata memandang. Desa tersebut hanya dihuni oleh beberapa puluh keluarga, membuat jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya terbilang cukup renggang, dipisahkan oleh kebun singkong atau rumpun bambu yang rimbun. Keheningan ini adalah sebuah kontras yang tajam dibandingkan dengan hiruk-pikuk J-City yang selalu menuntut kewaspadaan. Rutinitas Bima di pagi hari di awali dengan menyusuri jalanan aspal, membiarkan paru-parunya menghirup udara segar yang sama sekali tak terkontaminasi polusi kota. Hembusan angin pagi itu perlahan membuka kembali lembaran memori di dalam kepalanya. Bima mengingat dengan sangat jelas, kedua orang tuanya terpaksa mengambil keputusan getir untuk pindah ke desa terpencil ini saat usianya baru menginjak 10
Timothy melangkah masuk menapakkan kakinya menuju area set lokasi syuting Jovian. Suasana hening yang biasanya menyelimuti area produksi mendadak berubah riuh oleh kasak-kusuk bisikan para kru.Didorong oleh rasa penasaran, Timothy menghentikan langkahnya dan menghampiri salah seorang kru film yang berdiri di dekat daun pintu."Ada apa di sana?" Tanya Timothy sembari mengarahkan pandangannya ke arah kerumunan kecil di dekat dinding."Itu, Pak... Katanya Bu Andien Utama di-bullly sama tiga artis," jawab kru tersebut seadanya.Manik mata Timothy melotot sempurna dalam dorongan kejut yang luar biasa. Sel-sel otaknya bekerja kilat menyadari ancaman besar yang mengintai: Utama Group adalah salah satu investor sekaligus sponsor bagi pembiayaan proyek film ini.Jika kehormatan seorang Andien Utama tersinggung di tempatnya, bukan tidak mungkin produksi film ini akan dibatalkan secara sepihak. Dan lebih buruk lagi, usahanya yang menyewakan properti megah ini terancam tak mendapat sedikit pun p
Empat hari berturut-turut, rasa bersalah mengendap pekat di dalam batin Andien Utama. Walau komunikasi antaranya dan Jovian tetap berjalan—meski kini tak sedemikian intensif seperti dahulu—wanita itu selalu mendapati setidaknya dua atau tiga pesan perhatian yang ditinggalkan pria itu di bilik obrolan mereka.Keheningan dan penarikan diri Jovian yang perlahan jutru menghantam batin Andien lebih keras daripada sebuah kemarahan meledak-ledak.Sebagai penebus atas rasa bersalah yang mengganggu fokusnya, Andien berniat mengajak Jovian untuk makan siang bersama dan menghabiskan waktu berdua hari ini.Namun sayangnya, Jovian teramat sulit untuk dihubungi secara langsung; pesan tertulis yang dikirimkan Andien pun belum sempat dibaca oleh pria yang tengah dipadati jadwal syuting film tersebut.Tak habis akal, Andien berinisiatif menghubungi Rafi, manajer pribadi Jovian. Mengerti akan situasi hubungan keduanya, Rafi menyarankan agar Andien menemui Jovian secara langsung di lokasi syuting.Di si
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







