LOGINHidangan penutup berupa eskrim dan pudding disediakan di atas meja, seketika membuat perhatian semua orang teralih ke atas piring di hadapan mereka."Bu Saifanny, sepertinya kita punya banyak kesamaan ya, saya harap bisa kita bisa bertemu lagi setelah makan siang ini" Kata Tyas ramah."Tidak perlu formal begitu. Sepertinya usia kita berdekatan" Kata Saifanny.Tanpa dikatahui kedua orang itu, kaki Saifanny bergerak nakal di bawah meja, menggesekan ujung kakinya ke kaki Adrian.Adrian yang merasakan gerakan kaki Saifanny mencoba tetap terlihat tenang. Ia paham Saifanny sedang menggodanya yang merasa bosan dengan makan siang penuh kecanggungan ini.Satu tangan Adrian terulur kebawah meja, meraih kaki Saifanny yang kini ada di antara selangkangannya.Kaki Saifanny tetap bergerak nakal di bawah meja, tapi pandangan Saifanny kini tertuju pada pudding karamel di hadapannya, belum menyentuhnya sama sekali. Ia sebenarnya tidak terlalu suka makanan manis, dan lagi, perutnya merasa sudah tak kua
Siang yang cerah menaungi kemegahan pusat perbelanjaan J-City. Di antara lalu-lalang pengunjung, Saifanny, Mabelle, dan Marcus berjalan bersisihan dengan tempo langkah sedang.Mabelle berjalan dengan jemari mungilnya yang menggenggam erat tangan Saifanny, menyunggingkan senyum manis yang menghiasi bibirnya—seolah-olah trauma dan ketakutan yang mencengkeram anak itu kemarin malam tidak pernah terjadi.Meski cuaca di luar begitu terang, batin Saifanny justru diliputi gulana dan kecemasan. Saat ia tiba di sekolah dasar tadi untuk menjemput, Syahdan sudah tidak ada di sana.Padahal, di dalam hatinya, Saifanny sangat berharap Syahdan bisa ikut makan siang dan bermain bersama Mabelle."Aku dengar ada restoran baru di mall ini. Makanya aku mengajak kalian ke sini," ucap Marcus seraya menyunggingkan senyum manis, menatap Saifanny dan Mabelle secara bergantian.Saifanny mengangguk pelan. Ia memang sudah lama tidak menikmati makan di luar, sebab fokus pikirannya belakangan ini terserap habis un
Waktu menunjukkan pukul 12.15 malam. Suasana di dalam ruang tengah itu terasa begitu pekat dan mencekam.Bima dan Ghina duduk bersisihan di atas sofa, sementara Yudi terlihat tertidur lelap di sofa tunggal dengan kepala terkulai menyandar ke atas.Ketegangan yang mengendap di udara membuat napas terasa berat, lantaran hingga detik ini Saifanny belum juga memberi mereka kabar dari dalam rumah Marcus.Ting!Ponsel di atas meja mendadak berbunyi nyaring. Papan notifikasi obrolan grup seketika menyala terang.Bima dan Ghina secara refleks meraih ponsel mereka masing-masing dengan dada yang mendadak bergemuruh hebat."Ririn memang ada di rumah ini. Dia bersembunyi di ruang kerja Marcus," ketik Saifanny di ruang obrolan grup.Bima dan Ghina saling berpandangan seketika. Sebuah helaan napas lega yang membuncah tak mampu ditutupi lagi; perburuan panjang dan melelahkan yang menyita energi mereka akhirnya membuahkan titik terang yang solid.Tanpa membuang waktu, Bima segera mencari kontak
Malam yang hening menyelimuti kamar tidur Mabelle. Lampu-lampu utama telah dipadamkan, menyisakan hanya pendar samar yang menembus celah gorden. Di atas ranjang empuk, deru napas teratur dan dengkuran halus gadis kecil itu terdengar menentramkan. Namun, ketenangan itu tidak berlaku bagi Saifanny. Wanita yang terbaring di samping Mabelle itu kembali membuka kedua matanya lebar-lebar. Kegelapan kamar seolah menegaskan misi utamanya malam ini: ia harus menemukan bukti fisik keberadaan Ririn di bawah atap rumah ini. Saifanny perlahan mengulurkan tangannya ke atas meja nakas, meraba dan memegang ponsel pintar miliknya. Begitu layar ponsel menyala, pendar cahayanya menerangi sepasang mata Saifanny yang dipenuhi ketegangan. Beberapa rentetan pesan singkat dan panggilan tak terjawab tampak memenuhi papan notifikasi. Saifanny membuka kunci layar. Di sana tertera rentetan pesan dan panggilan tak dijawab dari Adrian. Lalu tepat di bawahnya, ada jendela obrolan grup dari Bima dan Ghina.
Keheningan yang mencekam di dalam mobil Saifanny terasa menjalar hingga ke seluruh sudut kabin.Setelah perjalanan selama satu jam membelah kepadatan jalanan kota, mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan pelataran rumah mewah milik Marcus.Meski mesin mobil telah dimatikan, Mabelle tetap bergeming diam di kursinya. Tubuh kecil itu kaku, seolah-olah menolak keras untuk melangkah turun dan memasuki rumah megah tersebut.Saifanny melirik ke kursi samping, ia dapat melihat Mabelle sesekali mencuri pandang ke cermin kecil, memperhatikan sepasang matanya yang memerah dan bengkak akibat luapan tangis hebat tadi."Mabelle, kamu gak mau Papa tahu kamu habis menangis?" Tanya Saifanny dengan intonasi yang amat lembut, memecah kecanggungan di antara mereka.Mabelle mengangguk pelan. Di dalam benak mungilnya, ia sangat tidak ingin ayahnya mengajukan banyak pertanyaan beruntun tentang apa saja yang terjadi hari ini.Seketika sebuah ide terbersit di kepala Saifanny. Ia perlahan membuka pintu
Setelah sesi terapi berakhir, Mabelle dipersilakan menunggu di ruang bermain depan didampingi oleh seorang perawat. Pintu kayu berwarna hijau sage itu tertutup rapat, menyisakan Dokter Eliza dan Saifanny di dalam ruang terapi yang mendadak terasa begitu hening dan sarat akan tensi emosional. Dokter Eliza meletakkan papan catatannya di atas meja, lalu menatap Saifanny dengan raut wajah amat serius. "Bu Saifanny, pergeseran emosi Mabelle hari ini benar-benar tidak wajar," buka Dr. Eliza dengan intonasi memelan, memasang mode konsultasi profesional. Saifanny maju selangkah, menatap sang dokter penuh selidik. "Maksud Dokter... Soal dia yang tiba-tiba bersikap datar saat membicarakan mendiang ibunya?" Tanya Saifanny dengan alis berkerut tebal. "Tepat," Dokter Eliza mengangguk pelan. "Jika kita bandingkan dengan hasil evaluasi pada sesi awal kemarin, Mabelle menunjukkan gejala Grief and Guilt—duka dan rasa bersalah—yang sangat pekat. Air mata dan rasa bersalah yang dia perlih
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin







