LOGINPagi hari menyiramkan cahaya keemasan di atas lanskap pedesaan yang asri, menyirami hamparan pepohonan hijau dan pekarangan rumah kayu yang sejuk.Di dalam ruang makan keluarga Bima, keheningan justru menggantung pekat. Bima dan ketiga anggota tim keamanan elit Utama Group duduk melingkari meja kayu sederhana, menciptakan atmosfer serius dan kaku yang menyerupai sebuah ruang rapat darurat.Tap! Tap! Tap!Langkah kaki yang tenang memutus ketegangan itu. Indah, ibu kandung Bima, muncul dari arah lorong dapur sembari membawa nampan kayu.Di atasnya terhidang sepiring gorengan hangat yang masih mengepulkan uap serta empat cangkir teh melati. Ia meletakkannya secara perlahan di tengah meja."Makasih, Bu," ucap Bima singkat, suaranya datar namun sarat penghormatan."Maaf, Bu, jadi merepotkan," timpal salah satu anggota tim keamanan berpakaian serba hitam dengan nada sungkan.Indah menyunggingkan senyum hangat sembari mengibaskan tangannya santai."Sama sekali tidak merepotkan. Dimakan, ya,"
Pukul setengah enam pagi di desa terpencil itu menyuguhkan kedamaian yang terasa asing namun sangat didambakan. Udara dingin yang menusuk tulang berpadu dengan kabut tipis yang masih menggantung rendah di atas hamparan sawah dan perkebunan hijau sejauh mata memandang. Desa tersebut hanya dihuni oleh beberapa puluh keluarga, membuat jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya terbilang cukup renggang, dipisahkan oleh kebun singkong atau rumpun bambu yang rimbun. Keheningan ini adalah sebuah kontras yang tajam dibandingkan dengan hiruk-pikuk J-City yang selalu menuntut kewaspadaan. Rutinitas Bima di pagi hari di awali dengan menyusuri jalanan aspal, membiarkan paru-parunya menghirup udara segar yang sama sekali tak terkontaminasi polusi kota. Hembusan angin pagi itu perlahan membuka kembali lembaran memori di dalam kepalanya. Bima mengingat dengan sangat jelas, kedua orang tuanya terpaksa mengambil keputusan getir untuk pindah ke desa terpencil ini saat usianya baru menginjak 10
Timothy melangkah masuk menapakkan kakinya menuju area set lokasi syuting Jovian. Suasana hening yang biasanya menyelimuti area produksi mendadak berubah riuh oleh kasak-kusuk bisikan para kru.Didorong oleh rasa penasaran, Timothy menghentikan langkahnya dan menghampiri salah seorang kru film yang berdiri di dekat daun pintu."Ada apa di sana?" Tanya Timothy sembari mengarahkan pandangannya ke arah kerumunan kecil di dekat dinding."Itu, Pak... Katanya Bu Andien Utama di-bullly sama tiga artis," jawab kru tersebut seadanya.Manik mata Timothy melotot sempurna dalam dorongan kejut yang luar biasa. Sel-sel otaknya bekerja kilat menyadari ancaman besar yang mengintai: Utama Group adalah salah satu investor sekaligus sponsor bagi pembiayaan proyek film ini.Jika kehormatan seorang Andien Utama tersinggung di tempatnya, bukan tidak mungkin produksi film ini akan dibatalkan secara sepihak. Dan lebih buruk lagi, usahanya yang menyewakan properti megah ini terancam tak mendapat sedikit pun p
Empat hari berturut-turut, rasa bersalah mengendap pekat di dalam batin Andien Utama. Walau komunikasi antaranya dan Jovian tetap berjalan—meski kini tak sedemikian intensif seperti dahulu—wanita itu selalu mendapati setidaknya dua atau tiga pesan perhatian yang ditinggalkan pria itu di bilik obrolan mereka.Keheningan dan penarikan diri Jovian yang perlahan jutru menghantam batin Andien lebih keras daripada sebuah kemarahan meledak-ledak.Sebagai penebus atas rasa bersalah yang mengganggu fokusnya, Andien berniat mengajak Jovian untuk makan siang bersama dan menghabiskan waktu berdua hari ini.Namun sayangnya, Jovian teramat sulit untuk dihubungi secara langsung; pesan tertulis yang dikirimkan Andien pun belum sempat dibaca oleh pria yang tengah dipadati jadwal syuting film tersebut.Tak habis akal, Andien berinisiatif menghubungi Rafi, manajer pribadi Jovian. Mengerti akan situasi hubungan keduanya, Rafi menyarankan agar Andien menemui Jovian secara langsung di lokasi syuting.Di si
Malam yang tenang di kediaman mewah Marcus Manggala perlahan berubah menjadi pekat dan sarat distorsi sejak Ririn mulai menjejakkan kaki dan bersembunyi di rumah tersebut.Kehadiran wanita itu bagaikan parasit berbahaya yang menggerogoti ketentraman dari dalam, menyebarkan aura ancaman yang siap meledak sewaktu-waktu.Doni, ketua pengawal kepercayaan Ririn, kini berpenampilan amat berbeda dari biasanya. Sosok pria yang biasa berbalut pakaian serba hitam dengan perawakan tinggi berotot serta raut wajah yang keras tegap itu terpaksa menanggalkan identitas aslimya.Demi sebuah rencana penyamaran yang dirancang Ririn, Doni mengubah total gaya busananya.Kini, penampilannya terlihat jauh lebih santai dan membumi: dibalut kemeja kotak-kotak kusam, celana jins panjang yang longgar, serta topi jerami sederhana yang menghiasi kepalanya. Ia secara sempurna menjelma menjadi seorang tukang kebun kediaman mewah.Doni, yang pada awalnya merupakan bagian dari tim keamanan eksekutif Manggala Tech, te
Adrian melangkah perlahan melintasi karpet tebal kamar rawat VIP Saifanny, lalu melesakkan tubuhnya ke atas kursi tepat di samping peraduan.Raut paras tampannya mengeras kaku, diselimuti benteng amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun.Pikirannya berputar hebat dalam jurang kecemasan dan kalkulasi rasional. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Marcus Manggala akan membalas gertakannya secara mematikan menggunakan bukti ancaman catatan log history milik Bima.Logika hukum Adrian terdesak di persimpangan jalan: apakah bukti ancaman tersebut bisa digunakan sebagai amunisi untuk menyeret Marcus atas keterlibatannya dalam aksi nekat Ririn?Namun di saat yang sama, mengekspos eksistensi log history peretasan itu sama saja menyerahkan lehernya sendiri ke dalam jerat tuntutan pidana cyber crime yang nyata.Saifanny yang sejak tadi mengamati keheningan yang tak biasa dari pria di sampingnya pun membuka suara."Adrian..." Panggil Saifanny dengan dahi berkerut heran, menangkap aura ketegangan
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







