ログインSuster keluar bawa kertas. “Bu, ini surat kematian. Mau lihat jenazah?”
Bu Lily mengangguk, gemetar. “Mau. Mama mau ketemu anak Mama.”Keyna terbujur, ditutup kain putih sampai dada. Wajahnya pucat, damai. Tidak ada lagi marah, tidak ada lagi dendam.Bu Lily pegang kening Keyna. Dingin. “Tidur ya, Nak. Maafin Mama telat datang. Maafin Mama nggak bisa jaga kamu.”Azalea di belakang, nangis diam-diam. Sebenci apa pun, ini adik angkatnya dulu. Yang ajarin diaAzalea ragu untuk menekan tombol post pada media sosialnya. Ia butuh pendapat Arsen sebelum memviralkan videonya yang berbicara dengan Vanessa. Ia tidak mau salah langkah lagi seperti di pemakaman.Ia mengetikkan pesan di ponselnya untuk Arsen.Azalea : Mas, aku mau viralkan video Vanessa ngaku. Boleh ya? Aku sudah tidak tahan kita dihujat...Baru mau ia kirim pesan itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Arsen yang menghubunginya terlebih dahulu. Suaranya tegang tapi cepat.“Zel! Kamu di mana?”“Di rumah produksi, Mas.”“Dengerin aku, Zel. Kamu harus bertemu dengan aku sekarang. Kalau bisa, kamu ke kantor polisi sekarang. Bawa HP kamu yang ada rekaman Vanessa itu. Jangan viralkan dulu! Bawa aja ke sini!”Azalea langsung menyiapkan barang-barangnya dan pergi ke kantor polisi.Sesampainya di Polres, di ruang penyidik lantai 2, ternyata di sana ada Arsen, polisi, dan yang lainnya yang tidak Azalea
Tangannya berhenti di atas tombol Ya.“Mas?” tanya Azalea pelan.Arsen tersenyum pahit.“Kita simpan dulu, Zel. Jangan kita hapus. Bukan untuk dipenjara. Tapi untuk jaga diri kita. Kalau besok mereka fitnah kita lagi, bilang kita yang bunuh Pak Hasan, kita punya bukti siapa yang sebenarnya mulai semua ini.”Azalea mengangguk.Mobil melaju pelan meninggalkan TPU Tanah Kusir yang hujan, meninggalkan makam Pak Hasan, dan meninggalkan Bu Lidya serta Vanessa yang masih duduk berduaan di tanah becek, berpelukan di depan kuburan, tanpa suami, tanpa papa.*Rumah produksi.Ponsel Arsen yang tadi ia silent selama pemakaman, ia nyalakan lagi sesampainya di rumah produksi Azalea.TING! TING! TING! TING! TING! TING!Notifikasi meledak seperti bom. 387 notifikasi WhatsApp. 124 DM Instagram. 56 missed call.Arsen mengernyit. Ia buka Instagram.Di explore, di akun gosip @lambe_ped*sss, @info
Hujan deras di TPU Tanah Kusir belum berhenti saat pemakaman selesai. Tanah makam Pak Hasan masih merah, masih basah, bunga masih segar.Arsen dan Azalea masih berdiri di barisan paling belakang, di bawah satu payung hitam yang sama. Mereka tidak maju, tidak mau mengganggu keluarga.Vanessa yang tadi merangkak di tanah, sekarang sudah dipapah kembali ke kursi roda oleh perawat, mukanya penuh tanah dan air mata. Bu Lidya yang tadi pingsan, sudah siuman, tapi matanya kosong, menatap nisan kayu bertuliskanH. Hasan Bin H. Wijaya -Ustadz sudah selesai doa. Pelayat satu per satu mulai pulang.Arsen berbisik ke Azalea. “Kita samperin Tante Lidya ya, ucapin belasungkawa terakhir, terus kita pulang.”Azalea mengangguk. “Iya, Mas.”Mereka berjalan pelan melewati becek, mendekati Bu Lidya dan Vanessa yang masih di samping makam.Bu Lidya melihat kedatangan mereka. Awalnya wajahnya datar. Lalu begitu meliha
Suasana di VIP 302 pecah. Tangisan Bu Lidya melengking, Vanessa masih merangkak di lantai memeluk kaki Pak Hasan yang sudah diselimuti kain putih. Perawat mencoba menenangkan, tapi tidak ada yang bisa menenangkan seorang anak yang baru saja melihat papanya meninggal di depan matanya karena amarahnya sendiri.Arsen dan Azalea tidak mau banyak bicara dengan Vanessa yang masih berduka. Bukan waktunya. Bukan tempatnya untuk bicara. Apalagi dengan semua ancaman dari Vanessa tadi. Kematian menghapus semua perdebatan sesaat.Arsen memberi isyarat ke Azalea dengan anggukan kepala. “Kita keluar dulu, Zel.”Azalea mengangguk, matanya sembab. Mereka menyingkir dan pergi ke taman belakang rumah sakit, taman kecil yang sepi di belakang IGD, tempat keluarga pasien biasanya merokok dan menunggu.Taman itu ada bangku kayu di bawah pohon ketapang. Jam 2 siang, panas, tapi sepi. Tidak ada orang.Begitu duduk di bangku itu, tangan Azalea bergetar hebat. S
“PAPAAA!!! PAPA BANGUN, PA!!!”Teriakan Bu Lidya dan Vanessa memecah seluruh lantai 3 VIP. Perawat jaga yang sejak tadi hanya berani mengintip dari luar langsung lari masuk, menekan tombol emergency biru di dinding.TING NONG! TING NONG!“CODE BLUE! VIP 302! CODE BLUE!”Dalam 30 detik, ruangan itu penuh. Dua perawat, satu dokter jaga IGD, dan satu troli resusitasi didorong cepat.Pak Hasan tergeletak di lantai, posisi miring. Wajahnya pucat abu-abu, bibirnya sudah membiru. Keringat dingin membasahi kemeja batiknya. Mata terpejam.Bu Lidya dipeluk perawat dan ditarik mundur. “Ibu, minggir dulu, Ibu! Kasih kami ruang!”Vanessa di ranjang hanya bisa menangis histeris, tidak bisa turun. “Papa! Papa jangan tinggalin Vanessa, Pa! Pa!”Dokter jaga, dr. Rian, langsung jongkok, ia mengecek nadi karotis.“Nadi tidak teraba! Tidak ada napas! Mulai RJP!”Perawat lang
Vanessa berteriak-teriak dan marah-marah di dalam ruangan VIP No 302 itu sendirian. Setelah Azalea pergi dengan senyum puasnya, ia melempar semua yang bisa ia jangkau. Gelas plastik, tisu, remote AC.“Perempuan sialan! Janda sialan! Mandul! Mandul! Pantasnya kamu itu mati! Pantas! Dasar penjual sambal murahan! Kamu pikir kamu menang, hah? Kamu pikir kamu menang?!”Semua sumpah serapah ia katakan walaupun tak ada Azalea yang akan mendengarkan semua teriakannya itu. Suaranya sampai terdengar sampai ke pos perawat. Beberapa perawat hanya saling pandang, tidak berani masuk karena tahu keluarga ini temperamental.“Arsen itu milik aku! Milik aku! Bukan milik kamu! Aku yang pertama! Aku!”Ia memukul-mukul ranjang, sampai infusnya hampir lepas dan perban di bokongnya terasa nyeri menyengat. Tapi rasa sakit fisik kalah dengan rasa malu karena dijebak.Tak lama kemudian, pintu terbuka dengan keras. Bu Lidya dan Pak Hasan datang. Merek
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot
Bara tidak menjawab. Ia membuang muka, menatap ke arah lain. Rahangnya mengeras.Yang menjawab justru suara lain dari belakang rombongan. Suara yang lebih melengking, lebih tua, dan lebih menyakitkan dari apa pun."Ngapain kamu ke sini, Azalea? Mau bikin malu keluarga kami, ya?"Bu Ratna. Ibu mertu
Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb







