LOGINIstri dari mendiang sahabat suamiku mengunggah foto hasil pemeriksaan kehamilan. “Terima kasih atas spermamu yang memberiku kesempatan memiliki anak sendiri.” Aku melihat di kolom suami tertera nama suamiku, Benson. Lalu, meninggalkan komentar tanda tanya. Tak lama kemudian, Benson langsung meneleponku dan memarahiku habis-habisan. “Dia itu seorang janda dan hidupnya kesepian. Dia hanya ingin punya anak supaya ada teman di rumah, biar agak ramai. Masa kamu nggak punya sedikit pun rasa toleransi?” “Lagipula, Celvin itu sahabat baikku. Dia sudah meninggal, jadi wajar kalau aku menjaga istrinya. Ini namanya setia kawan, kamu mengerti nggak, sih?” Tak lama kemudian, janda sahabatnya itu kembali memamerkan foto sebuah apartemen mewah tipe penthouse di Sandona. “Untung ada kamu yang menemaniku, membuat aku kembali merasakan hangatnya sebuah rumah.” Melihat foto punggung Benson yang sedang sibuk di dapur, aku pun berpikir, sepertinya pernikahan ini memang sudah waktunya berakhir.
View MoreMungkin karena merasa bersalah, saat bercerai Benson memberiku sejumlah besar harta. Aku pun menerima semuanya. Uang itu cukup membuatku hidup berkecukupan tanpa khawatir soal sandang dan pangan dalam waktu yang lama. Jadi, aku pun memulai perjalanan keliling duniaku.Setiap sampai di suatu tempat, aku selalu mengirimkan kartu pos untuk orang tuaku dan menuliskan pengalaman perjalanan itu di blog.Lama-kelamaan, ternyata blogku mengumpulkan cukup banyak penggemar.Mereka semua kagum pada keberanianku melakukan perjalanan sendirian.Lewat perjalanan-perjalanan itu, aku juga merasakan keindahan alam dan menemukan arti perjalanan hidupku sendiri.Pernikahan lima tahun yang lalu rasanya seperti cerita dari kehidupan yang sudah berlalu.Ketika aku pulang dari salah satu perjalanan keliling dunia, aku kembali mendengar kabar tentang Benson dari mulut orang tuaku.Setelah bercerai denganku, Tasya yang sedang hamil memanfaatkan keadaan untuk naik posisi.Awalnya, Benson menolak. Katanya dia s
Aku memandang Tasya yang duduk santai di hadapanku, perlahan menyeruput kopinya. Dia benar-benar berbeda dari yang biasa kulihat saat bersama Benson.Tasya meletakkan cangkirnya, menatapku dengan tatapan meremehkan.“Aku yang Benson cintai, cepat cerai dengannya.”Melihat Tasya yang akhirnya memperlihatkan sikap aslinya, aku tetap tenang dan mengangkat cangkir dan menyesap kopi sedikit.Dari mana kamu tahu aku yang nggak mau cerai?”“Justru yang memohon nggak mau cerai itu Benson.”Tasya sempat terdiam sejenak, kemudian memandangku dengan tatapan penuh kebencian.“Nggak mungkin! Aku sudah mengandung anaknya, dia nggak mungkin nggak menikahiku.”“Pasti kamu yang terus mengejarnya dan nggak mau bercerai!”Detik berikutnya, dia menatapku dan tersenyum dingin.“Kamu belum tahu, ‘kan? Anak dalam kandunganku itu bukan hasil inseminasi buatan seperti yang Benson bilang.”“Aku dan Benson sudah melakukan semuanya sejak lama!”Mendengar berita itu, aku sempat membeku sejenak.Kupikir Benson hany
Benson yang sekarang sudah jauh berbeda dengan dulu. Janggutnya tidak terurus, wajahnya tampak lesu dan letih.Begitu melihatku, matanya langsung bersinar dan buru-buru mendekat.“Yuna, bagaimana keadaanmu? Sudah agak membaik?”Aku mengangguk pelan.“Sudah lumayan membaik. Kalau nggak ada urusan lain, aku mau pergi dulu.”Dia buru-buru mengangkat tangan, menghadangku, lalu dengan hati-hati menyodorkan sebuah kotak.Saat kubuka, isinya sepasang cincin.“Yuna, cincin nikah yang kupesan sudah jadi.”Dulu, cincin pernikahan kami adalah hasil desain bersama, punya arti yang sangat istimewa bagi kami.Kami bahkan berjanji, apapun yang terjadi, cincin itu tidak boleh dilepas.Namun entah sejak kapan, aku menyadari cincin di jari manis Benson sudah tidak ada.Saat kutanya, dia malah bilang bahwa Tasya merasa sedih setiap melihat cincin itu, karena mengingatkannya pada mendiang Celvin. Jadi, dia melepaskannya sementara.Waktu itu, aku kesal sekali dan sempat bertengkar hebat dengannya.Karena a
Benson langsung panik, suaranya terdengar cemas saat menjelaskan, “Yuna, aku nggak mau cerai denganmu. Aku sungguh nggak tahu kalau kamu hamil sebelumnya. Kenapa kamu nggak memberitahuku?”Mendengar pertanyaannya, aku malah merasa konyol.Baru beberapa hari, Benson seolah sudah melupakan pertanyaan yang pernah kulontarkan di rumah sakit waktu itu.Sebenarnya, pertanyaan di hari itu adalah kesempatan terakhir yang kuberikan untuknya, sekaligus kesempatan terakhir bagi pernikahan kami.Namun, dia mengecewakanku.Pada akhirnya, dia tetap memilih Tasya tanpa ragu sedikit pun.“Di rumah sakit hari itu, saat kamu dan Tasya hendak pergi, aku memanggilmu dan menanyakan sesuatu. Kamu masih ingat?”Awalnya, ekspresi Benson tampak bingung. Lalu perlahan berubah menjadi penuh kesedihan dan tak percaya.Suaranya terdengar bergetar, “Jadi, hari itu kamu ke rumah sakit bukan karena sakit, tapi untuk aborsi?”Aku mengangguk tenang.“Iya.”Benson jelas mengingat jawabannya waktu itu.Dialah yang memb
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.