แชร์

BAB 8 AKU KANGEN

ผู้เขียน: Yoongina
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-18 13:50:29

Tanganku gemetar saat meraba saku celana. Ada ketakutan saat meraih benda pipih itu, takut jika itu adalah pesan perpisahan dari Andreas, sama seperti Yoga yang memutuskan hubungan sepihak lewat telepon waktu itu.

​Aku menarik napas panjang, mencoba menetralkan rasa mual yang masih tersisa, lalu menyalakan layar ponsel.

​Bukan Andreas. Tapi...

​Yoga : Gita, aku kangen.

​Deg. Jantungku seakan berhenti berdetak sesaat. Mengapa harus Yoga? Mengapa di saat hubunganku dengan Andreas sedang tidak bai
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Cinta Gita   BAB 76 LEMBARAN YANG TERCAMPUR

    "Gue enggak paham sama teman-teman gue di Jakarta. Ada masalah apa sih, sampai diajak kumpul aja pada susah banget. Terutama Gita!" kesal Widi saat kami melakukan panggilan video dalam grup. ​Mataku tertuju pada satu orang yang ada di pojok kanan layar, Azizah. Dia terlihat jauh lebih kurus dibanding terakhir kali aku bertemu dengannya, sebelum Bian melarangnya untuk berteman lagi denganku. ​"Woi, malah pada diam semua!" tegur Widi lagi. "Gue enggak mau tahu ya, pokoknya karena gue sama Ipul sudah pulang ke Jakarta, kita harus pergi sama-sama!" ​"Gue enggak akan bisa pergi, Wid," sahutku pelan. ​"Tuh, bener kan! Pasti Gita duluan. Kenapa sih, Git? Kita setahun sekali aja belum tentu bisa kumpul loh." ​"Gita enggak bakal dibolehin sama cowoknya. Gue juga sampai sekarang enggak dibolehin sama Bian," balas Azizah. ​Ucapannya membuatku terpaku. Ternyata Azizah masih dilarang untuk bergaul denganku, padahal sebentar lagi aku akan menikah dengan Ale. ​"Wid, sori banget ya, t

  • Cinta Gita   BAB 75 ANDAI WAKTU BISA BERPUTAR

    "Kalau untuk bulan depan apa kamu bisa minta ijin melangsungkan pernikahan, Le?" tanya Papa Ale ditengah-tengah makan malam kami. Ale meletakkan garpunya dengan hati-hati. Aku melirik sekilas kearahnya dengan jantung berdebar, berharap jawaban yang akan keluar dari mulut Ale, sesuai dengan harapanku. Rahang Ale bergerak pelan, menyelesaikan kunyahan potongan daging dalam mulutnya, sebelum menjawab, "Aku sudah bersurat untuk meminta ijin melangsungkan pernikahan ke manajemen tim, Pa." "Lalu?" "Aku diberi ijin hanya dua hari, jadi setelah hari H pernikahan, besoknya aku sudah harus kembali ke kamp." Hatiku mencelos. Aku menarik nafas pelan untuk menenangkan diri agar tidak melayangkan protes yang sudah menumpuk di dada. Untungnya Andreas dan Salsa tidak ada di sini. Mungkin Salsa sedang merawat Andreas yang babak belur karena perbuatan Ale. Papa Ale mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kalau begitu persiapannya harus matang dan cepat. Kamu tahu kita harus mengundang banyak tamu

  • Cinta Gita   BAB 74 AKHIR DARI SEGALANYA

    Aku hampir saja menjatuhkan ponsel ketika melihat kiriman foto wajah Andreas yang penuh luka. Salsa mengirimkan foto itu disertai dengan caci maki menyalahkan diriku karena masih nekat mendekati Andreas saat Ale di Spanyol. Air mata tiba-tiba jatuh di pipi, memandang luka-luka di pelipis dan bibir Andreas yang pecah juga pipinya yang memar kebiruan. Tanganku bergetar menahan amarah yang tidak bisa aku salurkan karena saat ini masih berada di kantor. Ingin rasanya aku berlari menghampiri Andreas sekarang juga, tapi aku tahu itu tidak mungkin bisa aku lakukan. "Gita, thanks ya buat bantuanmu. Kita sudah bersurat ke manajemen tim Caleandra. Dan langsung dijawab, bersedia untuk di wawancara dua hari lagi. Eh, kamu kenapa Gita? kok nangis?" Kak Nanda menutupi kegembiraannya seketika saat melihat air mata yang bergulir perlahan di wajahku. Dengan cepat aku menghapus air mata dengan tangan dan berusaha tersenyum seolah tidak ada yang terjadi. "Nggak apa-apa kok, Kak. Gita cuma... n

  • Cinta Gita   BAB 73 POSESIF

    AUTHOR'S POV. "Jangan menghancurkan cita-citanya!" ​Suara bariton itu tiba-tiba menginterupsi. Andreas yang kini berdiri tegap di belakang punggung Ale terlihat murka setelah mendengar desakan yang Ale lakukan untuk menjauhkan Gita dari kariernya. ​Ale memutar tubuhnya dengan cepat. "Andreas," desisnya sinis. "Cita-cita Gita itu bukan urusan lo! Dia calon istri gue, jadi gue yang berhak menentukan masa depannya!" ​"Gue ngelepas Gita bukan buat lo hancurin hidupnya, Ale!" sentak Andreas dengan bentakan yang tertahan, menyadarkan dirinya sendiri bahwa saat ini ia sedang berada di dalam rumah keluarga besar Ale. ​Sebenarnya, kedatangan Andreas pagi ini adalah untuk menjemput Salsa dan mengantarnya ke kampus. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer yang mengkilap itu, indra pendengarannya langsung menangkap suara Ale yang tengah menyebutkan persyaratan pada Gita melalui sambungan telepon. ​Ale menatap penuh amarah ke arah Andreas. Wajah tampan pria di hadapannya itu ju

  • Cinta Gita   BAB 72 SYARAT MUTLAK

    ​"Pelampiasan?" cicitku, terdengar parau hampir tenggelam oleh deru AC mobil. "Kamu mengencani orang lain selama dua bulan ini, Kak? Di saat kamu terus-menerus menuduhku berselingkuh dengan Andreas?" ​Ale tidak menunjukkan raut bersalah sedikit pun. Di bawah remang lampu dasbor, ekspresi wajahnya justru terlihat begitu dingin dan tegang. ​"Aku tidak mengencaninya, Gita. Dia yang menawarkan diri menghiburku untuk mengalihkan pikiranku darimu," sahut Ale datar, jemarinya mengetuk setir mobil dengan santai. "Dan malam ini aku jujur padamu karena aku tidak mau ada rahasia di antara kita. Besok aku akan menyelesaikan semuanya dengan Windy, jadi kamu tidak perlu cemburu." ​"Aku tidak cemburu!" sanggahku cepat, meski getaran di suaraku terdengar pilu. Air mata yang sejak tadi mengering kini kembali menggenang di pelupuk mata, bukan karena sedih, melainkan karena rasa muak yang teramat sangat. ​"Kamu egois, Kak. Kamu mengunci ruang gerakku, menyuruhku mundur dari magang, menuduhku maca

  • Cinta Gita   BAB 71 PELAMPIASAN EMOSI

    "Aku belum mau menikah," sahutku pelan melepas pelukan Ale. Laki-laki itu terdiam, memperhatikan ku yang berjalan menuju sofa. Laki-laki itu terdiam di tempatnya. Sepasang matanya yang tajam bergerak lambat, memperhatikan gerak-gerikku yang melangkah menjauh, berusaha mencari jarak aman dengan berjalan menuju sofa beludru hitam di tengah ruangan. Aku menghempaskan tubuhku di sana, menaruh draf skripsiku di atas meja dengan hati-hati. Suasana apartemen seketika berubah hening. Keheningan yang menegangkan merayap di antara kami. ​Ale tidak membalas dengan bentakan. Sebaliknya, ia justru mengembuskan napas pendek, lalu melangkah perlahan mendekatiku. Bunyi ketukan sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti hitung mundur yang membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. ​Ia berhenti tepat di depan sofa, menjulang tinggi di hadapanku hingga bayangannya menutup sebagian cahaya temaram lampu ruangan. Ale melepas jam tangan besinya, menaruhnya di atas meja kopi dengan dent

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status