Beranda / Young Adult / Cinta Gita / BAB 70 LANTAI 15

Share

BAB 70 LANTAI 15

Penulis: Yoongina
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 10:41:54

"Ale!"

​"Ale! Selamat, ya! Aku ikuti beritamu saat baru landing di Jakarta kemarin."

​"Keren banget, nih, kampus kita punya alumni atlet hebat sekarang!"

​Seruan kagum dari para mahasiswa dan mahasiswi bersahut-sahutan begitu melihat kehadiran Caleandra di koridor kampus. Mereka tampak antusias menyambut kepulangan laki-laki itu setelah berhasil memenangkan turnamen besar di Spanyol.

Koridor yang tadinya sepi mendadak riuh. Kerumunan mahasiswa mulai berkumpul, berbisik-bisik heboh sambi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cinta Gita   BAB 74 AKHIR DARI SEGALANYA

    Aku hampir saja menjatuhkan ponsel ketika melihat kiriman foto wajah Andreas yang penuh luka. Salsa mengirimkan foto itu disertai dengan caci maki menyalahkan diriku karena masih nekat mendekati Andreas saat Ale di Spanyol. Air mata tiba-tiba jatuh di pipi, memandang luka-luka di pelipis dan bibir Andreas yang pecah juga pipinya yang memar kebiruan. Tanganku bergetar menahan amarah yang tidak bisa aku salurkan karena saat ini masih berada di kantor. Ingin rasanya aku berlari menghampiri Andreas sekarang juga, tapi aku tahu itu tidak mungkin bisa aku lakukan. "Gita, thanks ya buat bantuanmu. Kita sudah bersurat ke manajemen tim Caleandra. Dan langsung dijawab, bersedia untuk di wawancara dua hari lagi. Eh, kamu kenapa Gita? kok nangis?" Kak Nanda menutupi kegembiraannya seketika saat melihat air mata yang bergulir perlahan di wajahku. Dengan cepat aku menghapus air mata dengan tangan dan berusaha tersenyum seolah tidak ada yang terjadi. "Nggak apa-apa kok, Kak. Gita cuma... n

  • Cinta Gita   BAB 73 POSESIF

    AUTHOR'S POV. "Jangan menghancurkan cita-citanya!" ​Suara bariton itu tiba-tiba menginterupsi. Andreas yang kini berdiri tegap di belakang punggung Ale terlihat murka setelah mendengar desakan yang Ale lakukan untuk menjauhkan Gita dari kariernya. ​Ale memutar tubuhnya dengan cepat. "Andreas," desisnya sinis. "Cita-cita Gita itu bukan urusan lo! Dia calon istri gue, jadi gue yang berhak menentukan masa depannya!" ​"Gue ngelepas Gita bukan buat lo hancurin hidupnya, Ale!" sentak Andreas dengan bentakan yang tertahan, menyadarkan dirinya sendiri bahwa saat ini ia sedang berada di dalam rumah keluarga besar Ale. ​Sebenarnya, kedatangan Andreas pagi ini adalah untuk menjemput Salsa dan mengantarnya ke kampus. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer yang mengkilap itu, indra pendengarannya langsung menangkap suara Ale yang tengah menyebutkan persyaratan pada Gita melalui sambungan telepon. ​Ale menatap penuh amarah ke arah Andreas. Wajah tampan pria di hadapannya itu ju

  • Cinta Gita   BAB 72 SYARAT MUTLAK

    ​"Pelampiasan?" cicitku, terdengar parau hampir tenggelam oleh deru AC mobil. "Kamu mengencani orang lain selama dua bulan ini, Kak? Di saat kamu terus-menerus menuduhku berselingkuh dengan Andreas?" ​Ale tidak menunjukkan raut bersalah sedikit pun. Di bawah remang lampu dasbor, ekspresi wajahnya justru terlihat begitu dingin dan tegang. ​"Aku tidak mengencaninya, Gita. Dia yang menawarkan diri menghiburku untuk mengalihkan pikiranku darimu," sahut Ale datar, jemarinya mengetuk setir mobil dengan santai. "Dan malam ini aku jujur padamu karena aku tidak mau ada rahasia di antara kita. Besok aku akan menyelesaikan semuanya dengan Windy, jadi kamu tidak perlu cemburu." ​"Aku tidak cemburu!" sanggahku cepat, meski getaran di suaraku terdengar pilu. Air mata yang sejak tadi mengering kini kembali menggenang di pelupuk mata, bukan karena sedih, melainkan karena rasa muak yang teramat sangat. ​"Kamu egois, Kak. Kamu mengunci ruang gerakku, menyuruhku mundur dari magang, menuduhku maca

  • Cinta Gita   BAB 71 PELAMPIASAN EMOSI

    "Aku belum mau menikah," sahutku pelan melepas pelukan Ale. Laki-laki itu terdiam, memperhatikan ku yang berjalan menuju sofa. Laki-laki itu terdiam di tempatnya. Sepasang matanya yang tajam bergerak lambat, memperhatikan gerak-gerikku yang melangkah menjauh, berusaha mencari jarak aman dengan berjalan menuju sofa beludru hitam di tengah ruangan. Aku menghempaskan tubuhku di sana, menaruh draf skripsiku di atas meja dengan hati-hati. Suasana apartemen seketika berubah hening. Keheningan yang menegangkan merayap di antara kami. ​Ale tidak membalas dengan bentakan. Sebaliknya, ia justru mengembuskan napas pendek, lalu melangkah perlahan mendekatiku. Bunyi ketukan sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti hitung mundur yang membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. ​Ia berhenti tepat di depan sofa, menjulang tinggi di hadapanku hingga bayangannya menutup sebagian cahaya temaram lampu ruangan. Ale melepas jam tangan besinya, menaruhnya di atas meja kopi dengan dent

  • Cinta Gita   BAB 70 LANTAI 15

    "Ale!" ​"Ale! Selamat, ya! Aku ikuti beritamu saat baru landing di Jakarta kemarin." ​"Keren banget, nih, kampus kita punya alumni atlet hebat sekarang!" ​Seruan kagum dari para mahasiswa dan mahasiswi bersahut-sahutan begitu melihat kehadiran Caleandra di koridor kampus. Mereka tampak antusias menyambut kepulangan laki-laki itu setelah berhasil memenangkan turnamen besar di Spanyol. Koridor yang tadinya sepi mendadak riuh. Kerumunan mahasiswa mulai berkumpul, berbisik-bisik heboh sambil mengarahkan kamera ponsel mereka ke arah kami, atau lebih tepatnya, ke arah sang bintang kampus yang baru saja mengharumkan nama bangsa. ​Ale tidak melepaskan cengkeramannya di pergelangan tanganku. Ia hanya menoleh sekilas ke arah kerumunan itu, memberikan senyum tipis dan anggukan kecil yang langsung disambut jeritan tertahan dari beberapa mahasiswi di barisan depan. Aura bintangnya sore ini benar-benar tidak terpadamkan. ​"Terima kasih," jawab Ale singkat pada mereka, suaranya terdengar

  • Cinta Gita   BAB 69 HARI KELULUSAN

    "Lo beneran nggak apa-apa magang tanpa persetujuan Kak Ale, Git?" tanya Nila sore itu. Kami sedang duduk di salah satu gerai es krim di mall, melepas penat setelah aku menyelesaikan satu setengah bulan magang di Harian Nasional. ​"Gue sama Kak Ale udah nggak ada hubungan apa-apa lagi, Nil," sahutku datar sambil menyuap es krim. ​Nila terdiam. Ia tampak gelisah, jemarinya terus-menerus mengetuk layar ponsel di genggamannya. ​"Lo kenapa sih, Nil? Kayak gelisah gitu. Lagi ada masalah? Tumben banget lo ngajak gue ketemuan mendadak." ​"Nggak kok, nggak ada apa-apa. Gue cuma kangen aja sama lo. Apalagi kita udah jarang ke kampus karena sebentar lagi mau sidang skripsi," jawab Nila cepat, mencoba tersenyum meski terkesan dipaksakan. "Sayangnya, Azizah nggak bisa ikut karena nggak dibolehin sama Bian." ​Aku menghela napas panjang. "Iya, gue kangen banget sama Azizah." ​"Emangnya separah itu ya, Git? Sampai Bian melarang Azizah buat main sama lo lagi?" ​"Gue juga nggak tahu, Nil.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status