로그인Namun, sejak kemunculan Lidia, semua janji itu menguap begitu saja bagai asap, dan dia tidak pernah lagi mengungkitnya walau hanya sekali.Kini setelah kesalahpahaman itu runtuh dan aku telah tiada, dia justru mengungkit kembali kisah lama itu. Alih-alih tersentuh, aku justru merasa hal ini sangat menggelikan.Tiba-tiba saja aku teringat sebuah kalimat, “Tidak akan ada orang yang terus menunggumu di tempat yang sama.”Kalimat itu, kini terasa sangat pas jika ditujukan kepada Tomas.Tadinya kukira Tomas hanya akan meratapi kematianku dalam waktu singkat.Bagaimanapun juga, dia telah menjelma menjadi seorang miliarder yang memiliki masa depan cerah. Kehidupan seperti apa pun atau wanita mana pun yang dia inginkan, semuanya berada di dalam jangkauan tangannya.Namun, hal yang membuatku terkejut adalah dia tidak pernah memulai lembaran hidup yang baru.Dia melepaskan seluruh urusan perusahaan, lalu mulai menapaki jalanan penuh memori masa lalu kami.Dia mendatangi setiap tempat yang pernah
Di dalam rekaman CCTV, terlihat jelas bagaimana Lidia dengan wajah penuh kemenangan menghinaku, sambil menceritakan segala rencana busuknya dengan bangga.Setelah menyaksikan rekaman itu, wajah Tomas seketika berubah muram.Dia tidak pernah menyangka "penyelamat nyawa" yang selama ini dia sayangi ternyata palsu, bahkan memiliki niat yang begitu keji untuk menghancurkannya."Lidia, kamu benar-benar bukan manusia!"Tomas menendang tubuh Lidia dengan keras hingga wanita itu tersungkur."Pak Tomas, aku mengatakan kata-kata itu hanya untuk memprovokasi Frida! Aku nggak pernah berniat merebut hartamu, juga nggak berniat membunuhmu. Aku pura-pura jadi penyelamatmu karena aku terlalu mencintaimu! Aku mohon, ampuni aku!"Lidia menangis tersedu-sedu sambil berlutut memohon belas kasihan."Pak Tomas, dia bohong! Dia memang berniat membunuh Anda demi menguasai harta Anda! Di dalam HP saya ada rekaman videonya, kalau nggak percaya, Anda bisa melihatnya sendiri!"Dokter itu sudah pasrah, dia memilih
"Benarkah?"Cengkeraman tangan Tomas di leher Lidia sedikit melonggar. Dia menoleh ke arah dokter di sampingnya dengan tatapan setengah tidak percaya.Dokter yang memang sudah disuap oleh Lidia itu, mengangguk tanpa ragu sedikit pun. "Benar, Pak. Frida yang menyuap saya dan menyuruh saya mengambil darahnya lebih banyak."Sorot mata Tomas seketika mendingin. "Kalau Frida menyuruhmu begitu, kamu langsung menurutinya begitu saja? Kamu ini dokter, apa kamu nggak punya akal sehat? Mengambil darah sebanyak 5.000 ml itu bisa membunuh orang!""Aku mau kamu membayar nyawa Frida!"Bersamaan dengan kalimat itu, Tomas melambaikan tangan. Dua satpam langsung merangsek masuk dari luar dan mengunci pergerakan dokter itu."Sebanyak apa dia mengambil darah Frida, sedot keluar darahnya dalam jumlah yang sama!""Pak Tomas, ampuni saya! Saya nggak sengaja melakukannya, semuanya adalah ide Frida!"Wajah dokter itu seketika pucat pasi karena ketakutan. Dia berlutut di lantai sambil memohon ampun."Cepat amb
"Frida, aku salah! Aku sudah tahu sekarang, kamu yang menyelamatkan nyawaku!""Tapi kenapa kamu nggak mengatakannya dari dulu? Ini semua salahmu, aku jadi salah orang dan menghukummu lama! Apa kamu tahu seberapa besar luka yang harus kutanggung karena semua ini?""Ini semua salahmu! Kita nggak usah donor darah lagi, sekarang juga kita ke KUA!"Tomas merangsek maju, lalu mencopot selang transfusi darah yang menancap di tubuhku.Dia akhirnya tahu siapa penyelamat nyawanya yang asli.Namun, mengapa tidak ada sedikit pun rasa bahagia di dalam hatiku?Mungkin karena aku memang sudah di ambang maut.Atau mungkin karena dia telah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, tapi dia masih menyalahkanku sampai sekarang!Seketika itu juga, aku tersadar sepenuhnya.Hatinya tidak pernah benar-benar berpaling kepada Lidia. Buktinya, dia memeriksa rekam medis donor darah, yang berarti dia tidak sepenuhnya percaya pada wanita itu. Namun, hatinya juga tidak pernah berada di sisiku. Sejak awal, sosok yang
Tak lama kemudian, aku mendengar langkah kaki Tomas yang beranjak pergi, disusul oleh suara pintu yang tertutup rapat.Setelah itu, sayup-sayup terdengar suara Lidia dengan nada kemenangan. "Nggak nyangka, ‘kan? Pria yang kamu cintai selama sepuluh tahun, ternyata bisa lebih membelaku?""Aku merebut jasamu sebagai penyelamat nyawanya, dan dia langsung bertekuk lutut untuk balas budi padaku. Kamu memotong bonus kinerjaku cuma 2 ribu, aku cuma pura-pura sok menderita, dan dia langsung menghukummu selama tiga tahun penuh!""Kamu memperlihatkan sertifikat donor darah tepat di depan wajahnya, tapi dia bahkan nggak mau melihatnya sedikit pun. Sebaliknya, aku cuma perlu ngomong, dan dia langsung percaya pada semua kebohonganku!""Sekarang, padahal aku cuma kena anemia ringan, dia tega memaksamu mendonorkan darah sebanyak 3.000 ml untukku! Dia sama sekali nggak percaya pada omonganmu yang mengaku kena kanker lambung stadium akhir dan hampir mati.""Padahal tubuhmu sudah selemah ini, bahkan kam
"Di dalam sakuku ada surat rumah sakit, kamu bisa ambil dan melihatnya sendiri!"Aku mencoba melakukan perlawanan terakhir yang sia-sia."Bawa dia pergi!"Tomas bahkan tidak sudi melirikku lagi. Dia memberikan perintah tegas kepada satpam untuk menyeretku keluar.Heh! Sungguh menggelikan!Pria yang telah kujaga selama hampir sepuluh tahun, yang kubantu mewujudkan mimpi besarnya hingga mempertaruhkan nyawaku sendiri, ternyata memperlakukanku begini.Anggap saja Lidia memang benar-benar penyelamat nyawanya, aku memang seorang wanita picik yang menghalalkan segala cara, tetapi kami telah bersama selama sepuluh tahun penuh!Kami pernah saling menopang di masa-masa sulit, berjuang bersama dari nol, bahkan pernah makan sepiring mie goreng di pinggir jalan saat sedang berhemat. Kami ....Benakku mulai memutar kembali rekaman masa lalu yang getir sekaligus manis bersama Tomas.Kami sebenarnya memiliki banyak sekali kenangan indah.Namun, sejak kapan hubungan asmara kami mulai membusuk?Mungki







