Share

Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan
Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan
Author: Xaviera

Bab 1

Author: Xaviera
"Ya, tunggu sampai aku selesaikan prosedurnya," kata Jesica dengan pelan.

Setelah menutup telepon, Jesica menarik napas dalam-dalam. Saat melewati ruang meditasi di ujung lorong, dia tiba-tiba mendengar suara erangan tertahan dari dalamnya. Sebuah cahaya terpancar dari celahnya karena pintunya tidak tertutup rapat, matanya pun tanpa sadar bergetar saat mengintip ke dalam.

Di bawah kabut dupa, Feri berlutut di depan altar Buddha. Jubahnya yang putih polos terbuka setengah dan gelang tasbih melilit di pergelangan tangannya.

Namun, tubuh Feri bergerak pelan dan di bawahnya ada sebuah boneka. Wajah boneka itu terlihat jelas dalam cahaya lilin yang berpendar. Mata bulat, bibir mungil, dan tahi lalat kecil di sudut mata kiri, sama seperti wajah adik angkatnya, Dahlia.

Jesica menggigit bibir bawah dengan kuat hingga sedikit berdarah. Ini sudah ketiga kalinya dia diam-diam memergoki hal ini. Dia langsung berlari keluar saat pertama kalinya dan tidak tidur semalaman saat kedua kalinya, tetapi malam ini dia benar-benar mati rasa. Lucunya lagi, Feri bukan tidak memiliki perasaan dan hasrat, hanya saja hasrat Feri itu tidak pernah berkaitan dengan Jesica.

Jesica bersandar pada dinding yang dingin, lalu tiba-tiba teringat saat pertama kalinya bertemu dengan Feri. Saat itu, dia berusia 20 tahun dan kakaknya membawanya ke sebuah klub untuk menghadiri jamuan makan malam, lalu memperkenalkannya pada sahabat terbaik.

Hari itu, Feri mengenakan pakaian berwarna putih. Kancing teratai yang terbuat dari batu giok putih tersemat di kerahnya dan ada seuntai tasbih tergantung di pergelangan tangannya. Dibandingkan dengan para pewaris keluarga kaya yang selalu terbuai kemewahan, Feri malah hanya duduk dengan secangkir teh di hadapannya.

Feri menundukkan kepala untuk menyeduh teh dan jemarinya yang panjang memegang teko. Air pun mengalir turun dan uap tipis mengepul. Setelah itu, dia mengangkat kepala dan menoleh ke arah Jesica.

Pada saat itu, jantung Jesica seperti berhenti sejenak.

Melihat Jesica terpaku, kakaknya tersenyum sambil mengetuk dahi Jesica. "Nggak perlu dipikirkan lagi, Gadis Kecil. Kamu boleh suka siapa pun, hanya dia saja yang nggak boleh. Di antara para pewaris keluarga kaya seperti kita, semuanya hidup dalam kesenangan. Hanya Feri yang sejak kecil beribadah di kuil. Dia benar-benar nggak terpengaruh sama hasrat dan keinginan."

Jesica tidak percaya. Sejak kecil, dia memang keras kepala dan tidak percaya ada orang yang benar-benar tidak memiliki hasrat. Oleh karena itu, dia mulai mengejar Feri dan menggunakan segala cara untuk menggodanya. Dia sengaja duduk di pangkuan Feri saat Feri sedang berdoa, tetapi Feri hanya mengangkatnya dan memindahkannya ke samping dengan satu tangan.

Dia pernah mencampur sesuatu ke dalam teh Feri, tetapi Feri hanya berkata dengan nada datar setelah meminumnya, "Lain kali jangan taruh terlalu banyak gojiberi, panas dalam."

Yang paling berlebihan adalah Jesica menyelinap ke ruang meditasi saat Feri sedang mengasingkan diri. Jesica berbaring di ranjang dengan hanya mengenakan kemeja putih milik Feri. Saat Feri membuka pintu dan masuk, dia sengaja menjulurkan kakinya ke tepi ranjang dan menggoyangkannya.

Namun hasilnya, Feri malah berbalik dan pergi. Keesokan harinya, dia menyuruh seseorang untuk mengirim sekotak kemeja baru. "Ini untukmu, jangan curi pakaianku lagi."

Bahkan Lukman juga sudah tidak tahan melihat kelakuan Jesica. "Bisa nggak kamu punya sedikit harga diri?"

Jesica menjawab dengan penuh percaya diri, "Aku ini sedang menyelamatkan umat manusia, bukannya sia-sia kalau pria yang setampan itu jadi biksu."

Jesica mendekati Feri selama empat tahun dan menggunakan segala cara yang dimilikinya, tetapi bahkan tidak berhasil menyentuh Feri sedikit pun. Saat itu, dia sudah mulai patah hati. Namun pada malam ulang tahunnya, dia tiba-tiba menerima telepon dari Feri.

"Turun," kata Feri.

Jesica berlari turun dengan mengenakan piama dan melihat Feri berdiri di tengah salju dengan bahu yang dipenuhi butiran salju.

"Kita menikah," kata Feri. Tidak ada cincin dan pernyataan cinta, hanya dua kata itu.

Namun, Jesica malah merasa begitu kegirangan. Dia lalu langsung memeluk Feri. "Kamu akhirnya terharu sama usahaku, 'kan?"

Feri tidak membalas pelukan Jesica, melainkan hanya menganggukkan kepala dengan pelan. Jika dipikirkan kembali sekarang, jawaban itu begitu asal-asalan. Setelah menikah selama dua tahun, mereka tetap tidak pernah benar-benar menjadi suami istri. Tidak peduli bagaimanapun dia menggoda, Feri selalu berbalik pergi di saat-saat terakhir dan masuk ke ruang meditasi seorang diri.

Jesica pernah mengira itu karena Feri sudah beribadah terlalu lama dan butuh waktu. Hingga tiga hari yang lalu, dia mengikuti Feri masuk ke ruang meditasi karena masih tidak menyerah dan menyaksikan sendiri pemandangan itu. Saat itu, dia baru mengerti Feri bukan tidak memiliki perasaan dan hasrat, hanya saja objek hasrat Feri bukanlah dirinya.

Dia tahu yang disukai Feri adalah Dahlia, adik angkat Feri sendiri yang sejak kecil diasuh oleh keluarganya. Feri berlatih ajaran Buddha, mengenakan tasbih, dan bahkan menikahinya, semuanya untuk menekan keinginan Feri terhadap adik angkat itu. Pada saat itu, hatinya benar-benar hancur.

Di dalam ruang meditasi, Feri akhirnya berhenti. Dia membungkuk dan mencium leher boneka itu, lalu berkata dengan suara yang sangat serak, "Lili, Kakak mencintaimu ...."

Suara Feri begitu pelan, tetapi menusuk tepat ke dalam hati Jesica yang sudah penuh luka itu. Air matanya akhirnya jatuh, lalu berbalik pergi dan tidak menoleh lagi.

Saat Jesica bangun di keesokan paginya, Feri sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi. Dia mengenakan setelan jas hitam yang mahal, membuat tubuhnya terlihat tinggi dan tegap. Namun, tasbih masih melilit di pergelangan tangannya, seolah-olah pria yang semalam kehilangan kendali itu hanya ilusi.

Saat Feri hendak melangkah keluar dari vila, Jesica memanggilnya, "Tunggu sebentar!"

Bahkan tanpa mengangkat kepala, Feri berkata dengan nada yang dingin, "Hari ini ada rapat, jangan ganggu aku lagi."

Kalimat itu seperti pisau tumpul yang perlahan-lahan memotong habis harapan terakhir Jesica. Ternyata di mata Feri, Jesica selamanya hanya pengganggu yang tak tahu diri. Dia tiba-tiba tersenyum. "Kamu salah paham. Aku cuma mau minta kunci mobil Maybach punyamu. Kamu pakai mobil lain saja dari garasi, aku lebih terbiasa pakai yang ini."

Feri akhirnya menatap Jesica, tetapi nada bicaranya tetap datar, "Hari ini ada urusan mau keluar?"

Jesica menganggukkan kepala. "Iya."

Feri kembali bertanya, "Urusan apa?"

Jesica langsung menarik kunci dari saku jas Feri dan tersenyum tipis. "Mengurus sesuatu ... yang akan membuatmu senang."

Yaitu ... meninggalkan Feri selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 24

    Suasana di taman itu tiba-tiba menjadi hening.Feri berdiri di batas persilangan antara cahaya dan bayangan dengan jas kusut yang ternoda kopi dari pesawat dan rambut yang biasanya rapi pun kini jatuh berantakan di keningnya."Pak Feri mau merebut pengantin?" kata Michael sambil menyipitkan mata.Feri tidak memedulikan Michael, melainkan langsung berjalan ke depan Jesica dan berlutut. Dia berkata dengan suara yang serak, "Aku tahu aku pantas mati, tapi tolong lihat aku sekali lagi ...."Para tamu langsung gempar. Pemimpin Keluarga Sardi di Jardonia yang merupakan pria dingin dan anggun itu kini malah berlutut di hadapan semua orang.Jesica mundur setengah langkah. "Feri, jangan begitu.""Aku sudah menulis 300 surat cinta. Mulai dari saat kita baru bertemu, menikah, sampai ...."Tenggorokan Feri bergerak, lalu melanjutkan, "Sampai hari-hari saat aku mencintaimu, tapi nggak berani mengakuinya."Tangan Feri gemetar saat membuka kotak itu, sehingga lembaran surat yang putih itu beterbangan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 23

    Dahlia terpaku di tempat. "Apa?""Karena kamu sudah menikah dengannya, jalani saja dengan baik."Nada bicara Feri terdengar tenang saat mengatakan itu, lalu menatap pria tua di depannya. "Nggak boleh sakiti dia. Kalau nggak, kamu tahu akibatnya."Pria tua itu terus menganggukkan kepala, lalu melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Dahlia. "Sayang, ayo pulang. Aku akan perlakukan kamu dengan baik."Dia berpikir meskipun tidak memukul Jesica, dia juga masih memiliki banyak cara untuk menyiksa Jesica. Apalagi penampilannya jelek dan tua, sedangkan Jesica cantik seperti bunga.Jesica berusaha memberontak seperti orang gila. "Feri, kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Kamu pernah bilang akan selalu melindungiku! Kamu bilang aku orang terpenting bagimu! Kak ... aku salah .... Kak ...."Tangisan histeris Jesica terdengar makin menjauh, tetapi Feri tidak menoleh dan masuk ke ruang kerja.Di ruang meditasi, Feri yang turun tangan sendiri membakar semua barang yang berhubungan dengan Da

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 22

    Di kafe, Michael mengaduk kopinya dengan tenang. Namun, kalimat pertama Feri membuat gerakannya terhenti."Kembalikan dia padaku, aku bisa menukar dengan apa pun," kata Feri.Michael mengernyitkan alis. "Apa pun?"Feri berkata dengan suara serak, "Ya. Saham Grup Sardi, tanah di Jardonia, asetku di luar negeri. Bahkan ...."Dia menutup mata sejenak, lalu melanjutkan, "Aku bisa membawa kembali Lili, biar dia sendiri yang meminta maaf pada Jes."Michael tiba-tiba tersenyum, lalu meletakkan cangkir kopi dan mata birunya menyiratkan sindiran. "Feri, sampai sekarang pun kamu masih belum paham ya? Jesica bukan barang dagangan. Dia itu seorang manusia yang punya darah, jiwa, dan bisa merasakan sakit serta menangis. Kamu pernah memiliki seluruh hatinya, tapi kamu yang hancurkan semuanya dengan tanganmu sendiri."Setelah mengatakan itu, Michael berdiri dan menatap Feri dari atas. "Sekarang giliranku yang mencintainya. Sedangkan kamu ...."Michael tersenyum dengan pelan. "Hanya bisa menjalani sis

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 21

    Tangisan di ujung telepon tiba-tiba berhenti, lalu Dahlia berkata dengan suara bergetar dan sangat tajam, "Kak ... apa maksudmu?"Feri memejamkan mata, lalu berkata dengan suara rendah dan lelah, "Dulu aku yang terlalu memanjakanmu. Karena sudah menikah, kamu jalani saja hidupmu dengan baik. Kalau benar-benar nggak tahan lagi ...."Dia terhenti sejenak, "Bilang sama Ayah Ibu. Sekarang aku nggak punya waktu untuk mengurus hal ini. Selain itu ...."Feri tersenyum pahit, lalu melanjutkan, "Kalau aku ikut campur, takutnya Jes lebih nggak akan memaafkanku."Napas Dahlia menjadi terengah-engah, lalu teriakan histeris pun pecah, "Kamu benar-benar sudah jatuh cinta pada Jesica?"Feri terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata dengan pelan, "Ya."Kata itu seperti pisau yang memutuskan sisa akal sehat Dahlia. Dia berteriak dengan suara yang hampir menembus gendang telinga, "Nggak mungkin! Jelas-jelas yang kamu cintai itu aku, mana mungkin bisa menyukai dia! Kamu bohong! Kamu pasti menipuku!"Dengan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 20

    Saat bau cairan disinfektan menusuk hidungnya hingga terasa sakit, Feri membuka mata dan melihat langit-langit berwarna putih. Dia mencoba menggerakkan jarinya, tetapi seluruh tulangnya terasa sakit."Sudah bangun?"Lukman yang duduk di tepi ranjang sedang mengupas apel dengan tenang dan cahaya dingin dari pisau memantul di matanya. "Beruntung sekali. Sudah sampai segininya saja masih belum mati."Tenggorokan Feri terasa kering. "Mana Jes?"Lukman tersenyum sinis. "Di ruang sebelah, merawat Michael. Aku sengaja bakar rumah dan memberi kalian obat, membuat kalian lemas dan nggak bisa lari. Tapi, orang pertama yang diselamatkan Jes adalah Michael."Setelah berkata demikian, kulit apel yang sedang dikupas Lukman langsung lepas dan jatuh ke tempat sampah. "Kamu nggak lihat ekspresinya yang cemas itu. Dia sudah menjaga semalaman, mata pun sudah bengkak karena menangis."Setiap kata Lukman seperti pisau tumpul yang perlahan-lahan menyayat hati Feri. Dia teringat dengan tatapan dingin Jesica

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 19

    Saat terdengar ketukan pintu, Feri sedang berdiri di depan jendela dan rokok di antara jarinya sudah hampir habis. Saat dia membuka pintu, Lukman bersandar di kusen dan memegang segelas wiski berwarna amber."Kamu mukul Michael?" tanya Lukman sambil mengernyitkan alis dan menyerahkan gelas itu.Feri tidak suka minum alkohol dan biasanya hanya minum teh, tetapi kini dia butuh sesuatu untuk membius perasaan yang bergolak di dadanya. Dia menerima gelas itu dan menenggak habis. Sensasi panas dari minuman keras langsung membakar tenggorokannya, sama seperti sensasi sesak napas saat melihat Jesica dan Michael berpelukan dengan mesra."Dia dan Jes sedang di ranjang, aku nggak tahan melihat itu," kata Feri dengan suara yang sangat serak."Jes?"Lukman tiba-tiba tertawa, tetapi tatapannya sangat dingin. "Sungguh luar biasa. Sudah enam tahun, aku baru kali ini dengar kamu panggil adikku seperti itu."Karena efek alkohol sudah mulai terasa, Feri bersandar pada kusen dan semua emosi yang tertahan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 16

    Feri langsung tampak tegang. "Kamu tahu nggak kalau Jesica itu istriku?"Michael berpura-pura terkejut sambil menatap Jesica. "Benarkah? Tapi, kenapa aku dengar kamu dan Jes sudah cerai?"Dia menunduk dan mencium puncak kepala Jesica, lalu berkata dengan nada penuh kasih, "Jes, mantan suamimu datang

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 9

    Jesica dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Saat keluar rumah sakit, dia menerima telepon dari kedutaan yang mengabarkan izin tinggal permanen di Negara Jumania sudah disetujui. Itu satu-satunya kabar baik yang didengarnya belakangan ini.Saat Jesica berdiri di depan kedutaan, sinar matahari beg

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 8

    Setelan jas Feri yang biasanya rapi kini penuh debu, bahkan ada darah di pelipisnya. Napasnya terengah-engah dan menyipitkan matanya saat melihat Jesica serta Dahlia.Ini pertama kalinya Jesica melihat kondisi Feri seberantakan ini. Terlihat jelas, Feri langsung mengerahkan orang untuk mencari merek

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 7

    Beberapa hari berikutnya, untuk pertama kalinya Feri tetap tinggal di rumah. Sepertinya dia juga menyadari suasana hati Jesica sedang buruk. Kejadian langkanya, dia bahkan menyuruh Dahlia untuk meminta maaf pada Jesica.Dahlia berdiri di depan Jesica, lalu berkata dengan nada sembarangan, "Kak Jesic

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status