Share

Bab 2

Author: Xaviera
Jesica tidak mengucapkan kalimat terakhir itu, melainkan langsung berbalik dan mengemudi menuju kedutaan. Proses pengajuan izin tinggal permanen di Negara Jumania tidak rumit, terutama bagi seseorang dengan latar belakang keluarga sepertinya.

Beberapa tahun yang lalu, bisnis Keluarga Amsari sudah dipindahkan ke luar negeri. Ayah, ibu, dan kakaknya juga sudah pindah ke luar negeri, hanya Jesica yang masih tinggal di sini demi Feri. Kini, dia juga akan pergi.

"Prosedurnya memakan waktu sekitar seminggu," kata stafnya sambil tersenyum.

Jesica mengangguk, lalu menerima tanda terima itu dan berbalik keluar dari kedutaan. Semuanya akhirnya akan berakhir juga. Feri adalah orang yang didekatinya selama enam tahun penuh. Jesica mengira dirinya bisa membawa Feri ke keduniawian, tetapi ternyata akhirnya tetap saja tidak bisa memiliki Feri.

Dahulu, Jesica juga sempat mengorbankan banyak hal demi Feri. Menemani Feri makan vegetarian, hidup menahan diri dan bahkan mengikis habis sifatnya yang tadinya ceria. Dia melakukan semua itu hanya untuk bisa sedikit lebih dekat dengan Feri. Namun pada akhirnya, dia bahkan tidak bisa menyentuh hasrat di dalam hati pria itu.

Jesica menundukkan kepala dan melihat tanda terima di tangannya, lalu tersenyum. Ternyata hatinya tetap merasa sedikit perih. "Sudahlah. Feri, kalau kamu nggak menyukaiku, masih banyak yang menyukaiku."

Malam itu, Jesica mengajak sekelompok sahabatnya pergi ke kelab malam. Sejak menikah dengan Feri, dia sudah lama tidak datang ke tempat seperti ini. Hari ini, dia mengenakan gaun hitam bertali. Ujung gaunnya bergoyang dengan lembut mengikuti langkahnya hingga memperlihatkan kaki jenjangnya dan kilau percaya diri yang sudah lama hilang kembali terlihat di tatapannya.

Salah satu sahabat yang bernama Sherly menarik Jesica dengan ekspresi sangat terkejut. "Jes, hari ini ada apa denganmu? Sejak kamu suka si biksu dingin itu, bukannya tiap hari kamu selalu di sekitarnya dan bahkan nggak pernah datang ke tempat seperti ini lagi?"

Jesica tersenyum, lalu mengangkat gelasnya dan menyesap sedikit dengan tatapan yang agak kabur. "Nggak usah pedulikan dia lagi. Hari ini aku mau bersenang-senang sepuasnya."

Setelah mengatakan itu, Jesica berbalik dan berjalan ke lantai dansa. Tubuhnya bergerak mengikuti irama dengan bebas dan liar. Tatapannya menyapu para model pria di sekitarnya, lalu tersenyum. Saat tangannya menyentuh perut salah satu dari mereka dengan lembut, dia pun tertawa dengan pelan.

Sherly mengejar dan menarik tangan Jesica. "Jes, kamu gila ya? Kamu meraba otot model dan menari sama mereka dengan sedekat itu. Nggak takut Feri bakal marah kalau lihat?"

"Dia 'kan nggak ada di sini," balas Jesica.

"Bukan ...."

Sherly ragu sejenak, lalu mendekat ke telinga Jesica. "Siapa bilang dia nggak di sini? Dari tadi aku sudah mau bilang, Feri ada di sofa VIP di belakang dan sudah lama melihatmu."

Ujung jari Jesica menjadi tegang, lalu perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Di balik cahaya lampu yang samar-samar, dia langsung melihat Feri.

Feri mengenakan setelan jas hitam, terlihat sangat tidak cocok dengan hiruk-pikuk di sekitarnya. Dia duduk di sudut sofa dan jemarinya yang panjang bertumpu di bibir gelas. Dia menatap Jesica dengan tatapan dalam, entah sudah berapa lama dia memperhatikan wanita itu.

Tepat pada saat itu, musik berhenti dan Jesica bisa mendengar teman yang duduk di samping Feri menggodanya.

"Feri, Jes sudah menari di sana selama itu dan menyentuh pria lain. Kalau itu istriku, dari tadi sudah kubalik meja ini. Kamu malah masih bisa duduk diam di sini."

Ekspresi Feri tidak berubah. Dia hanya menyesap tehnya dengan tenang dan berkata dengan nada dingin, "Dia tahu batasan, nggak akan melakukan hal yang keterlaluan."

Kalimat itu seperti jarum beracun yang menusuk tepat ke bagian paling lembut di ujung hati Jesica. Tahu batasan? Apakah Feri begitu yakin bahwa Jesica cinta mati terhadapnya, sehingga tidak akan terjadi apa-apa dengan orang lain atau ... memang sama sekali tidak peduli? Mungkin juga kedua alasan itu benar.

"Ckckck. Nggak ngerti deh aku sama sikapmu yang tenang begini. Aku sampai penasaran apa masih ada hal di dunia ini yang bisa mengusik perasaanmu ...."

Sebelum selesai berbicara, suara temannya Feri tiba-tiba meninggi. "Eh. Feri, kamu mau ke mana?"

Jesica refleks mengangkat kepala dan melihat Feri tiba-tiba berdiri. Feri terpaku saat menatap ke sisi lain di lantai dansa dan untuk pertama kalinya tatapan Feri yang biasanya dingin itu muncul sedikit rasa cemburu. Saat dia mengikuti arah pandangan Feri, ternyata memang benar Dahlia berada di sana.

Dahlia yang mengenakan gaun putih berdiri di tepi lantai dansa dan sedang bertukar kontak dengan seorang pria.

Feri segera menghampiri, lalu langsung mencengkeram pergelangan tangan Dahlia dan berkata dengan suara yang sangat dingin, "Siapa yang izinin kamu datang ke tempat begini? Siapa juga yang bolehin kamu ngasih nomor telepon ke orang lain?"

Dahlia tertegun sejenak, lalu matanya memerah. "Kenapa aku nggak boleh ke sini? Dan kenapa juga aku nggak boleh berikan kontakku ke orang lain? Kak, bukannya kamu sudah nggak peduli sama aku? Kalau begitu, apa hubungannya semua yang kulakukan ini denganmu?"

Jemari Feri memutih, lalu nada bicaranya tiba-tiba menjadi berat. "Siapa bilang aku nggak peduli sama kamu?"

Suara Dahlia bergetar karena menahan tangisan. "Kamu memang nggak peduli. Kamu selalu menghindariku dan nggak mau menemuiku juga. Kak, dulu kamu baik sekali sama aku, kenapa semuanya tiba-tiba berubah?"

Mendengar ucapannya, tenggorokan Feri bergerak dan suaranya terdengar seperti sedang menahan emosi. "Itu karena ...."

Jesica yang berdiri di samping merasa hatinya perih. Dia tahu Feri tidak akan bisa mengungkapkan perasaannya, sehingga dia penasaran bagaimana Feri akan menjelaskannya.

Apakah Feri akan berkata menyukai Dahlia, sehingga menghindar dan tidak ingin menemui Dahlia?

Apakah Feri akan berkata bahwa dia kehilangan kendali sepenuhnya setiap kali melihat Dahlia?

Apakah Feri akan berkata tidak pernah menyentuh istrinya selama dua tahun pernikahan karena terlalu mencintai Dahlia dan membuat boneka realistis yang sama seperti Dahlia untuk mengobati rasa rindu?

Jesica tersenyum sinis pada dirinya sendiri, lalu berbalik dan hendak pergi.

Namun, kembali terdengar Dahlia mengeluh sambil menangis, "Kak, kita kembali seperti dulu saja, ya? Aku ingin Kakak yang dulu, aku ingin Kakak yang hanya melihatku seorang."

Feri berkata dengan suara yang rendah dan serak, "Sekarang Kakak sudah menikah, nggak bisa cuma berputar di sekitarmu saja."

"Kalau istrimu menghilang, kita bisa kembali seperti dulu, 'kan?" kata Dahlia yang tiba-tiba mengangkat kepala dan tatapannya terlihat agak gila.

Jesica baru saja mengangkat tasnya dan hendak pergi, tetapi terlihat Dahlia meraih botol minuman di atas meja dan segera berjalan ke arahnya.

Prang!

Botol itu menghantam kepala Jesica dengan kuat. Suara pecahan kaca meledak di telinganya dan cairan hangat mengalir turun dari pelipisnya.

"Jes!" teriak Sherly yang berdiri di samping.

Jesica mundur dengan terhuyung-huyung, tetapi terlihat Dahlia kembali mengangkat botol kedua.

"Mati kamu!"

Pukulan kedua menghantam kepala Jesica dengan lebih kuat. Kali ini, dia benar-benar kehilangan kesadaran dan terjatuh di genangan darah. Sementara itu, hanya terdengar suara jeritan kacau di telinganya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 24

    Suasana di taman itu tiba-tiba menjadi hening.Feri berdiri di batas persilangan antara cahaya dan bayangan dengan jas kusut yang ternoda kopi dari pesawat dan rambut yang biasanya rapi pun kini jatuh berantakan di keningnya."Pak Feri mau merebut pengantin?" kata Michael sambil menyipitkan mata.Feri tidak memedulikan Michael, melainkan langsung berjalan ke depan Jesica dan berlutut. Dia berkata dengan suara yang serak, "Aku tahu aku pantas mati, tapi tolong lihat aku sekali lagi ...."Para tamu langsung gempar. Pemimpin Keluarga Sardi di Jardonia yang merupakan pria dingin dan anggun itu kini malah berlutut di hadapan semua orang.Jesica mundur setengah langkah. "Feri, jangan begitu.""Aku sudah menulis 300 surat cinta. Mulai dari saat kita baru bertemu, menikah, sampai ...."Tenggorokan Feri bergerak, lalu melanjutkan, "Sampai hari-hari saat aku mencintaimu, tapi nggak berani mengakuinya."Tangan Feri gemetar saat membuka kotak itu, sehingga lembaran surat yang putih itu beterbangan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 23

    Dahlia terpaku di tempat. "Apa?""Karena kamu sudah menikah dengannya, jalani saja dengan baik."Nada bicara Feri terdengar tenang saat mengatakan itu, lalu menatap pria tua di depannya. "Nggak boleh sakiti dia. Kalau nggak, kamu tahu akibatnya."Pria tua itu terus menganggukkan kepala, lalu melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Dahlia. "Sayang, ayo pulang. Aku akan perlakukan kamu dengan baik."Dia berpikir meskipun tidak memukul Jesica, dia juga masih memiliki banyak cara untuk menyiksa Jesica. Apalagi penampilannya jelek dan tua, sedangkan Jesica cantik seperti bunga.Jesica berusaha memberontak seperti orang gila. "Feri, kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Kamu pernah bilang akan selalu melindungiku! Kamu bilang aku orang terpenting bagimu! Kak ... aku salah .... Kak ...."Tangisan histeris Jesica terdengar makin menjauh, tetapi Feri tidak menoleh dan masuk ke ruang kerja.Di ruang meditasi, Feri yang turun tangan sendiri membakar semua barang yang berhubungan dengan Da

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 22

    Di kafe, Michael mengaduk kopinya dengan tenang. Namun, kalimat pertama Feri membuat gerakannya terhenti."Kembalikan dia padaku, aku bisa menukar dengan apa pun," kata Feri.Michael mengernyitkan alis. "Apa pun?"Feri berkata dengan suara serak, "Ya. Saham Grup Sardi, tanah di Jardonia, asetku di luar negeri. Bahkan ...."Dia menutup mata sejenak, lalu melanjutkan, "Aku bisa membawa kembali Lili, biar dia sendiri yang meminta maaf pada Jes."Michael tiba-tiba tersenyum, lalu meletakkan cangkir kopi dan mata birunya menyiratkan sindiran. "Feri, sampai sekarang pun kamu masih belum paham ya? Jesica bukan barang dagangan. Dia itu seorang manusia yang punya darah, jiwa, dan bisa merasakan sakit serta menangis. Kamu pernah memiliki seluruh hatinya, tapi kamu yang hancurkan semuanya dengan tanganmu sendiri."Setelah mengatakan itu, Michael berdiri dan menatap Feri dari atas. "Sekarang giliranku yang mencintainya. Sedangkan kamu ...."Michael tersenyum dengan pelan. "Hanya bisa menjalani sis

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 21

    Tangisan di ujung telepon tiba-tiba berhenti, lalu Dahlia berkata dengan suara bergetar dan sangat tajam, "Kak ... apa maksudmu?"Feri memejamkan mata, lalu berkata dengan suara rendah dan lelah, "Dulu aku yang terlalu memanjakanmu. Karena sudah menikah, kamu jalani saja hidupmu dengan baik. Kalau benar-benar nggak tahan lagi ...."Dia terhenti sejenak, "Bilang sama Ayah Ibu. Sekarang aku nggak punya waktu untuk mengurus hal ini. Selain itu ...."Feri tersenyum pahit, lalu melanjutkan, "Kalau aku ikut campur, takutnya Jes lebih nggak akan memaafkanku."Napas Dahlia menjadi terengah-engah, lalu teriakan histeris pun pecah, "Kamu benar-benar sudah jatuh cinta pada Jesica?"Feri terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata dengan pelan, "Ya."Kata itu seperti pisau yang memutuskan sisa akal sehat Dahlia. Dia berteriak dengan suara yang hampir menembus gendang telinga, "Nggak mungkin! Jelas-jelas yang kamu cintai itu aku, mana mungkin bisa menyukai dia! Kamu bohong! Kamu pasti menipuku!"Dengan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 20

    Saat bau cairan disinfektan menusuk hidungnya hingga terasa sakit, Feri membuka mata dan melihat langit-langit berwarna putih. Dia mencoba menggerakkan jarinya, tetapi seluruh tulangnya terasa sakit."Sudah bangun?"Lukman yang duduk di tepi ranjang sedang mengupas apel dengan tenang dan cahaya dingin dari pisau memantul di matanya. "Beruntung sekali. Sudah sampai segininya saja masih belum mati."Tenggorokan Feri terasa kering. "Mana Jes?"Lukman tersenyum sinis. "Di ruang sebelah, merawat Michael. Aku sengaja bakar rumah dan memberi kalian obat, membuat kalian lemas dan nggak bisa lari. Tapi, orang pertama yang diselamatkan Jes adalah Michael."Setelah berkata demikian, kulit apel yang sedang dikupas Lukman langsung lepas dan jatuh ke tempat sampah. "Kamu nggak lihat ekspresinya yang cemas itu. Dia sudah menjaga semalaman, mata pun sudah bengkak karena menangis."Setiap kata Lukman seperti pisau tumpul yang perlahan-lahan menyayat hati Feri. Dia teringat dengan tatapan dingin Jesica

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 19

    Saat terdengar ketukan pintu, Feri sedang berdiri di depan jendela dan rokok di antara jarinya sudah hampir habis. Saat dia membuka pintu, Lukman bersandar di kusen dan memegang segelas wiski berwarna amber."Kamu mukul Michael?" tanya Lukman sambil mengernyitkan alis dan menyerahkan gelas itu.Feri tidak suka minum alkohol dan biasanya hanya minum teh, tetapi kini dia butuh sesuatu untuk membius perasaan yang bergolak di dadanya. Dia menerima gelas itu dan menenggak habis. Sensasi panas dari minuman keras langsung membakar tenggorokannya, sama seperti sensasi sesak napas saat melihat Jesica dan Michael berpelukan dengan mesra."Dia dan Jes sedang di ranjang, aku nggak tahan melihat itu," kata Feri dengan suara yang sangat serak."Jes?"Lukman tiba-tiba tertawa, tetapi tatapannya sangat dingin. "Sungguh luar biasa. Sudah enam tahun, aku baru kali ini dengar kamu panggil adikku seperti itu."Karena efek alkohol sudah mulai terasa, Feri bersandar pada kusen dan semua emosi yang tertahan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 16

    Feri langsung tampak tegang. "Kamu tahu nggak kalau Jesica itu istriku?"Michael berpura-pura terkejut sambil menatap Jesica. "Benarkah? Tapi, kenapa aku dengar kamu dan Jes sudah cerai?"Dia menunduk dan mencium puncak kepala Jesica, lalu berkata dengan nada penuh kasih, "Jes, mantan suamimu datang

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 9

    Jesica dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Saat keluar rumah sakit, dia menerima telepon dari kedutaan yang mengabarkan izin tinggal permanen di Negara Jumania sudah disetujui. Itu satu-satunya kabar baik yang didengarnya belakangan ini.Saat Jesica berdiri di depan kedutaan, sinar matahari beg

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 8

    Setelan jas Feri yang biasanya rapi kini penuh debu, bahkan ada darah di pelipisnya. Napasnya terengah-engah dan menyipitkan matanya saat melihat Jesica serta Dahlia.Ini pertama kalinya Jesica melihat kondisi Feri seberantakan ini. Terlihat jelas, Feri langsung mengerahkan orang untuk mencari merek

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 7

    Beberapa hari berikutnya, untuk pertama kalinya Feri tetap tinggal di rumah. Sepertinya dia juga menyadari suasana hati Jesica sedang buruk. Kejadian langkanya, dia bahkan menyuruh Dahlia untuk meminta maaf pada Jesica.Dahlia berdiri di depan Jesica, lalu berkata dengan nada sembarangan, "Kak Jesic

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status