Share

Bab 3

Author: Xaviera
Jesica terbangun karena rasa sakit. Bau cairan disinfektan langsung menusuk hidungnya dan cahaya lampu putih di atas kepala membuat matanya terasa perih. Dia refleks ingin mengangkat tangan untuk menutupi matanya dari cahaya lampu, tetapi jarum infus di punggung tangannya malah tertarik dan membuatnya mendesis kesakitan.

Perawat yang sedang mengganti obat langsung menghela napas lega saat melihat Jesica membuka mata. "Akhirnya kamu sadar juga. Siapa yang punya dendam sebesar itu sama kamu? Menghantammu dengan dua botol sekaligus, kamu sampai dijahit 30-an jahitan."

Jesica secara refleks menyentuh kepalanya yang diperban, lalu bertanya dengan suara serak, "Mana orang yang mengantarku ke sini?"

"Maksudmu sahabatmu? Dia menjagamu semalaman, tapi tiba-tiba pergi karena ada urusan kantor. Dia suruh aku bilang ke kamu, dia sudah sewa perawat untuk menjagamu," jawab perawat.

Jesica tertegun sejenak. Ternyata yang mengantarnya ke rumah sakit saja bukan Feri. Kalau begitu, di mana Feri sekarang? Begitu Jesica meraih ponsel dan ujung jarinya baru saja menyentuh layar, sebuah posting muncul.

[ Dahlia: Kakak memang selalu bisa menenangkanku. ]

Dalam video itu, Dahlia mengulurkan tangannya dan berkata dengan manja, "Lihat, jari telunjukku sampai tergores waktu mecahin botol."

Kamera pun beralih ke arah Feri yang sedang berjongkok di depan Dahlia. Dia memegang plester luka dan menempelkannya ke ujung jari Dahlia dengan hati-hati. Setelah itu, dia menundukkan kepala dan mengecup jari itu dengan pelan. Dia berkata dengan serak, "Begini baru nggak sakit lagi."

Jesica menatap layar itu dengan tajam. Dia tiba-tiba merasa luka di kepalanya seperti kembali disobek, lalu disiram alkohol hingga dia kesakitan sampai ujung jarinya mati rasa. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menekan nomor 110. "Halo, aku mau lapor polisi."

Malam itu, pintu kamar pasien Jesica tiba-tiba didorong terbuka.

Feri masuk dengan mengenakan mantel hitam dan ekspresinya dingin serta tegas, tetapi tersimpan sedikit amarah di tatapannya. "Kamu yang lapor polisi? Menuduh Lili sengaja melukai orang?"

Jesica langsung menatap mata Jesica. "Iya. Sengaja melukai orang sudah cukup untuk diproses hukum."

Feri merendahkan suaranya dan mengernyitkan alis. "Dia memang salah karena impulsif dan memukulmu, tapi aku sudah menghukumnya. Masalah ini sudah selesai."

Jesica tersenyum sinis. "Menghukum? Bagaimana kamu menghukumnya?"

"Sifatnya memang ceroboh, aku sudah menghukumnya nggak boleh keluar rumah selama sehari," jawab Feri.

Jesica tertegun sejenak, lalu tertawa sampai luka di kepalanya terasa nyeri. "Aku dijahit sampai 30-an jahitan, kamu hanya menghukumnya nggak boleh keluar rumah sehari? Feri, kamu melarangnya keluar rumah itu untuk menghukumnya atau sebenarnya sedang melindunginya karena takut aku mencarinya?"

Tatapan Feri menjadi muram. "Kamu ngomong apaan? Tentu saja itu hukuman."

"Soal pihak polisi, aku sudah mencabut laporannya. Kamu juga nggak perlu lapor ke kantor polisi lain. Di seluruh Jardonia, nggak ada yang akan menerima kasus ini," kata Feri.

Jesica mencengkeram selimut dengan erat sampai kukunya hampir menancap ke telapak tangannya. Ada banyak sekali yang ingin dikatakannya, tetapi pada akhirnya hanya satu kalimat yang berhasil keluar. "Feri, aku sudah mendekatimu selama enam tahun ini, sebenarnya kamu nganggap aku apaan? Kalau memang nggak peduli padaku, kenapa kamu mau menikah denganku?"

Feri mengernyitkan alisnya makin erat. "Siapa yang bilang aku nggak peduli padamu?"

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Sudahlah, anggap saja masalah ini sudah selesai. Beberapa hari ini aku akan menjagamu di rumah sakit. Setelah keluar nanti, aku juga akan menebusmu. Jangan bikin keributan lagi."

Cara bicara Feri seolah-olah dia telah memberi anugerah yang besar untuk Jesica. Seketika, Jesica tiba-tiba merasa semua itu begitu konyol.

Ya, selama ini memang Jesica yang selalu mengejar Feri. Mengejar Feri untuk berkata bahwa dia menyukai Feri, untuk bersama, dan bahkan untuk tidur bersama. Feri tidak pernah inisiatif bergerak sedikit pun. Sekarang Feri yang inisiatif untuk tinggal dan menjaganya, bukankah ini memang seperti anugerah besar baginya?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 24

    Suasana di taman itu tiba-tiba menjadi hening.Feri berdiri di batas persilangan antara cahaya dan bayangan dengan jas kusut yang ternoda kopi dari pesawat dan rambut yang biasanya rapi pun kini jatuh berantakan di keningnya."Pak Feri mau merebut pengantin?" kata Michael sambil menyipitkan mata.Feri tidak memedulikan Michael, melainkan langsung berjalan ke depan Jesica dan berlutut. Dia berkata dengan suara yang serak, "Aku tahu aku pantas mati, tapi tolong lihat aku sekali lagi ...."Para tamu langsung gempar. Pemimpin Keluarga Sardi di Jardonia yang merupakan pria dingin dan anggun itu kini malah berlutut di hadapan semua orang.Jesica mundur setengah langkah. "Feri, jangan begitu.""Aku sudah menulis 300 surat cinta. Mulai dari saat kita baru bertemu, menikah, sampai ...."Tenggorokan Feri bergerak, lalu melanjutkan, "Sampai hari-hari saat aku mencintaimu, tapi nggak berani mengakuinya."Tangan Feri gemetar saat membuka kotak itu, sehingga lembaran surat yang putih itu beterbangan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 23

    Dahlia terpaku di tempat. "Apa?""Karena kamu sudah menikah dengannya, jalani saja dengan baik."Nada bicara Feri terdengar tenang saat mengatakan itu, lalu menatap pria tua di depannya. "Nggak boleh sakiti dia. Kalau nggak, kamu tahu akibatnya."Pria tua itu terus menganggukkan kepala, lalu melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Dahlia. "Sayang, ayo pulang. Aku akan perlakukan kamu dengan baik."Dia berpikir meskipun tidak memukul Jesica, dia juga masih memiliki banyak cara untuk menyiksa Jesica. Apalagi penampilannya jelek dan tua, sedangkan Jesica cantik seperti bunga.Jesica berusaha memberontak seperti orang gila. "Feri, kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Kamu pernah bilang akan selalu melindungiku! Kamu bilang aku orang terpenting bagimu! Kak ... aku salah .... Kak ...."Tangisan histeris Jesica terdengar makin menjauh, tetapi Feri tidak menoleh dan masuk ke ruang kerja.Di ruang meditasi, Feri yang turun tangan sendiri membakar semua barang yang berhubungan dengan Da

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 22

    Di kafe, Michael mengaduk kopinya dengan tenang. Namun, kalimat pertama Feri membuat gerakannya terhenti."Kembalikan dia padaku, aku bisa menukar dengan apa pun," kata Feri.Michael mengernyitkan alis. "Apa pun?"Feri berkata dengan suara serak, "Ya. Saham Grup Sardi, tanah di Jardonia, asetku di luar negeri. Bahkan ...."Dia menutup mata sejenak, lalu melanjutkan, "Aku bisa membawa kembali Lili, biar dia sendiri yang meminta maaf pada Jes."Michael tiba-tiba tersenyum, lalu meletakkan cangkir kopi dan mata birunya menyiratkan sindiran. "Feri, sampai sekarang pun kamu masih belum paham ya? Jesica bukan barang dagangan. Dia itu seorang manusia yang punya darah, jiwa, dan bisa merasakan sakit serta menangis. Kamu pernah memiliki seluruh hatinya, tapi kamu yang hancurkan semuanya dengan tanganmu sendiri."Setelah mengatakan itu, Michael berdiri dan menatap Feri dari atas. "Sekarang giliranku yang mencintainya. Sedangkan kamu ...."Michael tersenyum dengan pelan. "Hanya bisa menjalani sis

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 21

    Tangisan di ujung telepon tiba-tiba berhenti, lalu Dahlia berkata dengan suara bergetar dan sangat tajam, "Kak ... apa maksudmu?"Feri memejamkan mata, lalu berkata dengan suara rendah dan lelah, "Dulu aku yang terlalu memanjakanmu. Karena sudah menikah, kamu jalani saja hidupmu dengan baik. Kalau benar-benar nggak tahan lagi ...."Dia terhenti sejenak, "Bilang sama Ayah Ibu. Sekarang aku nggak punya waktu untuk mengurus hal ini. Selain itu ...."Feri tersenyum pahit, lalu melanjutkan, "Kalau aku ikut campur, takutnya Jes lebih nggak akan memaafkanku."Napas Dahlia menjadi terengah-engah, lalu teriakan histeris pun pecah, "Kamu benar-benar sudah jatuh cinta pada Jesica?"Feri terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata dengan pelan, "Ya."Kata itu seperti pisau yang memutuskan sisa akal sehat Dahlia. Dia berteriak dengan suara yang hampir menembus gendang telinga, "Nggak mungkin! Jelas-jelas yang kamu cintai itu aku, mana mungkin bisa menyukai dia! Kamu bohong! Kamu pasti menipuku!"Dengan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 20

    Saat bau cairan disinfektan menusuk hidungnya hingga terasa sakit, Feri membuka mata dan melihat langit-langit berwarna putih. Dia mencoba menggerakkan jarinya, tetapi seluruh tulangnya terasa sakit."Sudah bangun?"Lukman yang duduk di tepi ranjang sedang mengupas apel dengan tenang dan cahaya dingin dari pisau memantul di matanya. "Beruntung sekali. Sudah sampai segininya saja masih belum mati."Tenggorokan Feri terasa kering. "Mana Jes?"Lukman tersenyum sinis. "Di ruang sebelah, merawat Michael. Aku sengaja bakar rumah dan memberi kalian obat, membuat kalian lemas dan nggak bisa lari. Tapi, orang pertama yang diselamatkan Jes adalah Michael."Setelah berkata demikian, kulit apel yang sedang dikupas Lukman langsung lepas dan jatuh ke tempat sampah. "Kamu nggak lihat ekspresinya yang cemas itu. Dia sudah menjaga semalaman, mata pun sudah bengkak karena menangis."Setiap kata Lukman seperti pisau tumpul yang perlahan-lahan menyayat hati Feri. Dia teringat dengan tatapan dingin Jesica

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 19

    Saat terdengar ketukan pintu, Feri sedang berdiri di depan jendela dan rokok di antara jarinya sudah hampir habis. Saat dia membuka pintu, Lukman bersandar di kusen dan memegang segelas wiski berwarna amber."Kamu mukul Michael?" tanya Lukman sambil mengernyitkan alis dan menyerahkan gelas itu.Feri tidak suka minum alkohol dan biasanya hanya minum teh, tetapi kini dia butuh sesuatu untuk membius perasaan yang bergolak di dadanya. Dia menerima gelas itu dan menenggak habis. Sensasi panas dari minuman keras langsung membakar tenggorokannya, sama seperti sensasi sesak napas saat melihat Jesica dan Michael berpelukan dengan mesra."Dia dan Jes sedang di ranjang, aku nggak tahan melihat itu," kata Feri dengan suara yang sangat serak."Jes?"Lukman tiba-tiba tertawa, tetapi tatapannya sangat dingin. "Sungguh luar biasa. Sudah enam tahun, aku baru kali ini dengar kamu panggil adikku seperti itu."Karena efek alkohol sudah mulai terasa, Feri bersandar pada kusen dan semua emosi yang tertahan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 16

    Feri langsung tampak tegang. "Kamu tahu nggak kalau Jesica itu istriku?"Michael berpura-pura terkejut sambil menatap Jesica. "Benarkah? Tapi, kenapa aku dengar kamu dan Jes sudah cerai?"Dia menunduk dan mencium puncak kepala Jesica, lalu berkata dengan nada penuh kasih, "Jes, mantan suamimu datang

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 9

    Jesica dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Saat keluar rumah sakit, dia menerima telepon dari kedutaan yang mengabarkan izin tinggal permanen di Negara Jumania sudah disetujui. Itu satu-satunya kabar baik yang didengarnya belakangan ini.Saat Jesica berdiri di depan kedutaan, sinar matahari beg

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 8

    Setelan jas Feri yang biasanya rapi kini penuh debu, bahkan ada darah di pelipisnya. Napasnya terengah-engah dan menyipitkan matanya saat melihat Jesica serta Dahlia.Ini pertama kalinya Jesica melihat kondisi Feri seberantakan ini. Terlihat jelas, Feri langsung mengerahkan orang untuk mencari merek

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 7

    Beberapa hari berikutnya, untuk pertama kalinya Feri tetap tinggal di rumah. Sepertinya dia juga menyadari suasana hati Jesica sedang buruk. Kejadian langkanya, dia bahkan menyuruh Dahlia untuk meminta maaf pada Jesica.Dahlia berdiri di depan Jesica, lalu berkata dengan nada sembarangan, "Kak Jesic

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status