LOGINJeritan Sean yang melengking tinggi perlahan memudar, tertutup oleh deru angin dan curahan hujan lebat yang membentur kaca pintu depan tanpa henti. Bocah kecil itu akhirnya lemas di dalam pelukan tegap Arham. Suara tangisnya berubah menjadi isakan kecil yang tersendat-sendat, sementara dadanya yang mungil kempas-kempis menahan rasa lelah yang amat sangat usai berontak gila-gilaan.Arham mengangkat tubuh Sean yang tak berdaya itu ke dalam dekapannya. Pria itu mengelus punggung putranya dengan telapak tangan yang gemetaran, mencoba memberikan sedikit ketenangan walau seluruh jiwanya sendiri saat ini hancur berantakan. Sepasang matanya yang memerah menatap lurus ke arah pintu gerbang luar yang kini hanya menyisakan kegelapan malam dan tirai hujan tebal."Bawa Sean ke kamarnya, Bi," perintah Arham dengan suara bariton yang teramat serak dan berat kepada pengasuh tua yang berdiri gemetaran di dekat tangga.Wanita paruh baya itu mengangguk cepat seraya meraih tubuh Sean dari dekapan Arh
"Anak tidak tahu diri!" desis Gina asli seraya memajukan tangannya berniat menyambar lengan Sean untuk menariknya secara paksa. "Sudah dibelikan mainan mahal tapi malah membela penipu!""Jangan sentuh anakku!" bentak Arham mendadak dengan suara bariton yang begitu menggelegar, melangkah cepat dan menyapu lengan Gina asli hingga terhentak mundur.Arham berdiri tegap di samping Zara dan Sean, auranya yang begitu menakutkan mengunci pergerakan Gina asli hingga wanita itu tak berani melangkah lebih dekat. Pria itu menundukkan kepalanya, menatap anak tunggalnya yang masih terisak histeris di atas lantai."Papa ...," tangis Sean mendongak menatap Arham dengan sepasang mata dipenuhi lelehan air mata. "Tolong tahan Mama, Pa ... Jangan biarkan Mama pergi dari rumah kita ... Sean sayang sama Mama ...."Arham mengepalkan jemari tangannya sangat rapat sampai buku-buku jarinya memutih total. Matanya yang memerah menatap Zara yang bersimpuh pasrah. Tenggorokannya terasa begitu tebal dan kering
Gagang pintu kayu mahoni berukir tebal itu terasa dingin saat telapak tangan Zara menyentuhnya. Rasa dingin itu menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya, seolah menegaskan bahwa masa-masa hangat yang sempat singgah di hidupnya telah benar-benar usai. Dari luar pintu, gemuruh petir berkali-kali menyambar kebun depan, disusul deru hujan lebat yang menghantam kaca-kaca jendela besar dengan suara gemertak yang menakutkan.Zara memutar gagang pintu perlahan, membiarkan celah udara dingin dari luar berhembus masuk menerpa wajahnya yang basah oleh air mata. Setiap sel di dalam tubuhnya menjerit menyuruhnya bertahan, tetapi bayangan wajah Nenek Ajeng yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan selang oksigen melekat di hidung memaksa kakinya untuk tetap melangkah keluar."Mama ...!"Sebuah teriakan melengking dari arah lorong kamar atas mendadak memotong deru angin malam. Suara langkah kaki mungil yang berlari kencang tanpa alas kaki terdengar berhamburan menunruni anak tan
Langkah kaki Zara menuruni setiap anak tangga terdengar bagaikan ketukan penentu takdir yang amat lambat di dalam mansion megah itu. Pakaian kaos polos yang sudah agak pudar berserta celana kain hitam sederhana melekat di tubuhnya, sangat kontras dengan kemewahan interior sekelilingnya. Tas kain cokelat lusuh yang terselempang di bahu kirinya tampak begitu kusam, menjadi penanda paling nyata bahwa wanita ini telah menanggalkan seluruh kemewahan palsu yang sempat membalut dirinya selama tiga bulan terakhir.Di lantai bawah, suasana ruang keluarga masih diselimuti ketegangan yang teramat pekat. Pendar lampu sirine polisi dari luar jendela besar kini tak lagi membilas ruangan, berangsur menjauh bersama deru mobil patroli yang bergerak meninggalkan gerbang depan. Lampu gantung kristal di langit-langit memancarkan pendar kuning hangat, namun tidak sanggup mencairkan suasana dingin yang membekukan jiwa orang-orang di dalamnya.Arham masih berdiri mematung di dekat sofa tengah, tubuh tega
"Aku akan mencabut seluruh jaminan keuanganku!" lanjut Gina asli penuh ancaman mematikan. "Aku akan menyuruh dokter menghentikan semua alat bantu medis, mencabut tabung oksigen, dan mengusir nenek tuamu dari ruang perawatan malam ini juga! Kamu tahu kan apa yang terjadi kalau orang sekarat tanpa alat bantu respirator selama lima menit saja?!""Jangan!" jerit Zara histeris namun tertahan, menutupi mulutnya sendiri agar suaranya tidak terdengar sampai ke ruang bawah. Air mata mengucur deras bagaikan air bah membasahi pipinya yang pucat. "Jangan bunuh Nenek ... aku mohon, Gina ... aku akan lakukan apa saja ....""Bagus kalau kamu paham!" desis Gina asli seraya menarik kembali ponselnya, menyunggingkan senyuman iblis yang amat mengerikan. "Nenekmu bisa tetap bernapas dan mendapat obat mahal di rumah sakit itu selama aku tidak mencabut jaminanku. Tapi syaratnya cuma satu: kamu hilang selamanya dari kota ini! Jangan pernah menampakkan mukamu lagi di depan Arham atau Sean!"Zara menunduk
Langkah kaki Zara terasa begitu berat saat menaiki setiap anak tangga kayu berlapis karpet tebal yang menghubungkan ruang keluarga dengan lantai dua. Tubuhnya menggigil kencang, menahan gelombang penderitaan yang melahap habis seluruh pertahanan batinnya. Di belakangnya, hening malam di dalam mansion terasa sangat mencekik, meninggalkan Arham dan Ibu Lusi yang masih berdiri membeku di dekat ruang tengah.Belum sempat Zara mencapai pijakan anak tangga teratas, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menyusul dari arah belakang. Gina asli melangkah lebar, menaiki anak tangga dengan gairah kemarahan yang masih membakar dadanya. Muka wanita itu yang terbungkus perban tipis tampak makin menyeramkan di bawah pendar remang lampu dinding."Tunggu dulu, wanita pemungut sampah!" desis Gina asli seraya menyambar pergelangan tangan Zara dengan sangat kencang.Cengkeraman itu begitu kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan di kulit halus Zara. Zara terdorong sedikit ke belakang, m
Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang
"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu t
"Dengarkan Nenek baik-baik, Zara Alfathunisa," ucap Nenek Ajeng dengan nada suara yang ditekan serendah dan setegas mungkin, tangannya yang gemetar bergerak meraih jemari Zara di atas meja. "Menurut mendiang ibumu sebelum dia meninggal dunia, dan menurut ingatan Nenek sendiri yang merawat ibumu saa
"Ini upah ku menyanyi malam ini, Nek. Besok pagi-pagi sekali, aku akan pergi ke apotek depan gang untuk menebus seluruh resep obat nenek yang sempat tertunda kemarin. Sisanya bisa kita gunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur untuk seminggu ke depan," ucap Zara dengan binar mata penuh kepuas







