เข้าสู่ระบบDi antara segala lelah dan sesak selama menjadi tunangan Jarvis, acara-acara publik seperti inilah yang dulu menghibur Kaia ketika ia masih bodoh akan cinta.
Di hadapan orang lain, Jarvis akan bersikap manis dan penuh cinta.
Kaia tak bisa memungkiri kehangatan yang menjalar di dadanya, juga geliat kecil di perutnya setiap kali Jarvis merangkulnya mesra atau melontarkan pujian dengan lihai, seolah-olah Kaia adalah perempuan yang paling ia gilai.
Dulu, ia selalu berharap sikap itu bukan sekadar sandiwara. Bahwa suatu hari nanti, Jarvis akan memperlakukannya dengan cara yang sama bahkan ketika tidak ada siapa pun yang menyaksikan.
Namun, setelah percakapan sebelum-sebelumnya, Kaia semakin sulit mempercayai harapan itu.
Pria itu terang-terangan tidak ingin mengakhiri pertunangan mereka, meski tahu dirinya sendiri tidak menginginkan Kaia.
Dan malam ini, pria itu terang-terangan membawa Mika ke acara keluarga mereka.
“Selama acara, tetap sama saya. Jangan ke mana-mana.”
Kaia menoleh, menunggu kelanjutan ucapan pria itu. “Kalau ada yang bertanya soal Mika, dia teman lama saya waktu kuliah. Kebetulan sedang mampir ke kota.”
Kaia terdiam.
Teman lama.
Begitu mudahnya Jarvis menyebut hubungan mereka dengan dua kata itu, seolah-olah tidak ada perasaan yang terlibat. Seolah-olah perempuan yang dibawanya ke tengah keluarga mereka bukanlah orang yang jauh lebih ia inginkan daripada tunangannya sendiri.
“Paham?” tanya Jarvis.
Ia ingin bertanya apakah Mika juga tahu bahwa dirinya akan diperkenalkan seperti itu. Apakah perempuan itu keberatan menyandang status sebagai teman lama ketika sebenarnya ia adalah orang yang dicintai Jarvis.
Namun, Kaia tidak jadi bertanya.
Apa gunanya? Ia sendiri bahkan tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk mempertanyakan posisinya di sisi Jarvis.
Begitu memasuki ruangan, mereka langsung disambut beberapa anggota keluarga Tandiono. Kaia berusaha tersenyum seperti biasa, menyapa satu per satu kerabat yang menghampiri mereka.
Lalu, perhatian orang-orang beralih kepada Mika.
“Jarvis, siapa ini? Teman kamu?”
Jarvis mengangguk santai. “Teman lama waktu kuliah. Dia kebetulan lagi mampir ke kota, jadi saya ajak sekalian.”
Mika tersenyum ramah, memperkenalkan diri, lalu ikut berbincang dengan keluarga Jarvis.
Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang mencurigakan.
Setidaknya, bagi mereka yang tidak mengetahui apa-apa.
Beberapa orang bahkan terlihat senang mendengar Jarvis masih menjaga hubungan dengan teman-teman lamanya. Ada yang bertanya tentang masa kuliah mereka, ada pula yang meminta Mika bercerita tentang kehidupannya sekarang.
Kaia berdiri di samping Jarvis, sesekali ikut tersenyum ketika namanya disebut dalam percakapan.
Namun, semakin lama ia memperhatikan, semakin sulit baginya untuk mengabaikan kenyataan bahwa Jarvis tampak jauh lebih santai bersama Mika.
Pria itu tidak perlu berpura-pura mencari bahan pembicaraan. Tidak perlu memaksakan senyum. Ia bahkan sesekali melontarkan candaan yang membuat Mika tertawa lepas.
Kaia mengenali ekspresi itu.
Ia pernah berharap bisa menjadi orang yang membuat Jarvis tertawa seperti itu.
Sayangnya, setelah bertahun-tahun berada di sisi pria itu, Kaia justru semakin merasa seperti orang asing yang kebetulan memiliki tempat dalam hidupnya.
“Kaia, kamu kenal Mika juga?” tanya salah satu kerabat mereka.
Sebelum ia sempat menjawab, Jarvis lebih dulu menyahut. “Baru kenal lagi malam ini. Sudah lama saya nggak ketemu dia.”
Jarvis meliriknya sebentar. Tatapan singkat itu cukup membuat Kaia mengerti bahwa ia baru saja melakukan hal yang diharapkan pria itu.
Menjaga rahasianya.
Malam itu, Kaia bukan hanya harus berpura-pura menjadi tunangan yang bahagia. Ia juga
Di sepanjang acara, Kaia hanya bisa tersenyum dan melambai. Memang, apa lagi yang bisa ia lakukan selain menjadi pajangan?
Menjadi calon istri yang didukung keluarga besar tentu tidak menyenangkan kalau pria itu sendiri tidak menginginkannya.
Terlebih, kini Kaia harus menyaksikan perempuan yang dicintai Jarvis berdiri beberapa langkah darinya, diterima dengan hangat oleh keluarga yang sama yang selama ini menganggap Kaia sebagai pasangan terbaik untuk putra mereka.
Kaia ingin pergi. Ia ingin keluar dari ruangan itu, menjauh dari semua orang, dan berhenti berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja.
Namun, setiap kali ia berusaha mencari kesempatan untuk menepi, Jarvis selalu kembali merangkulnya atau memanggilnya agar tetap berada di sisinya.
Seolah-olah pria itu takut Kaia akan merusak sandiwara yang sudah disusunnya sendiri.
Setelah berpamitan, Jarvis mengajak Kaia menepi ke meja hidangan. Dari sana, mereka beranjak ke area yang lebih sepi, mencari jalan keluar tanpa harus berulang kali dicegat untuk berbasa-basi.
Begitu mereka tidak lagi dikerumuni orang, Kaia mengembuskan napas panjang.
Baru sekarang ia menyadari betapa lelahnya mempertahankan ekspresi yang sama sepanjang malam.
Satu rantai baru seolah melilit kakinya, kembali mengikatnya pada keluarga Tandiono.
Sebab, bagi Kaia, setiap kali keluarga ini mengulurkan tangan, selalu ada bagian dari dirinya yang semakin sulit ia tarik kembali.
Di sebelahnya, Jarvis mengarahkannya ke pintu keluar. “Sudah lihat sendiri, kan, bagaimana terikatnya kamu dengan keluarga ini?”
Kaia menatapnya.
Namun, sebelum sempat membuka mulut, Jarvis sudah lebih dulu berbicara. “Kabarin Mami. Bilang kita pulang duluan karena punya acara sendiri.”
Kaia menurut. Ia mengambil ponsel dan mengetik pesan kepada calon mertuanya, mengatakan bahwa mereka akan pulang lebih dulu.
Ia sempat berharap bisa pulang sendiri setelah itu. Setidaknya, ia tidak perlu menghabiskan lebih banyak waktu bersama Jarvis malam ini.
Namun, begitu Kaia menyimpan ponselnya, Jarvis kembali mengingatkan. “Makan malam dulu, ya.”
Kaia mendongak.
“Mika ingin makan.”
Jemari Kaia mengencang di sekitar ponselnya.
Ia baru saja menghabiskan berjam-jam berpura-pura tidak terluka di hadapan keluarga Jarvis. Ia bahkan harus ikut menyebut Mika sebagai teman lama, seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu disembunyikan.
Sekarang, Jarvis masih mengharapkannya duduk di meja yang sama dengan perempuan itu?
“Tapi, Mas—”
Jarvis memotong ucapannya tanpa memberi Kaia kesempatan menyelesaikan kalimat.
“Kenapa? Keberatan?” Jarvis meliriknya sekilas. “Saya cuma minta bantuan sedikit. Lagipula, tadi saya sudah menghabiskan banyak waktu sama kamu.”
Kalimat itu terdengar begitu ringan bagi Jarvis, seolah-olah waktu yang ia luangkan untuk Kaia hari ini merupakan sebuah kebaikan besar yang pantas dibalas dengan bantuan.
Seolah-olah semua perhatian yang ditunjukkannya di depan orang-orang sudah cukup untuk memenuhi kewajibannya sebagai tunangan, bahkan ketika setelahnya ia meminta Kaia membantu menyembunyikan perempuan lain di dalam hidup mereka.
Kaia menunduk. Ia mendadak teringat betapa seringnya dirinya mencari alasan untuk memaklumi Jarvis. Betapa sering ia meyakinkan diri bahwa pria itu hanya sedang tertekan oleh keluarganya, bahwa ia sebenarnya tidak seburuk itu, dan bahwa suatu hari nanti semua kesabarannya akan terbayar.
Namun, malam ini, Kaia mulai kehabisan alasan.
Jarvis tidak sedang terjebak dalam hubungan yang tidak diinginkannya tanpa pilihan. Ia masih punya kesempatan untuk menentang keluarganya, mengatakan kebenaran, atau setidaknya berhenti menyeret Kaia ke dalam kebohongannya.
Tetapi, pria itu tidak melakukan satu pun dari semuanya.
Ia justru meminta Kaia terus bertahan di sisinya, sementara ia sendiri berusaha mempertahankan Mika.
Perih sekali rasanya.
Jelas Kaia keberatan. Perempuan mana yang rela membantu tunangannya sendiri menyembunyikan perempuan lain?
Kaia bangun dengan kepala berat dan mata yang masih terasa panas. Malam tadi, setelah sampai di apartemen, ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian. Tasnya hanya dilempar begitu saja ke sofa sebelum dirinya jatuh di atas tempat tidur.Ia tidak ingat kapan tepatnya tertidur. Seingatnya, ia memesan taxi online agar segera pulang. Yang Kaia ingat hanya wajah Jarvis ketika mengatakan dirinya mencari perhatian. Tiga tahun menjadi tunangannya, dan rupanya pria itu tidak tahu apa penyebabnya.Kaia meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, ada dua puluh tiga notifikasi yang sebagian besar dari keluarganya.Tapi yang ia buka adalah email kantor. Ia harus absen. Tidak mungkin datang ke kantor dalam keadaan bengkak.Meski tidak memakannya, menghirup aroma makanan laut yang kuat, bisa memicu reaksi tubuh Kaia. Apalagi semalam mereka makan di privat room.Setelah pesan itu terkirim, Kaia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Ia bahkan tidak membalas pesan yang dikirimkan Jarvis padanya
Tidak lama setelah mereka meninggalkan acara keluarga, Jarvis mengarahkan mobil menuju restoran Chinese di salah satu kawasan paling ramai di pusat kota.Sepanjang perjalanan, Kaia hanya diam. Ia tidak lagi bertanya ke mana mereka akan pergi. Jawabannya sudah jelas sejak tadi.Begitu mobil berhenti, Jarvis turun lebih dulu dan membukakan pintu wanita itu yang kini duduk di sebelahnya.Kaia menyusul dengan langkah berat, menggenggam tasnya erat-erat. Selain ia duduk di bagian belakang, ia harus mengemban bebannya sendiri.Di dalam restoran, Mika sudah duduk di salah satu meja dekat jendela yang ia pilih. Perempuan.. yang Jarvis cintai.Kaia sempat bertanya, jika memang salahnya ingin dicinta. Ia harus jadi perempuan seperti apa? Dan kini di hadapannya, Kaia terpana. Mika, perempuan yang ia suka. Tidak lebih, dan bukan Kaia.Pelayan datang membawa menu, tetapi Jarvis bahkan tidak membuka miliknya.“Kamu mau pesan apa?” tanyanya kepada Mika.Mika memperhatikan daftar menu beberapa saat
Di antara segala lelah dan sesak selama menjadi tunangan Jarvis, acara-acara publik seperti inilah yang dulu menghibur Kaia ketika ia masih bodoh akan cinta.Di hadapan orang lain, Jarvis akan bersikap manis dan penuh cinta.Kaia tak bisa memungkiri kehangatan yang menjalar di dadanya, juga geliat kecil di perutnya setiap kali Jarvis merangkulnya mesra atau melontarkan pujian dengan lihai, seolah-olah Kaia adalah perempuan yang paling ia gilai.Dulu, ia selalu berharap sikap itu bukan sekadar sandiwara. Bahwa suatu hari nanti, Jarvis akan memperlakukannya dengan cara yang sama bahkan ketika tidak ada siapa pun yang menyaksikan.Namun, setelah percakapan sebelum-sebelumnya, Kaia semakin sulit mempercayai harapan itu.Pria itu terang-terangan tidak ingin mengakhiri pertunangan mereka, meski tahu dirinya sendiri tidak menginginkan Kaia.Dan malam ini, pria itu terang-terangan membawa Mika ke acara keluarga mereka.“Selama acara, tetap sama saya. Jangan ke mana-mana.”Kaia menoleh, menung
Jika hubungan kedua keluarganya hancur binasa. Biarlah begitu adanya.Tubuh Jarvis membeku di tempatnya berdiri mendengar hal itu. Seketika ia berbalik arah, matanya menatap Kaia dengan tajam dan dingin menghunus tepat ke bola mata Kaia.Pria itu terdiam seribu bahasa, sama sekali tidak menyangka kalimat berani itu akan keluar dari wanita yang selama ini selalu patuh padanya.Semenit kemudian pria itu berbicara, “Kamu sadar apa yang kamu bicarakan, Kaia?” Jarvis berdecih, sementara jemarinya kini membuka pintu. “Kalau kamu cari gara-gara untuk menahan saya. Ini gak mempan.”Kaia menatapnya balik. “Selama ini, kamu selalu bilang pertunangan kita bukan sesuatu yang kamu inginkan. Kamu juga bilang aku tidak pernah memberimu pilihan. Sekarang aku memberimu pilihan.”Rahang Jarvis mengeras saat Kaia hendak bangkit. “Itu semua karena kamu tidak pernah menolak. Kaia.”Kalimat itu membuat Kaia terdiam sesaat.Benar. Selama tiga tahun, dia tidak pernah menolak pertunangan mereka. Dia menerima
Kaia punya segalanya untuk menjadi perempuan paling beruntung. Sayangnya, takdir lupa memastikan satu, apakah laki-laki yang dijanjikan untuknya juga menginginkannya?Sebab, di antara segala keberuntungan yang dimiliki Kaia, mencintai Jarvis Leon Tandiono adalah satu-satunya hal yang tak pernah berpihak kepadanya.Tiga tahun sudah bertunangan, Kaia harus berulang kali menelan kekecewaan membuatnya lebih sering merasa sendirian daripada dicintai. Padahal mereka sudah saling mengenal sejak berusia sepuluh tahun.Dulu, Jarvis tidak seperti ini. Ia selalu bertanggung jawab atas perkataannya dan menepati janji yang sudah dibuat.Tapi, sekarang, ia sering membatalkan janji begitu saja. Membiarkan Kaia menunggu semalaman di restoran, bahkan meninggalkannya sendirian di parkiran.Tidak ada lagi Jarvis yang bersedia menunggunya.Kaia tidak tahu kapan tepatnya semua itu berubah.Mungkin saat keluarga mereka mengumumkan pertunangan. Mungkin saat Jarvis mulai menganggap hubungan itu sebagai kewaj







