เข้าสู่ระบบTidak lama setelah mereka meninggalkan acara keluarga, Jarvis mengarahkan mobil menuju restoran Chinese di salah satu kawasan paling ramai di pusat kota.
Sepanjang perjalanan, Kaia hanya diam. Ia tidak lagi bertanya ke mana mereka akan pergi. Jawabannya sudah jelas sejak tadi.
Begitu mobil berhenti, Jarvis turun lebih dulu dan membukakan pintu wanita itu yang kini duduk di sebelahnya.
Kaia menyusul dengan langkah berat, menggenggam tasnya erat-erat. Selain ia duduk di bagian belakang, ia harus mengemban bebannya sendiri.
Di dalam restoran, Mika sudah duduk di salah satu meja dekat jendela yang ia pilih. Perempuan.. yang Jarvis cintai.
Kaia sempat bertanya, jika memang salahnya ingin dicinta. Ia harus jadi perempuan seperti apa? Dan kini di hadapannya, Kaia terpana.
Mika, perempuan yang ia suka. Tidak lebih, dan bukan Kaia.
Pelayan datang membawa menu, tetapi Jarvis bahkan tidak membuka miliknya.
“Kamu mau pesan apa?” tanyanya kepada Mika.
Mika memperhatikan daftar menu beberapa saat sebelum menunjuk salah satu hidangan.
“Aku mau yang ini. Sama yang udang itu.”
Jarvis mengangguk dan memesan tanpa bertanya lebih lanjut.
Kaia menunduk pada menunya. Ada banyak pilihan makanan, tetapi tiba-tiba ia tidak merasa lapar.
“Kaia?” Mika memanggil. “Kamu nggak pesan?”
“Oh.” Kaia tersenyum kecil. “Aku nggak terlalu lapar.”
Jarvis akhirnya meliriknya. “Saya lihat kamu tadi nggak makan. Sekalian pesan yang sama.”
Kaia terdiam.
Dulu, Jarvis tidak pernah membiarkannya melewatkan makan. Bahkan ketika pria itu sedang sibuk, ia masih sempat mengingatkan Kaia untuk makan tepat waktu.
Dulu, perhatian kecil seperti itu selalu membuatnya merasa istimewa.
Sekarang, Jarvis masih mengingat kebiasaannya, tetapi Kaia tidak lagi tahu harus menganggapnya sebagai apa.
Sebab, beberapa detik kemudian, pria itu kembali mengalihkan seluruh perhatiannya kepada Mika.
Kaia hanya duduk diam, mendengarkan percakapan mereka tentang masa lalu, tentang hal-hal yang hanya mereka berdua mengerti, dan tentang negara yang pernah mereka kunjungi bersama.
Sesekali Mika tertawa, disusul senyum Jarvis yang membuat Kaia semakin sulit menelan rasa sesak di dadanya.
Di hadapan keluarga tadi, Jarvis menyebut Mika sebagai teman lama dari masa kuliah. Di hadapannya sekarang, pria itu memperlakukan Mika seperti seseorang yang sudah memiliki tempat khusus dalam hidupnya.
Kaia tidak perlu mendengar pengakuan apa pun untuk memahami kenyataan itu.
Ia bisa melihatnya dari cara Jarvis mendengarkan, dari bagaimana pria itu mengingat hal-hal kecil tentang Mika, juga dari caranya mengambilkan piring untuk perempuan itu tanpa diminta.
Kaia memperhatikan tangan Jarvis.
Dulu, hal-hal kecil seperti itu selalu membuatnya merasa dicintai.
Sekarang, ia hanya merasa asing.
Kaia menurunkan pandangan. Mungkin inilah yang dimaksud Jarvis ketika mengatakan bahwa ia ingin hidupnya sendiri. Ingin pilihannya sendiri.
Hanya saja, mengapa untuk mendapatkan kebebasan itu, Jarvis harus terus menjadikan Kaia sebagai orang yang menanggung akibatnya?
Kaia mencoba tidak memperhatikan. Ia menunduk, memilih meminum air putih. Namun, aroma makanan laut yang cukup kuat mulai memenuhi meja.
Ia menggeser gelasnya sedikit menjauh, berharap tidak ada yang memperhatikan.
Beberapa menit kemudian, tenggorokannya mulai terasa tidak nyaman.
Kaia menelan ludah. Rasa gatal menjalar di lehernya. Refleks, ia mengusap kulitnya yang mulai terasa panas.
Ia tahu tubuhnya tidak cocok dengan makanan laut. Biasanya, ia akan segera menjauh ketika mulai merasakan gejala seperti ini.
Namun, ia sudah telanjur berada di sana. Kaia mencoba bertahan beberapa saat, berharap rasa tidak nyaman itu segera mereda.
“Kenapa nggak dimakan?” Jarvis bertanya saat menyadari piring di hadapan Kaia masih kosong.
Kaia menggeleng kecil. “Aku—”
Ia segera meraih tasnya dan berdiri. “Aku pulang duluan.”
Kaia baru melangkah satu langkah ketika suara Jarvis menghentikannya.
“Bisa tidak jangan cari perhatian?”
Tenggorokannya masih terasa panas. Kulitnya semakin gatal. Bahkan ketika ia tidak sedang berusaha mendapatkan perhatian pria itu, Jarvis tetap menganggapnya sedang mencari-cari alasan untuk mengganggu.
Kaia menunduk, berusaha menahan air yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Bukan sekarang.
Jangan menangis di sini. Jangan di depan Jarvis. Jangan di depan Mika.
Ia menarik napas panjang sebelum berbalik. Matanya sudah memerah ketika kembali menatap Jarvis, tetapi ia tetap berusaha tersenyum. “Lepas.”
Kaia bangun dengan kepala berat dan mata yang masih terasa panas. Malam tadi, setelah sampai di apartemen, ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian. Tasnya hanya dilempar begitu saja ke sofa sebelum dirinya jatuh di atas tempat tidur.Ia tidak ingat kapan tepatnya tertidur. Seingatnya, ia memesan taxi online agar segera pulang. Yang Kaia ingat hanya wajah Jarvis ketika mengatakan dirinya mencari perhatian. Tiga tahun menjadi tunangannya, dan rupanya pria itu tidak tahu apa penyebabnya.Kaia meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, ada dua puluh tiga notifikasi yang sebagian besar dari keluarganya.Tapi yang ia buka adalah email kantor. Ia harus absen. Tidak mungkin datang ke kantor dalam keadaan bengkak.Meski tidak memakannya, menghirup aroma makanan laut yang kuat, bisa memicu reaksi tubuh Kaia. Apalagi semalam mereka makan di privat room.Setelah pesan itu terkirim, Kaia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Ia bahkan tidak membalas pesan yang dikirimkan Jarvis padanya
Tidak lama setelah mereka meninggalkan acara keluarga, Jarvis mengarahkan mobil menuju restoran Chinese di salah satu kawasan paling ramai di pusat kota.Sepanjang perjalanan, Kaia hanya diam. Ia tidak lagi bertanya ke mana mereka akan pergi. Jawabannya sudah jelas sejak tadi.Begitu mobil berhenti, Jarvis turun lebih dulu dan membukakan pintu wanita itu yang kini duduk di sebelahnya.Kaia menyusul dengan langkah berat, menggenggam tasnya erat-erat. Selain ia duduk di bagian belakang, ia harus mengemban bebannya sendiri.Di dalam restoran, Mika sudah duduk di salah satu meja dekat jendela yang ia pilih. Perempuan.. yang Jarvis cintai.Kaia sempat bertanya, jika memang salahnya ingin dicinta. Ia harus jadi perempuan seperti apa? Dan kini di hadapannya, Kaia terpana. Mika, perempuan yang ia suka. Tidak lebih, dan bukan Kaia.Pelayan datang membawa menu, tetapi Jarvis bahkan tidak membuka miliknya.“Kamu mau pesan apa?” tanyanya kepada Mika.Mika memperhatikan daftar menu beberapa saat
Di antara segala lelah dan sesak selama menjadi tunangan Jarvis, acara-acara publik seperti inilah yang dulu menghibur Kaia ketika ia masih bodoh akan cinta.Di hadapan orang lain, Jarvis akan bersikap manis dan penuh cinta.Kaia tak bisa memungkiri kehangatan yang menjalar di dadanya, juga geliat kecil di perutnya setiap kali Jarvis merangkulnya mesra atau melontarkan pujian dengan lihai, seolah-olah Kaia adalah perempuan yang paling ia gilai.Dulu, ia selalu berharap sikap itu bukan sekadar sandiwara. Bahwa suatu hari nanti, Jarvis akan memperlakukannya dengan cara yang sama bahkan ketika tidak ada siapa pun yang menyaksikan.Namun, setelah percakapan sebelum-sebelumnya, Kaia semakin sulit mempercayai harapan itu.Pria itu terang-terangan tidak ingin mengakhiri pertunangan mereka, meski tahu dirinya sendiri tidak menginginkan Kaia.Dan malam ini, pria itu terang-terangan membawa Mika ke acara keluarga mereka.“Selama acara, tetap sama saya. Jangan ke mana-mana.”Kaia menoleh, menung
Jika hubungan kedua keluarganya hancur binasa. Biarlah begitu adanya.Tubuh Jarvis membeku di tempatnya berdiri mendengar hal itu. Seketika ia berbalik arah, matanya menatap Kaia dengan tajam dan dingin menghunus tepat ke bola mata Kaia.Pria itu terdiam seribu bahasa, sama sekali tidak menyangka kalimat berani itu akan keluar dari wanita yang selama ini selalu patuh padanya.Semenit kemudian pria itu berbicara, “Kamu sadar apa yang kamu bicarakan, Kaia?” Jarvis berdecih, sementara jemarinya kini membuka pintu. “Kalau kamu cari gara-gara untuk menahan saya. Ini gak mempan.”Kaia menatapnya balik. “Selama ini, kamu selalu bilang pertunangan kita bukan sesuatu yang kamu inginkan. Kamu juga bilang aku tidak pernah memberimu pilihan. Sekarang aku memberimu pilihan.”Rahang Jarvis mengeras saat Kaia hendak bangkit. “Itu semua karena kamu tidak pernah menolak. Kaia.”Kalimat itu membuat Kaia terdiam sesaat.Benar. Selama tiga tahun, dia tidak pernah menolak pertunangan mereka. Dia menerima
Kaia punya segalanya untuk menjadi perempuan paling beruntung. Sayangnya, takdir lupa memastikan satu, apakah laki-laki yang dijanjikan untuknya juga menginginkannya?Sebab, di antara segala keberuntungan yang dimiliki Kaia, mencintai Jarvis Leon Tandiono adalah satu-satunya hal yang tak pernah berpihak kepadanya.Tiga tahun sudah bertunangan, Kaia harus berulang kali menelan kekecewaan membuatnya lebih sering merasa sendirian daripada dicintai. Padahal mereka sudah saling mengenal sejak berusia sepuluh tahun.Dulu, Jarvis tidak seperti ini. Ia selalu bertanggung jawab atas perkataannya dan menepati janji yang sudah dibuat.Tapi, sekarang, ia sering membatalkan janji begitu saja. Membiarkan Kaia menunggu semalaman di restoran, bahkan meninggalkannya sendirian di parkiran.Tidak ada lagi Jarvis yang bersedia menunggunya.Kaia tidak tahu kapan tepatnya semua itu berubah.Mungkin saat keluarga mereka mengumumkan pertunangan. Mungkin saat Jarvis mulai menganggap hubungan itu sebagai kewaj







