เข้าสู่ระบบKaia bangun dengan kepala berat dan mata yang masih terasa panas. Malam tadi, setelah sampai di apartemen, ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian. Tasnya hanya dilempar begitu saja ke sofa sebelum dirinya jatuh di atas tempat tidur.
Ia tidak ingat kapan tepatnya tertidur. Seingatnya, ia memesan taxi online agar segera pulang. Yang Kaia ingat hanya wajah Jarvis ketika mengatakan dirinya mencari perhatian. Tiga tahun menjadi tunangannya, dan rupanya pria itu tidak tahu apa penyebabnya.
Kaia meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, ada dua puluh tiga notifikasi yang sebagian besar dari keluarganya.
Tapi yang ia buka adalah email kantor. Ia harus absen. Tidak mungkin datang ke kantor dalam keadaan bengkak.
Meski tidak memakannya, menghirup aroma makanan laut yang kuat, bisa memicu reaksi tubuh Kaia. Apalagi semalam mereka makan di privat room.
Setelah pesan itu terkirim, Kaia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Ia bahkan tidak membalas pesan yang dikirimkan Jarvis padanya.
Turun dari kasur untuk membersihkan diri seadanya lalu memakai pakaian nyaman setidaknya hari ini ia bebas dari Jarvis.
Mestinya pria itu tak akan menghubungi saat tahu Kaia tak masuk karena sakit. Seperti biasanya. Selama ini sakit tak cukup untuk membuat tunangannya itu khawatir lantas perhatian.
Kaia menyantap sarapannya tanpa nafsu itu pun ia paksakan agar bisa segera mengkonsumsi obat alerginya. Sialnya obat itu habis.
Oh, sungguh ada apa dengan hari-hari belakangan ini? Harusnya terasa menyenangkan karena itu adalah hari lahirnya. Nyatanya yang ia dapat hanya kesialan.
Ponselnya kembali berdering. Jarvis.
Satu panggilan, dua, sampai lima panggalin masih bisa Kaia abaikan sayang di panggilan ke enam Kaia tak bisa abai. Pasti ada sesuatu dengan pekerjaannya.
“Kaia jam satu siang datang ke resto yang sudah saya kirim alamatnya, klien minta bertemu.” titahnya datar.
Astaga, tidakkah dia tahu kalau karyawannya absen sakit?
“Gak bisa, aku gak masuk.”
“Kenapa? Balas dendam soal semalam dengan pura-pura sakit begitu?” tuduh pria itu.
“Mas, aku sakit. Aku juga udah absen—"
“Sakit apa? Demam lagi? Jangan bilang ini trik kamu untuk membuat saya merasa bersalah soal semalam.” potong pria itu tanpa perasaan.
Reaksi di tubuhnya makin menggila, ditambah racauan Jarvis barusan sungguh kombinasi yang amat menyiksa. Jadi, Kaia segera memutus panggilan itu. Salah sekali memang mengangkat panggilan dari pria itu saat kondisinya sedang begini.
Lebih baik Kaia membeli obat alergi secepat mungkin.
Begitu pesanan obatnya datang, segera Kaia matikan ponselnya. Tak ingin ada gangguan apa pun lagi dari Jarvis. Entah untuk urusan pekerjaan atau pun urusan keluarga lebih lebih untuk urusan Mika.
Kembali Kaia menatap nanar langit-langit kamarnya. Memikirkan bagaimana ia memutus ikatan yang makin hari makin memuakan ini. Tak mungkin Kaia bilang ingin mengakhiri karena Jarvis selingkuh. Tidak saat kondisi kesehatan orangtuanya baru saja pulih dan bisnis yang kini di handle kakaknya masih belum stabil.
Ia hanya perlu tidur lagi. Mungkin setelah beristirahat, ia bisa menemukan cara untuk menyelesaikan semuanya pelan-pelan.
Namun, saat terbangun, kondisinya justru memburuk. Kepalanya semakin pening, tenggorokannya terasa menyempit, dan dadanya sesak.
Kaia tak bisa membiarkan dirinya tumbang. Dengan sisa tenaga, ia turun ke lobi dan memesan taksi online menuju IGD. Sayangnya, beberapa detik kemudian, pandangannya tiba-tiba gelap.
Saat membuka mata, Kaia mendapati ruangan putih dengan cahaya menyilaukan. Di ujung ranjang, seorang pria duduk sambil menggulir ponselnya. Begitu menyadari Kaia terbangun, ia menoleh dan tersenyum lebar.
“Halo, Kaikai. Merasa lebih baik?”
Kaia mengerjap, berusaha mengenali sosok itu sekaligus mengumpulkan tenaga untuk bicara. Tenggorokannya masih terasa sesak.
“Satya?” Suaranya serak.
Pria itu mengangkat tangan. “It's okay. Kamu belum fit, jangan banyak ngomong dulu. Tunggu, ya. Aku panggil dokter, sekalian cari makan buat kamu.”
Ia pun beranjak pergi.
Diratama Satya Hartmann, teman masa kecil Kaia sekaligus teman sepermainan Jarvis. Namun, bukankah pria itu seharusnya masih berada di Jerman?
Kapan dia pulang?
Satya kembali bersama dokter dan sekantong makanan. Setelah berbincang singkat mengenai kondisi Kaia, dokter pun berlalu. Kini, Satya tengah menyuapi Kaia.
“Udah, makan aja. Nanti aku cerita kenapa bisa nemuin pasien mengenaskan di sini,” ujarnya penuh seringai jahil saat menyadari Kaia terus menatapnya dengan penuh kebingungan.
Kaia menurut. Setidaknya, ia tidak sendirian di IGD ini.
Suapan terakhir akhirnya tandas. Meski kesulitan menghabiskan makanannya, Kaia memaksakan diri. Ia harus segera pulih agar tidak merepotkan banyak orang.
“Pintar sekali, Kaikai.” Satya menepuk puncak kepalanya sebelum merapikan kotak makan.
“Dokter bilang kamu mesti nginep semalam buat observasi. Nanti—”
Ucapannya terputus saat tirai IGD disibak kasar. Jarvis muncul dengan rahang mengeras, menatap Kaia tajam sebelum mengalihkan pandangan kepada Satya. Matanya seketika memicing, jelas terkejut.
“Hai, bro. Long time no see.” Satya mengangkat tangan untuk menyapa.
“Satya? Ngapain lo di sini? Dan kapan lo balik?” todong Jarvis sembari bergeser ke sisi kiri Kaia, sebab Satya duduk di sebelah kanannya.
“Well, kayak yang lo lihat, membantu, menjaga, menemani pasien yang kesepian.” Satya mengedikkan bahu.
“Come on, Kaikai. Minum obat dulu.” Ia kembali bergerak, hendak membantu Kaia duduk.
Namun, Kaia justru membeku.
“Sini. Gue aja.” Jarvis menepuk keras lengan Satya yang masih terulur.
“Oh, santai.”
“Udah ada gue di sini. Lo bisa pulang, Sat.”
“Tenang aja, gue nggak sibuk-sibuk amat, kok. Baru landing dan masih off. Gue bisa nemenin Kaia,” ujar Satya santai.
Rahang Jarvis mengeras. Kaia rasa sebentar lagi Jarvis akan meledak. Oh sungguh ia belum ingin berdebat lagi dengan tunangannya itu.
“Nggak perlu, Sat. Tunangannya udah ada di sini.”
Kaia bangun dengan kepala berat dan mata yang masih terasa panas. Malam tadi, setelah sampai di apartemen, ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian. Tasnya hanya dilempar begitu saja ke sofa sebelum dirinya jatuh di atas tempat tidur.Ia tidak ingat kapan tepatnya tertidur. Seingatnya, ia memesan taxi online agar segera pulang. Yang Kaia ingat hanya wajah Jarvis ketika mengatakan dirinya mencari perhatian. Tiga tahun menjadi tunangannya, dan rupanya pria itu tidak tahu apa penyebabnya.Kaia meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, ada dua puluh tiga notifikasi yang sebagian besar dari keluarganya.Tapi yang ia buka adalah email kantor. Ia harus absen. Tidak mungkin datang ke kantor dalam keadaan bengkak.Meski tidak memakannya, menghirup aroma makanan laut yang kuat, bisa memicu reaksi tubuh Kaia. Apalagi semalam mereka makan di privat room.Setelah pesan itu terkirim, Kaia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Ia bahkan tidak membalas pesan yang dikirimkan Jarvis padanya
Tidak lama setelah mereka meninggalkan acara keluarga, Jarvis mengarahkan mobil menuju restoran Chinese di salah satu kawasan paling ramai di pusat kota.Sepanjang perjalanan, Kaia hanya diam. Ia tidak lagi bertanya ke mana mereka akan pergi. Jawabannya sudah jelas sejak tadi.Begitu mobil berhenti, Jarvis turun lebih dulu dan membukakan pintu wanita itu yang kini duduk di sebelahnya.Kaia menyusul dengan langkah berat, menggenggam tasnya erat-erat. Selain ia duduk di bagian belakang, ia harus mengemban bebannya sendiri.Di dalam restoran, Mika sudah duduk di salah satu meja dekat jendela yang ia pilih. Perempuan.. yang Jarvis cintai.Kaia sempat bertanya, jika memang salahnya ingin dicinta. Ia harus jadi perempuan seperti apa? Dan kini di hadapannya, Kaia terpana. Mika, perempuan yang ia suka. Tidak lebih, dan bukan Kaia.Pelayan datang membawa menu, tetapi Jarvis bahkan tidak membuka miliknya.“Kamu mau pesan apa?” tanyanya kepada Mika.Mika memperhatikan daftar menu beberapa saat
Di antara segala lelah dan sesak selama menjadi tunangan Jarvis, acara-acara publik seperti inilah yang dulu menghibur Kaia ketika ia masih bodoh akan cinta.Di hadapan orang lain, Jarvis akan bersikap manis dan penuh cinta.Kaia tak bisa memungkiri kehangatan yang menjalar di dadanya, juga geliat kecil di perutnya setiap kali Jarvis merangkulnya mesra atau melontarkan pujian dengan lihai, seolah-olah Kaia adalah perempuan yang paling ia gilai.Dulu, ia selalu berharap sikap itu bukan sekadar sandiwara. Bahwa suatu hari nanti, Jarvis akan memperlakukannya dengan cara yang sama bahkan ketika tidak ada siapa pun yang menyaksikan.Namun, setelah percakapan sebelum-sebelumnya, Kaia semakin sulit mempercayai harapan itu.Pria itu terang-terangan tidak ingin mengakhiri pertunangan mereka, meski tahu dirinya sendiri tidak menginginkan Kaia.Dan malam ini, pria itu terang-terangan membawa Mika ke acara keluarga mereka.“Selama acara, tetap sama saya. Jangan ke mana-mana.”Kaia menoleh, menung
Jika hubungan kedua keluarganya hancur binasa. Biarlah begitu adanya.Tubuh Jarvis membeku di tempatnya berdiri mendengar hal itu. Seketika ia berbalik arah, matanya menatap Kaia dengan tajam dan dingin menghunus tepat ke bola mata Kaia.Pria itu terdiam seribu bahasa, sama sekali tidak menyangka kalimat berani itu akan keluar dari wanita yang selama ini selalu patuh padanya.Semenit kemudian pria itu berbicara, “Kamu sadar apa yang kamu bicarakan, Kaia?” Jarvis berdecih, sementara jemarinya kini membuka pintu. “Kalau kamu cari gara-gara untuk menahan saya. Ini gak mempan.”Kaia menatapnya balik. “Selama ini, kamu selalu bilang pertunangan kita bukan sesuatu yang kamu inginkan. Kamu juga bilang aku tidak pernah memberimu pilihan. Sekarang aku memberimu pilihan.”Rahang Jarvis mengeras saat Kaia hendak bangkit. “Itu semua karena kamu tidak pernah menolak. Kaia.”Kalimat itu membuat Kaia terdiam sesaat.Benar. Selama tiga tahun, dia tidak pernah menolak pertunangan mereka. Dia menerima
Kaia punya segalanya untuk menjadi perempuan paling beruntung. Sayangnya, takdir lupa memastikan satu, apakah laki-laki yang dijanjikan untuknya juga menginginkannya?Sebab, di antara segala keberuntungan yang dimiliki Kaia, mencintai Jarvis Leon Tandiono adalah satu-satunya hal yang tak pernah berpihak kepadanya.Tiga tahun sudah bertunangan, Kaia harus berulang kali menelan kekecewaan membuatnya lebih sering merasa sendirian daripada dicintai. Padahal mereka sudah saling mengenal sejak berusia sepuluh tahun.Dulu, Jarvis tidak seperti ini. Ia selalu bertanggung jawab atas perkataannya dan menepati janji yang sudah dibuat.Tapi, sekarang, ia sering membatalkan janji begitu saja. Membiarkan Kaia menunggu semalaman di restoran, bahkan meninggalkannya sendirian di parkiran.Tidak ada lagi Jarvis yang bersedia menunggunya.Kaia tidak tahu kapan tepatnya semua itu berubah.Mungkin saat keluarga mereka mengumumkan pertunangan. Mungkin saat Jarvis mulai menganggap hubungan itu sebagai kewaj







