แชร์

2

ผู้เขียน: Sora Carita
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-28 10:00:03

Jika hubungan kedua keluarganya hancur binasa. Biarlah begitu adanya.

Tubuh Jarvis membeku di tempatnya berdiri mendengar hal itu. Seketika ia berbalik arah, matanya menatap Kaia dengan tajam dan dingin menghunus tepat ke bola mata Kaia.

Pria itu terdiam seribu bahasa, sama sekali tidak menyangka kalimat berani itu akan keluar dari wanita yang selama ini selalu patuh padanya.

Semenit kemudian pria itu berbicara,  “Kamu sadar apa yang kamu bicarakan, Kaia?” Jarvis berdecih, sementara jemarinya kini membuka pintu. “Kalau kamu cari gara-gara untuk menahan saya. Ini gak mempan.”

Kaia menatapnya balik. “Selama ini, kamu selalu bilang pertunangan kita bukan sesuatu yang kamu inginkan. Kamu juga bilang aku tidak pernah memberimu pilihan. Sekarang aku memberimu pilihan.”

Rahang Jarvis mengeras saat Kaia hendak bangkit. “Itu semua karena kamu tidak pernah menolak. Kaia.”

Kalimat itu membuat Kaia terdiam sesaat.

Benar. Selama tiga tahun, dia tidak pernah menolak pertunangan mereka. Dia menerimanya dengan keyakinan bodoh bahwa suatu hari Jarvis akan melihatnya lebih.

Namun, rupanya selama ini Jarvis hanya melihat diamnya sebagai bentuk persetujuan terhadap semua keputusan keluarga mereka—termasuk perlakuan buruk yang harus dia terima darinya.

Kaia menghela, ingin mengakhiri semuanya. "Aku nggak akan lapor apa-apa ke keluargaku dan keluarga kamu mengenai perpisahan kita. Anggap saja ini hadiah dariku untuk Mika karena mengambil miliknya.”

Rahang Jarvis mengeras. Ia tak menyangka Kaia akan menjawab seperti ini. 

“Hadiah?” ulangnya, menatap Kaia tajam. “Jangan bertingkah seolah kau yang dirugikan dalam pertunangan ini,” ujarnya dingin. “Kamu sendiri yang memintanya.”

**

Hari Minggu. Kaia baru tidur pukul tiga pagi. Menghabiskan tangis di umur yang menginjak kepala tiga bukan hal yang baik.

Tapi pertanyaan pria itu masih menggantung di kepalanya. Selama tiga tahun, tak pernah sekalipun Jarvis bertanya mengapa dia tetap tinggal.

Dan sekarang, ketika Kaia akhirnya memilih usai, pria itu mengira dirinya cari gara-gara.

Sekarang, meski sudah pukul sembilan pagi, Kaia hanya ingin tidur.

Ternyata, semalam Jarvis juga sempat mengiriminya pesan. Yang sayangnya, bukan pesan berisi maaf.

Kaia membuka mata ketika cahaya matahari mulai masuk dari celah tirai. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar, mencoba mengingat mengapa kepalanya terasa begitu berat.

Kaia menghembuskan napas panjang sebelum bangkit dari tempat tidur.

Apartemennya terasa begitu tenang dan… sepi. Di meja makan, ada sekotak kue yang dibeli keluarganya. Kejutan dari keluarganya sudah lebih dari cukup. Kado dari calon mertuanya pun sudah tiba lebih awal di apartemennya.

Tanpa ucapan dari Jarvis sekalipun, Kaia tetap bisa hidup. Kurang bersyukur rasanya jika harus mengeluh hanya karena pria itu tidak memberinya ucapan.

Benar.

Ia lebih beruntung daripada Mika.

Kaia mengambil sepotong kue, tetapi hanya memakannya sedikit sebelum kehilangan selera.

Rasanya hampa.

Padahal di luar hubungannya dengan Jarvis, masih ada banyak hal yang ia sukai. Pekerjaannya, keluarganya, juga hal-hal kecil yang selama ini tetap ia jalani.

Sayangnya, setiap kali menyangkut Jarvis, Kaia selalu merasa harus mengesampingkan dirinya sendiri.

Dan saat pria itu memilih kebahagiaannya sendiri, mungkin sudah waktunya ia berhenti melakukan hal yang sama.

Kaia menyandarkan kepala ke sofa.

Lebih baik jika tidak kemana-mana. Ia akan menghabiskan hari ini dengan menonton dan mungkin tidur lagi. Rasanya ia lelah, sangat.

Sayangnya rencana itu tak sesuai realita. Malam saat Kaia akan memesan makanan, bel pintu berbunyi. Ada bunyi ketikan pin yang membuat Kaia berdiri.

Jarvis langsung masuk. Wajahnya terlihat tidak ramah, rahangnya mengeras, sementara sebelah tangannya sibuk melonggarkan jam tangan yang melingkar di pergelangan. 

“Kenapa panggilan saya tidak dijawab?”

Kaia tidak langsung menjawab. Ia menukik alis mendapat kemeja pria itu berantakan. “Ada apa?”

Jarvis mengangkat alis, tampak heran dengan pertanyaan itu. “Kamu nggak lupa kalau malam ini ada acara keluarga saya, kan? Bersiap-siap.”

Kaia menatapnya berkecamuk. Hari minggu sudah ia ingin nobatkan ingin tak kemana-mana. Kenapa pria itu masih saja semena-mena?

“Aku nggak mau pergi.”

“Kaia.”

“Aku sudah bilang, aku nggak mau.”

Jarvis menghembuskan nafas kasar. “Saya sudah bilang dari awal kalau saya nggak pernah menginginkan pertunangan ini. Tapi setiap kali ada acara keluarga, saya tetap harus membawa kamu. Kenapa kamu masih nggak mengerti juga?”

Kaia menggenggam ujung bajunya. “Kalau gitu, kenapa tidak mengajak Mika?”

Pria itu mengernyitkan dahi. “Maksud kamu apa bilang begitu?”

“Aku gak mau pergi. “ kata Kaia bersikukuh. Sudah mengganggu waktunya dan menganggapnya mengada-ada. Pria ini mau apalagi?

“Aku akan pergi kalau kamu bilang ke keluarga kita akan akhiri.”

Jarvis menengadah lalu mengangguk. “Baik.”

“Tapi saya akan bawa Mika hari ini.”

Kaia menoleh saat mendengar nama itu disebut, menunggu kelanjutan ucapan pria itu. “Kalau ada yang bertanya soal Mika, dia teman lama saya waktu kuliah. Kebetulan sedang mampir ke kota.”

Kaia terdiam.

Teman lama.

Jadi.. pria itu benar mau mengajak Mika?

Begitu mudahnya Jarvis menyebut hubungan mereka dengan dua kata itu. Seolah-olah perempuan yang dibawanya ke tengah keluarga mereka bukanlah orang yang jauh lebih ia inginkan daripada tunangannya sendiri.

“Paham, Kaia?” tanya Jarvis.

Ia ingin bertanya apakah Mika juga tahu bahwa dirinya akan diperkenalkan seperti itu. Apakah perempuan itu keberatan menyandang status sebagai teman lama ketika sebenarnya ia adalah orang yang dicintai Jarvis.

Namun, Kaia tidak jadi bertanya.

Apa gunanya? Ia sendiri bahkan tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk mempertanyakan posisinya di sisi Jarvis. 

Alih-alih menanyakan posisinya, Kaia menghela, “Yaudah. Sekalian saja kenalkan Mika.” ujar Kaia seraya menggenggam jemarinya sendiri. “Dan perkenalkan dia sebagai orang yang kamu inginkan.”

“Dengan begitu lebih mudah mengakhirinya, kan?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Yang Tak Kau Pilih   5

    Kaia bangun dengan kepala berat dan mata yang masih terasa panas. Malam tadi, setelah sampai di apartemen, ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian. Tasnya hanya dilempar begitu saja ke sofa sebelum dirinya jatuh di atas tempat tidur.Ia tidak ingat kapan tepatnya tertidur. Seingatnya, ia memesan taxi online agar segera pulang. Yang Kaia ingat hanya wajah Jarvis ketika mengatakan dirinya mencari perhatian. Tiga tahun menjadi tunangannya, dan rupanya pria itu tidak tahu apa penyebabnya.Kaia meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, ada dua puluh tiga notifikasi yang sebagian besar dari keluarganya.Tapi yang ia buka adalah email kantor. Ia harus absen. Tidak mungkin datang ke kantor dalam keadaan bengkak.Meski tidak memakannya, menghirup aroma makanan laut yang kuat, bisa memicu reaksi tubuh Kaia. Apalagi semalam mereka makan di privat room.Setelah pesan itu terkirim, Kaia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Ia bahkan tidak membalas pesan yang dikirimkan Jarvis padanya

  • Cinta Yang Tak Kau Pilih   4

    Tidak lama setelah mereka meninggalkan acara keluarga, Jarvis mengarahkan mobil menuju restoran Chinese di salah satu kawasan paling ramai di pusat kota.Sepanjang perjalanan, Kaia hanya diam. Ia tidak lagi bertanya ke mana mereka akan pergi. Jawabannya sudah jelas sejak tadi.Begitu mobil berhenti, Jarvis turun lebih dulu dan membukakan pintu wanita itu yang kini duduk di sebelahnya.Kaia menyusul dengan langkah berat, menggenggam tasnya erat-erat. Selain ia duduk di bagian belakang, ia harus mengemban bebannya sendiri.Di dalam restoran, Mika sudah duduk di salah satu meja dekat jendela yang ia pilih. Perempuan.. yang Jarvis cintai.Kaia sempat bertanya, jika memang salahnya ingin dicinta. Ia harus jadi perempuan seperti apa? Dan kini di hadapannya, Kaia terpana. Mika, perempuan yang ia suka. Tidak lebih, dan bukan Kaia.Pelayan datang membawa menu, tetapi Jarvis bahkan tidak membuka miliknya.“Kamu mau pesan apa?” tanyanya kepada Mika.Mika memperhatikan daftar menu beberapa saat

  • Cinta Yang Tak Kau Pilih   3

    Di antara segala lelah dan sesak selama menjadi tunangan Jarvis, acara-acara publik seperti inilah yang dulu menghibur Kaia ketika ia masih bodoh akan cinta.Di hadapan orang lain, Jarvis akan bersikap manis dan penuh cinta.Kaia tak bisa memungkiri kehangatan yang menjalar di dadanya, juga geliat kecil di perutnya setiap kali Jarvis merangkulnya mesra atau melontarkan pujian dengan lihai, seolah-olah Kaia adalah perempuan yang paling ia gilai.Dulu, ia selalu berharap sikap itu bukan sekadar sandiwara. Bahwa suatu hari nanti, Jarvis akan memperlakukannya dengan cara yang sama bahkan ketika tidak ada siapa pun yang menyaksikan.Namun, setelah percakapan sebelum-sebelumnya, Kaia semakin sulit mempercayai harapan itu.Pria itu terang-terangan tidak ingin mengakhiri pertunangan mereka, meski tahu dirinya sendiri tidak menginginkan Kaia.Dan malam ini, pria itu terang-terangan membawa Mika ke acara keluarga mereka.“Selama acara, tetap sama saya. Jangan ke mana-mana.”Kaia menoleh, menung

  • Cinta Yang Tak Kau Pilih   2

    Jika hubungan kedua keluarganya hancur binasa. Biarlah begitu adanya.Tubuh Jarvis membeku di tempatnya berdiri mendengar hal itu. Seketika ia berbalik arah, matanya menatap Kaia dengan tajam dan dingin menghunus tepat ke bola mata Kaia.Pria itu terdiam seribu bahasa, sama sekali tidak menyangka kalimat berani itu akan keluar dari wanita yang selama ini selalu patuh padanya.Semenit kemudian pria itu berbicara, “Kamu sadar apa yang kamu bicarakan, Kaia?” Jarvis berdecih, sementara jemarinya kini membuka pintu. “Kalau kamu cari gara-gara untuk menahan saya. Ini gak mempan.”Kaia menatapnya balik. “Selama ini, kamu selalu bilang pertunangan kita bukan sesuatu yang kamu inginkan. Kamu juga bilang aku tidak pernah memberimu pilihan. Sekarang aku memberimu pilihan.”Rahang Jarvis mengeras saat Kaia hendak bangkit. “Itu semua karena kamu tidak pernah menolak. Kaia.”Kalimat itu membuat Kaia terdiam sesaat.Benar. Selama tiga tahun, dia tidak pernah menolak pertunangan mereka. Dia menerima

  • Cinta Yang Tak Kau Pilih   1

    Kaia punya segalanya untuk menjadi perempuan paling beruntung. Sayangnya, takdir lupa memastikan satu, apakah laki-laki yang dijanjikan untuknya juga menginginkannya?Sebab, di antara segala keberuntungan yang dimiliki Kaia, mencintai Jarvis Leon Tandiono adalah satu-satunya hal yang tak pernah berpihak kepadanya.Tiga tahun sudah bertunangan, Kaia harus berulang kali menelan kekecewaan membuatnya lebih sering merasa sendirian daripada dicintai. Padahal mereka sudah saling mengenal sejak berusia sepuluh tahun.Dulu, Jarvis tidak seperti ini. Ia selalu bertanggung jawab atas perkataannya dan menepati janji yang sudah dibuat.Tapi, sekarang, ia sering membatalkan janji begitu saja. Membiarkan Kaia menunggu semalaman di restoran, bahkan meninggalkannya sendirian di parkiran.Tidak ada lagi Jarvis yang bersedia menunggunya.Kaia tidak tahu kapan tepatnya semua itu berubah.Mungkin saat keluarga mereka mengumumkan pertunangan. Mungkin saat Jarvis mulai menganggap hubungan itu sebagai kewaj

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status